14 January 2014

Info Buku: Pendidikan Karakter (Konsepsi dan Implementasinya Secara terpadu di Lingk.Keluarga, Sekolah, Perguruan Tinggi, dan Masyarakat)

Posted in resensi buku at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Image

KARAKTER merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Karakter adalah mustika hidup yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia tanpa karakter adalah manusia yang sudah membinatang. Karena itu penguatan pendidikan karakter dalam konteks sekarang menjadi sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang terjadi di Negara kita.

Seperti kita ketahui, bangsa kita belakangan ini menunjukkan gejala kemerosotan moral yang amat parah, mulai dari kasus narkoba, kasus korupsi, ketidak adilan hukum, pergaulan bebas di kalangan remaja, pelajar, bahkan mahasiswa, maraknya kekerasan, kerusuhan, tindakan anarkhis, dan sebagainya, mengindikasikan adanya pergeseran ke arah ketidakpastian jati diri dan karakter bangsa.

Masalah inilah yang melatarbelakangi ditulisnya buku ini. Buku ini berangkat dari asumsi bahwa pengembangan karakter ini harus merupakan proses seumur hidup. Dengan demikian pengembangan karakter seseorang yang merupakan upaya seumur hidup perlu melibatkan pusat-pusat pendidikan karakter, baik lingkungan keluarga, lingkungan sekolah/perguruan tinggi, dan lingkungan masyarakat. Pusat-pusat pendidikan karakter ini harus berjalan secara terintegrasi dan terpadu. Baik orangtua, guru, dosen, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat dan lain-lain memiliki tanggung jawab yang sama besarnya dalam melaksanakan pendidikan karakter.

Dapatkan buku ini di toko-toko buku Gramedia dan toko-toko buku lainnya. Atau melalui saya langsung, Syamsul Kurniawan, di 0852 4532 0562. Harga buku: Rp.65.000,-.

PENGUATAN KEARIFAN EKOLOGIS PESERTA DIDIK MELALUI PELAJARAN PAI DI SEKOLAH

Posted in Uncategorized at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Image

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

ABSTRAK

TULISAN ini berangkat dari asumsi bahwa manusia dan pemikirannya adalah produk dari suatu proses pendidikan yang ia dapat, maka dikatakan bahwa sifat dan perilaku suka merusak lingkungan disebabkan karena lembaga pendidikan tidak memaksimalkan usaha penguatan kearifan ekologis di kalangan peserta didik. Pelajaran Pendidikan agama Islam (PAI) yang seharusnya mengajarkan di kalangan peserta didik tentang pentingnya memelihara dan melestarikan lingkungan hidup beserta fungsi-fungsi alam, dalam kenyataannya juga berhenti pada tataran teoritis saja, sehingga tidak sampai membentuk karakter peserta didik yang peduli lingkungan atau mempunyai kearifan ekologis.

Karena itulah, melalui tulisan ini, penulis tertarik mendiskusikan tentang bagaimana penguatan kearifan ekologis peserta didik dapat dilakukan melalui pelajaran PAI di sekolah.

Kata Kunci: Kearifan Ekologis, Pelajaran PAI di Sekolah

PENDAHULUAN

Krisis ekologi (lingkungan) sedang terjadi dan menjadi bagian dari kehidupan umat manusia saat ini. Kerusakan fungsi-fungsi ekologi akhir-akhir ini semakin parah. Sebenarnya, di negara kita ini memiliki kekayaan sumberdaya alam (SDA) dan daya dukung ekologi yang luar biasa. Namun perilaku masyarakat yang salah dalam pemanfaatan SDA dan daya dukung ekologi, termasuk perlakuan destruktif (merusak) pada flora dan fauna membuat masyarakat sengsara dan tidak sejahtera.

Begitu sering musibah alam terjadi di Indonesia makin menambah masalah, terutama musibah yang masuk kategori hasil perbuatan tangan manusia (man made disaster). Perilaku masyarakat yang salah telah menyebabkan luas hutan makin menyusut. Bahkan boleh dibilang, negara kita Indonesia ini mendapat gelar “juara pembalak” atau “juara penebang” hutan tercepat di dunia. Hutan kita ditebang setahun 2,8 juta hektar, (setiap menit hutan seluas 6x lapangan bola hilang). Padahal hutan kita diharapkan dapat menjadi paru-paru dunia dan bisa memberi kebaikan untuk manusia sedunia, dan kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.

Akibat yang lain, kawasan tangkapan air makin berkurang, cadangan air tanah makin langka, sementara itu di musim hujan air sungai meluap menimbulkan banjir, tanah longsor dan banyak kerugian lainnya yang diderita masyarakat. Menurut data WALHI seperti diberitakan Tribun (2011) terjadi 141 kasus pencemaran lingkungan yang terjadi pada 2011, dan hanya 75 kasus pencemaran pada tahun sebelumnya yakni 2010. Pada tahun 2012 dan 2013 diperkirakan kasus pencemaran lingkungan ini kian meningkat.

Ini ironi, karena di sisi lain, mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim yang harusnya peduli terhadap upaya-upaya pelestarian fungsi-fungsi alam atau lingkungan. Seperti yang kita mafhumi, Islam sangatlah menganjurkan kaumnya untuk melestarikan alam atau lingkungan. Merusak lingkungan atau alam berarti telah melanggar perintah Allah SWT, sedangkan pelanggaran pasti berakibat buruk kepada pelakunya, baik langsung maupun tidak langsung.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS al-A’raf: 56)

Jika kita setuju bahwa manusia dan pemikirannya adalah produk dari suatu proses pendidikan yang ia dapat, maka dapat dikatakan bahwa sifat dan perilaku suka merusak lingkungan disebabkan karena lembaga pendidikan tidak memaksimalkan usaha penguatan kearifan ekologis di kalangan peserta didik. Pelajaran Pendidikan agama Islam (PAI) yang seharusnya mengajarkan di kalangan peserta didik tentang pentingnya memelihara dan melestarikan lingkungan hidup beserta fungsi-fungsi ekologis, dalam kenyataannya juga berhenti pada tataran teoritis saja, sehingga tidak sampai membentuk karakter peserta didik yang peduli lingkungan atau mempunyai kearifan ekologis.

Tulisan ini hendak mendiskusikan tentang bagaimana penguatan kearifan ekologis peserta didik dapat dilakukan melalui pelajaran PAI di sekolah.

PERPEKTIF ISLAM TENTANG KEARIFAN EKOLOGI

Dalam pandangan Islam, manusia adalah bagian dari alam, pengelola, dan khalifah (wakil Tuhan) di muka bumi. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia tentu saja berhak memanfaatkan fungsi-fungsi alam.

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS al-Jatsiyah: 13)

Tapi sebaliknya, manusia juga memiliki kewajiban dan mengemban tanggung jawab dari Tuhannya untuk memelihara dan melestarikan fungsi-fungsi alam, bukan justru mengambil langkah-langkah destruktif dalam memanfaatkan fungsi-fungsi alam tersebut. Ringkasnya, agama Islam mengharamkan sikap-sikap destruktif dalam memanfaatkan fungsi-fungsi tersebut dan mengakui pentingnya menjaga dan melestarikan fungsi-fungsi alam. (Kurniawan, 2007)

Seruan ini dapat kita baca dari kasus kejatuhan Adam as. (Nabi sekaligus simbol manusia pertama) beserta istrinya Hawa ke muka bumi. Apa yang dialami Adam dan Hawa sampai diusir Allah SWT dari surga-Nya, karena tidak mengindahkan seruan Allah SWT mengenai  kearifan ekologis. Adam dan Hawa mengikuti bujuk rayu syaitan; mereka mendekati pohon khuldi.

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS al-Baqarah: 35-39)

Bahkan dalam pandangan al-Quran, krisis ekologi yang menimpa bumi kita ini erat kaitannya dengan krisis spiritual yang dialami manusia.

 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS ar-Ruum: 41)

Sayangnya, ajaran paling purba yang diajarkan agama Islam tentang kearifan ekologis ini tidak merembes menjadi living tradition –meminjam istilah Sayyid Hossein Nasr- dalam masyarakat Islam sesudah wafatnya Nabi (Kurniawan, 2006). Apa yang bisa disimak sekarang, menunjukkan manusia sudah mulai jauh dari nilai-nilai ajaran agama Islam, yang mana ekologi atau lingkungan tidak dilihat sebagai suatu bagian dari kemanusiaan, tetapi sesuatu di luar yang dapat dieksploitasi secara terus-menerus (Kurniawan, 2007).

Yusuf Qardhawi seperti dikutip Nurul Hidayati (2011) menjelaskan bahwa menjaga lingkungan tercakup dalam 5 ketentuan yang menjadi pondasi tegaknya kehidupan manusia dan menjadi tujuan syariat, yaitu: pertama, Menjaga lingkungan sama saja dengan menjaga agama, menjalankan perintah Allah untuk berlaku adil, dan berbuat kebajikan (lihat QS al-A’raf: 56; QS An Nahl: 90); kedua, Menjaga lingkungan sama dengan menjaga jiwa, perlindungan terhadap kehidupan dan keselamatan mereka (QS al-Maidah: 32) ;[1] ketiga, Menjaga lingkungan termasuk upaya menjaga kualitas keberlangsungan hidup keturunan kita di masa yang akan datang;[2] keempat, Menjaga lingkungan sama dengan menjaga akal;[3] dan kelima, Menjaga lingkungan berarti menjaga harta. Allah SWT menjadikan alam semesta sebagai harta bekal kehidupan manusia di atas muka bumi.[4]

Alam bukan milik manusia tetapi ciptaan dan milik Tuhan. Alam memiliki keseimbangan dan keteraturan (sunatullah) dan manusia diserahi tanggung jawab dalam pemanfaatan dan pengelolaan yang dilandasi moralitas dan iman (Aufa, 2011). Maksudnya, manusia sebagai khalifah fi al-ard dalam melaksanakan tugasnya harus mengikuti petunjuk-petunjuk al-Qur‘an agar sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah. Maka pengembangan ilmu dan teknologi untuk pemanfaatan fungsi-fungsi alam dan pelestarian lingkungan hidup juga harus dikendalikan menurut petunjuk-petunjuk Allah SWT. Kalau tidak, pengembangan ilmu dan teknologi yang secara tidak terkendali, tidak akan mendatangkan ketenteraman, kenikmatan, dan kemudahan dalam hidup melainkan berakibat terjadinya bencana di mana-mana yang mendatangkan penderitaan bagi umat manusia dan lingkungannya (lihat QS al-Rum: 41) (Baiquni, 1985: 2-3).

PENGUATAN KEARIFAN EKOLOGIS PESERTA DIDIK DI SEKOLAH MELALUI PELAJARAN PAI

Agama Islam tidak akan dihayati dan diamalkan orang kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan yang Islami. Dari segi lainnya pendidikan agama Islam (PAI) seharusnya tidak bersifat teoritis saja, tetapi juga praksis, karena ajaran agama Islam tidak memisahkan antara iman dan amal saleh (Fathoni, 2001: xiv). Oleh karena itu pelajaran PAI adalah sekaligus pendidikan iman dan pendidikan amal, dan juga karena ajaran agama Islam berisi tentang ajaran sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, maka pendidikan agama Islam adalah pendidikan individu dan pendidikan masyarakat (Daradjat, 1992: 25-28).

Pelajaran PAI adalah sebagai proses penyampaian informasi dalam rangka pembentukan insan yang beriman dan bertaqwa agar manusia menyadari kedudukannya, tugas, dan fungsinya di dunia dengan selalu memelihara hubungan baik dengan Allah SWT, dirinya sendiri, masyarakat, dan alam sekitarnya. Dengan demikian, pelajaran PAI mempunyai pengertian, “usaha sadar atau kegiatan yang disengaja dilakukan untuk membimbing sekaligus sekaligus mengarahkan peserta didik menuju terbentuknya pribadi yang utama (insan kamil) berdasarkan nilai-nilai etika Islami dengan tetap memelihara hubungan baik dengan Allah SWT, hubungan baik dengan sesama manusia, dan hubungan baik dengan alam sekitarnya.

Pelajaran PAI akan berdampak positif bagi tumbuhnya kearifan ekologis di kalangan peserta didik di sekolah, jika pelajaran PAI memiliki rencana pembelajaran yang didesain dengan baik untuk tujuan tersebut. Setidaknya ada empat komponen yang mesti diperhatikan dalam hal ini: pertama, tujuan pengajaran; kedua, materi atau bahan ajar; ketiga, metode mengajar; dan keempat, evaluasi.

  1. 1.      Tujuan pengajaran PAI

Tujuan pengajaran merupakan masalah inti dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, suatu rumusan tujuan pengajaran akan tepat bila sesuai dengan fungsinya. Pendidikan sebagai usaha pasti mengalami permulaan dan kesudahan. Adapula usaha terhenti karena suatu kendala sebelum mencapai tujuan, tetapi usaha itu belum dapat disebut berakhir. Pada umumnya, suatu usaha baru dapat disebut berakhir jika tujuan akhir telah tercapai.

Sehubungan dengan ini Marimba yang dikutip Ramayulis dan Samsul Nizar (2009: 133) menyatakan bahwa fungsi tujuan adalah: pertama, sebagai standar mengakhiri usaha; kedua, mengarahkan usaha; dan ketiga, merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, di samping itu juga dapat membatasi ruang gerak usaha agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang dicita-citakan, dalam segi lainnya fungsi tujuan juga mempengaruhi dinamika dari usaha itu; dan keempat, memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha itu.

Tujuan pendidikan menurut al-Ghazali seperti dikutip Ramayulis dan Samsul Nizar (2009: 273) hendaknya mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqarrub kepada Allah. Sebab menurut al-Ghazali, jika tujuan pendidikan diarahkan selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan menyebabkan kesesatan dan kemudharatan. Rumusan tujuan pendidikan ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS adz-Dzariyat: 56: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku.”

Dalam kaitannya dengan konteks penguatan kearifan ekologis di kalangan peserta didik, maka tujuan pengajaran PAI harus mengarahkan peserta didik pada bentuk pemahaman bahwa pemeliharaan dan pelestarian fungsi-fungsi ekologis merupakan bentuk usaha untuk taqarrub kepada Allah. Hal ini karena kewajiban dan mengemban tanggung jawab untuk memelihara dan melestarikan fungsi-fungsi alam juga merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT.

  1. 2.      Materi atau Bahan Ajar PAI

Menurut Sofan dan Lif Khoiru Ahmadi (2010: 159), materi atau bahan ajar adalah segala bentuk materi atau bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Materi atau bahan ajar yang dimaksud dapat berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.

Sementara menurut H. Ali Mudhofir (2011: 128-129), materi atau bahan ajar berarti seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak, sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik untuk belajar. Materi atau bahan ajar berisi materi pembelajaran (instructional materials) yang secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis bahan atau materi ajar terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, sikap dan nilai. Ditinjau dari pihak pendidik (guru), materi atau bahan ajar perlu diajarkan atau disampaikan dalam kegiatan pembelajaran. Sementara ditinjau dari pihak peserta didik (siswa), materi atau bahan ajar itu harus dipelajari dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian belajar.

Dalam konteks penguatan kearifan ekologis peserta didik di sekolah, di antara materi atau bahan ajar PAI yang dapat diberikan pada peserta didik misalnya tentang: pertama, pandangan Islam tentang pencemaran udara; kedua, pandangan Islam tentang limbah; ketiga, pandangan Islam tentang ruang hijau; dan keempat, pandangan Islam tentang pemeliharaan flora dan fauna.

a. Pandangan Islam tentang Pencemaran Udara

Kita semua telah mengetahui, apabila udara tidak melingkupi seluruh permukaan bumi, begitu satu bagian dari permukaan bumi kehilangan sinar matahati, maka bagian ini akan segera mengalami penurunan suhu udara hingga 160 derajat dibawah nol, di mana hawa dingin tak tertahankan ini akan segera memusnahkan seluruh eksistensi hidup, karena pada prinsipnya, udara berfungsi untuk menghalangi bumi dalam mempertahankan hawa panas yang diperolehnya dari matahari.

Selain itu manusia membutuhkan oksigen untuk kelangsungan hidupnya, dan kebutuhan yang diperlukannya melalui pernafasan ini akan terpenuhi dengan adanya hawa yang bersih dan sehat, oleh karena itu memanfaatkan udara yang bersih dan sehat merupakan salah satu dari kebutuhan primer manusia.

Namun dari sisi yang lain, perkembangan teknologi dan modernitas kehidupan masyarakat, demikian juga urgensi penciptaan fasilitas-fasilitas baru perkotaan untuk menjawab kebutuhan masyarakat kota yang semakin hari semakin berkembang, telah membuat tingkat pencemaran udara semakin tinggi dan secara bertahap kita menyaksikan juga semakin berkurangnya ruang hijau perkotaan serta terjadinya pencemaran lingkungan hidup.

Dikarenakan kelangsungan generasi dan masyarakat manusia bergantung pada kesehatan dan keselamatan masyarakat, maka dengan melarang hal-hal yang buruk dan tercela serta menghalalkan kesucian dan kebersihan (lihat QS. Al-A’raf: 157). Islam telah mempersiapkan jalan untuk mencapai tujuan dan sasaran ini, dan hal inilah yang harus dipahami oleh peserta didik.

b. Pandangan Islam Tentang Limbah

Persoalan penting menjaga kebersihan lingkungan hidup merupakan salah satu topik yang sangat serius dan asasi bagi masyarakat saat ini. Jika menjaga lingkungan hidup tidak dianggap sebagai kewajiban umum, tidak dianggap secara serius oleh warga, siapapun bisa mencemari lungkungan hidup, atau limbah serta sampah-sampah tidak dikumpulkan dengan metode yang benar dan sehat, maka limbah dan sampah akan menjadi faktor pencemar lingkungan hidup dan pembawa bencana bagi keselamatan masyarakat.

Sampah dan limbah-limbah menyimpan berbagai mikroba dan menjadi tempat perkembangbiakan serangga serta berbagai sumber penyakit. Oleh karena itu Rasulullah saw dalam salah satu hadisnya bersabda, “Jangan menyimpan sampah di dalam rumah pada malam hari, melainkan keluarkan sampah-sampah tersebut pada siang hari, karena sampah merupakan tempat berkumpulnya syaitan.” Demikian juga beliau bersabda, “Jangan mengumpulkan tanah di belakang pintu (halaman), karena akan menjadi sarang setan.” Adakah yang dimaksud dengan syaitan di sini adalah tempat berkumpulnya bakteri-bakteri yang membahayakan, tempat perpindahan dan perkembangbiakan berbagai macam penyakit?.

Dalam sirah dan metode kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya banyak kita saksikan penekanan beliau terhadap kebersihan dan menyarankan hal ini kepada para pengikutnya. Kewajiban menghindari kotoran manusia dan kenajisannya ketika bersentuhan dengannya serta kewajiban bersuci dan mencuci segala sesuatu yang terkotori olehnya, merupakan salah satu layanan ilmiah yang diberikan oleh agama Islam kepada manusia yang menciptakan kebersihan lingkungan hidup dari pencemaran dan hal-hal yang najis. Saat ini kotoran manusia dianggap sebagai pemicu utama dari mayoritas penyakit-penyakit mikroba dan cacing seperti kolera dan penyakit-penyakit yang dikenal dengan parasit usus pencernaan yang disebabkan oleh mikroba dan cacing.

Dari sinilah sehingga dalam salah satu hadisnya, Ali bin Abi Thalib as berkata, “Rasulullah Saw melarang membuang kotoran besar di tepian air yang mengalir, di dekat mata air yang jernih dan di bawah pepohonan yang berbuah.” Demikian juga dalam riwayat yang lain dikatakan, “Rasulullah Saw melarang manusia membuang air kecil di bawah pepohonan yang berbuah, di halaman atau di atas air yang tergenang.”

Peserta didik dalam hal ini juga perlu diajarkan tentang bagaimana perkembangan inovasi, urbanisasi dan meningkatnya konsumerisasi pada masyarakat perkotaan, pada setiap harinya akan dihasilkan ribuan ton sampah dimana pengumpulan dan penimbunan serta pembuangannya yang dilakukan dengan benar dan sehat merupakan hal terpenting dari masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian lebih banyak.

Dalam perspektif agama Islam dan seluruh agama-agama Ilahi lainnya, jiwa manusia dianggap memiliki nilai tinggi dan menjaganya merupakan tidakan yang wajib. Dengan alasan inilah sehingga al-Quran menekankan kepada seluruh muslim untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang akan menyebabkan kehancuran diri mereka sendiri (lihat QS. Al-Baqarah: 195). Oleh karena itu, peserta didik harus dipahamkan bahwa agama Islam tidak memberikan kebolehan kepada siapapun untuk mencemari lingkungan hidupnya dan selainnya, baik dengan tindakan maupun perbuatannya, tidak boleh acuh tak acuh terhadap persoalan-persoalan yang berkaitan dengan unsur terpenting kesehatan, dan tidak berhak menghilangkan peluang masyarakat dalam memperoleh kehidupan yang sehat dengan ketidak pedulian terhadap lingkungan sosial.

 

c. Pandangan Islam Tentang Ruang Hijau

Iklim perkotaan saat ini telah mengalami perubahan yang yang mencolok dibawah pengaruh kepadatan dan keterpusatan kegiatan-kegiatan kota di mana pengkajian wilayah-wilayah kota akan ditinjau secara tertentu dan terpisah dari iklim wilayah, seperti pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan melalui kurangnya ruang hijau perkotaan terhadap ekologi kota terutama dalam kaitannya dengan iklim udara, tanah, air bawah tanah dan lain-lain, sedemikian berpengaruh sehingga unsur-unsur pembentuk dan konstruktifnya benar-benar mengalami perubahan di lingkungan perkotaan.

Meskipun masalah ruang hijau perkotaan ini tidak dijabarkan dalam bentuk yang khas dan kekinian dalam teks-teks dan literatur-literatur utama agama kita, akan tetapi topik ini berada dibawah subyek yang lebih universal, seperti penanaman pohon, mendorong masyarakat untuk melakukan penghijauan dan melarang penebangan pepohonan, dimana hal ini menghikayatkan kepedulian dan perhatian agama Islam terhadap masalah ini.

Dalam kaitannya dengan masalah ini Rasulullah SAW dalam salah satu hadisnya bersabda, “Jika kiamat telah tiba dan terdapat sebuah tunas di tangan salah satu kalian, maka tanamlah tunas tersebut jika mampu.” Dalam melarang dan menegur mereka yang menebangi pepohonan dan menghancurkan sumber-sumber daya alam serta lingkungan hidup, Rasulullah SAW bersaba, “Siapapun yang memotong pohon Sadr, maka ia akan terpuruk ke dalam api jahannam.”

Oleh karena itu peserta didik harus dipahamkan bahwa merusak dan menghancurkan segala sesuatu yang termasuk dalam sumber daya nasional bisa dikatakan tidak sesuai syar‘i. Selain di dunia tempat kita hidup terdapat ribuan faktor-faktor penting lainnya yang saling bekerjasama supaya manusia bisa memperoleh manfaat. Ketiadaan salah satu dari mereka ini akan memperhadapkan manusia pada berbagai dilema kehidupan yang sangat serius. Allah SWT telah menciptakan kenikmatan-kenikmatan di dunia dalam bentuk makanan, minuman dan segala yang memberikan kesejahteraan dan kenyamanan hidup bagi manusia dan berdasarkan ajaran-ajaran al-Quran manusia tidak dilarang untuk memanfaatkan dan merasakan kenikmatan-kenikmatan hidup tersebut, akan tetapi mereka dilarang dari menyia-nyiakan, merusak dan memanfaatkannya secara tidak tepat (lihat QS. Al-A’raf: 31).

 d. Pandangan Islam Tentang Pemeliharaan Flora Dan Fauna

Saat ini ada kecenderungan manusia melakukan perbuatan destruktif pada alam, termasuk melakukan pengrusakan pada flora dan fauna, akibatnya sejumlah hewan mulai mengalami kepunahan, ekosistem orang utan, enggang gading, burung cenderawasih, dan lain-lain sudah sangatlah kritis. Akibatnya terasa, betapa ekosistem yang seimbang menjadi tidak seimbang lagi. Beberapa waktu lalu di Jawa Timur misalnya, wabah ulat bulu menyerang warga, wabah tom cat, dan lain adalah bukti dari kecenderungan ini. Dalam QS Ar-Rum: 41 yang berulang-ulang disebutkan di atas, Allah SWT sudah mengingatkan kita umat manusia, supaya sadar dan lebih memperhatikan lingkungan hidupnya lagi.

Manusia diciptakan oleh Allah tujuannya adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi, yang tentunya juga harus dapat melestarikan bumi ini. Memang suatu saat nanti kiamat pun akan terjadi. Namun jika manusia terus bersikap merusak lingkungan seperti ini, tentunya kiamat itu sendiri akan menjadi lebih cepat karena ulah manusia itu sendiri. Setidaknya kita sebagai seorang muslim, dapat melestarikan lingkungan karena tentunya kita telah mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.

Dalam konteks inilah peserta didik harus memahami posisinya sebagai umat Islam yang harus selalu sadar untuk memelihara kelestarian lingkungan hidup, menjaga dan memanfaatkan alam terutama flora dan fauna, yang sengaja diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia, dengan catatan kita juga harus sayang kepada flora dan fauna sebagai sesama makhluk hidup, seperti yang diisyaratkan QS Al- Baqarah: 22 atau pada QSAl Baqarah: 27.

Flora dan fauna sangatlah penting keberadaannya bagi manusia, dan ini harus dipahamkan betul pada peserta didik melalui pelajaran PAI, sehingga peserta didik akan selalu melestarikan dan menjaga kelangsungannya.

  1. 3.      Metode Mengajar

Proses belajar mengajar atau proses pembelajaran merupakan proses interaksi antara pendidik (guru) dan peserta didik (siswa) dalam suatu pengajaran untuk mewujudkan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan atau ditetapkan. Dalam konteks penguatan kearifan ekologis melalui pelajaran PAI, seorang pendidik atau guru dapat menggunakan berbagai metode dan berbagai variasinya. Di antara metode yang dapat digunakan oleh pendidik atau guru dalam hal ini:

  1. Metode ceramah, adalah metode penyampaian materi ilmu pengetahuan kepada peserta didik (siswa) yang melalui proses penyampaian secara lisan.
  2. Metode tanya jawab, adalah metode di mana seorang pendidik (guru) mengajukan pertanyaan kepada peserta didik (siswa), atau sebaliknya. Metode ini dimaksudkan dapat merangsang peserta didik berpikir dan membimbingnya dalam mencapai kebenaran.
  3. Metode diskusi, adalah metode di mana pendidik (guru) mengajak peserta didik (siswa)nya untuk dapat bersama-sama memecahkan masalah melalui adu argumentasi atau pendapat.
  4. Metode pemecahan masalah (problem solving), adalah merupakan cara memberikan pengertian dengan menstimulasi peserta didik (siswa) untuk memperhatikan, menelaah, dan berpikir tentang sesuatu masalah, dan selanjutnya menganalisa masalah tersebut sebagai usaha untuk memecahkannya.
  5. Metode kisah, yaitu merupakan metode pembelajaran yang digunakan dengan cara memberi cerita atau dongeng para tokoh-tokoh yang dapat disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan, sehingga dapat menggugah hati nurani dan berusaha melakukan hal-hal yang baik.
  6. Metode suri tauladan, adalah metode yang terbaik dari metode yang telah dipaparkan di atas, karena dengan suri tauladan, seorang peserta didik (siswa) akan mudah meniru sehingga akhirnya akan dengan mudah pula mempraktikkannya.
  1. 4.      Evaluasi Pembelajaran

Selain hal-hal yang telah dijelaskan di atas, dalam konteks penguatan kearifan ekologis di kalangan peserta didik, hal yang terakhir dan tak kalah pentingnya dilakukan dalam pembelajaran PAI adalah melakukan evaluasi. Menurut Junaidi (2011), tujuan evaluasi pembelajaran PAI antara lain:

  1. Mengetahui kemampuan belajar peserta didik (siswa) dalam pembelajaran PAI, baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok/kelas, setelah ia mengikuti pendidikan dan pembelajaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan;
  2. Mengetahui tingkat efektivitas dan efisiensi berbagai komponen pembelajaran yang dipergunakan pendidik (guru) dalam jangka waktu tertentu (misalnya: perumusan materi atau bahan ajar PAI, pemilihan metode pembelajaran, media ajar, sumber belajar, dan lain-lain); dan
  3. Menentukan tindak lanjut pembelajaran PAI bagi peserta didik (siswa).

 Sementara itu fungsi penilaian pembelajaran PAI menurut Junaidi (2011):

  1. Alat untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran PAI. Dengan fungsi ini, maka penilaian harus mengacu pada rumusan-rumusan tujuan pembelajaran sebagai penjabaran dari kompetensi mata pelajaran;
  2. Sebagai umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar. Perbaikan mungkin dilakukan dalam hal tujuan pembelajaran PAI, kegiatan atau pengalaman belajar pendidik (siswa), strategi pembelajaran PAI yang digunakan pendidik (guru), media pembelajaran PAI, dan lain-lain;
  3. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar peserta didik (siswa) kepada para orang tuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan kemampuan dan kecakapan belajar peserta didik (siswa) dalam bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya.

Mengingat penguatan kearifan ekologis di kalangan peserta didik di lingkungan sekolah melalui pelajaran PAI adalah proses yang berkelanjutan, maka evaluasi pembelajaran menjadi suatu keharusan.

 

PENUTUP

Dalam pandangan Islam, manusia adalah bagian dari alam, pengelola, dan khalifah (wakil Tuhan) di muka bumi. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia tentu saja berhak memanfaatkan fungsi-fungsi alam. Tapi sebaliknya, manusia juga memiliki kewajiban dan mengemban tanggung jawab dari Tuhannya untuk memelihara dan melestarikan fungsi-fungsi alam, bukan justru mengambil langkah-langkah destruktif dalam memanfaatkan fungsi-fungsi alam tersebut. Ringkasnya, agama Islam mengharamkan sikap-sikap destruktif dalam memanfaatkan fungsi-fungsi tersebut dan mengakui pentingnya menjaga dan melestarikan fungsi-fungsi alam.

Jika kita setuju bahwa manusia dan pemikirannya adalah produk dari suatu proses pendidikan yang ia dapat, maka dapat dikatakan bahwa sifat dan perilaku suka merusak lingkungan disebabkan karena lembaga pendidikan tidak memaksimalkan usaha penguatan kearifan ekologis di kalangan peserta didik. Karena itulah pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) seharusnya dapat secara optimal mengajarkan di kalangan peserta didik di lingkungan sekolah tentang pentingnya memelihara dan melestarikan lingkungan hidup beserta fungsi-fungsi ekologis. Pelajaran PAI ini akan berdampak positif mewujudkan hal tersebut, jika pelajaran PAI memiliki rencana pembelajaran yang didesain dengan baik untuk tujuan tersebut. Setidaknya ada empat komponen yang mesti diperhatikan dalam desain pembelajaran tersebut: pertama, tujuan pengajaran; kedua, materi atau bahan ajar; ketiga, metode mengajar; dan keempat, evaluasi.***

 DAFTAR PUSTAKA

 Aufa, Agus Abu, “Fikih Keluarga”, dalam Majalah Nikah Sakinah, Vol. 9 No. 10, Januari 2011.

 Baiquni, Ahmad, 1985. “Tugas Ganda Manusia”  dalam Iqra’. Yogyakarta: Salahuddin Press.

 Daradjat, Zakiah, 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

 Depag RI, 1989. Al Qur‘an dan Terjemahannya. Semarang: Thoha Putra.

 Hidayati, Nurul, 2011. “Islam Mengajarkan Kita Bersikap Ramah Lingkungan”, dalam http://www.salimah.or.id/islam-mengajarkan-kita-bersikap-ramah-lingkungan/ (diunduh 20 November 2013)

 Junaidi, 2011. Modul Pengembangan Evaluasi Pembelajaran PAI. Jakarta: Direktorat Pendidikan Agama Islam Kemenag RI.

 Kurniawan, Syamsul, 2006. Tanah Airku Murka: Pentingnya Membangun Kesadaran Eco-Teologi, Pontianak Post, 29 November.

 Kurniawan, Syamsul, 2007. Al-Quran dan Kesalehan Lingkungan, Borneo Tribune, 12 Oktober.

 Sofan dan Lif Khoiru Ahmadi, 2010. Konstruksi Pengembangan Pembelajaran. Jakarta: Pustaka.

 Tribun, 2011. “Kerusakan Lingkungan Meningkat”, dalam http://www.tribunnews.com/2011/12/30/walhi-2012-kerusakan-lingkungan-meningkat (diunduh 13 Mei 2012).


[1] Dalam agama Islam kasus pembunuhan terhadap jiwa sebagai sebuah dosa besar, pun terlarang untuk membunuh diri sendiri. Bukankah rusaknya lingkungan hidup dapat berdampak buruk bagi penjagaan kesehatan manusia, korban banjir, longsor, penyakit akibat polusi udara, air, makanan, dan lain-lain.

[2] Hal ini sejalan dengan maksud sebuah hadits “Sesungguhnya jika kamu meninggalkan anak-anakmu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta pada orang lain” (HR Bukhari dan Muslim). Contoh: hemat air dan menjaga sumber air agar tidak tercemar merupakan upaya menjaga ketersediaan air bersih bagi generasi yang akan datang. Diprediksikan sekitar 40 tahun yang akan datang bisa jadi negara-negara berperang memperebutkan sumber air bersih karena kelangkaannya. Hari ini di sebagian belahan bumi saja sudah banyak manusia sulit mendapatkan air bersih.

[3] Lingkungan hidup yang baik, udara yang bersih, akan membantu perkembangan otak dengan baik, dan sebaliknya lingkungan tercemar menurut hasil penelitian akan menurunkan kualitas IQ seorang anak

[4] Bumi, pohon, binatang, air, sumber energi, dan lain-lain adalah harta. Pengrusakan lingkungan berarti merusak modal kehidupan manusia yang telah diberikan Allah.

11 July 2013

MEMAJUKAN PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN

Posted in pendidikan at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

studium generalSECARA historis, sebagai lembaga pendidikan Islam pondok pesantren telah melalui perjalanan yang panjang di negeri ini. Pondok pesantren dapat dikatakan telah berkiprah secara signifikan pada zaman-zaman yang dilaluinya, baik sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan ajaran Islam, sebagai lembaga dakwah, maupun sebagai lembaga pemberdayaan dan pengabdian masyarakat. Hal ini sesuai dengan makna pondok pesantren sebagai tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam.

Secara umum pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama, kyai sebagai figur sentralnya, dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya. Sebagai lembaga pendidikan Islam, pondok pesantren semestinya dapat menjadi pusat pencerdasan karakter santri-santrinya, baik spiritual (SQ), intelektual (IQ), dan emosional (EQ). Untuk itu lingkungan pesantren secara keseluruhan adalah lingkungan yang dirancang untuk kepentingan pendidikan. Sehingga segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan dan dialami para santri, atau seluruh penghuni pesantren terkondisikan untuk kepentingan pencapaian tujuan pendidikan.

 

Yang perlu dilakukan

Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren saat ini hendaknya dapat menggunakan paradigma belajar pendidikan modern seperti paradigma belajar dalam empat visi pendidikan menuju abad 21 versi UNESCO yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

Pertama, proses belajar yang bersifat teoritis dan berorientasi pada pengetahuan rasional dan logis (learning to know) sebagai sesuatu yang inheren dalam pendidikan pondok pesantren. Di pondok pesantren para santri tidak hanya belajar untuk mengetahui tetapi juga belajar menyatakan pendapat secara kritis melalui berbagai fasilitas yang disediakan untuk itu. Kedua, belajar untuk melakukan atau berbuat sesuatu (learning to do). Visi ini lebih terkait dengan sisi praktis dan teknis yang pencapaiannya dilakukan melalui pembekalan santri dengan keterampilan-keterampilan yang dapat membantunya menyelesaikan persoalan-persoalan keseharian yang dihadapinya. Ini tercermin, misalnya, dalam pendidikan kemandirian yang sangat kentara dalam kehidupan keseharian santri. Ketiga, learning to be. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses belajar menjadi diri sendiri (learning to be) di lingkungan pondok pesantren. Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, serta belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya adalah proses pencapaian aktualisasi diri. Pengembangan diri secara maksimal (learning to be) di pondok pesantren erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak dan kondisi lingkungan seorang santri. Kemampuan diri yang terbentuk di sekolah secara maksimal memungkinkan seorang santri untuk mengembangkan diri pada tingkat yang lebih tinggi. Keempat, learning to live together. Pendidikan di pondok pesantren hendaknya menanamkan kesadaran bahwa kita sedang hidup dalam sebuah masyarakat global dengan aneka ragam latar belakang sosial, budaya, bahasa, suku, bangsa dan agama. Dalam kehidupan masyarakat yang demikian ini, nilai-nilai toleransi, tolong-menolong, persaudaraan, saling menghormati dan perdamaian hendaknya dijunjung tinggi oleh setiap santri. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pondok pesantren harus menjadi pionir bagi terciptanya suatu tatanan kehidupan masyarakat plural yang harmonis, karena keadaan santri-santri pondok pesantren yang memang berbeda latar belakang sosial budayanya.

Keempat visi belajar di atas selanjutnya mengarah pada “learning how to learn” (belajar bagaimana belajar). Di pondok pesantren, santri hendaknya dapat dididik untuk menjadi pembelajar sejati, dia dapat belajar dari apa saja, dari siapa dan apa saja, kapan saja dan di mana saja, bahkan pada alam. Proses belajar harusnya telah menjadi suatu sikap atau kepribadian yang melekat pada diri seorang santri.

Di pondok pesantren, learning how to learn dapat ditanamkan  melalui berbagai cara, baik melalui pengajaran formal, pengajian, pengarahan, bimbingan, penugasan, pelatihan, dan seterusnya. Jadi segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami para santri dimaksudkan supaya santri mengerti tentang “learning how to learn” (belajar bagaimana belajar).

Untuk menjawab tantangan dan kebutuhan sosial pondok pesantren, semestinya pondok pesantren dapat mengambil langkah-langkah pembaruan. Di antara yang dapat dilakukan pondok pesantren adalah dengan melakukan pembaruan kurikulum dan kelembagaan yang berorientasi pada konteks kekinian sebagai respons dari modernitas. Tetapi tidak semua unsur modernitas dapat diserap oleh pondok pesantren, sebab bukan tidak mungkin orientasi semacam itu akan menimbulkan implikasi negatif terhadap eksistensi dan fungsi pondok pesantren. Sebaliknya pondok pesantren harus menumbuhkan apresiasi yang sepatutnya terhadap semua perkembangan yang terjadi di masa kini dan mendatang, sehingga dapat memproduksi ulama yang berwawasan luas.

Tantangan di era globalisasi tidak mungkin dihindari. Oleh karenanya pondok pesantren juga mesti membuat terobosan-terobosan agar tidak “ketinggalan kereta” dan tidak kalah dalam persaingan. Sekurang-kurangnya ada empat hal yang perlu digarap oleh pondok pesantren  dengan tidak meninggalkan jati diri pesantren.

Pertama, pondok pesantren sebagai lembaga “pengkaderan ulama”. Fungsi ini hendaknya tetap dapat dipertahankan di pondok pesantren. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang bertugas melahirkan ulama. Namun demikian, tantangan globalisasi dan modernisasi mengharuskan ulama mempunyai kemampuan lebih, kapasitas intelektual yang memadai, wawasan, akses pengetahuan dan informasi yang cukup serta responsif terhadap perkembangan dan perubahan.

Kedua, Pondok pesantren sebagai lembaga pengembangan ilmu pengetahuan agama, khususnya agama Islam. Pada tataran ini, sebagian pondok pesantren boleh dibilang masih lemah dalam penguasaan ilmu dan metodologi. Kecenderungan demikian harus dipikirkan langkah-langkah antisipasinya. Semisal dengan menyusun pola kurikulum yang terencanakan dan sistematis dan dengan target pencapaian yang jelas. Dapat dimafhumi sebagian pondok pesantren dalam sistem pengajarannya masih menggunakan standar acuan kitab-kitab kuning klasik tanpa diubah dan dimodifikasi sistem penyampaian/pengajarannya meskipun telah menerapkan sistem pendidikan madrasah. Langkah lainnya adalah dengan kembali menggairahkan kegiatan-kegiatan diskusi atau musyawarah, bahtsul masail, dan pola-pola pembelajaran yang dipandang bisa menumbuhkan daya inisiatif, kreatif dan kritis di kalangan para santri.

Ketiga, Pondok pesantren hendaknya mampu menempatkan dirinya sebagai sarana transformasi, motivasi sekaligus inovasi. Kehadiran sebagian pesantren dewasa ini diakui memang telah memainkan perannya dalam fungsi itu, meskipun boleh dikatakan masih dalam tahapan yang perlu dikembangkan lebih lanjut. Karena itu pondok pesantren mesti mengembangkan wawasan pengetahuan agama santri-santrinya dengan mengintegrasikan materi seperti ilmu-ilmu al-Quran, hadits, ushul fiqh, dan lain-lain dengan materi-materi umum seperti sejarah, sosiologi, antropologi, dan seterusnya. Pondok pesantren jangan dibuat terkesan fiqh-oriented, tapi menjadi pusat pengkajian segala macam disiplin ilmu.

Keempat, Sebagai salah satu komponen penting dalam pembangunan sumber daya masyarakat, pondok pesantren juga mesti memiliki kekuatan dan daya tawar untuk melakukan perubahan yang berarti di masyarakat. Seorang santri hendaknya dapat dididik untuk dapat menjadi pionir dalam usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitarnya, bukan malah menjadi beban masyarakat.

Terobosan-terobosan untuk memajukan pondok pesantren memang menjadi suatu konsekuensi dari modernisasi. Namun pondok pesantren juga mempunyai batasan-batasan yang kongkret bahwa pembaruan atau modernisasi yang dilakukan tidak boleh mengubah atau mereduksi orientasi dan idealisme suatu pondok pesantren. Sehingga dengan demikian pondok pesantren tidak sampai terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi, namun justru sebaliknya dapat menempatkan diri dalam posisi yang strategis dan bahkan sebagai kontrol dari dampak negatif globalisasi tersebut.***

24 June 2013

KRISIS PEMUDA DAN RESEP PENDIDIKAN KARAKTER

Posted in pendidikan at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

foto penulisOleh: Syamsul Kurniawan, Pengajar Filsafat Pendidikan Islam di Jurusan Tarbiyah STAIN Pontianak.Email: syamsul_kurniawan@yahoo.com

JIKA kita ibaratkan suatu gedung pencakar langit yang berdiri kokoh. Tentulah gedung itu didukung pilar-pilar yang kuat, tidak rubuh maupun goyah sedikitpun jika dihempas angin atau badai. Demikian pula halnya bangsa ini, yang membutuhkan pemuda-pemuda sebagai pilar-pilar yang menguatkan atau menyokong tegaknya bangsa ini.

Perjalanan suatu bangsa sejatinya tidak lepas dari keberadaaan pemuda”, demikian pernah penulis sampaikan dalam opini penulis berjudul Peran Pemuda: Dulu dan Sekarang yang dimuat di surat kabar harian Pontianak Post, 27 Oktober 2009. Karena dari berbagai referensi yang penulis dapatkan, sejarah selalu mencatat – bahkan dalam sejarah perkembangan peradaban dunia telah membuktikan peran pemuda sebagai aktor penting dari suatu peradaban. Mungkin benar kata Hasan Al-Banna, ”Dalam setiap kebangkitan sebuah peradaban di belahan dunia manapun maka kita akan menjumpai bahwa pemuda adalah salah satu irama rahasianya”.

Dalam sejarah yang dimiliki bangsa ini, pemuda juga selalu ambil bagian. Pemuda selalu tampil di garda depan. Kita masih ingat ketika pada tanggal 28 Oktober 1928 terlaksana kongres pemuda yang menjadi pemicu lahirnya “Sumpah Pemuda”. Jauh sebelum tahun itu, pergerakan pemuda seperti Budi Utomo, Sarikat Islam, dan organisasi pemuda daerah lainnya telah menggebu-gebu yang menandakan adanya pergolakan dan pergerakan pemuda pada saat itu.

Kemerdekaan bangsa Indonesia pun diproklamasikan dengan campur tangan pemuda di dalamnya. Kita dapat mengetahui pemuda seperti Chairil Saleh, Yusuf, dan Wikana yang menjadi aktor ketika itu terutama dalam mendukung terlaksananya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 17 Agustus 1945. Peristiwa tentang penumbangan Orde Lama pada tahun 1966 melibatkan entitas sosial yang bernama pemuda. Dan yang masih ingat dalam memori kita semua adalah peristiwa reformasi yang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru pada tahun 1998. Dan pada saat itu, unsur terbanyak yang bergerak dalam melawan ketidakadilan adalah mahasiswa, yang dalam hal ini mewakili kalangan pemuda.

Pemuda memang sangat erat kaitannya dengan perubahan. Karena memang seperti itulah kodratnya. Dengan mobilitasnya yang sangat tinggi dan daya juang yang kuat, pemuda akan senantiasa bergerak menciptakan momentum untuk melakukan suatu perubahan. Tingkat produktivitas pemuda juga menjadi faktor pemicu untuk melakukan sesuatu hal yang bermanfaat. Maka bukan suatu kebetulan jika Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno demikian percaya dengan kekuatan pemuda sebagai kekuatan perubahan. Mendiang Ir. Soekarno pernah mengatakan,“Berikan aku sepuluh orang tua, maka aku akan mencabut gunung Semeru dari akarnya. Berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia”.

Dimanapun kita berada, maka kita akan melihat bahwa perubahan akan diciptakan oleh pemuda. Pemuda yang dimaksud adalah pemuda yang memiliki kualitas intelektual dan kualitas karakter yang baik sebagai modal kepemimpinan dan kesuksesan pemuda dalam menciptakan suatu perubahan.

 

KRISIS KARAKTER DI KALANGAN PEMUDA

Pemuda dengan berbagai karakteristiknya memiliki peranan dan fungsi yang sangat strategis dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Paling tidak ada tiga peran dan fungsi pemuda: pertama, agent of change; kedua, social of control, dan ketiga, moral force.

Sebagai agent of change mahasiswa dituntut bukan hanya menjadi bagian dari perubahan saja, melainkan pencetus perubahan itu sendiri. Sebagai agent of change, mahasiswa mempunyai tanggung jawab besar dalam membuat perubahan-perubahan mendasar dalam masyarakat, apalagi saat ini dinamika masyarakat begitu cepat berubah seiring perubahan global. Dalam konteks seperti ini, pemuda dapat memfungsikan diri melalui sikap kritis, semangat berubah dan ide-ide cerdasnya mengatasi kemandekan berpikir dalam masyarakat. Cara pandang sempit diarahkan kepada paradigma yang holistik dan komprehensif. Peran pemuda sebagai social of control terjadi ketika ada yang tidak beres atau ganjil dalam masyarakat dan pemerintah. Saat ini di Indonesia, masyarakat merasakan bahwa pemerintah hanya memikirkan dirinya sendiri dalam bertindak. Usut punya usut, pemerintah tidak menepati janji yang telah diumbar-umbar dalam kampanye mereka. Kasus hukum, korupsi, dan pendidikan merajalela dalam kehidupan berbangsa bernegara. Inilah potret mengapa pemuda yang notabene sebagai anak rakyat harus bertindak dengan ilmu dan kelebihan yang dimilikinya. Namun, perbuatan pemuda dalam social of control tidak berarti turun ke jalan saja, tapi juga dengan hal yang substansial, contohnya melalui diskusi. Dengan didukungnya pokok-pokok pikiran yang didapatkan melalui diskusi, pemuda hemat penulis akan mejadi lebih bijak dalam mengubah hal yang tidak beres dalam masyarakat maupun pemerintah. Yang terakhir sebagai moral force. Dalam sejarahnya memang banyak sekali kiprah mahasiswa yang telah menorehkan tinta emas bagi perjuangan bangsa seperti telah penulis uraikan sekilas di muka. Secara moralitas pemuda harus mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang lainnya karena mereka mempunyai latar belakang sebagai kaum intelektual, di mana mereka mengatakan yang benar itu adalah benar dengan penuh kejujuran, keberanian, dan rendah hati. Pemuda juga dituntut untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya dan terbuka kepada siapa saja.

Sayangnya pemuda-pemuda yang dapat menjadi agent of change, social of control dan moral force, sulit kita jumpai pada hari ini. Mungkinkah karena globalisasi? Adanya globalisasi seringkali dituding membawa dampak buruk dalam karakter para pemuda-pemuda kita. Ibarat cerita Raja Midas yang menginginkan setiap yang disentuhnya menjadi emas, ternyata ketika keinginannya dikabulkan dia tidak semakin senang, tetapi semakin resah bahkan gila. Sebab, tidak saja rumah dan seisi rumah yan menjadi emas, tetapi istri dan anak yang disentuh pun menjadi emas sehingga sang raja pun akhirnya meratapi nasib yang kesepian tanpa ada makhluk hidup yang mendampinginya. Tak banyak pemuda-pemuda hari ini yang mempunyai idealisme, patriotisme dan nasionalisme yang bagus meskipun globalisasi menawarkan banyak kesenangan dan kemudahan.

Hal ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa pemuda-pemuda hari ini banyak yang mengalami krisis karakter. Tawuran antar pelajar atau antar mahasiswa, meningkatnya kenakalan remaja termasuk penyalahgunaan narkoba, maraknya pergaulan bebas, dan lain-lain. Hal ini merupakan beberapa contoh betapa pemuda-pemuda pada hari ini banyak yang “bermasalah”. Belum lagi banyak sekali pemuda saat ini yang terjebak dalam lingkaran apatisme, hedonisme dan semacamnya yang semuanya mengarah pada satu hal yang disebut “anti sosial”, dan mungkin saja ini karena ketidaksiapan karakter pemuda dalam menghadapi era globalisasi.

Para pemuda adalah calon generasi penerus, dan calon pemimpin negara dan bangsa masa depan. Tanpa karakter yang kuat yang dimiliki para pemuda, maka akan memiliki resiko yang besar di masa yang akan datang bagi bangsa ini. Kita dapat melihat bahwa pergaulan dunia yang semakin tanpa batas, seperti ekonomi global dimana konsumen dan produsen (coorporations) tanpa mengenal batas-batas negara, setiap konsumen hanya mau membeli barang dan jasa dengan kualitas terbaik dan harga termurah dari manapun asalnya atau siapa pembuatnya. Lihatlah Negara Cina yang telah merambah dan mengusai pasar global. Oleh karena itu perlu dibangun karakter atau watak yang kuat di kalangan pemuda sebagai jaminan masa depan negara kita: Indonesia.

 

RESEP PENDIDIKAN KARAKTER BAGI PEMUDA

Pendidikan karakter memang diperlukan untuk memperbaiki krisis karakter yang sedang dialami oleh para pemuda pada saat ini. Menurut Mochtar Buhori, pendidikan karakter seharusnya membawa seseorang ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata.

Banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa karakter seseorang dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Di antaranya berdasarkan penelitian di Harvard University, Amerika Serikat, yang ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan  orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter sangat urgen untuk ditingkatkan.

Dengan pendidikan karakter seorang pemuda semestinya akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan pemuda menyongsong masa depannya, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan termasuk tantangan untuk berhasil secara akademik maupun non akademik.

Hal ini dikuatkan dengan pandangan Daniel Goleman, bahwa keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (EQ) dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Seseorang yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya akan mengalami kesulitan belajar, bergaul, dan tidak dapat mengontrol emosinya. Sebaliknya para pemuda yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh pemuda lainnya seperti kenakalan, tawuran,  narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Begitu pentingnya pendidikan karakter, sampai-sampai beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Cina sudah menerapkan model pendidikan karakter. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis, berdampak positif pada pencapaian akademis.

Di Indonesia pendidikan karakter sebenarnya sudah lama digagas dan diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah, khususnya dalam pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan sebagainya. Namun implementasi pendidikan karakter itu masih terseok-seok dan belum optimal. Itu karena pendidikan karakter bukanlah sebuah proses menghapal materi soal ujian, dan teknik-teknik menjawabnya. Pendidikan karakter memerlukan pembiasaan. Pembiasaan untuk berbuat baik, pembiasaan untuk berlaku jujur, ksatria, malu berbuat curang, malu bersikap malas, malu membiarkan lingkungannya kotor. Karakter tidak terbentuk secara instan, tapi harus dilatih secara serius dan proporsional agar mencapai bentuk dan kekuatan yang ideal.

Dalam Bab II, Dasar, Fungsi dan Tujuan, Pasal 3, UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, juga mengisyaratkan tentang pentingnya pendidikan karakter:

 

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Jika bangsa ini konsisten dan mempunyai tekad yang kuat untuk “mengarusutamakan” pendidikan karakter di kalangan pemuda, tentu bisa direalisasikan. Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter di kalangan pemuda juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sistematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter para pemuda-pemuda Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebhinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme yang mestinya dapat tumbuh di kalangan pemuda sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini kelak.

Pendidikan karakter dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar karakter bangsa. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu, pendidikan karakter pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional.

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter di Indonesia diidentifikasi berasal dari empat sumber. Pertama, Agama. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Karenanya, nilai-nilai pendidikan karakter harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

Kedua, Pancasila. Negara Kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 yang dijabarkan lebih lanjut ke dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

Ketiga, Budaya. Sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat tersebut. Nilai budaya ini dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat tersebut. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Keempat, Tujuan Pendidikan Nasional. UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Tujuan pendidikan nasional sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Berdasarkan keempat sumber nilai tersebut, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan karakter seperti tabel 2.1 sebagai berikut:

 

Tabel 1

 

Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter

Yang Dapat Dikembangkan Di Kalangan Pemuda

No Nilai Deskripsi
1 Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2 Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5 Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6 Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7 Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8 Demokratis Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9 Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat atau didengar.
10 Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11 Cinta Tanah Air Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas diri dan kelompoknya.
12 Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan oran lain.
13 Bersahabat/ Komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain.
14 Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15 Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16 Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17 Peduli sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18 Tanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan YME.

 

Delapan belas nilai untuk pendidikan karakter di atas dapat ditambah atau dikurangi dengan menyesuaikan kebutuhan di kalangan pemuda.

 

PENDIDIKAN KARAKTER DI KALANGAN PEMUDA DAN PERAN PERGURUAN TINGGI

Jika kita setuju bahwa mahasiswa merepresentasikan kelompok pemuda, maka perguruan tinggi mempunyai peran penting dalam hal menumbuhkan nilai-nilai karakter di atas di kalangan pemuda-pemuda yang sedang mengenyam status mahasiswa.

Pengembangan pendidikan karakter di lingkungan perguruan tinggi dengan demikian harusnya menjadi mata rantai tak terpisahkan dari sasaran pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Keberhasilan pendidikan karakter di lingkungan perguruan tinggi diharapkan dapat melahirkan mahasiswa yang berkualitas dan berkarakter, memiliki keunggulan daya saing, serta dapat menjadi tenaga kerja produktif pada berbagai bidang kehidupan. Karena itu mahasiswa harus disiapkan dan diberdayakan agar mampu mempunyai kualitas karakter dan keunggulan daya saing guna menghadapi tuntutan, kebutuhan, serta tantangan dan persaingan dalam kehidupannya.

Untuk tujuan tersebut tentulah diperlukan langkah-langkah strategis guna memperbaiki moralitas dan karakter mahasiswa, dengan menjadikan pendidikan karakter sebagai “ruh” perguruan tinggi. Memang benar bahwa saat ini sudah ada sebagian perguruan tinggi telah melaksanakan pembelajaran karakter dengan baik. Umumnya, perguruan tinggi tersebut memiliki mutu dan kualitas manajemen yang baik pula. Namun, masih banyak perguruan tinggi yang sebagian dosennya tidak peduli dengan dengan perilaku mahasiswanya. Mereka terkesan abai, cuek, dan beranggapan jika tugasnya hanya mengajar saja, perkara moralitas mahasiswa amburadul dan bobrok itu urusan lain!.

Sudah saatnyalah sekarang, tidak hanya di jenjang pendidikan dasar dan menengah, pendidikan karakter dapat berlangsung efektif, tetapi juga di perguruan tinggi. Di perguruan tinggi, pendidikan karakter hendaklah dapat membingkai dan menjiwai kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pembelajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Atau dengan kata lain, Tridharma Perguruan Tinggi hendaknya dilaksanakan dengan berkarakter. Pengembangan pendidikan karakter pada mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi selain untuk membendung degradasi karakter mahasiswa, juga berfungsi membentuk karakter mahasiswa yang kokoh dan kuat guna menghadapi aneka tantangan zaman di masa yang akan datang.

Di tengah masyarakat yang cenderung primordialistis ini, program pendidikan karakter di perguruan tinggi hendaklah memuat usaha untuk membantu para mahasiswa melihat kenyataan secara kritis. Pengembangan Karakter di Perguruan Tinggi ini tercakup dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni: pertama, Pendidikan dan pengajaran; kedua, Penelitian dan pengembangan; dan ketiga, Pengabdian pada masyarakat. Ketiga fungsi perguruan tinggi tersebut hendaknya dapat dikembangkan secara simultan dan bersama-sama.

Kegiatan penelitian dan pengembangan hendaknya menjunjung tinggi kegiatan pendidikan dan pengajaran serta kegiatan pengabdian pada masyarakat. Kegiatan penelitian diperlukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi. Untuk dapat melakukan penelitian diperlukan adanya tenaga-tenaga ahli yang dihasilkan melalui proses pendidikan. Selanjutnya, ilmu pengetahuan yang dikembangkan sebagai hasil pendidikan dan penelitian itu hendaknya dapat diterapkan melalui kegiatan pengabdian pada masyarakat sehingga masyarakat dapat memanfaatkan dan menikmati kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Dari sini semakin jelaslah hubungan antara masing-masing tri dharma perguruan tinggi.

Untuk lebih jelasnya lagi penulis uraikan masing-masing ketiga dharma perguruan tinggi itu secara spesifik. Pertama, Pendidikan dan pengajaran. Pengertian pendidikan dan pengajaran disini adalah dalam rangka menerusakan pengetahuan atau dengan kata lain dalam rangka transfer of knowledge ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan melalui penelitian oleh mahasiswa di perguruan tinggi. Dalam pendidikan tinggi di negara kita dikenal dengan istilah strata, mulai dari strata satu (S1) yaitu merupakan pendidikan program sarjana, strata dua (S2) merupakan program magister dan strata tiga (S3) yaitu pendidikan doktor dalam suatu disiplin ilmu, serta pendidikan jalur vokasional/non gelar (diploma). Kedua, Penelitian dan pengembangan. Kegiatan penelitian dan pengembangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa penelitian, maka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi terhambat. Penelitian ini tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi harus dilihat keterkaitannya dalam pembangunan dalam arti luas.artinya penelitian tidak semata-mata hanya untuk hal yang diperlukan atau langsung dapat digunakan oleh masyarakat pada saat itu saja, akan tetapi harus dilihat dengan proyeksi kemasa depan. Dengan kata lain penelitian di perguruan tinggi tidak hanya diarahkan untuk penelitian terapan saja, tetapi juga sekaligus melaksanakn penelitian ilmu-ilmu dasar yang manfaatnya baru terasa penting artinya jauh di masa yang akan datang. Ketiga, Pengabdian pada masyarakat. Pengabdian pada masyarakat merupakan serangkaian aktivitas dalam rangka kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat yang bersifat kongkrit dan langsung dirasakan manfaatnya dalam waktu yang relatif pendek. Aktivitas ini dapat dilakukan atas inisiatif individu atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi terhadap masyarakat maupun terhadap inisiatif perguruan tinggi yang bersangkutan yang bersifat nonprofit (tidak mencari keuntungan). Dengan aktivitas ini diharapkan adanya umpan balik dari masyarakat ke perguruan tinggi, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih lanjut.

Dalam menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi tersebut, kegiatan mahasiswa dipisahkan ke dalam dua jenis yaitu: kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam kerangka mewujudkan program pendidikan yang telah tersusun pada kurikulum program studi, sedangkan kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan di luar jam pelajaran biasa (termasuk dalam waktu libur) yang dilakukan di kampus ataupun di luar kampus dengan tujuan menumbuhkan dan meningkatkan kompetensi/ karakter mahasiswa mengenai hubungan antara berbagai mata kuliah, menyalurkan bakat dan minat, meningkatkan kesejahteraan dan menumbuhkan kepekaan sosial serta melengkapi upaya mewujudkan manusia seutuhnya. Sementara kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan kemahasiswaan yang meliputi: penalaran dan keilmuan, minat dan kegemaran, upaya perbaikan kesejahteraan mahasiswa, dan sosial kemasyarakatan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperluas wawasan, menyalurkan bakat minat, serta pembentukan karakter seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan tinggi. Kegiatan penalaran merupakan  bagian dari kegiatan ekstrakurikuler yang menampung dan membentuk mahasiswa dalam meningkatkan dirinya sebagai mahasiswa pemikir, kreatif dan inovatif dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Contoh: diskusi ilmiah, seminar ilmiah, kegiatan bakti sosial, dan sebagainya. Baik kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler yang merupakan implementasi dari Tri Darma Perguruan Tinggi, diharapkan mahasiswa dapat mengedepankan dan menggunakan rasionalitas dalam berpola pikir, berpola wicara, dan berpola perilaku.

Beberapa hal di atas tentu sejalan dengan tujuan pengembangan pendidikan karakter pada mahasiswa di perguruan tinggi yang menghendaki mahasiswa dapat disiapkan dan diberdayakan agar mampu mempunyai kualitas karakter dan keunggulan daya saing guna menghadapi tuntutan, kebutuhan, serta tantangan dan persaingan dalam kehidupannya.

Hal lain yang dapat dikerjakan perguruan tinggi adalah dengan pembenahan kurikulum. Menilik peran dan fungsi mahasiswa yang begitu strategis, mahasiswa perlu memiliki karakter yang kuat. Memang karakter seorang mahasiswa tidak dapat dibentuk secara otomatis. Seorang mahasiswa yang mengenyam dan menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi misalnya, tidak serta merta memiliki karakter mulia tertentu secara otomatis setelah melalui semua proses pembelajarannya di perguruan tinggi.

Meskipun demikian, bukan berarti karakter mahasiswa tidak dapat berkembang selama mengikuti pendidikan di perguruan tinggi, karena karakter seseorang dapat ditumbuhkan secara perlahan dan berkelanjutan melalui proses pendidikan. Schwartz menyatakan bahwa perguruan tinggi, baik yang berlatarbelakang religius maupun yang sekuler, dapat menggunakan kekuatan kurikulumnya, khususnya efek baiknya, untuk membentuk pemikiran tetapi juga karakternya. Kurikulum ini tidak saja membentuk intelectual habits namun juga moral habits mahasiswa.

Pada saat ini yang diperlukan perguruan tinggi adalah kurikulum pendidikan yang berkarakter; dalam arti kurikulum perguruan tinggi itu sendiri memiliki karakter, dan sekaligus diorientasikan bagi pembentukan karakter mahasiswa. Perbaikan kurikulum perguruan tinggi tentu merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum itu sendiri (inherent), bahwa suatu kurikulum yang berlaku harus secara terus-menerus dilakukan peningkatan dengan mengadopsi kebutuhan yang berkembang. Yang terpenting dalam kurikulum adalah kemampuan suatu kurikulum dalam mengadaptasi perkembangan yang terjadi dalam masyarakat dan menerapkannya dalam proses pendidikan. Konsepsi kompetensi mahasiswa yang diharapkan dari suatu kurikulum di perguruan tinggi yang terutama adalah melakukan sesuatu sesuai konteks dan secara kreatif. Isi (content) kurikulum di perguruan tinggi haruslah merupakan usaha-usaha yang terarah dan terpadu untuk membangun sikap mental mahasiswa yang memiliki karakter dan mampu membangun peradaban bangsanya sendiri. Selebihnya adalah pengkondisian nilai-nilai karakter melalui budaya kampus.

***

Situasi dan kondisi karakter bangsa yang sedang memprihatinkan, termasuk krisis yang dialami sebagian besar pemuda telah mendorong pemerintah untuk mengambil inisiatif untuk memprioritaskan pembangunan karakter bangsa. Ringkas kata, pembangunan karakter bangsa dijadikan arus utama pembangunan nasional. Hal ini mengandung arti bahwa setiap upaya pembangunan harus selalu diarahkan untuk member dampak positif terhadap pengembangan karakter. Jadi tidak heran jika belakangan isu-isu pendidikan karakter makin ramai dibicarakan.

Mengenai hal ini secara konstitusional pendidikan karakter sesungguhnya sudah tercermin dari misi pembangunan nasional yang memposisikan pendidikan karakter sebagai misi pertama dari delapan misi guna mewujudkan visi pembangunan nasional, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila…”.

Pada Bab IV tentang Arah, Tahapan, dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005–2025, masih dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, menguraikan bahwa “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila…” tersebut ditandai oleh:

 

Terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi iptek.

 

Pembentukan karakter juga merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Telah diuraikan sebelumnya, Pasal I Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 menyebutkan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk mempunyai kecerdasan, kepribadian, dan akhlak yang mulia. Amanah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 ini bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika memberikan kata sambutan pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2010 di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 11 Mei 2010 yang bertemakan “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa”, mengemukakan ada lima isu penting dalam dunia pendidikan. Pertama, Hubungan pendidikan dengan pembentukan watak atau dikenal dengan character building. Kedua, Kaitan  pendidikan dengan kesiapan dalam menjalani kehidupan setelah seseorang selesai mengikuti pendidikan. Ketiga, Kaitan pendidikan dengan lapangan pekerjaan. Ini juga menjadi prioritas dalam pembangunan lima tahun mendatang. Keempat adalah bagaimana membangun masyarakat berpengetahuan atau knowledge society yang dimulai dari meningkatkan basis pengetahuan masyarakat. Kelima, Bagaimana membangun budaya inovasi.

Menteri Pendidikan Nasional dalam sambutannya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional Tanggal 2 Mei 2010 juga menekankan bahwa pembangunan karakter dan pendidikan karakter merupakan suatu keharusan, karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun masyarakat pada umumnya. Bangsa yang berkarakter unggul, di samping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi. Totalitas dari karakter bangsa yang kuat dan unggul, yang pada kelanjutannya bisa meningkatkan kemandirian dan daya saing bangsa, menuju Indonesia yang maju, bermartabat dan sejahtera di Abad 21.

Para pemuda adalah calon generasi penerus, dan calon pemimpin negara dan bangsa masa depan. Tanpa karakter yang kuat yang dimiliki para pemuda, maka akan memiliki resiko yang besar di masa yang akan datang bagi bangsa ini. Dengan demikian pendidikan karakter di kalangan pemuda adalah PR yang mesti dikerjakan bersama-sama. “Kita memang selalu tidak bisa membangun masa depan untuk generasi muda kita, tetapi kita bisa membangun generasi muda kita untuk masa depan.” Karena itu yang terpenting di sini adalah komitmen bersama mengusahakan dan mengarusutamakan pendidikan karakter di kalangan pemuda. Untuk Indonesia yang lebih baik. Semoga!!!.***

16 May 2013

Penguatan Mutu PTAI di Tengah Arus Globalisasi

Posted in pendidikan at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

ImageMutu PTAI sesungguhnya amat ditentukan oleh kemampuan PTAI dalam menetapkan dan mewujudkan visi melalui misi yang harus dilaksanakan dan kemampuan memenuhi kebutuhan stakeholders yang meliputi kebutuhan dunia kerja masyarakat dan kebutuhan profesional di daerah.

Meskipun demikian ciri “Islam” yang mewarnai PTAI dan membedakannya dengan perguruan tinggi umum jangan sampai hilang, maka tuntutan PTAI tentunya tidak hanya melahirkan alumni yang berkualitas dan mempunyai kompetensi profesional di bidangnya tapi juga mempunyai akhlak atau moral yang baik. Dengan kata lain, idealnya, SDM yang dihasilkan oleh PTAI adalah SDM yang berkualitas handal, mampu bersaing di tengah-tengah masyarakat dan juga bermoral. Upaya mewujudkan perguruan tinggi agama Islam (PTAI) yang mampu menghadapi berbagai tantangan di era global, termasuk menyiapkan SDM yang berkualitas baik pengetahuan dan juga moral, untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di daerah bukanlah perkara gampang, karena memerlukan kerja keras semua pihak, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Hanya dengan kerja keras inilah PTAI ke depan akan mampu bersaing dan menghadapi berbagai tantangan yang ada.***

BERCERMIN DARI KEPEMIMPINAN CAK NUR

Posted in tokoh at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan

TIDAK ada seorangpun yang sempurna. “No body’s perfect.” Begitulah kira-kira ungkapan yang sering digunakan orang untuk mengatakan bahwa tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini, bahkan termasuk seorang pemimpin.

Seorang pemimpin yang dapat dikatakan idealpun mungkin masih mempunyai kekurangan. Walaupun tidak ada pemimpin yang sempurna, sekurang-kurangnya ada tipe-tipe ideal bagaimana sebenarnya menjadi pemimpin, seorang pemimpin yang sejati. Tipe ideal seorang cendekiawan muslim Nurcholish Madjid – yang akrab dipanggil Cak Nur – setidaknya dapat menjadi “cermin”. Ibarat cermin, tempat kita berkaca untuk mengukur apa kekurangan yang perlu kita perbaiki dalam diri kita, dan diharapkan dapat memperbaiki jalan kepemimpinan kita di kemudian hari.

Ketika kita menjadikan seorang tokoh sebagai cermin, kita dapat bercermin dari kekurangan dan kelebihannya sebagai seorang tokoh sekaligus, dengan mengambil aspek positif dari cermin kepemimpinannya dan sebaliknya tidak mengikuti hal-hal yang kurang dari cermin kepemimpinannya. Dalam tulisan ini saya ingin mengajak untuk bercermin pada beberapa aspek saja dari sosok Cak Nur sebagai cendekiawan dan pemimpin (setidaknya sebagai pembesar HMI) yang populis dan berwawasan luas ke depan – setidaknya itulah tema yang diberikan panitia kepada saya beberapa waktu lalu untuk saya diskusikan sekarang.

Ya… pendapat saya Cak Nur dalam hal ini bolehlah merepresentasikan beberapa ciri atau tipe kepemimpian yang layak ditiru “sebagai seorang intelektual”, “seorang yang idealis”, “organisatoris”, dan sebagai “penulis” yang pada akhirnya juga banyak ditulis. Itu yang penting kita ingat.

Sebagai seorang cendekiawan muslim bangsa ini, tentu saja Cak Nur dapat kita sebut juga sebagai seorang intelektual. Menurut Coser (1965), intelektual adalah orang-orang berilmu yang tidak pernah merasa puas menerima kenyataan sebagaimana adanya. Mereka selalu berpikir soal alternatif terbaik dari segala hal yang oleh masyarakat sudah dianggap baik. Ini dipertegas oleh Shils (1972) yang memandang kaum intelektual selalu mencari kebenaran yang batasannya tidak berujung. Karena itu, sikap intelektual biasanya ditunjukkan oleh pemikir-pemikir yang mempunyai kemampuan menganalisa masalah tertentu atau yang potensial di bidangnya. Intelektual juga sebagai change maker, yaitu orang yang membuat perubahan. Maka ciri-ciri intelektual: Pertama, Memiliki ilmu pengetahuan dan ilmu agama yang mampu diteorisasikan dan direalisasikan di tengah masyarakat; Kedua, Dapat berbicara dengan bahasa kaumnya dan mampu menyesuaikan dengan lingkungan; dan Ketiga, memiliki tanggung jawab sosial untuk mengubah masyarakat yang statis menjadi dinamis. Sebagai seorang cendekiawan muslim, tentu saja Cak Nur mempunyai ciri-ciri intelektual seperti ini.

Sebagai seorang pluralis yang konsisten dengan ide-ide tentang pentingnya toleransi antar umat beragama, Cak Nur tak peduli dengan prasangka negatif bahkan cemoohan sebagain kecil orang-orang – yang tak sependapat dengan ide pluralisme agama – ia amat idealis dengan ide-ide itu bahkan hingga akhir hayatnya. Idealismenya ini karena ia sadar betapa besarnya potensi konflik yang mungkin muncul tanpa adanya kesadaran bangsa ini tentang kehidupan plural (baca: multikultural) di Indonesia. Dalam pandangan Cak Nur bahwa kerja-kerja kemanusiaan seharusnya tidak terhambat oleh sekat-sekat perbedaan etnis, agama, dan lain-lain bahkan apalagi karena sentimen etnis atau agama. Hanya karena berbeda agama, kita enggan membantu, kita enggan bekerjasama, kita enggan berbuat baik, dan lain-lain tentu bukan suatu hal yang positif menurut Cak Nur. Ini yang diinginkan oleh mendiang Cak Nur, dan mungkin perlu diteladani oleh kita-kita.

Sebagai seorang organisatoris, kiprah dan peran Cak Nur dalam ikut membesarkan Himpunan Mahasiswa Islam, tentu tak terbantahkan. Bahkan dapat dikatakan nama besarnya sebagai seorang cendekiawan juga amat terkait erat dengan peran besarnya dalam membesarkan organisasi HMI semasa hidupnya. Sebagai seorang yang organisatoris, Cak Nur tidak hanya sebagai man of idea tapi juga  man of action. Man of idea dibedakan dengan man of action. Yang pertama disandangkan kepada seseorang yang menonjol dalam ide, gagasan dan pemikiran. Sedangkan yang kedua biasanya disandangkan kepada seseorang yang menonjol pada aksi-aksi yang lebih konkret. Namun demikian pembedaan ini bukan dalam maksud untuk memilahkan bahwa yang satu baik dan yang lainnya buruk. Keduanya pada dasarnya mempunyai kedudukan yang sama pentingnya. Tanpa tipe man of action gagasan hanya berupa gagasan karena tidak pernah teralisasi. Sebaliknya tanpa man of idea tindakan tidak akan bermakna, kosong dan tidak berisi. Begitulah keduanya adalah sama pentingnya. Dengan begitu seorang pemimpin idealnya tidak cukup menjadi buruh-buruh organisasi saja, tetapi juga mempunyai cita-cita dan keinginan sebagai tokoh yang juga berperan sebagai man of idea. Namun demikian, tentu tidak mudah menjadi seperti Cak Nur yang punya kualitas sebagai man of idea  sekaligus sebagai man of action, karena diperlukan kualitas personal yang baik, kecerdasan, sikap kritis yang mendasar dan pengetahuan yang luas.

Selanjutnya pemimpin juga hendaknya pandai menulis, karena dengan menulis kita akan mampu merekam peristiwa-peristiwa kecil yang mungkin dapat terlewatkan oleh sejarah. Cak Nur sadar akan hal itu, karena itu tidak sedikit kita menemukan peninggalan-peninggalan Cak Nur berupa tulisan-tulisannya baik dalam buku, jurnal, dan artikel-artikel yang ia tulis di koran-koran. Ini juga dapat dipahami bahwa dengan tradisi menulis yang baik tersebut, masyarakat yang dipimpinnya atau generasi setelahnya akan terbantu untuk memperoleh informasi yang sesungguhnya. Apalagi jika kita berpendapat bahwa sejarah yang ditulis oleh pelaku utama tentu punya “rasa” yang berbeda jika dibandingkan dengan sejarah yang ditulis oleh orang luar yang tidak pernah merasakannya. Tidak hanya Cak Nur, Soekarno, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, dan lain-lain yang namanya besar karena keterampilannya dalam hal menulis.

Sebagai penutup, memang masih banyak yang perlu kita lihat ketika kita bercermin dari “cermin kepemimpinan” Cak Nur, namun setidaknya seorang pemimpin yang populis dan berwawasan luas ke depan, keempat aspek ini penting untuk diperhatikan.

Tidakkah kita juga ingin menjadi “teks” seperti halnya “Cak Nur” yang selalu menjadi “teks” dan akan terus dibaca, bahkan dikenang oleh sejarah yang ditulis dengan “tinta emas” karena ide-ide pentingnya bagi bangsa ini?.***

14 May 2013

DIBUTUHKAN PENDIDIKAN POLITIK DI LEMBAGA PENDIDIKAN KITA

Posted in politik at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan

Alumni S2 Pemikiran Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini Mengajar Filsafat Pendidikan Islam di STAIN Pontianak.

ISU yang paling hangat dibincangkan oleh media-media massa belakangan agaknya adalah isu tentang bagaimana partai politik menjadi sarang daripada pelaku korupsi. Seolah-olah tak bosan-bosannya di tiap harinya belakangan ini, berita di teve dan di koran-koran harian memuat keterlibatan oknum-oknum dari petinggi partai politik yang diduga tersangkut kasus korupsi.

Kita lihat saja keterlibatan oknum petinggi partai politik dalam masalah korupsi di Indonesia termasuk dalam kasus Hambalang, kasus Bank Century, dan terakhir kasus Suap Daging Import. Elite politik  yang duduk sebagai wakil rakyat seharusnya mampu menjadi teladan yang baik bagi konstituenya, ternyata belakangan banyak terjerat praktik korupsi uang negara. Muncullah pandangan-pandangan yang apatis terhadap partai politik dan elite politik yang seolah-olah hanya menjual janji-janji kemakmuran, demokrasi, Indonesia yang lebih baik, dan bahkan bebas korupsi kepada rakyat tapi dibalik itu semua ada niatan jahat untuk mendapat keuntungan besar terutama bagi diri dan kelompoknya.

Elite politik yang mengaku berjuang untuk demokrasi belakangan terlihat justru menjadi faktor penyebab kehancuran demokrasi dan porak porandanya peradaban bangsa Indonesia. Keberadaan partai politik juga justru menumbuhsuburkan praktek korupsi yang tidak sehat dalam sistem pemerintahan di Indonesia.

Jika kita setuju bahwa manusia dalam pemikiran dan perilakunya dipengaruhi oleh pendidikan yang ia dapat, maka tentu saja pendidikan punya tanggungjawab besar dalam membangun budaya politik yang baik bagi bangsa ini. Caranya?

Caranya adalah dengan menanamkan budaya politik yang jujur dan santun, sejak dini di sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi kita.

 

Pendidikan Politik di Sekolah

Pendidikan politik di sekolah dapat melalui organisasi-organisasi kesiswaan yang mendapat binaan langsung dari unsur-unsur pendidik yang ada di sekolah. Hal ini mengandaikan sekolah sebagai sarana sosialisasi politik yang baik bagi calon-calon pekerja politik di kemudian hari. Ini sesungguhnya telah terjadi  bahwa pendidikan dengan politik punya hubungan erat sekali, yang sulit untuk dipisahkan.

Di Indonesia, munculnya madrasah merupakan konsekuensi dari proses modernisasi “surau” yang cenderung disebabkan oleh terjadinya tarik-menarik antara “kemasyarakatan” dan pengaruh orientasi organisasi. Sekolah yang bercirikhaskan agama yang didirikan oleh Muhammadiyah misalnya memiliki corak ke-Muhammadiyah-an. Demikian pula madrasah-madrasah yang dikelola oleh NU, orientasi pendidikannya pasti menitikberatkan pada kemurnian mazhabnya. Konsekuensi dari keragaman orientasi pendidikan tersebut adalah munculnya para tokoh formal dan informal yang memiliki pemikiran dan pergerakan politik yang berbeda. Pendidikan mungkin bukan merupakan faktor yang penting bagi timbulnya perbedaan watak politik yang bersifat “intra-generasional”, tetapi pendidikan merupakan faktor yang bersifat menentukan bagi timbulnya perbedaan budaya politik yang bersifat “inter-generasional”. Institusi pendidikan bisa membentuk karakter dan kepribadian seseorang dan ujung-ujungnya memiliki paradigma berpikir yang berbeda.

Demikian pula jika pendidikan anti korupsi seperti yang sering dikaji diberbagai kesempatan seminar, forum-forum diskusi dan sebagainya betu-betul terimplementasi secara baik di sekolah-sekolah kita tentulah hal ini menjadi modal bagus pula akan terbentuknya budaya politik yang jujur dan tanpa korupsi di kemudian hari.

 

Pendidikan Politik di Perguruan Tinggi

Kecuali itu, di tingkatan perguruan tinggi pendidikan politik juga penting untuk diperhatikan. Kenyataannya ini sangat mudah dipahami. Mengingat perguruan tinggi memiliki mahasiswa yang sudah matang dan siap untuk terlibat secara langsung dalam proses-proses politik yang sedang berlangsung.

Mahasiswa merupakan bagian atau lapisan masyarakat yang potensial untuk menjadi lahan rekruitmen politik. Karena itu juga mahasiswa sangat rawan terhadap “manipulasi politik”. Aksi-aksi demonstrasi oleh kebanyakan mahasiswa hemat saya juga tidak sepenuhnya murni. Aktivitas mahasiswa yang demikian ini, muncul terutama bukan disebabkan pendidikan politik yang sedang berlangsung di perguruan tinggi tempat mereka mengalami pendidikan, melainkan lebih bersumber dari lembaga-lembaga (organisasi) ekstra kampus yang bisa jadi punya kedekatan dengan partai-partai politik tertentu. Pembelajaran politik yang baik yang diterima oleh mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi juga akan menjadi modal bagus bagi terkondisinya budaya politik yang baik dan jujur pada bangsa ini.

Akhirnya, politik adalah suatu kebijakan yang diambil untuk kebaikan bersama. Suatu kebijakan tidak mungkin diambil untuk tujuan yang kotor dan tidak baik. Andaikata fakta berbicara bahwa politik itu mendatangkan kekotoran, ketidakjujuran, maka hal demikian bukanlah politik. Tapi suatu tindakan kotor yang mengatasnamakan politik.

Pendidikan sebagai sarana untuk melahirkan peserta didik yang cerdas, termasuk cerdas berpolitik, tentu punya peran dan tanggung jawab besar dalam melahirkan generasi politik baru di Indonesia yang pada akhirnya membentuk budaya politik baru yang bebas dari praktik-praktik kotor perpolitikan seperti yang telah dibincangkan di atas. Lahirnya generasi politik yang baru di masa depan maksudnya adalah generasi politik yang lebih humanistik, patriotik, santun, bersih, serta cerdas berpolitik yang dapat berbuat banyak untuk masa depan bangsa ini. Untuk Indonesia bersih tanpa korupsi di kemudian hari. Semoga!.***

BENANG KUSUT PENDIDIKAN JIHAD

Posted in agama at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

ImageOleh: Syamsul Kurniawan

Alumni S2 Pemikiran Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini Mengajar Filsafat Pendidikan Islam di STAIN Pontianak.

JIHAD merupakan bagian yang integral dalam wacana atau diskursus keislaman, sejak masa kedatangan Islam hingga era kontemporer sekarang ini. Pada aras ini, jihad menjadi sebagai suatu konsep yang seringkali diperdebatkan dalam media massa dan kajian akademik, baik di Timur dan di Barat.

Bahkan ketika Densus 88 menyergap kelompok tersangka teroris di suatu rumah kontrakan, Cigondewah Hilir di Bandung, tanggal 8 Mei kemarin, lagi-lagi niatan “berjihad” menjadi isu yang diduga melatarbelakangi munculnya kelompok tersangka teroris tersebut. Ironi memang, apalagi ketika perbincangan tentang konsep jihad rupanya telah mengalami pergeseran dan perubahan sesuai dengan konteks dan lingkungan masing-masing di mana dan oleh siapa konsep jihad itu dibangun. Di Barat sendiri, jihad menjadi stereotif, yang mana jihad fi sabilillah seringkali diartikan sebagai perang suci (holy war) untuk menyebarkan agama Islam.

Jika kita telusuri istilah “the holy war”, alih-alih menyebut berasal dari sejarah Eropa sebagai perang dengan alasan-alasan keagamaan (Rahardjo, 1996; Schimmel, 1992). Ia mengandung konotasi negatif, karena seakan-akan perbuatan itu dilakukan oleh orang-orang fanatik yang ingin memaksakan pandangan dunianya kepada orang lain (Sardar dan Merryl Wyn Davies, 1998). Pandangan Barat tersebut memberi label kepada Islam sebagai agama yang meyakini cara-cara kekerasan dan bergerak dalam kehidupan dengan landasan kekejaman (Fadhullah, 1995). Polling di CNN yang pernah dipublikasikan pada 13 Juni 2002 agaknya bisa membenarkan pendapat demikian, suara terbanyak di Barat menginginkan perubahan paradigm dari war against terrorism menjadi war against Islamism. Bagi Barat, Islam adalah agama teroris, identik dengan kekerasan. Sungguh ini tidaklah benar!.

Sayangnya sebagian umat Islam ikut membenarkan dugaan miring tersebut, dan memilih “terjebak” mengartikan jihad ini dengan satu makna: “perjuangan senjata dengan alternatif hidup mulia atau mati syahid.” Sementara yang lain tidak begitu setuju, sehingga berpendapat bahwa yang disebut jihad akbar adalah “perjuangan melawan hawa nafsu.”

 

 “Makna Jihad” adalah Produk Pendidikan

Jika kita setuju bahwa manusia dan pemikirannya adalah produk dari suatu proses pendidikan yang ia dapat, maka pemaknaan jihad yang menyempit sebatas “perjuangan senjata dengan alternatif hidup mulia atau mati syahid” juga diduga kuat bersumber dari proses Pemaknaan-pemaknaan tentang jihad di antaranya tak bisa dilepaskan bagaimana makna jihad tersebut disosialisasikan oleh guru-guru agama Islam di lembaga-lembaga pendidikan dengan persepsinya masing-masing kepada peserta didik mereka: apakah makna jihad identik dengan perang ataukah bisa mempunyai makna lain.

Muhammad Chirzin (2004) menilai bahwa penerjemahan jihad menjadi perang suci yang dikombinasikan dengan pandangan Barat tentang Islam sebagai “agama pedang” telah mereduksi makna batini dan spiritual dari jihad, serta mengubah konotasinya. Jihad lebih luas cakupannya daripada perang saja. Ia juga mencakup pengertian berjuang menghadapi nafsu dan menghadapi syaitan.

Karena itulah seorang guru agama Islam punya tanggung jawab dalam meluruskan kesalahpahaman tentang jihad, supaya pemaknaan jihad tidak lagi terus-menerus menjadi “benang kusut” yang terlihat amat mengganggu. Jangan sampai murid-murid kita justru mengambil kesimpulan yang salah tentang jihad.

Seperti kita ketahui, kata jihad akhir-akhir ini seolah-olah menjadi momok, karena sering diartikan tindak kekerasan, pembantaian, perang, bom bunuh diri atau semua yang “berbau darah”. Padahal tidak seharusnya demikian.

Benang Kusut Jihad Perlu Diurai

Peperangan/ konflik SARA (antar agama khususnya), pembakaran rumah ibadah, bom bunuh diri  yang diklaim sebagai gerakan jihad tentu saja perlu untuk dipahami secara baik dan lebih hati-hati.

Jika menyimak al-Quran, kata jihad seringkali dirangkaikan dengan lafal fi sabilillah (di jalan Allah), misalnya dalam QS Al Maidah (05): 54; QS Al Anfal (08): 72; QS At Taubah (09): 41,81. Hal itu mengisyaratkan, bahwa tiada jihad yang diridhai Allah kecuali jihad pada jalan-Nya.

Abdullah Yusuf Ali (1993) menulis dalam tafsirnya, bahwa jihad berarti perjuangan di jalan Allah; suatu bentuk pengurbanan diri. Intinya terdapat dalam dua hal: Pertama, Iman yang sungguh-sungguh dan ikhlas yang tujuannya hanya karena Allah, sehingga segala kepentingan pribadi atau motif-motif duniawi dianggap remeh dan tidak berbekas; Kedua, Kegiatan yang tidak kenal lelah, termasuk pengurbanan (kalau diperlukan) nyawa, pribadi atau harta benda, dalam mengabdi kepada Allah SWT.

Dengan demikian perjuangan yang hanya “asal hantam”, jelas berlawanan dengan jiwa jihad yang sebenarnya. Sementara pena seorang sarjana atau lisan seorang mubaligh yang sungguh-sungguh ataupun harta kekayaan seorang penyumbang mungkin merupakan bentuk jihad yang sangat berharga, tidak dianggap sama sekali. Muhammad Rasyid Ridha dalam tafsirnya menyatakan, bahwa sabilillah adalah jalan yang mengantarkan kepada keridhaan Allah yang dengannya agama dipelihara dan keadaan umat membaik (Lihat Muhammad Rasyid Ridha dalam Muhammad Chirzin, 2004).

Akhirnya, di sinilah peran guru agama Islam diperlukan terutama dalam mengajarkan jihad tidak sebatas pada “berperang saja”. Jihad yang perlu disosialisasikan adalah jihad sebagai usaha yang sungguh-sungguh untuk berjuang membela agama, memperbaiki keadaan umat dengan segenap kemampuan yang kita miliki, dengan jiwa dan raga, harta, pikiran, kekuasaan, pengaruh, nasehat (kata-kata), sampai yang terlemah dengan hati. Bukan jihad dalam pengertian yang “bar-bar” sebagai perjuangan “asal hantam” saja!.***

11 May 2013

Info Buku: Studi Ilmu Pendidikan Islam (Arruzz Media, 2012)

Posted in resensi buku at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

ImageSyamsul Kurniawan, S.Th.I, M.S.I

Pengajar Filsafat Pendidikan Islam di STAIN Pontianak, Staff pada Program Pascasarjana (PPs.) STAIN Pontianak
EMPAT pilar tujuan pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO yaitu: Pertama, learning to know; Kedua, learning to do; Ketiga, learning to be; dan Keempat, learning to live together. Keempat pilar ini dapat dipahami secara taksonomi, yaitu klasifikasi hubungan komponen-komponen secara hirarkis.
Maka mata kuliah ilmu pendidikan Islam sesungguhnya juga dapat dipahami berangkat dari empat pilar tersebut: Pertama, learning to know, yaitu menguasai ilmu-ilmu, konsep-konsep, serta teori-teori pendidikan Islam yang berdasarkan petunjuk al-Qur‘an dan Hadits. Kedua, learning to do, yaitu kemampuan menerapkan ilmu-ilmu, konsep-konsep, serta teori-teori pendidikan Islam berdasarkan petunjuk al-Qur‘an dan Hadits dalam melakukan proses pendidikan/ pembelajaran. Ketiga, learning to be, yaitu menjadi tenaga pendidik muslim yang profesional. Dan keempat, learning to live together, yaitu menjadi pendidik yang amanah dan bertanggungjawab dalam melaksanakan proses pendidikan/pembelajaran yang berbasiskan masyarakat (community-based education).
Berangkat dari empat pilar tersebut, kuliah ilmu pendidikan Islam yang selama ini masih pada tataran learning to know, yaitu masih hanya menguasai ilmu-ilmu, konsep-konsep serta teori-teori pendidikan Islam yang digali dari al-Qur‘an dan Hadits, itupun penguasaannya belum maksimal, apalagi dimensi learning to do, learning to be, dan learning to live together belum tersentuh.
Buku Studi Ilmu Pendidikan Islam yang saya tulis bersama Dr. H. Moh. Haitami Salim, M.Ag ini sesungguhnya berangkat dari kesadaran untuk membantu mahasiswa agar lebih mudah untuk memahami mata kuliah ilmu pendidikan Islam. Meski demikian buku ini sesungguhnya sasaran pembaca buku ini bukan hanya ditujukan untuk mahasiswa, tapi juga untuk peminat kajian ilmu pendidikan Islam.
Buku studi ilmu pendidikan Islam ini awalnya diterbitkan penerbit STAIN Pontianak Press pada tahun 2009. Sebagai edisi revisi, buku ini diterbitkan oleh Arruzz Media tahun 2012, dengan beberapa perbaikan dan penambahan data baru, terutama dalam pengeditan bahasa.
Pembahasan pada buku ini dibagi ke dalam tiga belas bab, sebagai berikut: Bab pertama, pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu. Dalam bab ini akan dijelaskan tentang: ruang lingkup ilmu pendidikan Islam, prinsip-prinsip pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu; dan peta penelitian pendidikan Islam. Bab kedua tentang pengertian, sumber, dan dasar pendidikan Islam, yang memaparkan tentang pengertian pendidikan Islam, sumber pendidikan Islam, dan dasar pendidikan Islam. Bab ketiga membahas perspektif Islam tentang ilmu. Pada bab ini dibahas tentang pengertian ilmu, keutamaan ahli ilmu, dan paradigma integratif ilmu dan agama. Bab keempat, perspektif Islam tentang manusia dan proses pendidikan, yang mencakup kajian istilah manusia dalam Al-Qur‘an, manusia sebagai makhluk yang bisa mendidik dan dididik, perspektif Islam tentang fitrah manusia, fitrah manusia dan hubungannya dengan aliran pendidikan nativisme, empirisme, dan konvergensi, serta  perspektif Islam tentang pendidikan seumur hidup.
Bab kelima, perspektif Islam tentang tujuan pendidikan yang mencakup pengertian tujuan pendidikan, kedudukan tujuan pendidikan, tujuan pendidikan Islam, dan kekhasan pendidikan Islam. Bab keenam perspektif Islam tentang pendidik. Pada bab ini akan dijelaskan tentang pengertian pendidik, kedudukan pendidik dalam Islam, syarat-syarat pendidik dalam Islam, sifat-sifat pendidik dalam Islam, serta tugas dan peranan pendidik dalam pembelajaran.
Bab ketujuh, Perspektif Islam tentang peserta didik, yang mencakup pengertian peserta didik, dimensi-dimensi peserta didik, adab peserta didik dalam Islam, dan peranan peserta didik dalam pembelajaran. Bab kedelapan, perspektif Islam tentang sarana dan prasarana pendidikan, yang mencakup sarana fisik pendidikan dan sarana non fisik pendidikan. Bab kesembilan, perspektif Islam tentang kurikulum pendidikan. Dalam bab ini akan dijelaskan tentang pengertian kurikulum, pentingnya kurikulum dalam pendidikan Islam, dasar kurikulum pendidikan Islam, prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam, dan komponen kurikulum pendidikan Islam.
Bab kesepuluh, perspektif Islam tentang strategi, pendekatan, dan metode pendidikan. Pembahasan dalam bab ini mencakup: pengertian strategi, pendekatan, dan metode pendidikan; strategi dan pendekatan dalam pendidikan Islam; dan metode dalam pendidikan Islam. Bab kesebelas, perspektif Islam tentang evaluasi pendidikan, yang memaparkan pengertian evaluasi pendidikan, objek evaluasi pendidikan, tujuan dan fungsi evaluasi pendidikan, prinsip-prinsip evaluasi pendidikan, sasaran evaluasi pendidikan, jenis-jenis evaluasi pendidikan, dan evaluasi dalam pendidikan Islam. Bab keduabelas, perspektif Islam tentang lingkungan pendidikan yang mencakup pengertian lingkungan pendidikan, tripusat lingkungan pendidikan, dan pengaruh timbal balik antara tripusat lingkungan pendidikan terhadap perkembangan peserta didik.

Semoga buku yang saya dan Dr. H. Moh. Haitami Salim, M.Ag tulis ini dapat bermanfaat terutama dalam memberikan kejelasan tentang ilmu pendidikan Islam yang kontekstual untuk kebutuhan pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.***

9 May 2013

“Membaca” Kartini dan Sarinah

Posted in Uncategorized at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

ImageKARTINI dan Sarinah adalah dua perempuan yang namanya diangkat oleh Soekarno dalam sejarah Indonesia. Yang disebut pertama adalah anak seorang bangsawan, sementara yang kedua disebut adalah seorang pembantu rumah tangga.

Raden Ajeng Kartini (demikian nama lengkap dari Kartini) seperti yang diceritakan dalam buku-buku sejarah mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi perempuan sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut.

Kartini terbukti telah berhasil mewujudkan impiannya untuk menyuarakan emansipasi bagi seluruh perempuan yang ada di Indonesia dan dampaknya dapat dirasakan sampai saat ini. Kartini memang tidak terjun langsung menghadapi penjajah di medan perang namun pada zaman itu, beliau merupakan perempuan yang berani mendobrak tradisi yang telah membelenggu perempuan dari kebodohan dan tidak mempunyai kebebasan dalam mendapatkan haknya yaitu pendidikan. Apa yang telah diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini ternyata memiliki pengaruh besar yang positif dalam menginspirasi seluruh wanita di Indonesia.

Kecuali Kartini, seorang pembantu Sarinah ternyata juga amat dekat dengan sejarah Indonesia. Sama seperti Kartini yang tidak terjun langsung menghadapi penjajah di medan perang, Sarinah juga demikian. Namun seorang Sarinah amat mempengaruhi pemikiran-pemikiran kebangsaan Presiden RI pertama Indonesia, yaitu Soekarno. Tidak hanya itu, bahkan Sarinah yang menjadi pengasuh Seokarno semasa kecil, wanita desa ini, mengajari Soekarno tentang cinta sesama, cinta kepada rakyat, dan bagaimana Soekarno mesti bersikap agar rakyatpun bisa mencintainya.

Bahkan untuk mengenang Sarinah, pembantunya, secara khusus Soekarno menulis suatu buku berjudul Sarinah, yang dikerjakan dan diterbitkan oleh Panitia Penerbitkan Buku-Buku Karangan Presiden Soekarno.

Salah satu hal yang diajarkan Sarinah pada Bung Karno pada masa kecil adalah “Karno hal pertama kamu harus mencintai ibumu, lalu cintailah rakyat jelata serta  cintai manusia pada umumnya”. Inilah yang kemudian amat mempengaruhi pemikiran kebangsaan Soekarno kelak di kemudian hari, terutama dalam mengantarkan Indonesia merdeka.

 

Memetik Hikmah

Dari cerita singkat tentang Kartini dan Sarinah di atas, perempuan Indonesia mestinya dapat memetik hikmah. Kartini dan Sarinah tentunya dapat menjadi teladan bagi perempuan-perempuan Indonesia hari ini, yang mana perempuan-perempuan Indonesia seyogyanya dapat berbuat banyak bagi bangsa ini, dan bukan sebaliknya menjadi “perempuan mandul”, dalam artian tidak dapat mengandung dan melahirkan “pembaruan” atau tidak mampu berkontribusi banyak bagi bangsa ini.

Inilah yang penulis maksudkan bahwa perempuan-perempuan Indonesia semestinya dapat berkarya nyata untuk bangsa ini. Hari ini tidak sedikit perempuan yang telah dapat menjadi anggota dewan, menjadi bupati atau walikota pada sejumlah tempat di tanah air, dan sebagainya, yang semestinya dapat mengabdikan diri dan pemikirannya untuk rakyat atau bangsa. Bukan sebaliknya justru menjadi pemangsa rakyat-rakyat yang telah mempercayainya, sehingga terpilih menjadi anggota dewan, menjadi bupati atau walikota.

Deretan perempuan yang menghiasi belantara media karena tersangkut aneka skandal korupsi dapat dijadikan pelajaran, seperti Wa Ode Nurhayati, Nunun Nurbaeti, Miranda Swaray Goeltom, Mindo Rosalina Manulang, dan figur yang paling menjadi pusat perhatian adalah Angelina Sondakh. Sosok terakhir ini makin populer karena telah ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka dalam kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games. Kasus ini membuka mata kita, bahwa perempuan hari ini ternyata mampu juga korup. Tentu ini bukan hal yang positif dari keadaan sebagian kaum perempuan di negeri ini.

Perempuan yang selama ini diidentikkan dengan figur yang penuh kelembutan dan pasti tidak senang bertindak korup pada kenyataannya doyan juga mengambil harta yang bukan menjadi haknya. Gaya hidup beberapa nama perempuan yang terlibat dalam sejumlah tindakan korupsi pun diekspos secara kolosal. Mereka digambarkan suka mengoleksi tas berharga miliaran rupiah, berdandan menor dan glamor, menyimpan benda-benda bercita rasa artistik, serta seterusnya. Jauh sekali dari kehidupan sederhana yang dialami oleh Kartini (yang bangsawan) bahkan Sarinah (yang memang pembantu).

Karena itu momentum peringatan hari Kartini, 21 April 2013 mesti menjadi “cambuk” bagi sebagian perempuan. Jangan momentum ini justru membuat perempuan Indonesia bernostal-GILA (bukan bernostagia), dan sibuk dengan urusan seremonial peringatan hari Kartini, tapi bagaimana kaum perempuan memang dapat berperan penting bagi kemajuan dan pembangunan.

Jika bangsa ini ingin maju pesat, perempuan-perempuan Indonesia bersama laki-laki Indonesia harus produktif. Mendiang Presiden RI  Soekarno pernah berujar, “Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.”

Semoga keadaan bangsa kita lebih baik lagi ke depannya. Semoga.***

Next page

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.