21 September 2011

100 % ♥ INDONESIA

Posted in sosial budaya at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Syamsul Kurniawan

DI ANTARA gempuran produk “fashion” bermerek global yang menguasai lemari baju hingga alam pikir kita merek lokal menyeruak dengan percaya diri. Label menjadi ajang pernyataan identitas. Inikah saatnya kita ganti baju dari label global ke label lokal?

Dunia mode memang berperan meretas semangat kelokalan. Ketika desainer lokal papan atas telah cukup mapan merengkuh pasar kelas atas Indonesia, kini pasar kelas menengah pun tak ketinggalan direngkuh beragam produk fashion yang dengan sadar mengusung label semangat kelokalan. Ragam produk mode ini mulai dari gaun, kaos oblong, hingga pakaian dalam.

Sebagai orang Indonesia tentunya kita harus mencintai produksi dalam negeri, bukan hanya dalam soal industri pakaian, tapi dalam soal industri apa saja. Siapa lagi yang akan mencintai produk dalam negeri kalau bukan kita bangsa Indonesia. Dengan mencintai produk dalam negeri kita telah ikut memajukan perekonomian sekaligus membangun negara kita. Dikaitkan dengan kualitas, kualitas “made in Indonesia” tidak kalah dengan “made in luar negeri”. Karena itu kenapa harus repot membeli produksi luar negeri!.

Ada banyak produksi dalam negeri yang tidak kalah dengan produk luar, meski tidak dimungkiri produk dalam negeri itu kalah tenar dengan barang luar sementara ini. Contoh, sejumlah kosmetik buatan dalam negeri tidak kalah mutu dan kualitasnya. Kesadaran masyarakat mencintai produk sendiri perlu ditumbuhkan. Karena itu perlu disosialisasikan rasa cinta pada produksi dalam negeri.

Saat ini Indonesia tengah dibanjiri merek-merek dagang luar negeri. Masyarakat Indonesia sebaiknya tidak perlu terikat oleh merek-merek dagang luar negeri. Soal pakaian, misalnya. Untuk celana jeans merek Levis, Indonesia harus membayar penggunaan mereknya di sini. Padahal celana itu dibuat di dalam negeri. Produksi dan bahannya juga dari dalam negeri. Jadi jangan tergantung merek dagang luar negeri. Kita juga bisa membuat merek dagang sendiri. Bahkan barang luar negeri juga berasal dari Indonesia.

Lebih parah lagi, tidak sedikit produk luar negeri, misalnya kosmetik, malah merusak wajah. Termasuk sejumlah makanan juga mengandung zat berbahaya yang merugikan kesehatan. Berbagai produk luar negeri itu tidak sedikit menimbulkan efek buruk. Dengan kata lain merek tidak bisa menjamin kualitas.

Bentuk lain sebuah perjuangan untuk bangsa

Pada Pidato HUT Proklamasi 1966 Bung Karno, presiden pertama kita mengatakan, “Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah rakyat gotong royong.” Sebelumnya pada Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno juga mengatakan, “Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.”

Tidak salah apa yang diajarkan Bung Karno pada saat itu untuk kembali kita ingat. Ajaran Trisakti yang Bung Karno utarakan di mana bangsa kita harus memiliki identitas dan harus memilki kepribadian rasanya harus dibangun kembali, suatu konsekuensi bangsa yang tidak memiliki identitas, adalah selalu dipandang sebelah mata, selain berakibat ketergantungan.

Perjuangan kita saat ini sudah bukan lagi dengan mengangkat senjata, bergerilya, dan berunding sana-sini, seperti pada masa Bung Karno atau pejuang-pejuang kemerdekaan kita dulu, namun masih banyak bentuk perjuangan lain yang dapat kita lakukan untuk memaknai kemerdekaan dan menunjukkan nasionalisme kita. Bangsa ini tidak akan pernah maju, kalau generasi bangsa ini tidak mau peduli. Bangsa ini tidak akan besar kalau generasi bangsa ini tidak punya kreativitas, dan bangsa ini tidak akan berkembang kalau generasi bangsa ini masih ketergantungan dengan produk luar negeri.

Kini saatnya kita harus merubah sikap, merubah pandangan dan merupa pola pikir. Bagaimana kita harus menjadi negara yang maju, seperti yang juga sudah dialami oleh bangsa-bangsa lain seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Jangan lagi kita ketergantungan dengan kedelai luar negeri lagi, beras Thailand atau Vietnam, serta berbagai peralatan elektronik dari Amerika, jepang, maupun Korea. Apalagi dalam soal pakaian, merek lokal tidak kalah bagusnya dibandingkan merek luar.

Saatnya kita bangkit. Itulah cita-cita yang pernah ditumbuhkan generasi bangsa ketika meneriakan reformasi. Usia reformasi sudah berjalan 13 tahun, namun kita belum beranjak keluar dari persoalan krisis ekonomi. Persoalannya adalah, karena kita kalah bersaing dan kita sendiri masih mencintai produk luar negeri. Untuk itu, mari kita mulai mencintai produk dalam negeri.

Tidaklah dapat dipungkiri, sejumlah merek terkenal luar negeri telah masuk ke Indonesia. Ditambah lagi akan ditetapkan AFTA, pasar bebas internasional. Barang luar dapat dengan mudah kita dapatkan, meski harganya mungkin relatif tinggi. Tak dimungkiri pula memakai barang-barang luar bisa jadi hanya sebatas gengsi dan biar dikatakan keren, meski belum dapat dipastikan barang yang dipakai punya kualitas yang bagus dan terjamin mutunya. Seperti paparan di atas, merek lokal belum tentu kalah kualitasnya jika dibandingkan dengan merek luar.

“Jangan tanya apa yang negara bisa berikan padamu, tapi, tanyakanlah apa yang kamu bisa berikan pada negaramu”. Begitulah kutipan yang dipopulerkan Presiden John F Kennedy, sahabat Presiden Bung Karno, suatu ketika. Sementara Bung Karno dalam Suluh Indonesia Muda, 1928 mengatakan begini:  “Dan dengan lebih teguh keyakinan kita, bahwa nasib kita ada di dalam genggaman kita sendiri…; dengan lebih teguh keinsyafan kita, bahwa kita harus percaya akan kepandaian dan tenaga kita sendiri.”***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: