DIPERLUKAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM YANG IDEAL

Oleh: Syamsul Kurniawan

LINGKUNGAN pendidikan Islam adalah lingkungan yang di dalamnya terdapat ciri-ciri keislaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan Islam dengan baik. Dalam Al Qur‘an memang tidak dijumpai penjelasan rinci mengenai lingkungan pendidikan Islam, kecuali lingkungan pendidikan yang terdapat dalam catatan sejarah, di mana diasumsikan sebagai tempat terselenggaranya pendidikan, seperti masjid, rumah, madrasah, dan universitas.

Meskipun lingkungan seperti itu tidak disinggung secara langsung dalam Al Qur‘an, namun Al Qur‘an menyinggung dan memberikan perhatian tentang pentingnya lingkungan sebagai tempat sesuatu, seperti misalnya ketika menggambarkan tempat tinggal manusia yang disebut dengan al-qaryah (diulang sebanyak 52 kali) yang dihubungkan dengan tingkah laku penduduknya. Sebagian ada yang dihubungkan dengan penduduk yang durhaka (QS 07: 4/ QS 17: 16, dan QS 27: 34), sebagian juga dihubungkan dengan penduduk yang berbuat baik (QS 16: 112), sedangkan sebagian yang lainnya dihubungkan dengan tempat tinggal para Nabi (QS 27: 56/ QS 07: 88, dan QS 06: 92). Semua keterangan ini menunjukkan betapa Islam memandang pentingnya lingkungan dalam kegiatan manusia, termasuk kegiatan pendidikan Islam.

Pada dasarnya ada dua macam lingkungan pendidikan, yaitu lingkungan fisik pendidikan (yang berhubungan dengan lingkungan sarana dan prasarana pendidikan), dan lingkungan sosial pendidikan (sering diasumsikan dengan tripusat pendidikan: lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat).

Kedua macam lingkungan pendidikan ini menjadi faktor penentu yang ikut serta menentukan corak pendidikan Islam, yang tidak sedikit pengaruhnya bagi anak didik. Baik lingkungan fisik maupun sosial pendidikan, dibutuhkan dalam proses pendidikan, sebab baik lingkungan fisik atau lingkungan sosial pendidikan ikut menunjang terjadinya proses belajar mengajar secara nyaman, tertib dan berkelanjutan.

Sayangnya, perhatian lembaga pendidikan Islam tentang pentingnya lingkungan pendidikan (baik fisik maupun sosial) sering dinomorduakan. Masalah yang berhubungan dengan lingkungan fisik pendidikan misalnya. Realitasnya, banyak lembaga pendidikan Islam yang mengalami kendala dalam penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang baik. Akibatnya banyak orang yang beranggapan pendidikan Islam terkesan kumuh dan minim sarana dan prasarana pendidikan yang baik.

Demikian pula dalam kaitannya dengan lingkungan sosial pendidikan, proses pendidikan yang merupakan mata rantai yang saling berhubungan antara lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat seringkali tidak demikian kenyataannya.

Menyadari besarnya tanggungjawab orangtua dalam pendidikan anak, maka orangtua seyogyanya bisa bekerjasama dengan pihak sekolah atau madrasah, bukan malah menyerahkan begitu saja tanggung jawab kepada sekolah. Sebaliknya sekolah juga harus mengerti bahwa anak didik yang ia didik, merupakan amanah dari orangtua mereka sehingga  bantuan dan keterlibatan orangtua tentu saja sangat dibutuhkan. Begitupula masyarakat pada umumnya, harus menyadari pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang dimulai dari tingkat keluarga hingga ke sekolah serta lembaga-lembaga pendidikan non formal (di masyarakat) dalam rangka pencerdasan anggota masyarakat.  Sebab antara pendidikan dengan peradaban yang dihasilkan suatu masyarakat mempunyai korelasi positif. Semakin berpendidikan masyarakat, maka semakin tinggi pula peradaban yang ia hasilkan, demikian pula sebaliknya. Jadi dibutuhkan sinergi di antara ketiganya.

Akhirnya, untuk menciptakan pendidikan Islam yang berkualitas, tentu tidak sesederhana mengatakannya, dibutuhkan komitmen dan kerja keras bersama untuk terus menerus berbenah diri. Di samping itu juga diperlukan lingkungan fisik dan sosial pendidikan yang ideal guna menunjang terselengganya proses belajar mengajar secara nyaman, tertib dan berkelanjutan.***

Advertisements

AGAR KEGIATAN MENULIS TAK TERASA SULIT

Disampaikan dalam Basic Training (LK I) HMI Komisariat Syariah bertempat di Alianyang Center, Jalan A. Yani II, Kabupaten Kubu Raya Minggu, 14 Oktober 2012.

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

“BAGAIMANA sih untuk memulai menulis, Rasanya kok sulit ya?.” Demikian tanya seseorang kepada saya dalam suatu seminar. Dulu ketika masih jaman mesin ketik, separuh rim kertas habis disobek-sobek. Sekarang jaman komputer, tidak menyobek kertas tapi tidak satu file pun yang jadi atau dapat di-saving. Rasanya tulisan yang kita buat masih sangat terlalu jelek untuk dibaca orang lain.

Kasus yang dialami peserta seminar di atas pasti terjadi pula pada Anda atau siapapun yang menjadi penulis pemula. Persoalan paling mendasar disebabkan karena ketidakpercayaan kepada diri sendiri bahwa tulisan yang kita buat sudah cukup bagus. Lantaran tidak bagus maka malu kalau orang lain membaca. Daripada malu lebih baik dibatalkan, disobek, tidak disimpan dalam bentuk file. Langkah tersebut secara bawah sadar terasa menyelamatkan harga diri dan wibawa kita sendiri. Tapi proses keterampilan menulis tidak tercapai.

Ini kan aneh, mau belajar menulis tapi takut kalau tulisan kita jelek. Dan lucunya ketika tulisan jelek malu dibaca orang. Apakah kita lupa dulu ketika belajar berjalan sering terjatuh kemudian menangis?. Apakah kita malu saat itu. Tidak kan? Buktinya kita bangun lagi dan bangun lagi walaupun dengkul kita berlumuran darah dan tambal-tambalan kapas dan obat merah. Waktu kita belajar sepeda terus terjatuh, apakah kita juga malu? Ternyata tidak, malahan diulang kembali dan diulangi kembali. Sampai pada suatu ketika setimbangan mulai stabil, jalanlah sepeda roda dua tersebut. Lupa deh kepada dengkul yang luka-luka. Semuanya lunas terbayar ketika kita bisa menaiki sepeda tadi.

Demikian halnya dengan menulis. Untuk dapat menulis maka langsung saja menulis. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk memulai. Jika kemauan belum muncul, padahal tuntutan menghasilkan karya tulis terus menghantui kita, kita harus memotivasi diri sendiri.

Bagaimana cara memotivasi diri sendiri? Ya, tergantung diri sendiri, tetapi keinginan-keinginan tertentu sering manjur untuk maksud itu. Misalnya, karena ingin cepat selesai kuliah, namanya dikenal orang (terkenal), pendapatnya diketahui orang, membuat tulisan karena masalah seperti itu belum ditulis orang, menanggapi tulisan, pendapat, atau mereaksi suatu keadaan, menambah penghasilan, dll.

Lazimnya, orang mempunyai kemauan dan termotivasi karena memiliki pengetahuan dan kemampuan. Maka pengetahuan dan kemampuan adalah syarat berikutnya untuk menjadi penulis Tetapi, jika kita telah mempunyai kemauan dan motivasi, pengetahuan dan kemampuan lebih mudah untuk dikembangkan Pengetahuan dan kemampuan berkaitan dengan isi tulisan, apa yang diuraikan dalam karyatulis. Ia juga berkaitan dengan cara dan tatacara mengungkapkannya.

Yang terakhir itu berkaitan dengan kemampuan membahasakan apa yang ingin diungkapkan dan format penulisan. Jadi, pada intinya, untuk menjadi penulis atau menghasilkan karya tulis orang harus memiliki kemauan, motivasi, pengetahuan, dan kemampuan.

***

Bagi penulis pemula, topik sebaiknya dicari yang sesuai dengan bidang karena masalah itu yang paling dikuasai. Untuk tujuan itu, banyaklah membaca baik itu: jurnal, laporan penelitian, buku, makalah, akses internet yang berkaitan dengan topik yang sedang ingin kita tulis. Tentu saja, “penulis yang baik pasti sekaligus pembaca yang rajin.” Cermati bagaimana isi tulisan-tulisan itu: gagasan, pengembangan dan pengorganisasian gagasan, bahasa, dll. Dari kegiatan-kegiatan itu lazimnya akan muncul “ide” di benak kita.

Selain itu, penting juga mencermati pola pikir pengarang lain. Cermati dan ikuti bagaimana cara: (1) pengembangan gagasan. (2) pengembangan alinea. (3) perujukan acuan. (4) pengarang yang dirujuk. (5) peramuan berbagai gagasan dari berbagai sumber . (6) sikap pengarang. (7) gaya tulisan dan ejaan, dan sebagainya.

Tapi harus diperhatikan bahwa “Aktivitas menulis tidak cukup hanya berbekal teori walau pengetahuan teoretis juga penting”. Untuk dapat menulis, kita harus benar-benar langsung praktik menulis. Seperti belajar berenang: untuk dapat berenang kita harus betul-betul praktik berenang dengan resiko tenggelam

Maka sekali lagi seperti yang sudah saya uraikan, menulislah apa saja: apa yang diminati, apa yang ada di pikiran, apa yang menantang, tanpa merasa takut salah. Bentuk tulisan bisa jadi masih berwujud coretan-coretan ekspresif, tidak karuan, tidak saling terkait, Itu tidak masalah, sebab substansinya adalah menulis-kan apa saja, gagasan dan ide-ide atau pendapat kita. Kemudian cobalah kembangkan menjadi sebuah tulisan yang utuh dan enak dibaca.

Jika bentuk tulisan kita adalah karya tulis ilmiah, maka lazimnya kita perlu menyertakan banyak rujukan: dari jurnal atau teks-teks yang lain. Namun yang harus dijadikan catatan: “teks yang dirujuk harus benar-benar dibaca (tidak sekadar untuk ‘sok-sokan)”. Cara merujuk harus tepat dan konsisten sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Rujukan yang lazim biasanya mencakup: nama akhir pengarang, tahun, dan halaman. Contoh: Syamsul Kurniawan (2011: 75). Jika buku yang dikutip dan selanjutnya dimuat di daftar pustaka adalah: Kurniawan, Syamsul, 2011. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Yogyakarta: Arruzz Media.

***

Sebagai penutup, kegiatan menulis itu sebenarnya mudah (tidak terasa sulit) dilakukan jika kita “mau” melakukannya. Apalagi mahasiswa jelas mempunyai kepentingan dan tanggungjawab moral untuk menulis, misalnya untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosen yang umumnya berbentuk makalah. Jadi, mengapa kita tidak mau dan mampu memotivasi diri kita sendiri untuk menulis dan menulis. Mulai sekarang juga diputuskan untuk segera menulis, topik apa pun bisa ditulis, tinggal kita pandai-pandai menemukan sudut pandang.

Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktekkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis namun tidak pernah melakukannya maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya”. Demikian tulis Stephen King, seorang penulis Amerika yang terkenal.***

SEMANGAT KURBAN BAGI PEMUDA

Oleh: Syamsul Kurniawan

ASAL usul ibadah kurban dalam Islam berawal dari peristiwa kurban Nabi Ibrahim a.s. bersama putranya, Nabi Ismail a.s. Dikisahkan dalam Al-Qur’an tentang pengurbanan Nabi Ibrahim as. dan putranya Nabi Ismail as., sebagai berikut:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!. Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggilah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-oranhg yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash Shaffat: 102-107)

Meski ibadah kurban dalam Islam berawal dari peristiwa kurban Nabi Ibrahim a.s. bersama putranya, Nabi Ismail a.s., namun umur pelaksanaan ibadah kurban sendiri boleh dikatakan sama tuanya dengan sejarah umat manusia. Ibadah kurban sudah dikerjakan oleh putera-putera Nabi Adam a.s., Habil dan Qabil.

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil)…” (QS Al Maidah: 7).

Relevansinya dengan semangat sumpah pemuda

Seperti kita tahu bahwa peringatan hari raya kurban tahun ini (26 oktober 2012) disusul dengan peringatan sumpah pemuda (28 oktober 2012).

Jika melalui perintah kurban, Islam menanamkan atau mengajarkan umatnya agar berjiwa “rela berkurban”, adakah relevansinya semangat kurban ini dengan semangat yang harusnya dimiliki para pemuda?.

Saya kira ada, karena tentu dari keduanya kita bisa memetik kesamaan semangatnya, yaitu “kerelaan untuk berkurban”. Mungkin dapat disederhanakan dari peringatan keduanya, kita dapat menarik benang merah perlunya semangat berkurban ditumbuhkan pada jiwa pemuda, supaya pemuda-pemuda kita dapat berbuat banyak pada bangsanya.

Dapat saya katakan bahwa pemuda kita memang sudah kehilangan semangat dan kerelaan dalam berkuban, bahkan untuk bangsa ini tempat di mana ia hidup dan mendapatkan penghidupan. Untuk bangsa ini pun dapat kita katakan pemuda sudah mulai melupakan semangat sumpah pemuda. Tengok saja bagaimana peringatan sumpah pemuda diperingati, kebanyakan hanya seremonial belaka. Tidak memberi inspirasi bagi pemuda itu sendiri untuk berbuat banyak pada bangsa ini. Bahkan, tawuran, aksi bom bunuh diri, narkoba, seks bebas dan lain-lain menampilkan potret buram kehidupan para pemuda kita sekarang ini. Tak banyak pemuda yang dapat berbuat banyak pada bangsa ini, bahkan tak sedikit pemuda-pemuda yang diberikan keberuntungan menempati tempat-tempat penting sebagai wakil rakyat yang bertingkah laku seperti penjilat, bahkan tak sering kita tengok di televise meraih prestasi sebagai terpidana korupsi. Ada apa ini?

Seharusnya pemuda kita sekarang dapat meneladani para pemuda kita di masa lalu dalam memaknai sumpah pemuda. Sekalipun mereka datang dan berasal dari berbagai daerah tapi bisa menyatukan visi dan misi pentingnya kemajemukan bukan menampilkan ego masing-masing. Mereka rela “mengurbankan” ego mereka masing-masing untuk bersatu dan berbuat lebih banyak pada bangsa ini. Mereka punya kesadaran yang sama dan cita-cita yang sama untuk berbuat banyak pada negeri ini. Jadi inti dari sumpah pemuda adalah kesadaran bersama untuk menumbuhkembangkan kembali semangat persatuan dan kesatuan bangsa secara kolektif, dan semangat ini juga semestinya diikuti dengan semangat berkurban dan berbuat banyak pada bangsa ini.

Bayangkan jika semangat hari raya kurban dan semangat sumpah pemuda ini mewujud dalam diri pemuda-pemuda kita, hal apa yang tak mungkin dilakukan oleh para pemuda, jangankan mencabut semeru dari akarnya, mengguncangkan duniapun pemuda kita bisa, seperti yang pernah diisyaratkan mendiang Presiden Soekarno. Namun tak banyak yang bisa diandalkan, sekali lagi, jika peringatan-peringatan sumpah pemuda hanya seremonial saja, tak meninggalkan bekas apa-apa.

Oleh karenanya baik semangat kurban dan semangat sumpah pemuda jangan sampai pudar dan cuma sekedar seremonial belaka. Mari kita simak pesan Soekarno yang dimuat dalam Suluh Indonesia Muda, 1928 sebagai berikut:

Oleh karena itu, mari kita pertama-tama haruslah mengabdi pada ruh dan semangat itu. Ruh muda dan semangat muda yang harus meresapi dan mewahyui segenap kita punya perbuatan. Jikalah ruh ini sudah bangkit maka tiadalah kekuatan duniawi yang dapat menghalang-halangi bangkit dan geraknya, tiadalah kekuatan duniawi yang dapat memadamkan nyalanya.”

Akhirnya, saya hendak mengucapkan selamat hari raya kurban dan selamat memperingati sumpah pemuda. Semoga terwariskan kepada kita, pemuda-pemuda bangsa, “semangat kurban” dari keduanya.***

URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER: Di Lingkungan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

Oleh: Syamsul Kurniawan, Staff pada Program Pascasarjana (PPs.) STAIN Pontianak. Mengajar di Jurusan Tarbiyah STAIN Pontianak, FKIP-PAUD Universitas Muhammadiyah Pontianak, dan Prodi S1 Keperawatan STIKES YARSI Pontianak.

SAAT ini kita tengah berada di pusaran hegemoni media, revolusi ilmu pengetahuan  dan teknologi (iptek), yang tidak hanya mampu menghadirkan sejumlah kemudahan dan kenyamanan hidup bagi manusia modern, melainkan juga mengundang serentetan persoalan dan kekhawatiran. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mengurangi atau bahkan menihilkan nilai kemanusiaan atau yang disebut dehumanisasi.

Ibarat cerita Raja Midas yang menginginkan setiap yang disentuhnya menjadi emas, ternyata ketika keinginannya dikabulkan dia tidak semakin senang, tetapi semakin resah bahkan gila. Sebab, tidak saja rumah dan seisi rumah yan menjadi emas, tetapi istri dan anak yang disentuh pun menjadi emas sehingga sang raja pun akhirnya meratapi nasib yang kesepian tanpa ada makhluk hidup yang mendampinginya.

Kemajuan zaman yang terjadi saat ini, yang semula dipandang akan memudahkan pekerjaan manusia, kenyataannya juga menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi manusia, yaitu kesepian dan keterasingan baru, yang ditandai dengan lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan, dan silaturrahim.

Contohnya, penemuan televisi, komputer, dan handphone telah mengakibatkan  sebagian masyarakat terutama remaja dan anak-anak terlena dengan dunia layar. Layar kemudian menjadi teman setia. Hampir setiap bangun tidur menekan tombol televisi untuk melihat layar, mengisi waktu luang dengan menekan tombol handphone melihat layar untuk bersms ria, main game atau facebook-an. Akibatnya, hubungan antar anggota keluarga menjadi renggang. Ini menunjukkan bahwa terknologi layar mampu membius sebagian besar remaja dan anak-anak untuk tunduk pada layar dan mengabaikan yang lain.

Thomas Lickona mengungkapkan sepuluh tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai, karena jika tanda-tanda ini terdapat dalam suatu bangsa, berarti bangsa tersebut sedang berada di tebing jurang kehancuran. Tanda-tanda tersebut di antaranya: Pertama, Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. Kedua, Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk. Ketiga, Pengaruh peergroup yang kuat dalam tindak kekerasan. Keempat, Meningkatnya perilaku yang merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan perilaku seks bebas. Kelima, Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk. Keenam, Menurunnya etos kerja. Ketujuh, Semakin rendahnya rasa hormat pada orangtua dan guru. Kedelapan, Rendahnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara. Kesembilan, Membudayanya ketidakjujuran. Dan kesepuluh, Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Diakui dan disadari atau tidak, perilaku masyarakat kita sekarang terutama remaja dan anak-anak menjadi sangat mengkhawatirkan, karena mengarah kepada apa yang disebut oleh Lickona di atas. Meningkatnya kasus penggunaan narkoba, pergaulan/ seks bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kebiasaan menyontek, dan lain-lain menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.

Berbagai kejadian dan fenomena yang terjadi di atas semakin membuka mata kita bahwasanya diperlukan obat yang mujarrab dan ampuh untuk bisa menyelesaikan persoalan tersebut. Pendidikan karakter mungkin bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi semua persoalan demikian. Alasan-alasan kemerosotan moral, dekadensi kemanusiaan yang sesungguhnya terjadi tidak hanya dalam generasi muda, namun telah menjadi ciri khas abad kita, seharusnya membuat kita perlu mempertimbangkan kembali bagaimana lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat mampu menyumbangkan perannya bagi perbaikan karakter.

Diakui, persoalan karakter atau moral memang tidak sepenuhnya terabaikan. Akan tetapi, dengan fakta-fakta seputar kemerosotan karakter pada sekitar kita menunjukkan bahwa ada kegagalan pada fungsi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam hal menumbuhkan remaja dan anak-anak yang berkarakter dan berakhlak mulia.

Padahal karakter yang positif atau mulia yang dimiliki remaja dan anak-anak kelak akan mengangkat status derajatnya. Kemuliaan seseorang terletak pada karakternya. Karakter begitu penting, karena dengan karakter yang baik membuat seseorang tahan dan tabah dalam menghadapi cobaan, dan dapat menjalani hidup dengan sempurna. Kestabilan hidup seseorang amatlah bergantung pada karakter. Karakter membuat individu menjadi matang, bertanggung jawab dan produktif.

Atas kondisi demikian, banyak yang sependapat mengatasi persoalan kemerosotan dalam dimensi karakter ini. Para pembuat kebijakan, dokter, pemuka agama, pengusaha, pendidik, orangtua dan masyarakat umum menyuarakan kekhawatiran yang sama. Setiap hari berita berisi tragedi yang mengejutkan dan statistik mengenai remaja dan anak-anak membuat kita tercengang, khawatir, dan berusaha mencari jawaban atas persoalan tersebut.

Bahkan situasi dan kondisi karakter bangsa yang sedang memprihatinkan telah mendorong pemerintah untuk mengambil inisiatif untuk memprioritaskan pembangunan karakter bangsa. Pembangunan karakter bangsa dijadikan arus utama pembangunan nasional. Hal ini mengandung arti bahwa setiap upaya pembangunan harus selalu diarahkan untuk member dampak positif terhadap pengembangan karakter. Mengenai hal ini secara konstitusional sesungguhnya sudah tercermin dari misi pembangunan nasional yang memposisikan pendidikan karakter sebagai misi pertama dari delapan misi guna mewujudkan visi pembangunan nasional, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila…”.

Pada Bab IV tentang Arah, Tahapan, Dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005–2025, masih dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, menguraikan bahwa “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila…” tersebut ditandai oleh: “… Terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi iptek.

Pembentukan karakter juga merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 menyebutkan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk mempunyai kecerdasan, kepribadian, dan akhlak yang mulia. Amanah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 ini bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika memberikan kata sambutan pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2010 di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 11 Mei 2010 yang bertemakan “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa”, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan ada lima isu penting dalam dunia pendidikan. Pertama, Hubungan pendidikan dengan pembentukan watak atau dikenal dengan character building. Kedua, Kaitan  pendidikan dengan kesiapan dalam menjalani kehidupan setelah seseorang selesai mengikuti pendidikan. Ketiga, Kaitan pendidikan dengan lapangan pekerjaan. Ini juga menjadi prioritas dalam pembangunan lima tahun mendatang. Keempat adalah bagaimana membangun masyarakat berpengetahuan atau knowledge society yang dimulai dari meningkatkan basis pengetahuan masyarakat. Kelima, Bagaimana membangun budaya inovasi.

Menteri Pendidikan Nasional dalam sambutannya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional Tanggal 2 Mei 2010 juga menekankan bahwa pembangunan karakter & pendidikan karakter merupakan suatu keharusan, karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun masyarakat pada umumnya. Bangsa yang berkarakter unggul, di samping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi. Totalitas dari karakter bangsa yang kuat dan unggul, yang pada kelanjutannya bisa meningkatkan kemandirian dan daya saing bangsa, menuju Indonesia yang maju, bermartabat dan sejahtera di Abad 21.

Dari Mana Kita Mesti Mulai?

Dalam proses pendidikan karakter, sebelum mengenal masyarakat yang lebih luas dan sebelum mendapat bimbingan dari sekolah, seorang anak lebih dulu memperoleh bimbingan dari keluarganya. Dari kedua orang tua, untuk pertama kali seorang anak mengalami pembentukan karakter dan mendapatkan pengarahan moral. Dalam keseluruhannya, kehidupan anak juga lebih banyak dihabiskan dalam pergaulan keluarga. Itulah sebabnya, pendidikan keluarga disebut sebagai pendidikan yang pertama dan utama, serta merupakan peletak pondasi dari karakter dan pendidikan setelahnya. Dalam hal ini, orang tua bertindak sebagai pendidik, dan si anak bertindak sebagai peserta didik.

Menurut pendapat al-Ghazali, anak-anak adalah suatu hal yang sangat penting sekali, karena anak sebagai amanat bagi orang tuanya. Hati anak suci bagaikan mutiara cemerlang, bersih dari segala ukiran serta gambaran, ia dapat mampu menerima segala yang diukirkan atasnya dan condong kepada segala yang dicondongkan kepadanya. Maka bila ia dibiasakan ke arah kebaikan dan diajar kebaikan jadilah ia baik dan berbahagia dunia akhirat, sedang ayah serta para pendidik-pendidiknya turut mendapat bagian pahalanya. Tetapi bila dibiasakan berperilaku jelek atau dibiarkan dalam kejelekan, maka celaka dan rusaklah ia, sedang wali serta pemeliharanya mendapat beban dosanya. Untuk itu wajiblah wali menjaga anak dari perbuatan dosa dengan mendidik dan mengajarnya berakhlak bagus, menjaganya dari pengaruh buruk lingkungan dan teman-temannya.

Tugas orang tua ini akan lebih jelas lagi bila dihubungkan dengan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS at-Tahrim: 6).

Keluarga sebagai salah satu dari lingkungan pendidikan yang paling berpengaruh atas jiwa anak, karena keluarga adalah lingkungan pertama di mana manusia melakukan komunikasi dan sosialisasi diri dengan manusia lain selain dirinya. Di lingkungan keluarga pula manusia untuk pertama kalinya dibentuk; baik sikap maupun kepribadiannya. Maka keluarga mesti menciptakan suasana yang edukatif sehingga anak didiknya tumbuh dan berkembang menjadi manusia sebagaimana yang menjadi tujuan ideal dalam pendidikan.

Dalam perspektif pendidikan Islam, agar keluarga mampu menjalankan fungsinya dalam mendidik anak secara Islami, maka sebelum dibangun keluarga perlu dipersiapkan syarat-syarat pendukungnya. Al-Qur’an memberikan syarat yang bersifat psikologis, seperti saling mencintai, kedewasaan yang ditandai oleh batas usia tertentu dan kecukupan bekal ilmu dan pengalaman untuk memikul tanggung jawab yang di dalam al-Qur’an disebut baligh. Selain itu, kesamaan agama juga menjadi syarat terpenting. Kemudian tidak dibolehkan menikah karena ada hal-hal yang menghalanginya dalam ajaran Islam, yaitu syirik atau menyekutukan Allah dan dilarang pula terjadinya pernikahan antara seorang pria suci dengan perempuan pezina. Selanjutnya, juga persyaratan kesetaraan dalam perkawinan baik dari segi latar belakang agama, sosial, pendidikan dan sebagainya. Dengan memperhatikan persyaratan tersebut, maka diharapkan akan tercipta keluarga yang mampu menjalankan tugasnya—salah satu di antaranya—mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi yang tidak lemah dan terhindar dari api neraka.

Karena besarnya peran keluarga dalam pendidikan, Sidi Gazalba, seperti yang dikutip Ramayulis (2008), mengkategorikannya sebagai lembaga pendidikan primer, utamanya untuk masa bayi dan masa kanak-kanak sampai usia sekolah. Dalam lembaga ini, sebagai pendidik adalah orang tua, kerabat, famili, dan sebagainya. Orang tua selain sebagai pendidik, juga sebagai penanggung jawab. Oleh karena itu, orang tua dituntut menjadi teladan bagi anak-anaknya, baik berkenaan dengan ibadah, akhlak, dan sebagainya. Dengan begitu, kepribadian anak yang baik dapat terbentuk sejak dini sehingga menjadi modal awal dan menentukan dalam proses pendidikan karakter selanjutnya yang akan ia jalani.

Untuk memenuhi harapan tersebut, Al-Qur’an juga menuntun keluarga agar menjadi lingkungan yang menyenangkan dan membahagiakan, terutama bagi anggota keluarga itu sendiri. Al-Qur’an memperkenalkan konsep kelurga sakinah, mawaddah, warahmah. Firman Allah SWT: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS ar-Rum: 21).

Selain itu, fungsi keluarga dalam kajian lingkungan pendidikan Islam, sekurang-kurangnya ada dua, yaitu: (a) Keluarga sebagai institusi sosial. Di sini orang tua berkewajiban mengembangkan fitrah dan bakat yang dimiliki anaknya. Pendidikan dalam perspektif ini harusnya tidak menempatkan  anak sebagai objek yang dipaksa mengikuti nalar dan kepentingan pendidikan, tetapi sebaliknya pendidikan pada anak berarti mengembangkan potensi dasar yang dimiliki anak yang dimaksud. Potensi yang dimaksud cenderung pada kebenaran. Karena ia cenderung pada kebenaran, maka orang tua dituntut untuk mengarahkannya. Dalam kaitannya sebagai institusi sosial, maka keluarga menjadi bagian dari masyarakat dan negara. Tanggung jawab sosial dalam keluarga akan menjadi kesadaran bagi perwujudan masyarakat yang baik. Seperti kita mafhumi, keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama. Di lingkungan ini anak akan diperkenalkan dengan kehidupan sosial. Adanya interaksi antara anggota keluarga yang satu dengan keluarga yang lain menyebabkan ia menjadi bagian dari kehidupan sosial. (b) Keluarga sebagai institusi keagamaan. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dapat dididik dan membutuhkan pendidikan. Yang jauh lebih penting lagi adalah peran orangtua menanamkan nilai-nilai keagamaan dan keimanan anak. Aspek ini membutuhkan kasih sayang, asuhan, dan perlakuan yang baik. Termasuk yang jauh lebih penting lagi adalah peran orangtua menanamkan nilai-nilai keagamaan dan keimanan anak. Model pendidikan keimanan yang diberikan orangtua kepada anak dituntut agar lebih dapat merangsang anak dalam mencontoh perilaku orangtuanya (uswatun hasanah).

Setelah keluarga, sekolah merupakan lembaga pendidikan formal, yang menentukan dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Bahkan sekolah, madrasah atau pesantren bisa disebut sebagai lembaga pendidikan kedua yang berperan dalam mendidik peserta didik. Hal ini cukup beralasan, mengingat bahwa sekolah merupakan tempat khusus dalam menuntut berbagai ilmu pengetahuan.

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati (1991) menyebutkan bahwa disebut sekolah bilamana dalam pendidikan tersebut diadakan di tempat tertentu, teratur, sistematis, mempunyai perpanjangan dan dalam kurun waktu tertentu, berlangsung mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, dan dilaksanakan berdasarkan aturan resmi yang telah ditetapkan.

Di Indonesia, tampak ada dua jenis pendidikan, yaitu pendidikan umum dan pendidikan Islam. Yang dikelompokkan kepada jenis pendidikan umum yaitu SD, SLTP, SMU/ SMK dan Perguruan Tinggi, sementara lembaga pendidikan yang kemudian diidentikkan dengan lembaga pendidikan Islam adalah pesantren, madrasah—Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA)—dan sekolah milik organisasi Islam dalam setiap jenis dan jenjang yang ada, termasuk perguruan tinggi seperti IAIN dan STAIN. Semua lembaga ini akan menjalankan proses pendidikan yang berdasarkan kepada konsep-konsep yang telah dibangun dalam sistem pendidikan yang dianut.

Tidak hanya keluarga dan sekolah dalam hal ini, masyarakat sebagai lembaga pendidikan non formal, juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan karakter, tetapi tidak mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat. Masyarakat yang terdiri dari sekelompok atau beberapa individu yang beragam akan mempengaruhi pendidikan peserta didik yang tinggal di sekitarnya. Oleh karena itu, dalam pendidikan karakter, masyarakat memiliki juga mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mendidik.

Masyarakat sebagai lingkungan pendidikan yang lebih luas turut berperan dalam terselenggaranya proses pendidikan karakter. Setiap individu sebagai anggota dari masyarakat tersebut harus bertanggung jawab dalam menciptakan suasana yang nyaman dan mendukung. Oleh karena itu, dalam pendidikan anak pun, umat Islam dituntut untuk memilih lingkungan yang mendukung pendidikan karakter anak dan menghindari masyarakat yang buruk. Sebab, ketika anak atau peserta didik berada di lingkungan masyarakat yang kurang baik, maka perkembangan kepribadian atau karakter anak tersebut akan bermasalah.

Dalam kaitannya dengan lingkungan keluarga, orang tua harus memilih lingkungan masyarakat yang sehat dan cocok sebagai tempat tinggal orang tua beserta anaknya. Begitu pula sekolah atau madrasah sebagai lembaga pendidikan formal, juga perlu memilih lingkungan yang mendukung dari masyarakat setempat dan memungkinkan terselenggaranya pendidikan tersebut. Berpijak dari tanggung jawab tersebut, maka dalam masyarakat yang baik bisa melahirkan berbagai bentuk pendidikan kemasyarakatan, seperti masjid, surau, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), wirid remaja, kursus-kursus keislaman, pembinaan rohani, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat telah memberikan kontribusi dalam pendidikan yang ada di sekitarnya.

Mengingat pentingnya peran masyarakat sebagai lingkungan pendidikan, maka setiap individu sebagai anggota masyarakat harus menciptakan suasana yang nyaman demi keberlangsungan proses pendidikan yang terjadi di dalamnya. Di Indonesia sendiri dikenal adanya konsep pendidikan berbasis masyarakat (community based education) sebagai upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Meskipun konsep ini lebih sering dikaitkan dengan penyelenggaraan lembaga pendidikan formal (sekolah), akan tetapi dengan konsep ini menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan serta keberadaannya sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan karakter di suatu lembaga pendidikan formal.

Sebagai penutup, pendidikan karakter yang dicita-citakan hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan ketika salah satu dari pusat pendidikan karakter di atas (keluarga, sekolah, dan masyarakat) tidak menjalankan fungsinya dengan baik. Untuk mengimplementasikan pendidikan karakter yang berkualitas, maka ketiga lembaga atau lingkungan pendidikan di atas perlu bekerja sama secara harmonis.***

UMAT ISLAM INDONESIA DAN IKHTIAR PEMBERANTASAN KORUPSI

Oleh: Syamsul Kurniawan

KORUPSI sepertinya sudah mendarah daging di negeri kita ini: Indonesia. Seolah-olah di negeri ini tak ada lagi yang namanya kejujuran. Padahal yang kita mengerti negeri kita ini adalah negara beragama. Bahkan terakhir kita dengar ada dugaan terjadinya korupsi pengadaan Al-Qur‘an yang menjadi kenyataan pahit yang harus diterima kita sebagai bangsa beragama.

Pada dasarnya semua agama melarang adanya korupsi, demikian pula agama Islam. Pandangan dan sikap Islam terhadap korupsi tentu sangat tegas, yaitu haram dan melarang. Banyak argumen mengapa korupsi dilarang keras dalam Islam. Selain karena secara prinsip bertentangan dengan misi sosial Islam yang ingin menegakkan keadilan sosial dan kemaslahatan, korupsi juga dinilai sebagai tindakan pengkhianatan dari amanat yang diterima dan pengrusakan yang serius terhadap bangunan sistem yang akuntabel. Oleh karena itu, baik al- Qur’an, al-Hadits maupun kesepakatan ulama menunjukkan pelarangannya secara tegas.

Dalam al-Qur’an, misalnya, dinyatakan: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (cara berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.”

Dalam ayat yang lain disebutkan: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara batil, kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…”.

Islam adalah agama yang mengajarkan kejujuran dan kebenaran, dan kita mengerti soal itu. Betapa tingginya nilai kejujuran ini, sampai-sampai Nabi Muhammad Saw, sejak sebelum diangkat sebagai rasul, ia dikenal sebagai seorang yang jujur dan amanah. Kejujurannya dikenal oleh seluruh masyarakatnya , sehingga ia digelari dengan al-Amien, artinya orang yang jujur dan sama sekali tidak pernah bohong. Kejujuran menjadi sendi atau pilar dan bahkan pintu masuk menjadi Islam. Pernah pula Nabi Muhammad Saw suatu ketika didatangi oleh seseorang, menanyakan amalan apakah yang seharusnya dilakukan sehingga ia disebut sebagai seorang Islam yang selamat di dunia dan akherat. Maka dijawab oleh Nabi Muhammad Saw, “jangan bohong.” Jawaban itu diulang-ulang beberapa kali, untuk memberikan ketegasannya.

Dalam suatu Hadits juga dinyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: “Allah melaknati penyuap dan penerima suap dalam proses hukum.” Dalam redaksi lain, dinyatakan: “Nabi Muhammad Saw melaknati penyuap, penerima suap, dan perantara dari keduanya.” Kemudian dalam kesempatan yang berbeda, Nabi Muhammad Saw bersabda: “penyuap dan penerima suap itu masuk ke neraka.”

Dalam sejarah, baik para sahabat Nabi, generasi sesudahnya (tabi’in), maupun para ulama periode sesudahnya, semuanya juga bersepakat tanpa khilaf atas keharaman korupsi, baik bagi penyuap, penerima suap maupun perantaranya. Meski ada perbedaan sedikit mengenai kriteria kecenderungan mendekati korupsi sebab implikasi yang ditimbulkannya, tetapi prinsip dasar hukum korupsi adalah haram dan dilarang.

Ini artinya, secara mendasar, Islam memang sangat anti korupsi. Yang dilarang dalam Islam bukan saja perilaku korupnya, melainkan juga pada setiap pihak yang ikut terlibat dalam kerangka terjadinya tindakan korupsi itu. Bahkan kasus manipulasi dan pemerasan juga dilarang secara tegas, dan masuk dalam tindakan korupsi.

Ajaran Islam seperti yang diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW dan juga sahabat-sahabatnya tersebut jika diimplementasikan dalam kehidupan nyata saat ini tentu akan sangat berperan dalam mengikis penyakit korupsi bangsa ini. Kerja ini memang tidak mudah, dan karena itu pula saya merasa perlu adanya “komitmen bersama” umat Islam khususnya untuk melestarikan ajaran agama yang anti korupsi seperti yang dipercontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan juga sahabat-sahabatnya.

Dalam proses pendidikan di sekolah misalnya jika ada seorang siswa yang memeluk agama Islam menanyakan tentang ajaran Islam yang pokok dan harus dilakukan kepada gurunya, maka guru semestinya menjawab bahwa Islam adalah kejujuran, maka jangan berbohong, jangan menyontek, karena tindakan itu adalah tindakan kebohongan. Ini akan menanamkan kepada mereka untuk selalu mengedepankan kejujuran dalam aktivitas mereka, juga sebagai identitas mereka sebagai pemeluk agama.

Demikian pula jika seorang pegawai yang beragama Islam menanyakan hal yang sama kepada ustadznya, maka seharusnya ia menjawab bahwa Islam mengajarkan, kejujuran maka jangan korup. Sama juga jika seorang pedagang menanyakan tentang Islam, maka ustadz atau siapa saja, seyogyanya menjawab bahwa mencari rizki harus memilih yang halal, sebagai seorang Islam jangan bohong dalam melakukan jual beli. Begitu pula, orang-orang yang kebetulan mendapat amanah di mana saja, apakah sebagai guru, dosen, kepala sekolah, rektor, lurah, camat, bupati/wali kota, gubernur, menteri, hakim, jaksa, kepala bank, sampai presiden dan bahkan siapa saja, jika ingin menyandang identitas sebagai seorang penganut Islam, maka seharusnya mereka tidak bohong artinya tidak korup.

Akhirnya, bersikap “tidak korup” seharusnya dijadikan identitas seorang muslim, karena Rasulullah SAW mengajarkannya, dan kita sebagai umat Islam harus melestarikannya. Selain itu umat Islam yang mayoritas di negeri ini juga diharapkan punya andil untuk mengusung gerakan pemberantasan korupsi sampai ke akar-akarnya. Ini penting juga bagi bangsa kita yang sedang dalam proses membangun, Hanya ada satu kata untuk korupsi yaitu: “LAWAN”.***

MUHAMMAD ABDUH DAN IKHTIAR MEMAJUKAN PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Syamsul Kurniawan*)

PENDIDIKAN Islam merupakan salah satu bidang studi yang banyak mendapat banyak perhatian dari ilmuan. Hal ini karena di samping perannya yang amat strategis dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia, juga karena dalam pendidikan Islam terdapat berbagai masalah yang kompleks. Karena itu, bagi mereka yang terjun ke dunia pendidikan Islam, mereka harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan sesuai dengan tuntutan zaman. Hal ini juga yang menjadi perhatian Muhammad Abduh (seorang pemikir, teolog, mufti, dan pembaru Islam di Mesir pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20).

Abduh melihat bahwa salah satu penyebab keterbelakangan umat Islam yang amat memprihatinkan adalah hilangnya tradisi intelektual, yang pada intinya ialah kebebasan berpikir. Pendidikan pada umumnya tidak diberikan kepada kaum wanita, sehingga wanita tetap tinggal dalam kebodohan dan penderitaan. Abduh berpandangan bahwa penyakit tersebut antara lain berpangkal dari ketidaktahuan umat Islam pada ajaran agama yang sebenarnya, karena mereka mempelajari dengan cara yang tidak tepat. Menurut Abduh, penyakit tersebut dapat diobati dengan cara mendidik mereka dengan sistim pengajaran yang tepat.

Sistim pendidikan yang ada pada masanya yang selanjutnya melatarbelakangi pemikiran pendidikan Muhammad Abduh. Sebelumnya, pembaruan pendidikan Mesir diawali oleh Muhammad Ali. Dia hanya menekankan pada perkembangan aspek intelektual dan mewariskan dua tipe pendidikan pada masa berikutnya. Model pertama ialah sekolah-sekolah moderen, sedang model kedua adalah sekolah agama. Masing-masing sekolah berdiri sendiri, tanpa mempunyai hubungan satu sama lain. Pada sekolah agama tidak diberikan pelajaran ilmu-ilmu moderen yang berasal dari Barat, sehingga perkembangan intelektual berkurang. Sedangkan sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah, hanya diberikan ilmu pengetahuan Barat, tanpa memberikan ilmu agama.

Dualisme pendidikan yang memunculkan dua kelas sosial yang berbeda. Yang pertama menghasilkan ulama serta tokoh masyarakat yang enggan menerima perubahan dan mempertahankan tradisi, sedang sekolah yang kedua menghasilkan kelas elit. Generasi muda yang dimulai pada abad 19, dengan ilmu-ilmu Barat yang mereka peroleh, membuat mereka dapat menerima ide-ide Barat. Abduh melihat segi negatif dari dua model pendidikan tersebut, sehingga mendorongnya untuk mengadakan perbaikan pada dua instansi tersebut. Perbaikan yang dilakukan Abduh dalam bidang pendidikan:

 

1. Tujuan Pendidikan

Menurut Abduh tujuan pendidikan adalah mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya pada batas-batas kemungkinan seorang mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan yang dirumuskan Abduh tersebut mencakup aspek akal dan aspek spiritual. Dengan tujuan tersebut ia menginginkan terbentuknya pribadi yang mempunyai struktur jiwa yang seimbang, yang tidak hanya menekankan pengembangan akal, tetapi juga pengembangan spiritual. Abduh berkeyakinan apabila aspek akal dan spiritual dididik dengan cara dicerdaskan dan jiwa dengan agama, maka umat Islam akan dapat bersaing dengan ilmu pengetahuan baru, dan dapat mengimbangi mereka dalam kebudayaan.

2. Kurikulum Sekolah

Kurikulum yang dirumuskan Muhammad Abduh adalah sebagai berikut: (a) Untuk tingkat sekolah dasar: membaca, menulis, berhitung, dan pelajaran agama dengan materi akidah, fikih, akhlak, serta sejarah Islam. (b) Untuk tingkat menengah: manthiq dan dasar, dasar penalaran, akidah yang dibuktikan dengan akal dan dalil-dalil yang pasti, fikih dan akhlak, dan sejarah Islam. (c) Untuk tingkat atas: tafsir, hadits, bahasa Arab dengan segala cabangnya, akhlak dengan pembahasan yang rinci, sejarah Islam, retorika dan dasar-dasar berdiskusi, dan ilmu kalam.

Dari penerapan kurikulum di atas, tampak bahwa Abduh ingin menghilangkan dualisme pendidikan yang ada pada saat itu. Dia menginginkan sekolah-sekolah umum memberikan pelajaran agama dan al-Azhar diharapkan menerapkan ilmu-ilmu yang dating dari Barat.

3. Metode pengajaran

Abduh menekankan pemberian pengertian (pemahaman) dalam setiap pelajaran yang diberikan. Ia mengingatkan kepada para pendidik untuk tidak mengajar murid dengan metode hapalan, karena metode hapalan menurutnya hanya akan merusak daya nalar. Abduh menekankan metode diskusi untuk memberikan pengertian yang mendalam kepada murid.

4. Pendidikan bagi Perempuan

Menurut Abduh, pendidikan harus diikuti oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Menurutnya perempuan haruslah mendapat hak yang sama dalam bidang pendidikan. Hal ini didasarkan kepada QS al-Baqarah (02): 228 dan QS al-Ahzab (33): 35.

Dari pembahasan di atas, maka tampak nilai-nilai yang ingin ditegakkan Muhammad Abduh melalui perjuangan dan pemikirannya: (1) Nilai persatuan dan nilai solidaritas, yaitu usaha yang dilakukan Abduh guna memulihkan kembali kekuatan Islam dengan membentuk urwatul wutsqa di bawah panji bersama dengan semangat ukhuwah Islamiyah; (2) Nilai pembaruan. Abduh berusaha mencanangkan gerakan pembaruan, berusaha membuka pemikiran di kalangan umat Islam yang beranggapan pintu ijtihad telah tertutup dan taklid; (3) Nilai perjuangan, yaitu gerakan yang dicanangkan Abduh baik dalam politik secara diplomatis, maupun dalam bidang pendidikan dan sosial mengandung unsure perjuangan untuk membela Islam; (4) Nilai-nilai kemerdekaan. Abduh berusaha membuka pemikiran (bebas mengemukakan pemikiran) umat Islam yang selama ini terlalu bergantung dengan pemerintah dan terbelenggu dengan pemikiran sempit yang statis.

Pendapat Muhammad Abduh tersebut di Mesir sendiri mendapat sambutan dari sejumlah tokoh pembaru. Murid-muridnya seperti Muhammad Rasyid Ridha meneruskan gagasan tersebut melalui majalah al-Manar dan Tafsir al-Manar. Kemudian Kasim Amin, Syaikh Thanthawi Jauhari. Demikian pula selanjutnya seperti Farid Wajdi, Husein Haykal, Abbas Mahmud al-Akkad, Ibrahim A. Kadir al-Mazin, Mustafa Abd. Al-Raziq, dan Sa’ad Zaqlul, bapak kemerdekaan Mesir.  Bahkan menurut Harun Nasution, selanjutnya, karangan Muhammad Abduh sendiri banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu, bahasa Turki, dan bahasa Indonesia.

Pemikiran Muhammad Abduh  tentang pendidikan dinilai sebagai awal dari kebangkitan umat Islam di awal abad ke 20. Pemikiran Muhammad Abduh yang disebarluaskan melalui tulisannya di majalah al-Manar dan al-Urwatul Wutsqa kelak menjadi rujukan para tokoh pembaru dalam dunia Islam, hingga di berbagai negara Islam muncul gagasan mendirikan sekolah-sekolah dengan menggunakan kurikulum seperti yang dirintis Abduh.***

 

REFORMASI PENDIDIKAN JANGAN SETENGAH HATI

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

BANYAK ahli mengungkapkan urgennya pengembangan SDM, khususnya melalui peranan pendidikan terutama dalam pertumbuhan ekonomi.  Menurut teori human capital, pendidikan memberi pengaruh pada pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan keterampilan dan produktivitas kerja.  Theodore W. Schultz pada tahun 1961 mengungkapkan bahwa Pendidikan merupakan salah satu bentuk investasi dalam sumber daya manusia, selain kesehatan dan migrasi.

Demikian juga Robert M. Solow pemenang Nobel bidang ekonomi pada tahun 1987 menekankan peranan ilmu pengetahuan dan investasi sumber daya manusia dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Dari teori Solow yang kemudian dikembangkan menjadi teori baru pertumbuhan ekonomi (The New Growth Theory) tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan dasar pertumbuhan ekonomi.

Seperti yang diungkap Schutz dan Solow serta ahli-ahli ekonomi lainnya bahwa pendidikan merupakan faktor penting dalam pertum-buhan ekonomi melalui peningkatan kualitas SDM.  Hal ini dapat dilihat pada negara Jepang misalnya, di mana kemajuan ekonomi yang didapatnya sekarang tak lepas dari peranan pendidikan.

Sistem pendidikan Jepang yang baik terbukti bisa menghasilkan manusia-manusia berkualitas, sehingga walaupun hancur setelah mengalami kekalahan pada Perang Dunia II, mereka dapat cepat bangkit maju dan bahkan bersaing dengan negara yang mengalah-kannya dalam pe-rang. Negara Asia lainnya seperti Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura juga memperlihatkan fenomena yang tidak jauh berbeda dari Jepang, di mana kemajuan ekonomi yang mereka dapat adalah karena tingginya kualitas SDM-nya. Agaknya keadaan di Indonesia berbeda jauh sekali dengan negara-negara tersebut. Dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang relatif lebih banyak, tapi negara kita ternyata jauh tertinggal.

Oleh karena itu reformasi pendidikan – perlu dilakukan sekarang juga walaupun hal itu terasa amat terlambat – dan harus diseriusi. Reformasi berarti memperbaiki, membetulkan, menyempurnakan dengan membuat sesuatu yang salah menjadi benar. Reformasi berimplikasi pada merubah sesuatu, menghilangkan yang tidak sempurna menjadi lebih sempurna seperti melalui perubahan kebijakan institusional. Beberapa karakteristik reformasi dalam suatu bidang tertentu yaitu adanya keadaan yang tidak memuaskan pada masa yang lalu, keinginan untuk memperbaikinya pada masa yang akan datang, adanya perubahan besar-besaran, adanya orang yang melakukan, adanya pemikiran atau ide-ide baru, adanya sistem dalam suatu institusi tertentu baik dalam skala kecil seperti sekolah maupun skala besar seperti negara sekalipun. Sedangkan yang dimaksudkan dengan reformasi pendidikan dalam tulisan ini adalah upaya perbaikan pada bidang pendidikan.

Kenapa ini penting kita bincangkan? Seperti yang diuraikan di atas, bahwa keadaan pendidikan di negeri kita pada masa sekarang sangat mengkhawatirkan. Pendidikan kita hingga saat ini belum mampu membawa Indonesia keluar dari lingkaran krisis yang berkepanjangan.

Bukan saja itu, krisis moral juga menjadi bagian yang menambah deret persoalan yang dihadapi bangsa kita. Seperti yang bisa kita simak di berita-berita di setiap harinya, kasus tawuran antar pelajar; mahalnya biaya masuk sekolah; sarana dan prasarana pendidikan yang tak tercukupi di banyak sekolah, terutama di daerah perbatasan, sampai tentang tragedi contek massal yang pernah mewarnai momen ujian nasional, dan lain-lain. Sebagian persoalan yang saya sebut tersebut, merupakan salah satu alasan tentang pentingnya melakukan reformasi pendidikan.

Pada aras ini, reformasi pendidikan harusnya memiliki dua karakteristik dasar yaitu “terprogram” dan “sistemik”. Reformasi pendidikan yang terprogram menunjuk pada kurikulum atau program suatu institusi pendidikan. Yang termasuk ke dalam reformasi terprogram ini adalah inovasi. Inovasi adalah memperkenalkan ide baru, metode baru atau sarana baru untuk meningkatkan beberapa aspek dalam proses pendidikan agar terjadi perubahan secara kontras dari sebelumnya dengan maksud-maksud tertentu yang ditetapkan. Seorang reformer terprogram memperkenalkan lebih dari satu inovasi dan mengembangkan perencanaan yang terorganisir dengan maksud adanya perubahan dan perbaikan untuk mencapai tujuan baru. Biasanya inovasi pendidikan terjadi terlebih dahulu sebelum terjadinya reformasi pendidikan.

Sementara itu reformasi sistemik berkaitan dengan adanya hubungan kewenangan dan distribusi serta alokasi sumber daya yang mengontrol sistem pendidikan secara keseluruhan. Hal ini sering kali terjadi di luar sekolah dan berada pada kekuatan sosial dan politik. Karakteristik reformasi sistemik ini sulit sekali diwujudkan karena menyankut struktur kekuasaan yang ada.

Sebagai penutup, reformasi pendidikan saya ibaratkan sebagai pohon yang terdiri dari empat bagian yaitu akar, batang, cabang dan daunnya. Akar reformasi yang merupakan landasan filosofis yang tak lain bersumber dari cara hidup (way of life) masyarakatnya. Sebagai akarnya reformasi pendidikan adalah masalah sentralisasi-desentralisasi, masalah pemerataan-mutu dan siklus politik pemerintahan setempat. Sebagai batangnya adalah berupa mandat dari pemerintah dan standar-standarnya tentang struktur dan tujuannya. Dalam hal ini isu-isu yang muncul adalah masalah akuntabilitas dan prestasi sebagai prioritas utama. Cabang-cabang reformasi pendidikan adalah manajemen lokal, pemberdayaan guru, perhatian pada daerah setempat. Sedangkan daun-daun reformasi pendidikan adalah keterlibatan orang tua peserta didik dan keterlibatan masyarakat untuk menentukan misi sekolah yang dapat diterima dan bernilai bagi masyarakat setempat. Terdapat tiga kondisi untuk terjadinya reformasi pendidikan yaitu adanya perubahan struktur organisasi, adanya mekanisme monitoring dari hasil yang diharapkan secara mudah yang biasa disebut akuntabilitas dan terciptanya kekuatan untuk terjadinya reformasi.

Strategi reformasi pendidikan di atas barangkali sudah sering dibicarakan, didiskusikan bahkan diagendakan oleh pemerintah, namun agaknya berjalan masih “setengah hati”. Karena itu yang terpenting dari agenda reformasi di bidang pendidikan menurut saya adalah komitmen, bukan sekadar diwacanakan, tapi betul-betul dikerjakan.***

Success is a journey, not a destination.