3 January 2012

Jejak Pemikiran Pendidikan Islam

Posted in resensi buku at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Penelusuran kembali pemikiran pendidikan di kalangan umat Islam memang amat diperlukan. Karena hal ini setidaknya mengingatkan kembali khazanah intelektual yang pernah dimiliki oleh umat Islam di masa lalu.

 

PASANG surut perjalanan pemikiran kependidikan Islam, tidak akan pernah lepas dari interaksi akumulasi dengan peradaban-peradaban di sekitar perkembangan Islam waktu itu. Dimana perkembangan pemikiran kependidikan lebih dijiwai oleh semangat normatif dan historis. Dikatakan semangat normatif karena perkembangan pemikiran kependidikan dijiwai oleh ajaran dasar yang sumbernya Al-Qur‘an dan hadits. Sedangkan semangat historis adalah merupakan ujud respon terhadap berbagai persoalan hidup umat Islam di berbagai bidang kehidupan.

Sesuai dengan catatan sejarah, bahwa perkembangan pemikiran kependidikan Islam diawali pada saat Dinasti Abbasiyah yang mengalami renaissance, sehingga berakibat pemikiran kependidikan Islam nampak mengalami titik kulminasi. Sedang titik baliknya terjadi pada masa-masa dimana pemikiran-pemikiran para ilmuan Islam, sebagian besar mengalami kemandegan (stagnation) sampai abad ke-14 yaitu munculnya Ibn Khaldun.

Hal ini dikarenakan sejak pada masa Nabi Muhammad Saw. sampai pada masa dinasti Umayyah ilmu pengetahuan belum berkembang pesat, dan masih terpusat pada usaha pemenuhan kebutuhan untuk memahami prinsip-prinsip ajaran Islam sebagai pedoman hidup yang waktu itu secara langsung telah dijawab dan diselesaikan oleh Nabi. Sedangkan pada masa Khulafa al-Rasyidin dan dinasti Umayyah lebih banyak disibukkan dengan pemecahan masalah politik dan perluasan wilayah Islam, dan belum sempat menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Sehingga bisa dibilang pada masa-masa itu patron ilmu pengetahuan belum dimiliki oleh umat Islam. Baru setelah zaman Abbasiyah ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin berkembang.

Awal perkembangannya dimulai dari perkenalannya dengan budaya helenisme, kemudian penerjemahan karya-karya klasik, ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani, Syria, Sinkrit, dan bahasa Pahlevi ke dalam bahasa Arab yang berlangsung dari tahun 750-900 M, sejak masa Al-Mansyur (754-775 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), dan sampai puncaknya pada masa Al-Makmun (813-833 M). Abad-abad ini merupakan abad penerjemahan yang meletakkan tonggak abad aukflarung Islam kawasan Timur, dan bertahan hingga melampaui abad kesepuluh dan kesebelas (Mehdi Nakosteen, 1996: 208). Walaupun setelah itu, ada gejala penurunan, akan tetapi sampai abad ketiga belas perkembangan ilmu pengetahuan masih  ada dan baru benar-benar mengalami  stagnasi setelah penghancuran total oleh Hulagu Khan (1258 M) yang juga diikuti oleh jatuhnya orang-orang Muwahid di Spanyol (1268 M). Kalau kita cermati dimasa kemunduran itu sesungguhnya masih muncul ilmuan muslim yaitu Ibn Khaldun (1332-1406 M) sebagai ahli teori sejarah. Sejak inilah stagnation betul-betul terjadi dan ditandai lagi dengan jatuhnya dunia Islam ke tangan Kolonial Eropa, yang mengakibatkan ilmu Islam terbatas pada ilmu agama dan muncullah sekuler.

Baru pada abad ke-19 atau abad kebangkitan Islam mulai ada respons terhadap ilmu-ilmu pengetahuan modern dan termasuk filsafat walaupun ada sikap-sikap yang antagonistik dan akomodatif. Dengan munculnya pelopor modernisasi di dunia Islam yaitu Sayyid Khan (1817-1898 M), orang India yang pertama meyakini perlunya penafsiran baru terhadap Islam, yaitu penafsiran bebas modern dan maju (Busthami M. Said, 1992: 119). Bahkan menimbulkan gejala yang sering ditunjukkan oleh pengamat Barat baik secara netral, tidak senang maupun rasa takut, akan gejala kebangkitan Islam. Naluri manusia untuk selalu ingin tahu itulah yang menjadikan pangkal tolak perkembangan ilmu pengetahuan (Ismail Raji al-Faruqi, 1984: 35). Pemikiran kependidikan Islam mulai muncul, kendatipun masih dalam bentuk “embrionik”, dan berkembang hingga dewasa ini.

Buku berjudul Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, studi dan penelitian buku ini dilakukan dengan tujuan mengelaborasi dan menjelaskan mengenai konsep pendidikan yang dilontarkan para pemikir-pemikir pendidikan di kalangan umat Islam. Buku Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, mengungkapkan pokok-pokok pemikiran pendidikan Islam sejak permulaannya, pada masa Nabi Muhammad Saw., sampai pada masa pembaruan pendidikan yang dilakukan setelah masa Nabi Muhammad Saw., yaitu masa Khulafa al-Rasyidin, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan seterusnya, juga hasil para pemikir pendidikan Islam terkemuka seperti Al-Ghazali, Ibn Khaldun, dan lain-lain. Ditambah lagi, hasil pemikiran para tokoh dari tanah air yang tidak sedikit juga  ikut andil memberikan kontribusinya dalam bidang pendidikan, seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy‘ari, Basiuni Imran (Tokoh dari Sambas, Kalimantan Barat), dan lain-lain.

Penelusuran kembali pemikiran pendidikan di kalangan umat Islam memang amat diperlukan. Karena hal ini setidaknya mengingatkan kembali khazanah intelektual yang pernah dimiliki oleh umat Islam di masa lalu. Kesadaran historis ini pada gilirannya akan memelihara kesinambungan atau kontinuitas keilmuan khususnya dalam kajian tentang pendidikan Islam. Pemikiran-pemikiran kependidikan dalam Islam dan pemikiran para tokoh dalam bidang pendidikan ini juga bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan atas kebijakan sesuai dengan kondisi zaman saat ini, sehingga hasil atau pokok-pokok pikiran para ahli ini patut dikaji kembali dalam rangka membenahi sistem pendidikan Islam, terutama di negeri Indonesia tercinta ini.***

 

Harga buku: Rp. 48.000,-

Buku bisa dibeli melalui:

  1. Penerbit Arruzz Media, Yogyakarta >> Telp. (0274) 488132
  2. Toko Buku Gramedia dan toko-toko buku yang bekerjasama dengan penerbit di atas.
  3. Izal Ponsel, Jalan Tanjung Raya II, Gang Kurnia Jaya Nomor 1 Pontianak Timur.
  4. Syamsul Kurniawan, S.Th.I, M.S.I >> Telp. 0852 4532 0562
  5. Erwin Mahrus, S.Ag, M.Ag (Dosen STAIN Pontianak) >> Telp. 081345318183

 

30 December 2011

Pendidikan Karakter Jangan Sebatas Retorika

Posted in pendidikan at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan

Tentunya kita masih ingat dengan kejadian berikut. Tanggal 16 Mei 2011 lalu, tepatnya setelah 4 hari ujian nasional berakhir, Siami mengetahui bahwa putranya Alif diminta oleh gurunya untuk memberikan contekan jawaban kepada siswa lainnya di dalam kelas. Siami lantas mengkonfirmasi hal ini pada kepala sekolah. Tak puas dengan jawaban kepala sekolah, ia lalu mengadu ke komite sekolah namun tak kunjung mendapat tanggapan, ia pun membawa masalah ini ke sebuah radio di Surabaya hingga akhirnya laporan tersebut sampai ke telinga Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Setelah dilakukan proses penyidikan, sanksi pun dijatuhkan pada pihak yang dinilai bertanggung jawab yaitu satu kepala sekolah dan dua guru. Sanksi pada tiga pendidik ini lantas memicu kemarahan wali murid. Mereka menilai Siami dan keluarganya tak punya hati, serta telah mencemarkan nama sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali warga menggelar demonstrasi di depan rumahnya. Puncaknya terjadi pada Kamis 9 Juni 2011. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel II menuntut Siami meminta maaf dan mengusir Siami sekeluarga dari kampung.

Tentunya kita masih ingat dengan kasus di atas. Kasus contek massal yang terjadi di Sekolah Dasar Negeri Gadel II Surabaya, Jawa Timur ini menjadi pelajaran penting di tahun yang akan datang, tentang dampak dari buruknya sistem pendidikan Indonesia saat ini yang lebih mengedepankan kecerdasan intelektual sebagai standar kesuksesan, di mana standar keberhasilan peserta didik diukur dari seberapa bagus nilai ujiannya. Dampak yang muncul kemudian adalah para peserta didik menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan nilai terbaiknya dalam ujian: “termasuk mencontek”.

Pendidikan nasional dinilai gagal dalam membangun karakter bangsa, padahal seharusnya pendidikan nasional berbasiskan pada “pendidikan karakter”. Di sisi lain, dunia pendidikan Indonesia hingga kini masih saja diwarnai oleh berbagai tawuran antar pelajar dan mahasiswa yang tak jarang memakan korban luka dan korban jiwa (bahkan hanya karena berlatar belakang hal sepele). Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait dalam dialog interaktif tentang tawuran di Jakarta yang diadakan Dinas Pendidikan DKI, Rabu (21/12/2011), menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2011 terjadi 339 kasus tawuran dan kekerasan antar pelajar yang menewaskan 82 anak didik. Jumlah ini melesat dibanding tahun 2010 yakni 128 kasus dengan 40 pelajar meninggal dunia.

Demikianlah, sampai saat ini pendidikan di Indonesia saya nilai belum mendorong pembangunan karakter bangsa. Hal ini disebabkan karena ukuran-ukuran dalam pendidikan tidak dikembalikan pada karakter peserta didik, tapi dikembalikan pada permintaan pasar.

Pendidikan dilihat sebagai komoditi dan tunduk kepada hukum pasar (supply and demand). Siswa yang masuk dalam sekolah dididik dengan doktrin-doktrin modernisme-neoliberal, mereka diarahkan pandangan hidupnya pada pencapaian kesuksesan hidup ala kaum neolib, diarahkan pembangunan sosial-budaya ala borjuis-kapitalis, dan ikut dalam pandangan dan gaya hidup kaum borjuis-kapitalis. Para siswa diberikan kompetensi yang sekiranya dibutuhkan oleh dunia industri, yang dalam hal ini pendidikan tunduk pada kemauan pasar, pendidikan hanya ditujukan sebagai lembaga pensuplai tenaga kerja untuk dunia industri. Pendidikan dengan demikian tidak lagi sebagaimana ideal konsep pendidikan sebagai lembaga pencerahan dan pembangun peradaban, menciptakan peradaban manusia, tapi sekadar mengikuti jalan peradaban yang dibangun oleh para kaum kapitalis-borjuis di atas puing-puing humanisme, bersenjatakan legitimasi ilmu pengetahuan yang mereka kendalikan. Pendidikan karakter dikesampingkan. Yang penting anak cerdas (secara kognitif) di banyak mata pelajaran, soal baik atau tidaknya perilaku anak didik itu (cerdas secara afektif) tidak dipersoalkan.

Padahal, pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).

Pendidikan karakter bangsa penting dilakukan dalam proses belajar mengajar,  karena  para pelajar nanti akan menjadi generasi penerus bangsa dan negara. Apalagi di tengah kebangkrutan moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atas retorika politik dan perilaku keseharian, pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius menjadi sangat mendesak untuk diterapkan.

Pendidikan karakter ini harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Mulai keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sebab, pendidikan karakter mencakup pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan kepengamalan nilai secara nyata. Dari diagnosis sampai ke praksis. Singkatnya, pendidikan karakter adalah membimbing siswa untuk secara sukarela mengikatkan diri pada nilai. Terdapat tiga hal penting yang mesti diperhatikan dalam pendidikan karakter, yaitu: pembiasaan, contoh atau teladan, dan pendidikan/ pembelajaran secara terintegrasi.

Dalam hal ini, pelajar  butuh penuntun yang dapat mengarahkan ke jalan yang benar,  dan siapa lagi penuntunnya itu kalau bukan  guru di sekolah. Jika  guru gagal menuntun siswa  dalam membangun karakter bangsa,  maka generasi penerus ini akan menjadi generasi yang cacat akhlak dan budi pekerti luhur. Untuk itu,  kita membutuhkan guru yang dapat menjalankan dua aspek  pendidikan ini. Satu sisi melaksanakan  pendidikan formal  dan sisi lainnya berupa penanaman akhlak dan budi pekerti luhur.

Pendidikan itu harus berlangsung dalam suasana keluarga dengan guru sebagai orang tua dan siswa sebagai anak. Proses pendidikan dari seorang guru pada siswa dilakukan dengan rasa kasih sayang, keikhlasan, kejujuran, keagamaan, dan suasana kekeluargaan. Mari kita wujudkan pendidikan karakter ini secara nyata, tak hanya mengapung-apung dalam bentangan slogan dan retorika belaka.***

23 December 2011

Kekerasan Jangan Menjadi Candu

Posted in sosial budaya at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan

BUDAYA kekerasan sukar dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak diturunkannya manusia di muka bumi, sejarah kekerasan telah ditampilkan oleh anak keturunan Adam dan Hawa, yeng berujung tewasnya Habil di tangan Qabil (lihat QS 05: 30). Inilah tragedi kekerasan pertama yang disertai dengan pemaksaan kehendak terhadap seseorang dalam sejarah umat manusia.

Budaya kekerasan terus berlangsung hingga sekarang, di mana kekerasan menjadi simbol, untuk menjadi penekan atas pengakuan kedaulatan seseorang atau kelompok terhadap seseorang atau kelompok lain. Kekerasan menjadi fakta keseharian kita. Menjadi bagian dari ekspresi peradaban kita.

Mengapa kekerasan terjadi? Bukankah kekerasan, amarah dan penganiayaan yang semakin hari semakin nampak, sungguh amat menganggu ketentraman hidup kita? Dan bukankah kita sebagai bangsa akan menderita kerugian dari maraknya perilaku kekerasan ini?.

Pertanyaan di atas menyimpan keheranan. Keheranan adalah perasaan yang muncul saat orang menghadapi yang tidak lazim. Dapat dibayangkan apa yang terjadi pada bangsa ini, yang kekerasan sebagai sesuatu yang lazim. Tentu tidak ada keheranan yang muncul atasnya. Dan lagi kekerasan tidak pernah dipersoalkan. Kekerasan yang terus-menerus terjadi malah menjadi “candu”, dinikmati dan menjadi kebutuhan, sampai-sampai kita lupa.

Sebab Terjadinya Kekerasan

Kekerasan biasanya dimulai dengan kemarahan. Amarah dimulai dengan pembedaan. Pembedaan diartikan sebagai lawan saingan. Amarah membangkitkan kebencian, pengrusakan dan aniaya. Aniaya diartikan sebagai perbuatan bengis (penyiksaan, pemukulan, pemerkosaan, dan sebagainya), yang menyebabkan penderitaan dan menyakiti orang lain. Bagi sebagian orang, kekerasan – untuk sementara – identik dengan “penyelesaian”.

Praktik kekerasan terus berulang dan memakan korban yang mana kekerasan tidak hanya sebagai “konflik” tapi menjadi satu solusi untuk menyelesaikan masalah. Sampai dipenghujung tahun 2011 ini, tiap hari ada demonstrasi penolakan dengan simbol-simbol pembakaran. Penggusuran dengan pembuldoseran. Bentuk-bentuk kekerasan di sekolah dan di perguruan tinggi. Kebenaran dicapai dengan kekerasan.

Tiap hari berita yang kita konsumsi di media massa adalah berita-berita tentang kekerasan dan ketersinggungan. Ketersinggungan dibawa ke pengadilan agar cepat diketahui siapa yang kalah dan siapa yang menang. Perbedaan dibesar-besarkan lewat kasak-kusuk fitnah, gosip, dan selebaran gelap.

Konrad Lorenz mengupas sebab adanya kekerasan, dari faktor biologis di luar kendali manusia yang disebabkan kondisi sosial, politik dan ekonomi yang dimunculkan manusia sendiri. Energi yang mengumpul dan mengendap siap meledak, meski tanpa adanya stimulan. Hasrat melakukan kekerasan, sudah ada dan terpasang pada diri tiap manusia. Sehingga dengan stimulan paling kecilpun, atau tanpa adanya stimulan, hasrat melakukan kekerasan tetap akan mencari pelampiasan.

Sebuah datum antropologis yang juga penting yakni akar-akar kekerasan terletak pada kerinduan manusia untuk menemukan rasa kepastian dan identitas. Di sini Hannah Arendt, seorang filsuf perempuan yang ikut menjadi korban kekejian Nazi Jerman, dalam bukunya The Human Condition, mengatakan, daya dan kekuatan manusia untuk menemukan rasa kepastian diri dan identitas secara mendasar tampak dalam pengalaman kekerasan.

Jika kekerasan adalah tindakan penegasan diri kata Arendt, hemat saya, kita tidak boleh mengabaikan suatu data antropologis lain: “kekaburan diri manusia.” Penegasan diri mengandaikan sebuah situasi negatif kekaburan diri. Sebuah dialektika yang keji terjadi di dalam batin setiap pelaku kekerasan, yaitu ketidakmampuannya dalam mengendalikan diri, merasa gagah saat menghadapi korbannya yang terkapar tak berdaya. Untuk itu, “prosedur pahlawan” berbicara sangat jelas di sini: di atas gundukan jenazah para korbannya, sang hero meraup kembali harga diri dan kehormatannya. Dia adalah manusia. Manusia kelas satu. Makna dirinya diukur dengan jumlah mereka yang dipukuli, dianiaya dan dibunuh. Itulah “penegasan diri” dalam persfektif seorang pelaku dan pecinta kekerasan.

Dalam situasi manakah manusia mengalami kekaburan diri ini? Dalam “ruang kolektif”. Yang saya maksud di sini, bukan kekerasan individual, yaitu kekerasan yang dilakukan oleh individu, seperti membunuh karena dendam pribadi, memerkosa atau merampok, melainkan kekerasan kolektif. Dalam “ruang kolektif”, kekerasan diproduksi oleh kebersamaan. Dalam ruang kolektif pula pelaku-pelaku kekerasan terseret oleh desakan kebersamaan mereka, sehingga tak bisa lain kecuali melakukan seperti yang dilakukan pelaku-pelaku kekerasan yang lain. Kewajaran dalam melukai atau menghabisi nyawa sesamanya itu dimungkinkan karena individu-individu dalam ruang kolektif memandang tindakan kekerasannya sebagai sesuatu yang bernilai. Manusia melakukan kekerasan tanpa merasa bersalah jika perilaku kekerasan dipandang sebagai realisasi suatu nilai. Kasus kekerasan yang terjadi di penghujung tahun 2011, seperti yang sebelumnya terjadi di Papua, bentrok di kecamatan Mesuji di Lampung dan Sumatera Selatan saya kira sedikit-banyak kecenderungannya mengarah ke sana, di mana kekerasan tidak hanya sebagai “konflik” tapi menjadi satu solusi untuk menyelesaikan masalah.

Peran pendidikan

Jika dalam masyarakat moderen seperti hari ini, masih saja terjadi praktik-praktik kekerasan, tentunya ada yang salah dalam pendidikan kita. Fungsi utama pendidikan yaitu mengajarkan dan mentransmisi budaya seperti nilai-nilai, sikap, peran dan pola-pola perilaku. Dan pendidikan yang baik harusnya mampu mendorong manusia berbuat santun, menghargai perbedaan (pluralisme), mencintai sesama dan menghargai hidup; bukan sebaliknya.

Dunia pendidikan sangat memungkinkan untuk membudayakan pemecahan konflik yang akhirnya dapat mencegah perilaku kekerasan. Kecuali jika kekerasan menjelma menjadi “bahasa pendidikan”, tak ada jaminan siapa yang dapat menyelamatkan nilai-nilai santun, menghargai perbedaan, mencintai sesama dan menghargai hidup ini.***

22 December 2011

Peran Perempuan Jangan Dipasung

Posted in sosial budaya at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan

SEJARAH Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres tersebut dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera.

Organisasi perempuan sendiri sesungguhnya sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, RA Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lain-lain. Tapi Peristiwa di atas dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia, karena pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan.

Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai ternate. Presiden Soekarnomenetapkan melalui Dekrit PresidenNo. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama.

Keadaan belum banyak berubah

Walaupun zaman sudah sedemikian maju dan nilai-nilai kemanusiaan sudah ditempatkan sebagai acuan dari hampir semua tindakan manusia, posisi perempuan terhadap laki-laki belum banyak berubah. Di banyak negara, terutama negara berkembang, peran perempuan masih tetap dibatasi, baik dalam lahan kehidupan sosial, politik, keagamaan, bahkan psikologis. Prasangka-prasangka terhadap perempuan, atau lebih tegasnya inferioritas perempuan terhadap laki-laki, masih terus berkembang dan mengedepan dalam kehidupan sehari-hari.

Perempuan sekarang masih menjadi sorotan, di mana pendidikan formal perempuan lebih rendah dibanding laki-laki, sehingga lapangan kerja bagi perempuan lebih banyak di level bawah, sehingga kualitas hidup perempuan sangat rendah. Pekerjaan bagi perempuan sering dikaitkan dengan pekerjaan domestik (pembantu rumah tangga, pelayan) yang dihargai lebih rendah dibandingkan dengan pekerjaan publik (karyawan kantor).

Sampai hari ini, jumlah perempuan yang berada di Dewan Perwakilan kita juga masih sangat sedikit, dan sangat sedikit apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan di negara kita. Ironis memang, sementara jumlah penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan penduduk laki-laki, jumlah perempuan di DPR sangat sedikit. Memang bisa dikemukakan kurangnya atensi perempuan terhadap persoalan politik sebagai alasannya, tetapi kita akan sulit menjawab pertanyaan mengapa yang semacam itu bisa terjadi. Masalahnya, pembatasan yang diterapkan masyarakat, misalnya “alergi” terhadap presiden perempuan, bisa saja merupakan penyebab yang sebenarnya.

Oleh karena itu, bisa dimengerti gerakan feminisme atau pembelaan terhadap nasib perempuan yang selalu dikelasduakan oleh kaum lelaki masih tetap marak di banyak wilayah dunia, termasuk negara kita. Pembatasan yang mencuat ke permukaan sering terasa rasional, atau sekurang-kurangnya beralasan, karena dilandasi oleh anggapan-anggapan, bahkan semacam dogma, yang secara intensif dicekokkan kepada masyarakat. Runyamnya lagi, cekokan dogma tersebut tidak hanya datang dari kalangan masyarakat biasa, tetapi juga dari kalangan agamawan. Akibatnya, bagi masyarakat bawah, dogma tersebut terasa sebagai benar dan layak diterima secara penuh.

Kenapa harus bangkit?

Peran perempuan dalam sejarah perjuangan bangsa sangatlah besar, Mereka tidak hanya berada sebagai tenaga pendukung di garis depan tapi juga menjadi pemimpin perjuangan, seperti halnya Cut Nyak Dhien dan beberapa pemimpin perempuan lainya. Seiring dengan perkembangan zaman, perjuangan kaum perempuan sederajat dengan laki-laki berada di bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Hal ini telah dilakukan oleh R.A. Kartini, yang telah memperjuangkan harkat dan martabat kaum perempuan agar sejajar dengan kaum laki-laki selaku mitranya.

Presiden pertama RI, Ir. Soekarno pernah mengatakan, “Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali”.

Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan ini, meski memiliki beberapa perbedaan, tetapi memiliki peran yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Perkembangan zaman yang cepat menimbulkan permasalahan yang komplek bagi masyarakat, khususnya peningkatan kesejahteraan. Perempuan dapat berperan langsung dalam peningkatan kesejahteraan keluarga, seperti melakukan aktivitas ekonomi, bekerja dengan berwiraswasta bahkan banyak kaum perempuan yang terbukti mampu menjadi pekerja profesional maupun pengusaha yang berhasil.

Secara tidak langsung perempuan memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dalam upaya peningkatan kesejahteraan terutama peran dalam keluarga, ketika menjalankan perannya perempuan dapat menjadi pendidik yang berwawasan luas dan kaya akan pengalaman, menjadi motivator bagi keluarga dan lingkungan, serta menjadi ujung tombak dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dinamis dan berkualitas, serta mampu menghadapi tantangan zaman.

Selamat hari ibu, 22 Desember 2011. Ayo bangkit.… Bangkitlah perempuan Indonesia!. Berjuanglah untuk kebebasan! Berjuanglah untuk hari esok! Dan berjuanglah untuk bangsa Indonesia! INDONESIA RAYA!.******

21 December 2011

Neoliberalisme Mencengkeram Pendidikan Kita

Posted in pendidikan at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan

HENRY A. Giroux seorang pakar pendidikan kritis pernah mempersoalkan bahaya neoliberalisme di dalam masyarakat moderen dewasa ini. Neoliberalisme menurutnya merupakan suatu ideologi yang sangat berbahaya, sebab pada dasarnya, neoliberalisme menghancurkan segala hal yang merupakan milik publik, merusak nilai-nilai demokratis karena tunduk kepada fundamentalisme pasar. Nilai-nilai sosial yang luhur telah direduksi sebagai nilai-nilai yang tunduk kepada pertimbangan-pertimbangan komersial dan privatisasi.

Apabila pandangan neoliberalisme menyusup ke dalam dunia pendidikan kita, maka yang pasti akan terjadi orang-orang akan mengasumsikan dunia pendidikan “sama” dengan dunia industri. Pendidikan dilihat sebagai komoditi dan tunduk kepada hukum pasar (supply and demand). Akibatnya bermunculan sekolah-sekolah yang menjadi ladang bisnis, masing-masing saling bersaing untuk mendapatkan siswa yang bisa membiayai besar kelangsungan proses belajar mengajar di sekolah.

Tak usah jauh-jauh membincangkannya sampai di perguruan tinggi, lihat saja pendidikan yang diselenggarakan di jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) atau taman kanak-kanak (TK). Biaya sekolah PAUD/ TK bahkan hampir sama dengan kuliah di PT. Lihat, berapa banyak PAUD/ TK yang bermunculan dengan biaya tinggi. Artinya, semakin tinggi biaya pendidikannya, PAUD/ TK tersebut dianggap semakin bergengsi. Apalagi, orang tua yang berduit, merasa naik gengsinya karena anaknya sekolah di sekolah mahal.

Belum lagi membincangkan tentang monopoli buku pelajaran sekolah (dengan adanya kerjasama dengan penerbit buku pelajaran dan pihak sekolah), yang mengharuskan siswa-siswa di sekolah untuk membeli buku-buku pelajaran, LKS baru, meskipun koleksi di perpustakaan sudah ada dengan isi dan muatan yang cenderung sama. Munculnya monopoli buku pelajaran ini, tentu saja karena semangat sekolah mencetak anak didik yang mumpuni. Hanya seringkali ambisi sekolah mengorbankan orang tua wali murid: terutama akan menyusahkan orang tua murid dari kalangan keluarga miskin.

Sekolah seringkali dianggap tidak punya tanggung jawab karena buku-buku pelajaran yang sudah dipakai tahun lalu tidak bisa dipakai lagi untuk tahun depan karena  sudah berganti penerbit. Bahkan, ini sengaja dilakukan agar orang tua siswa membeli buku-buku pelajaran, termasuk “memaksa” membeli di sekolah. Pihak penerbit senang-senang saja, yang penting bukunya laku keras. Bahkan, mereka sangat agresif menembus sekolah-sekolah dengan “iming-iming” tertentu. Sementara itu, pemerintah juga seolah membiarkan hal demikian terjadi. Alasannya, “era otonomi”. Sehingga, sekolah dibiarkan mempunyai kebijakannya tersendiri, termasuk pengadaan buku sekolah yang berganti setiap tahun.

Neoliberalisme pendidikan tidak hanya berdampak pada mahalnya biaya bersekolah dan monopoli buku pelajaran itu, tapi juga tujuan pendidikan. Dalam nalar neoliberal, siswa yang masuk dalam sekolah dididik dengan doktrin-doktrin modernisme-neoliberal, mereka diarahkan pandangan hidupnya pada pencapaian kesuksesan hidup ala kaum neolib, diarahkan pembangunan sosial-budaya ala borjuis-kapitalis, dan ikut dalam pandangan dan gaya hidup kaum borjuis-kapitalis. Para siswa diberikan kompetensi yang sekiranya dibutuhkan oleh dunia industri, dalam hal ini pendidikan tunduk pada kemauan pasar, pendidikan hanya ditujukan sebagai lembaga pensuplai tenaga kerja untuk dunia industri. Pendidikan dengan demikian tidak lagi sebagaimana ideal konsep pendidikan sebagai lembaga pencerahan dan pembangun peradaban, menciptakan peradaban manusia, tapi sekadar mengikuti jalan peradaban yang dibangun oleh para kaum kapitalis-borjuis di atas puing-puing humanisme, bersenjatakan legitimasi ilmu pengetahuan yang mereka kendalikan.

Pendidikan moral dikesampingkan. Yang penting anak cerdas (secara kognitif) di banyak mata pelajaran, soal baik atau tidaknya perilaku anak didik itu (cerdas secara afektif) tidak dipersoalkan. Karena tujuan pendidikan semata-mata untuk memenuhi kecerdasan kognitif – dengan berbagai cara dilakukan – dari mulai bagaimana menyusun muatan kurikulum yang lengkap, pelajaran tambahan, pekerjaan rumah yang menumpuk, dan tuntutan lainnya. Ini juga tidak semata-mata salah sekolah. Pendidikan jenjang yang lebih tinggi seringkali menuntut anak didik bisa ini dan itu. Mengapa sekolah setingkat SD harus memposisikan anak didik seperti mesin, karena sekolah tingkat SMP dan selanjutnya SMA menghendaki seperti itu.

Akibat dari berkembangnya nalar neoliberalisme ini menyebabkan sekolah-sekolah – sebagaimana pendapat HAR Tilaar dalam bukunya Multikulturalisme: Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional (2004), mementingkan apa yang berguna berdasarkan paham pragmatisme – artinya menyediakan pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan yang sekarang. Dengan demikian sekolah bukanlah mengasah kemampuan intelektual untuk hidup secara cerdas tetapi yang dapat memberikan keuntungan yang lebih banyak bagi yang menguasainya. Karena paham ini, academic excellence bukan lagi merupakan tujuan dalam pendidikan, siswa cerdas yang bermoral juga tak lagi penting, sekolah bukan lagi untuk mengasah akal budi dan seni, karena yang terpenting menurut paham ini adalah bagaimana siswa mendapatkan keterampilan atau penguasaan-penguasaan ilmu-ilmu praktis yang segera dapat memberikan manfaat pada yang memilikinya.

Ambisi orang tua juga terlalu besar. Orang tua sering tidak melihat kemampuan anak. Inginnya diterima di sekolah favorit  untuk menaikkan gengsi. Padahal anak didik tak punya kemampuan seperti itu. Akibatnya, “uang” solusinya. Dampaknya, anak tersebut susah mengikuti pelajaran seperti anak-anak lainnya. Kasus “anak titipan” terjadi karena orang tua menganggap bahwa sekolah itu “bisa dibeli”. Tak lain, karena neoliberalisme pendidikan sudah sedemikian membelit pendidikan kita, bukan hanya masalah buku pelajaran saja, tetapi kasus “anak titipan”.

Neoliberalisme pendidikan tentu saja ancaman dan harus diakhiri. Sekolah-sekolah yang jadi “ladang bisnis” dan melupakan fithrahnya sebagai tempat “pendidikan” bagi para siswa, tentu bukan suatu hal yang positif. Karena sebagaimana kita mafhumi, sekolah bukan sekadar tempat berlangsungnya aktivitas belajar mengajar, tapi juga tempat berlangsungnya pendidikan. Kita semua punya tanggung jawab yang sama untuk mengakhiri cengkeraman neoliberalisme pendidikan ini, supaya ke depan kualitas pendidikan kita lebih baik lagi (tidak hanya dalam artian “baik” dalam mentransformasikan pengetahuan pada anak didik tapi juga bisa mentransformasikan nilai-nilai moral dan perilaku yang baik).***

16 December 2011

Manusia Modern dan Pentingnya Zikir

Posted in agama at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan

PADA era modern saat ini terjadi berbagai tekanan dan konflik di seluruh tatanan kehidupan manusia, semua umat manusia terlibat langsung (sebagai aktor) dengan keadaan yang demikian itu tanpa terkecuali. Tekanan hidup yang dirasakan oleh manusia di era modern ini, jika dibiarkan akan menumbuhkan hilangnya kesadaran manusia akan pentingnya kebersamaan, kerukunan, toleransi, sosial, keselarasan hidup, silaturrahmi, dan lain sebagainya.

Tentunya, dalam mengatasi berbagai tekanan hidup ini tidak hanya cukup dengan menyelenggarakan adanya diskusi atau seminar, ceramah, lokakarya, pelatihan atau yang lainnya. Akan tetapi wajib adanya pembenahan secara langsung yang diawali oleh masing-masing individu. Wacana modernitas dengan berbagai permasalahan yang timbul pada umat manusia ini perlu adanya solusi. Pada aras ini, “zikir” merupakan solusi atau sebagai salah satu obat alternatif untuk menyelesaikan permasalahan dan tekanan di era modern ini.

Zikir merupakan solusi atau sebagai salah satu obat alternatif untuk menyelesaikan permasalahan dan tekanan di era modern ini. Sungguhpun begitu, tetap ada syaratnya. Yaitu bila zikir yang dimaksudkan untuk mendorong hati menuju kesadaran tentang kebesaran dan kekuasaan Allah. Ketika seseorang menyadari bahwa Allah adalah pengatur tunggal dan pengatur segala sesuatu, menyebut nama-Nya, mengingat kekuasaan-Nya, serta sifat-sifat-Nya yang agung akan melahirkan ketenangan jiwa.

Kata zikir diartikan “mengingat”, disebut sekitar 280 kali dalam Al Qur‘an. Dalam pengertian sempit, zikir adalah menyebut Allah atau yang berkaitan dengan-Nya. Dalam pengertian luas, zikir adalah kesadaran tentang kehadiran Allah di mana dan kapan saja. “Menghadirkan Allah” di setiap ucapan dan seluruh aktivitas, tanpa dibatasi waktu. M. Quraish Shihab (2006) menyebutkan bahwa doa adalah bagian dari zikir. Pada saat manusia berdoa, dia pasti mengingat Allah. Saat orang berzikir itu artinya dia merasa sangat kecil di hadapan Allah dan membutuhkan bantuan-Nya. Tanpa mengucap doa pun, sejatinya manusia membutuhkan pertolongan berupa petunjuk-Nya. Di samping menenteramkan hati, ulama besar Imam Ghazali menyebutkan paling tidak ada 20 manfaat zikir, di antaranya adalah manfaat di dunia seperti diingat Allah, keberkahan, doa dikabulkan, Allah menjadi teman yang menenteramkan hatinya, dan kemudahan menghadapi sakratul maut. Manfaat zikir juga dirasakan nanti di akhirat, seperti berbobotnya timbangan amal, dan meraih ridha-Nya.

Dampak menyepelekan zikir antara lain: menjadi teman setan, mengeraskan hati dan terlalu cinta dunia. Larut dalam kelengahan kenikmatan dunia itu membuat mata hati tertutup. Dalam batas-batas tertentu, keengganan berzikir berarti bentuk penolakan akan ketergantungan pada Allah. Orang yang selalu berzikir tentulah memiliki semacam benteng. Benteng tersebut terbentuk dikarenakan ia selalu ingat mengenai apa yang jadi perintah Allah dan yang dilarang atau diharamkan-Nya.

Firman Allah SWT: “Dan dirikanlah shalat, karena shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar dan zikir kepada Allah itu lebih utama lagi.” (QS Al ‘Ankabut: 45). Dengan demikian, zikir lebih ampuh meredam perbuatan keji dan munkar daripada melakukan shalat.

Hal ini dikarenakan orang yang berzikir, hatinya akan terbuka terhadap Tuhannya dan lidahnya lancar menyebut-Nya, maka Allah akan mengirimkan cahaya-Nya pada hati orang yang berzikir, sehingga keimanannya bertambah, keyakinannya berlipat ganda. Hatinya akan tenteram dan puas menerima kebenaran.

Tekanan hidup yang dirasakan oleh manusia di era modern ini, harusnya mengantarkan manusia sadar keberadaannya sebagai makhluk Tuhan yang serba terbatas, dan menyadari akan utamanya zikir dalam kehidupan mereka. Apalagi pada era modern, banyak sekali di sekitar mereka bujukan setan untuk berbuat sesuatu yang zalim dan tidak diridhai Allah. Dalam menghadapi cobaan itu, mereka menghadapinya dengan sabar.

Di samping zikir punya kaitan erat dengan kesalehan individual, zikir juga berkaitan dengan kesalehan sosial yang wujud dalam keseharian mereka. Orang-orang yang berzikir pada aras ini seyogyanya memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi. Orang-orang yang berzikir semestinya menunjukkan kepedulian pada saudara-saudara mereka yang kelaparan, anak-anak yatim piatu yang memerlukan dukungan baik secara moril dan juga materiil. Orang-orang yang berzikir adalah orang-orang yang bersikap “tegas” pada para penindas, tidak mau “membiarkan hidup” segala bentuk penindasan, dan selalu memperbaiki borok-borok moral yang ia jumpai di masyarakat, dengan usaha maksimal dan dengan cara-cara yang baik. Yang diharapkan cuma ridha dari Tuhannya.

Bagi mereka (orang-orang yang berzikir pada Tuhannya), kekayaan sejati bukan terletak pada emas atau perak, tapi dalam pengetahuan dan kearifan sejati yang tidak pernah mengkhianati mereka, karena mereka peroleh dari sisi Tuhan mereka. Karena itulah mencintai dan mengagungkan Tuhan adalah pilihan dalam pengetahuan dan perbuatan mereka. Bagi mereka semua itu menjanjikan semacam “atsmosfer kedamaian” dalam hidup mereka, lebih-lebih pada masa modern yang sarat tekanan hidup. Al Qur‘an memberikan garansi pada mereka soal ini: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS Ar Ra’d: 28)

Mari kita giatkan kegiatan zikir kepada Allah dan menjadi bagian dari kebiasaan hidup kita. Insya Allah kita akan memetik banyak manfaat dari kebiasaan zikir ini.***

11 December 2011

Guru Jangan Anti Kritik

Posted in pendidikan at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.”(Soe Hok Gie)

Oleh: Syamsul Kurniawan

SECARA umum tak ada orang yang senang menerima kritik. Bagaimana pun hebatnya seseorang, ia pasti tak akan kebal dari kritik. Pertama, Karena tak ada manusia yang sempurna dan luput dari kesalahan. Kedua, Banyak orang yang senang mengkritik, meskipun mereka tahu dikritik itu tidak enak. Memang tidak semua kritik itu benar. Namun, bagaimana kita menyikapi kritik sebenarnya dapat mendorong perbaikan bagi kepribadian kita.

Demikian pula juga seharusnya bagi seorang guru. Kedewasaan berpikir menuntut seorang guru untuk menghadapi kritik, bukan malah menghindarinya. Seorang guru harus selalu siap untuk menghadapi kritik demi mencari jalan keluar, bukan untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, atau siapa yang pintar dan siapa yang bodoh.

Nah lalu bagaimana caranya seorang guru menanggapi kritik, katakanlah kritik yang datang dari murid-murid mereka?

Pertama-tama, Seorang guru jangan langsung membela diri dan menganggap semua kritik yang datang dari murid mereka itu salah. Dengarkan dulu kritiknya dan mengerti apa maksudnya. Kedua, Seorang guru harus pandai-pandai menganalisa mengapa ia dikritik sebelum ia menanggapi kritik tersebut. Jika yakin kritikan yang diterima karena si pengkritik ingin mendorong kita untuk lebih maju, terima saja kritikan mereka. Karena pada dasarnya itu adalah saran yang kita butuhkan untuk terus berkembang.

Jika kita yakin kita dikritik karena si pengkritik melihat sesuatu yang salah dari apa yang kita lakukan, jujurlah pada diri kita sendiri. Mungkin memang benar kita salah dan kita secara tidak sadar melakukannya. Akuilah kesalahan kita dan berterimakasihlah kepada mereka yang memberikan kritik. Karena mereka telah menyadarkan kita akan kesalahan kita sendiri yang mungkin dapat berakibat fatal untuk kita ke depannya.

Jika kita yakin bahwa kritik mereka adalah kritik yang sebetulnya untuk “sekedar menguji”, jawab saja kritikan mereka dengan jujur. Tentu integritas dan kemampuan kita akan terlihat jelas. Jika si pengkritik puas dengan jawaban kita, maka diapun akan mengakui bahwa kita memang memiliki integritas dan kemampuan.

Dengan demikian guru yang baik adalah guru yang selalu bersikap obyektif, terbuka untuk menerima kritik terhadap kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, misalnya dalam hal caranya mengajar. Hal ini diperlukan dalam upaya perbaikan mutu pendidikan demi kepentingan anak didik sehingga benar-benar tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik. Keberanian melihat kesalahan sendiri dan mengakuinya tanpa mencari alasan untuk membenarkan atau mempertahankan diri dengan sikap defensif adalah titik tolak ke arah usaha perbaikan.***

9 December 2011

Edisi Khusus Pemberantasan Korupsi

Posted in sosial budaya at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

(Refleksi Hari Anti Korupsi Sedunia, 9 Desember 2011)

Oleh: Syamsul Kurniawan

TENTU ada banyak sebab mengapa Indonesia menjadi tempat paling bergairah dalam memaknai Hari Anti Korupsi yang jatuh pada setiap 9 Desember itu. Salah satu sebabnya, negeri ini  merupakan tempat favorit bercokolnya para koruptor. Sebab lainnya, negeri ini berada di puncak semangat untuk mengenyahkan para koruptor itu.

Upaya mengenyahkan para koruptor dari bumi Indonesia sebenarnya adalah sesuatu yang diperjuangkan dan dicita-citakan rakyat sejak lama. Tapi upaya-upaya baik itu seperti terus berkompetisi dengan perilaku buruk para pelaku korupsi. Maka, upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan dari waktu ke waktu selalu mentah dan kandas di tengah jalan.

Betapa proses anomali sosial bernama korupsi itu sudah demikian deras mengalir di berbagai lini dan lapis kehidupan, mulai pusat hingga daerah. Sekat-sekat kehidupan di negeri ini (nyaris) tidak lagi menyisakan ruang yang nyaman untuk tidak berbuat korup. Kita pun jadi makin prihatin dan cemas, adakah pengusutan dapat dilakukan dengan tuntas dan adil? Cukup tersediakah aparat penegak hukum yang bersih untuk mengusutnya dengan adil, tepat, dan benar? Dan sampai kapan akan selesai?.

Contohnya saja kasus Bank Century. Kegaduhan atas kasus Bank Century seperti tidak pernah habis-habisnya, ibarat bola panas dan liar yang setiap kali dapat dipermainkan. Sampai sekarang tidak tampak kesungguhan menyelesaikan secara tuntas kasus aliran dana talangan Rp. 6,7 triliun yang menghebohkan itu. Seakan sudah menjadi pola yang terus berulang, kasus itu seperti dibiarkan surut sejenak. Tidak terlihat upaya penyingkapan kasus secara gamblang, khususnya kemana saja aliran dana talangan itu bergerak. Lebih absurd lagi, arah penyelesaian tidak pernah jelas. Persoalan bertambah rumit karena perdebatan kembali berputar-berputar antara upaya penyelesaian politik dan penyelesaian hukum. Contoh kasus yang tak kalah dramatisnya adalah kasus wisma atlet yang melibatkan mantan bendahara umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Kasus Bank Century, kasus wisma atlet, dan beberapa kasus yang sudah terungkap hanya fenomena “gunung es” dari kasus-kasus korupsi yang terungkap.

Negeri kita telah lama dikenal sebagai negeri yang kaya. Namun, pemerintahnya banyak utang dan rakyatnya pun terlilit dalam kemiskinan permanen. Sejak zaman pemerintahan kerajaan, kemudian zaman penjajahan, dan hingga zaman modern dalam pemerintahan NKRI dewasa ini, kehidupan rakyatnya tetap saja miskin. Kemiskinan yang berkepanjangan telah mendera bangsa ini bertubi-tubi sehingga menumpulkan kecerdasan dan masuk terjerembab dalam kurungan keyakinan mistik, fatalistik, dan yang terparah adalah selalu ingin mencari jalan pintas.

Kepercayaan tentang pentingnya kepandaian, kerja keras dan jujur semakin memudar karena kenyataan dalam kehidupan masyarakat menunjukkan yang sebaliknya. Banyak mereka yang pandai, kerja keras dan jujur, tetapi ternyata bernasib buruk hanya karena mereka datang dari kelompok yang tak beruntung. Sementara itu, banyak yang dengan mudahnya mendapatkan kekayaan hanya karena mereka datang dari kelompok elite atau berhubungan dekat dengan para pejabat, penguasa, dan para tokoh masyarakat. Mereka memuja dan selalu mencari jalan pintas untuk mendapatkan segala sesuatu dengan mudah dan cepat, baik kekuasaan maupun kekayaan. Korupsi menjadi budaya jalan pintas dan masyarakat menganggap lazim memperoleh kekayaan dengan mudah dan cepat.

Sungguh demikian parahkah perilaku korup di sebuah negeri yang pernah diagung-agungkan sebagai bangsa yang santun, beradab, dan berbudaya? Haruskah negeri ini hancur dan tenggelam ke dalam kubangan dan lumpur korupsi hingga akhirnya loyo dan tak berdaya?

Terpilihnya Abraham Samad sebagai ketua KPK yang baru menimbulkan harapan baru dalam usaha pemberantasan korupsi tanpa tebang pilih. Tetapi mengingat budaya korupsi yang sudah demikian deras mengalir di berbagai lini dan lapis kehidupan di negeri ini, usaha pemberantasan korupsi melalui jalan penegakan hukum yang tegas dan tanpa tebang pilih tidaklah cukup. Diperlukan lebih dari itu. Di antaranya dengan mendidikkan nilai-nilai anti korupsi di masyarakat.

Signifikansi pendidikan anti korupsi ini didasarkan pertimbangan bahwa pemberantasan korupsi mesti dilakukan secara integratif dan simultan yang mesti berjalan beriringan dengan tindakan represif terhadap koruptor. Karena itulah, pendidikan anti korupsi mesti didukung. Jangan sampai timbul keawaman terhadap korupsi dan perilaku koruptif. Pendidikan anti korupsi berisi tentang sosialisasi bentuk-bentuk korupsi, cara pencegahan dan pelaporan serta pengawasan terhadap tindak pidana korupsi. Pendidikan seperti ini harus ditanamkan secara terpadu mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.

Pendidikan anti korupsi ini akan berpengaruh pada perkembangan psikologis peserta didik. Setidaknya, ada dua tujuan yang ingin dicapai dari pendidikan anti korupsi ini. Pertama, Untuk menanamkan semangat anti korupsi pada setiap anak bangsa. Melalui pendidikan ini, diharapkan semangat anti korupsi akan mengalir di dalam darah setiap generasi dan tercermin dalam perbuatan sehari-hari. Sehingga pekerjaan membangun bangsa yang terseok-seok karena adanya korupsi di masa depan tidak ada terjadi lagi. Jika korupsi sudah diminimalisir, maka setiap pekerjaan membangun bangsa akan maksimal.

Kedua, Menyadari bahwa pemberantasan korupsi bukan hanya tanggung jawab lembaga penegak hukum seperti KPK, Kepolisian dan Kejaksaan agung, melainkan tanggung jawab setiap anak bangsa. Pola pendidikan yang sistematik akan mampu membuat peserta didik mengenal lebih dini hal-hal yang berkenaan dengan korupsi termasuk sanksi yang akan diterima kalau melakukan korupsi. Orang-orang yang terlibat kasus korupsi juga bisa dikonsumsi dalam pembelajaran di sekolah sebagai “penjahat negara”, yang namanya bisa ditemukan di buku-buku pelajaran di sekolah. Dengan begitu, akan tercipta generasi yang sadar dan memahami bahaya korupsi, bentuk-bentuk korupsi dan tahu akan sanksi yang akan diterima jika melakukan korupsi.

Tidak hanya itu, pendidikan anti korupsi yang dilaksanakan secara sistemik di semua tingkat institusi pendidikan, diharapkan akan memperbaiki pola pikir bangsa ini tentang korupsi. Bukankah selama ini sangat banyak kebiasaan-kebiasaan yang telah lama diakui sebagai sebuah hal yang lumrah dan bukan korupsi, dan termasuk hal-hal kecil?. Sering terlambat dalam mengikuti sebuah kegiatan, terlambat masuk sekolah, kantor dan sebagainya. Contoh lain, kebiasaan tidak mau repot. Ketika ditilang oleh polisi lalu lintas, tanpa pikir panjang dan tidak mau repot untuk sidang di pengadilan kemudian mengajukan tawar-menawar. Perbuatan ini banyak sekali ditemukan di jalan raya, dan menjadi lazim. Sehingga memang diperlukan edukasi bahwa perbuatan suap tersebut, termasuk korupsi yang merugikan negara. Di sinilah pentingnya pendidikan anti korupsi yang diselenggarakan secara terpadu di semua tingkatan institusi pendidikan.

Akhirnya, selamat Hari Anti Korupsi Sedunia, 9 Desember 2011. Besar harapan kita bersama negeri ini tidak hancur dan tenggelam ke dalam kubangan dan lumpur korupsi hingga akhirnya loyo dan tak berdaya.***

25 November 2011

Pemimpin! Guru! Alangkah hebatnya…

Posted in pendidikan at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan *)

Pemimpin! Guru! Alangkah hebatnya pekerjaan menjadi pemimpin di dalam sekolah, menjadi guru di dalam arti yang spesial, yakni menjadi pembentuk akal dan jiwa anak-anak! Terutama sekali di zaman kebangkitan! Hari kemudiannya manusia adalah di dalam tangan guru itu, menjadi manusia”.

Demikian pendapat presiden pertama RI, Ir. Soekarno tentang guru yang penulis kutip dari buku karangannya, Dibawah Bendera Revolusi. Dalam pandangan Soekarno, guru adalah pekerjaan yang mulia karena di tangan gurulah masa depan bangsa ini ditentukan.

Guru adalah pahlawan pembangunan, karena di tangan para guru, kelak lahir “pahlawan-pahlawan pembangunan” yang kelak mengisi ruang-ruang publik di negeri ini. Namun seorang guru juga bisa menjadi sebab hancurnya masa depan bangsa ini, mengingat tidak semua guru itu tindak tanduknya mencerminkan perilaku seorang guru. Tidak sedikit  guru yang perilakunya justru berlawanan dengan predikatnya sebagai guru, atau tidak layak untuk diikuti dan apalagi dijadikan sebagai teladan bagi anak didiknya.

Lahirnya manusia-manusia yang berhati jahat, yang mengisi negeri ini tidak dengan pembangunan tapi dengan perbuatan jahat – berdampak munculnya keadaan yang tak menyenangkan seperti: kekerasan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bertanah air, terjadi wabah penyakit korupsi, penurunan moral, dan sebagainya – tentu saja “guru-guru” punya andil atas keadaan-keadaan yang tak menyenangkan tersebut.

Di dalam buku Dibawah Bendera Revolusi, Soekarno mengatakan sebagai berikut: “Guru yang sifat hakekatnya hijau akan “beranak” hijau, guru yang sifat hakekatnya hitam akan “beranak” hitam, guru merah akan “beranak” merah.”

Inti dari apa yang diuraikan Soekarno di atas menjelaskan bahwa hasil dari pendidikan sangat ditentukan oleh faktor guru. Guru yang tidak konsisten dengan apa yang diajarkan, di depan para murid ia mengajarkan kebaikan tetapi di belakang muridnya, ia justru melanggarnya, guru yang demikian tentu tidak patut dijadikan teladan, atau dalam istilah jawa digugu (dipatuhi) dan ditiru (diikuti). Karena itu tugas seorang guru, di samping melakukan tugas pengajaran di kelas (proses belajar mengajar), ia juga bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya, yang dibuktikan dengan perilaku kesehariannya.

Guru yang baik, guru yang menjadi harapan masyarakat adalah guru yang bukan saja memenuhi syarat-syarat teknik, melainkan juga memiliki semangat untuk membangun. Guru yang ideal, bukan sekedar guru yang memenuhi syarat-syarat teknik: pintar, pandai, dan sebagainya sesuai dengan bidang ilmu yang dimiliki, melainkan yang jauh lebih penting dari itu semua, guru harus bisa menempatkan dirinya  sebagai agen perubahan (agent of change).

Sebagai agen perubahan (agent of change), seorang guru tidak seharusnya membicarakan realitas seolah-olah sesuatu yang tidak bergerak, statis, dan terpisah satu sama lain dan dapat diramalkan. Jadi para guru menguraikan suatu topik yang sama sekali asing bagi pengalaman eksistensial para murid. Seolah-olah tugas guru adalah mengisi para murid dengan bahan-bahan yang dituturkannya, bahan-bahan yang lepas dari realitas, terpisah dari totalitas yang melahirkannya, dan dapat memberinya arti. Tugas guru adalah menumbuhkan keingintahuan anak didik dan mengarahkannya dengan cara yang paling mereka harapkan dan paling mereka minati. Jika anak didik diberi rasa aman, dihindarkan dari celaan dan cemoohan, berani berekspresi dan bereksplorasi secara leluasa, ia akan tumbuh dengan penuh rasa percaya diri dan berkembang menjadi dirinya sendiri.

Pada aras inilah seorang guru bisa menjadi pahlawan, yaitu “pahlawan pembangunan”, memiliki jiwa juang, memiliki semangat untuk berkurban, dan menjadi pionir bagi kemajuan masyarakat. Dengan demikian tugas seorang guru tidaklah ringan. Guru yang baik tidak hanya memberi tahu, tidak hanya menjelaskan, tidak hanya mendemonstrasikan, tapi juga bisa menginspirasi.

Seorang guru harus mampu memandang jauh ke depan, perubahan apa yang bakal terjadi di hari esok. Dengan demikian seorang guru akan merencanakan apa yang terbaik untuk diberikan kepada anak didiknya. Bagaimana ia sebagai motivator, memotivasi anak didiknya agar penuh semangat dan siap menghadapi serta menyongsong perubahan hari esok.

9 November 2011

Memupuk Semangat Kepahlawanan

Posted in politik at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Syamsul Kurniawan

PADA Pidato Hari Pahlawan 10 Nopember 1961, Ir. Soekarno mengatakan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.

Tanggal 10 November telah kita tetapkan sebagai Hari Pahlawan. Sebagai bangsa Indonesia, Hari Pahlawan merupakan momentum sejarah yang tak mungkin terlupakan. Itu adalah untuk memperingati perjuangan yang heroik rakyat Indonesia melawan penjajah yang setelah Perang Dunia II hendak menancapkan kembali kekuasaannya di bumi Ibu Pertiwi dan hendak meniadakan kemerdekaan bangsa Indonesia yang pada tanggal 17 Agustus 1945 diproklamasikan.

Pada tanggal 10 November 1945 para pemuda Surabaya mengadakan perlawanan terhadap pasukan Sekutu yang hendak menguasai kota Surabaya untuk diserahkan kepada Belanda yang telah datang kembali ke Indonesia dengan mendompleng pasukan Sekutu. Pemuda dan rakyat Surabaya tidak mau dijajah kembali dan dihilangkan kemerdekaannya yang baru saja direbut. Perlawanan gigih diberikan dengan disertai pengorbanan jiwa, raga, harta dan benda. Baru setelah Bung Karno mencapai persetujuan dengan pimpinan Sekutu, maka perlawanan yang hebat itu berhenti. Karena kuatnya perlawanan rakyat dan pemuda Indonesia dalam pertempuran di Surabaya, maka peristiwa itu masuk dalam pencatatan sejarah dunia. Apalagi karena dalam perlawanan itu komandan pasukan Inggeris, Brigadier Mallaby, jatuh sebagai salah satu korban.

Perlawanan arek-arek Surabaya pada tanggal 10 November 1945 itu makin menggelorakan perlawanan rakyat di tempat-tempat lain di Indonesia yang juga kedatangan pasukan Belanda bersama Sekutu. Mungkin sebelum itu rakyat di tempat lain sudah mengadakan perlawanan terhadap Belanda, seperti yang terjadi di sekitar Jakarta. Akan tetapi pertempuran Surabaya yang hebat itu makin memperkuat semangat rakyat Indonesia di mana-mana untuk juga membuktikan semangat kepahlawanan dalam membela kemerdekaan Negara dan Bangsa.

Para pahlawan bukan saja berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa, tetapi juga telah menanamkan serangkaian nilai-nilai luhur budaya bangsa, yang kemudian dikenal sebagai nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan, kejuangan maupun kesetiakawanan sosial. Untuk itu, tidaklah berlebihan jika setiap tahunnya, khususnya pada bulan November, kita secara bersama-sama memberikan penghormatan yang tulus atas segala pengorbanan yang telah diberikan para pahlawan sehingga bangsa Indonesia dapat menikmati kemerdekaan serta memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang menjadi bangsa yang besar, bangsa yang diharapkan dapat menjunjung tinggi kehormatan, martabat serta kebanggaan para pahlawannya.

Reorientasi makna kepahlawanan

Apakah sebetulnya kepahlawanan itu dan bagaimana sifat orang yang dapat dinamakan pahlawan. Kepahlawanan adalah satu perbuatan yang dilakukan seorang dalam mengabdikan diri guna kepentingan yang lebih luas dari pada kepentingan dirinya sendiri. Baik itu kepentingan negara, bangsa, masyarakat atau umat manusia. Semangat pengabdian yang kuat itu biasanya timbul karena ada dorongan hati nurani untuk membela kebenaran dan keadilan.

Dalam pengabdian itu dilakukan perbuatan yang tidak terbatas pada ruang lingkup kewajiban normal yang dihadapi orang bersangkutan atau dalam bahasa Inggeris dikatakan bahwa kepahlawanan adalah satu perbuatan beyond the call of duty. Kalau perbuatan itu sekedar menjalankan kewajiban, maka itu masih kurang kuat untuk dinamakan kepahlawanan. Dan perbuatan yang melampaui ruang lingkup kewajiban itu disertai kesediaan memberikan pengorbanan jiwa dan raga serta harta dan benda yang ada pada orang itu secara ikhlas, demi kebenaran dan keadilan serta kepentingan yang lebih luas dari pada kepentingan dirinya sendiri. Kepahlawanan tidak jarang mengakibatkan gugurnya orang yang melakukan perbuatan itu dan perbuatan demikian adalah kepahlawanan yang betul-betul penuh.

Orang yang melakukan perbuatan kepahlawanan itu dinamakan pahlawan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pahlawan mengandung arti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Jadi orang yang sekedar menjalankan kewajiban yang memang harus dihadapi kurang memenuhi syarat untuk dinamakan pahlawan. Baru kalau dalam menjalankan kewajiban itu ia melakukan perbuatan yang di luar keharusan yang perlu dipenuhi, dan itu disertai kesediaan berkorban yang cukup tinggi dan penuh keikhlasan, maka orang itu patut digolongkan pahlawan. Apalagi kalau perbuatan itu menimbulkan kesengsaraan pada orang itu, apalagi kematian, maka orang itu benar-benar tergolong pahlawan.

Pangeran Diponegoro yang sudah tidak sudi lagi melihat kekuasaan penjajah Belanda di Jawa, bangkit dan bertekad mengadakan perlawanan. Hati nurani beliau mengatakan bahwa kekuasaan penjajah melanggar keadilan dan karena itu harus dilawan. Sebenarnya sebagai seorang pangeran yang mempunyai kewajiban di Kraton Yogyakarta Pangeran Diponegoro tidak perlu bangkit dan mengadakan perlawanan fisik terhadap Belanda. Akan tetapi beliau menganggap bahwa menjadi keharusan bagi beliau untuk tidak sekedar menjadi anggota kerabat Sultan Yogya. Melainkan harus membuktikan kesediaannya untuk mengusir Belanda dari pulau Jawa. Perbuatan itu membuat beliau seorang pahlawan, apalagi ketika dalam perlawanan itu beliau harus mengorbankan banyak hal demi kepentingan rakyat banyak yang hidup sengsara di bawah telapak penjajahan Belanda. Dan akhirnya ditawan oleh Belanda serta diasingkan dari pulau Jawa yang merupakan tumpah darah beliau. Kemudian harus wafat dalam pengasingan jauh dari tempat asal beliau.

Ir. Soekarno yang mahasiswa brilian di Sekolah Tinggi Teknik Bandung (sekarang menjadi ITB) sebenarnya tidak mempunyai kewajiban untuk memelopori dan memimpin pergerakan kebangsaan untuk menjadikan rakyat Indonesia merdeka. Dengan hasil studi yang bermutu Ir. Soekarno dapat mengabdikan diri sebagai seorang insinyur yang pandai. Dan dengan jalan demikian dapat memperoleh kedudukan dalam masyarakat serta membangun kesejahteraan yang baik bagi dirinya dan keluarganya, sebagaimana dilakukan oleh cukup banyak lulusan sekolah tinggi di zaman penjajahan. Akan tetapi hati nurani Ir. Soekarno mengatakan kepada dirinya bahwa bangsanya mengalami ketidakadilan karena dijajah Belanda. Sebab itu Ir. Soekarno tidak mau hanya menjadi orang seperti itu ketika rakyat Indonesia hidup sengsara dalam penjajahan. Maka beliau bangkit dan membentuk pergerakan nasional, yaitu Partai Nasional Indonesia, yang menggerakkan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaan. Akibatnya Ir. Soekarno ditahan oleh pemerintah penjajahan, dibuang ke tempat pengasingan jauh dari masyarakat yang menjadi basis pergerakan yang dipimpinnya. Dan dengan sendirinya mengalami kondisi kehidupan yang jauh dari keadaan andai kata beliau sekedar menjadi insinyur yang pandai. Maka Ir. Soekarno termasuk pahlawan kemerdekaan yang patut menjadi tauladan.

Hal serupa kita lihat pada Drs. Moh. Hatta setelah pulang dari studinya di Belanda. Andai kata Hatta sekedar menjalankan kewajiban normal seorang pemuda dan intelektual Indonesia, maka Hatta tak perlu memimpin pergerakan kebangsaan. Akan tetapi hati nurani beliau mendorong untuk tidak sekedar menjadi seorang intelektual, melainkan juga memperjuangkan perbaikan nasib berjuta rakyat Indonesia. Akibatnya Hatta dengan penuh kesadaran memberikan pengorbanan tidak sedikit, termasuk ditahan dan dibuang jauh dari sanak keluarga serta kawan-kawan yang beliau ajak bergerak mencapai kemerdekaan bangsa dan negara.

Perjuangan rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan penuh dengan kepahlawanan. Tanpa itu tidak mungkin kemerdekaan dapat diproklamasikan, kemudian dibela dan ditegakkan. Sebab pihak penjajah tidak mau melepaskan kekuasaannya begitu saja. Dan penjajah mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak, baik yang ada di luar negeri maupun di dalam negeri dari orang-orang Indonesia yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri belaka. Akan tetapi cukup banyak rakyat Indonesia tergerak hati nuraninya untuk melawan penjajah guna membela kebenaran dan keadilan, sekalipun tidak jelas atau pasti kesudahan perlawanan itu bagi dirinya dan keluarganya. Karena itu terpeliharalah Republik Indonesia yang merdeka.

Maka boleh dikatakan bahwa berdirinya dan tetap tegaknya Republik Indonesia adalah karena faktor kepahlawanan itu. Makam-makam pahlawan tersebar luas di seluruh wilayah Tanah Air Indonesia. Ada yang melakukan kepahlawanan ketika penjajahan masih amat kuat di bumi Indonesia, seperti Haji Oemar Said Tjokroaminoto dan Husni Thamrin. Pahlawan-pahlawan itu telah memberikan sumbangan berharga bagi persiapan kemerdekaan. Dan ada pahlawan-pahlawan dalam perjuangan membentuk serta menegakkan kemerdekaan negara dan bangsa.

Tidak salah kalau dikatakan bahwa kemerdekaan Indonesia dicapai melalui kepahlawanan yang tidak sedikit. Ada kepahlawanan yang dilakukan oleh para pejuang bersenjata dalam pertempuran terhadap penjajah dan pihak-pihak yang tidak menghendaki Indonesia merdeka. Ada pula kepahlawanan yang dilakukan oleh rakyat yang dengan penuh semangat melakukan aneka ragam perlawanan terhadap musuh-musuh Indonesia. Oleh sebab itu hendaknya generasi penerus jangan menganggap kemerdekaan negara dan bangsa itu satu hal yang lumrah belaka, satu perkara yang dapat taken for granted. Karena itu harus selalu ada dorongan untuk terus membela kemerdekaan itu serta membuatnya lebih indah lagi dengan menciptakan kondisi negara dan bangsa yang selalu lebih baik, lebih maju dan sejahtera dari pada sebelumnya.

Mengisi kemerdekaan negara dan bangsa

Akan tetapi negara tidak cukup hanya ditegakkan dan dibela, melainkan harus pula dijadikan satu wahana untuk membawa kemajuan serta kesejahteraan bangsa secara keseluruhan. Oleh sebab itu kemerdekaan yang telah dicapai harus diisi dengan membuat negara itu memiliki berbagai kemampuan yang mendatangkan kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Makin banyak kemajuan dan kesejahteraan yang didatangkan untuk rakyat, semakin besar manfaat yang diberikan negara bagi rakyat.

Membangun negara dan bangsa itu memerlukan pekerjaan yang tidak sedikit dan tidak mudah. Berbagai kemampuan baru harus diciptakan dan dibangun. Seperti pembangunan jalan-jalan, waduk-waduk dan saluran pengairan untuk mengairi tanah pertanian, pelabuhan, gedung sekolah, rumah sakit dan banyak lagi. Tidak jarang keberhasilan pekerjaan untuk pembangunan itu memerlukan pengorbanan dari mereka yang mengerjakannya. Apalagi kalau harus mengejar waktu dengan tetap menjaga mutu hasil pekerjaan. Maka dari mereka yang melakukan pekerjaan itu diharapkan adanya semangat pengorbanan yang tidak sedikit.

Sebab itu pembangunan juga dapat menimbulkan pahlawan-pahlawan, yaitu pahlawan pembangunan. Mungkin tidak terdapat ancaman terhadap jiwa bagi pahlawan pembangunan. Meskipun begitu, kalau pekerja pembangunan melakukan pekerjaannya dengan penuh dedikasi tanpa menghiraukan kepentingan pribadinya, maka tetaplah ia dapat dinilai sebagai pahlawan.

Juga mereka yang melakukan pekerjaan pembangunan tanpa pamrih, seperti para guru yang bekerja di desa-desa jauh dari keramaian kota yang kita lihat di tengah-tengah Kalimantan atau Irian, dapat kita nilai sebagai pahlawan pembangunan apabila mereka melakukan pekerjaannya dengan baik sekali. Demikian pula para peneliti ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama berjam-jam bekerja penuh dedikasi di tempat penelitian dan mungkin menghadapi bahaya kematian (kalau umpamanya sedang meneliti penyakit menular atau melakukan penelitian kimia dengan gas racun atau alat peledak). Mereka pun dapat dinamakan pahlawan pembangunan karena tanpa banyak menghiraukan kepentingan pribadinya mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat banyak.

Pembangunan negara dan bangsa yang mencapai sukses besar serta dilakukan dengan tempo tinggi memerlukan faktor kepahlawanan yang tidak kalah artinya dari kepahlawanan di masa perjuangan kemerdekaan. Oleh sebab itu diharapkan para pemuda di seluruh wilayah Tanah Air Indonesia tergerak hati nuraninya untuk menunjukkan perbuatan kepahlawanan di bidang-bidang pekerjaan yang mereka geluti. Tidak kalah dari kepahlawanan yang sudah terjadi dalam masa perang melawan penjajah. Ketika kita sekarang menghadapi krisis moneter yang kemudian menimbulkan berbagai krisis lainnya sikap kepahlawanan demikian makin terasa keperluannya bagi bangsa Indonesia. Sebaliknya kalau para pemuda hanya sekedar menjalankan pekerjaan mereka sebagai bagian dari kewajiban, maka sukar kita peroleh hasil pembangunan negara dan bangsa yang cukup tinggi dalam waktu singkat.

Seperti dalam perjuangan kemerdekaan hendaknya para pemimpin memberikan tauladan dalam melakukan perbuatan kepahlawanan itu. Tauladan demikian akan dapat menggerakkan semangat perjuangan dari mereka yang dipimpin. Selain itu diharapkan pula agar di antara para pemuda cukup banyak yang terdorong melakukan kepahlawanan sekalipun tidak ada tauladan dari atas.

Sayang sekali bahwa di masa Orde Lama yang berlangsung dari tahun 1959 hingga 1965 tidak banyak dilakukan usaha pembangunan untuk memberikan isi kepada kemerdekaan negara dan bangsa. Waktu itu bangsa Indonesia terlalu dilibatkan dalam berbagai pertentangan politik dalam negeri. Kesejahteraan rakyat bukannya bertambah baik, melainkan makin menurun. Setelah tahun 1965 mula-mula ada niat baik dari Orde Baru untuk secara konsekuen melaksanakan UUD 1945 dan Pancasila serta melakukan pengisian kemerdekaan. Karena itu sejak tahun 1969 dimulai pembangunan nasional.

Memang kemudian mulai tampak perbuatan kepahlawanan yang ditunjukkan oleh sementara orang yang penuh dedikasi terhadap pekerjaannya. Namun sayang sekali bahwa di samping itu mulai berkembang sikap hidup yang amat merugikan negara dan bangsa. Sifat ketidakjujuran mulai timbul dan malahan ditauladani oleh kalangan atas. Ketika sementara orang melakukan pekerjaan pembangunan dengan penuh semangat dan bahkan pengorbanan, terjadi perbuatan yang tercela oleh pihak lain berupa pemusatan kekuasaan dan pengumpulan kekayaan pribadi melalui penyalahgunaan wewenang yang makin lama makin parah. Karena akhirnya masyarakat lebih didominasi oleh pihak yang disebut terakhir, maka sukar terwujud kepahlawanan dalam pembangunan.

Malahan orang yang berusaha menunjukkan sifat-sifat yang bersifat jujur serta penuh dedikasi dan pengorbanan untuk negara dan bangsa dianggap sebagai menentang arus. Mungkin banyak orang bicara tentang pahlawan pembangunan, tetapi itu hanya omong kosong belaka yang menunjukkan kemunafikan yang tinggi. Keadaan demikian yang bertentangan dengan kepentingan rakyat menimbulkan keadaan bangsa yang amat buruk yang akhirnya menyulut gerakan para mahasiswa untuk memelopori perjuangan reformasi. Hati nurani para mahasiswa tidak mau menerima berlanjutnya berbagai ketidakadilan dan pemutarbalikan kebenaran.

Dengan terjadinya Reformasi di segala bidang, khususnya di bidang hukum, politik dan ekonomi, diusahakan agar masyarakat Indonesia kembali kepada jalannya yang benar dalam mencapai tujuannya. Dalam Reformasi itu sudah terjadi pengorbanan ketika para mahasiswa melakukan unjuk rasa yang mendapat tembakan sehingga jatuh korban, seperti yang terjadi dalam Peristiwa Trisakti. Reformasi mengusahakan kembalinya bangsa Indonesia melakukan pembangunan negara dan bangsa yang mendatangkan kemajuan dan kesejahteraan rakyat banyak.

Unjukrasa dan aneka ragam usaha yang lebih bersifat politik hendaknya tidak dilihat sebagai tujuan melainkan sebagai usaha untuk menciptakan kondisi bangsa yang lebih kondusif untuk mengerjakan pembangunan secara intensif dan bermutu. Semua pihak yang cinta tanah air dan bangsa berkepentingan agar Reformasi dapat mencapai tujuannya dan pembangunan nasional terlaksana sebaik-baiknya. Namun sayangnya, setelah 13 tahun era reformasi tidak banyak perubahan yang kita rasakan. Era reformasi tidak jauh lebih baik dari masa-masa sebelumnya. Mungkin inilah yang diramalkan oleh Presiden Soekarno pada suatu waktu, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Kepahlawanan di masa depan

Indonesia menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Abad ke 21 diperkirakan membawa berbagai tantangan dan bahkan mungkin ancaman bagi negara dan bangsa Indonesia. Umat manusia dan dunia telah masuk dalam era globalisasi yang mengharuskan setiap bangsa pandai bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain, tetapi di pihak lain juga harus kuat melakukan persaingan dengan mereka. Bangsa yang mengabaikan kenyataan itu harus membayar mahal bagi kelalaiannya tersebut. Sudah barang tentu ini juga berlaku bagi bangsa Indonesia.

Dalam kondisi seperti itu bangsa Indonesia harus mampu melakukan perjuangan yang kuat di segala aspek kehidupan. Sudah jelas bahwa ekonomi merupakan faktor amat penting dalam persaingan internasional. Akan tetapi ekonomi memerlukan faktor pendukung yang tidak sedikit untuk dapat bersaing dengan efektif. Tidak mungkin ekonomi nasional menjadi kuat kalau tidak dukung oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi.

Berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dikembangkan pula berbagai aspek produksi. Produksi industri manufaktur harus meningkat, demikian pula produksi pertambangan, pertanian, perikanan, kehutanan. Juga perlu dimajukan sektor jasa untuk membuat ekonomi nasional makin kuat. Jasa komunikasi dan angkutan, perbankan dan keuangan pada umumnya, perdagangan, dan bidang jasa lainnya harus berkembang maju kalau ekonomi ingin menjadi kuat. Sebab itu diperlukan kepahlawanan di semua unsur ini agar bangsa Indonesia makin maju dan sejahtera. Kepahlawanan di sini akan menghasilkan keunggulan bangsa dalam berbagai bidang yang bersangkutan dengan kekuatan ekonomi itu. Namun itu semua lagi-lagi sangat tergantung dari mutu manusia Indonesia.

Namun selama kelemahan-kelemahan masih kuat melekat pada manusia Indonesia, maka tidak mungkin ia bermutu tinggi. Oleh sebab itu diperlukan pendidikan nasional untuk menimbulkan wujud baru dari manusia Indonesia. Tidak saja pendidikan nasional harus menghilangkan sifat-sifat yang lemah, tetapi juga harus menimbulkan kemampuan-kemampuan baru untuk dapat menjalankan perjuangan yang efektif dan bermutu tinggi dalam dunia yang diliputi globalisasi sekarang dan di masa depan.

Pendidikan menghadapi berbagai tantangan, baik yang bersifat pendanaan, faktor materiil, maupun faktor lainnya. Sebab itu pelaksanaan pendidikan nasional yang bermutu merupakan satu perjuangan tersendiri yang memerlukan pahlawan-pahlawannya. Seperti pekerjaan guru, terutama mereka yang harus melakukan pekerjaannya di tempat-tempat terpencil jauh dari keramaian masyarakat. Hal ini masih akan berlangsung cukup lama meskipun tentu harus kita usahakan agar secepat mungkin kendala-kendala dapat diatasi. Seperti perbaikan penghasilan dan status sosial guru yang masih harus sangat diperbaiki. Tanpa semangat kepahlawanan sukar kita harapkan adanya perbaikan dalam pelaksanaan pendidikan nasional.

Akan tetapi jangan kita mengira bahwa di masa depan tidak ada tantangan atau ancaman yang bersifat fisik terhadap bangsa kita. Meskipun selalu kita usahakan agar bangsa lain menyadari bahwa melakukan gangguan terhadap kedaulatan bangsa Indonesia akan lebih merugikan ketimbang menguntungkannya, namun tidak dapat dipastikan bahwa bangsa lain tidak mengusahakan kepentingannya dengan mengganggu dan bahkan mengancam bangsa Indonesia. Yang sudah amat jelas adalah ketika bangsa lain menghabiskan kekayaan perikanan yang terdapat di wilayah lautan yang termasuk kedaulatan Republik Indonesia. Hal ini harus selalu memperoleh penjagaan oleh angkatan bersenjata kita. Selain itu juga tidak tertutup kemungkinan terjadinya gangguan terhadap berbagai pusat produksi kita untuk mengurangi daya saing kita secara internasional.

Presiden Soekarno mengatakan:

Kita sekarang tidak boleh berkesempatan lagi untuk menangis, kita sudah kenyang menangis. Bagi kita sekarang ini bukan saatnya buat lembek-lembekan hati. Berabad-abad kita sudah lembek hingga menjadi seperti kapuk dan agar-agar. Yang dibutuhkan oleh tanah air kita kini ialah otot-otot yang kerasnya sebagai baja, urat-urat syaraf yang kuatnya sebagai besi, kemauan yang kerasnya sebagai batu hitam yang tiada barang sesuatu bisa menahannya, dan yang jika perlu, berani terjun ke dasarnya samudra.

Oleh sebab itu masih diperlukan semangat kepahlawanan dalam menjaga kedaulatan Republik Indonesia. Tetap diperlukan kesediaan berkorban dan menghasilkan pekerjaan bermutu tanpa banyak pamrih. Apalagi ketika negara masih belum cukup besar kemampuan keuangannya untuk menyediakan sistem senjata yang paling baik dan bahkan penghasilan anggota angkatan bersenjata masih tergolong minim sekali.

Maka jelas sekali bahwa semangat kepahlawanan terus relevan dan bahkan penting untuk kehidupan bangsa serta pencapaian tujuan nasional, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Oleh sebab itu, semoga seluruh bangsa kita selalu menyadari betapa pentingnya pemupukan dan pemeliharaan semangat kepahlawanan itu. Marilah kita lanjutkan perjuangan para Pahlawan Bangsa yang telah mendahului kita dengan membuktikan sikap dan perbuatan yang tertuju kepada kehormatan, kemajuan dan kesejahteraan Negara dan Bangsa Indonesia. Terutama oleh generasi muda guna mencontoh yang telah ditunjukkan para pahlawan kemerdekaan.***

Previous page · Next page

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.