Pendidikan Kita (Tidak) Memerdekakan

MESKIPUN di setiap tahunnya bangsa kita memperingati hari pendidikan nasional, arah pendidikan nasional kita masih saja tidak jelas yang dituju. Centang perenang kebijakan pendidikan baik karena aktor maupun sistemnya membuat arah pendidikan kita tidak penah jelas yang mau dicapai. Akibatnya, bangsa ini kehilangan daya kreatifitasnya, karena miskin cita-cita dan gagasan. Politik tidak mampu lagi melahirkan gagasan besar untuk membangun sebuah cita-cita besar bagaimana membawa gerbang Indonesia menuju masa depan berperadaban.

Kita semua setuju bahwa pendidikan adalah untuk memerdekakan. Secara teoritik demikian. Tapi dalam praksisnya, sampai saat ini kita tak pernah sampai pada kesadaran bahwa pendidikan merupakan proses menjadikan manusia berpikir merdeka dan dengan demikian diikuti tindakan-tindakan yang mendukungnya. Alih-alih demikian, pendidikan kita tak pernah sampai pada proses pemerdekaan itu sendiri, melainkan sering justru menjadi belenggu.

Merdeka bukan berarti liar tanpa aturan atau tidak mau diatur. Berpikir merdeka dalam pengertian ini membuat manusia memiliki daya nalar yang kritis serta mampu menentukan pilihan dalam hidupnya. Di era globalisasi seperti sekarang, saya kira pilihan lebih banyak ditentukan oleh apa yang terlihat oleh pancaindera. Pilihan ini tidak lagi digerakkan daya nalar yang sehat melainkan hanya sekadar pemenuhan akan kebutuhan penyenangan inderawi belaka. Media iklan yang begitu dahsyat kerapkali membuat mata kita tidak lagi awas. Ini menciptkan mentalitas konsumtif: semua serba instan.

Budaya instan (siap saji) membuat manusia tidak lagi berpikir jangka panjang. Kebijakan pendidikanpun terpenjara dalam kurungan budaya instan. Hemat saya, pendidikan seperti ini amat berbahaya bagi masa depan bangsa ini. Cita-cita pendidikan yang mencerdaskan rakyat hanyalah angan-angan saja.

Untuk menjadikan bangsa ini cerdas diperlukan politik pendidikan yang bervisi jelas, yaitu: memanusiakan manusia dan menjadikannya sebagai pribadi merdeka. Merdeka dalam arti yang mendalam, yaitu membuat orang tidak tergantung kepada hal yang melekat dalam dirinya. Kelekatan akan harta benda serta jabatan membuat orang tidak merdeka secara mendasar.

Kemerdekaan membuat manusia memiliki keluhuran budi serta kemampuan merasakan derita orang lain. Kemerdekaan akan membuat manusia Indonesia tidak hanya berpikir bagi dirinya sendiri. Prinsip dasar pendidikan adalah melahirkan manusia untuk belajar berbagi kepada sesama. Prinsip itu dijabarkan dalam proses menjadi manusia merdeka. Manusia yang berani meloncat dari pemenuhan kebutuhan akan dirinya sendiri menuju pada empati dan membantu orang lain. Proses ini bisa dilampaui bila ada kesadaran bersama bahwa kesejahteraan harus diraih untuk semuanya. Jadi pendidikan bukan untuk melahirkan manusia dengan karakter individualistik.

Sayangnya yang terjadi justru sebaliknya, pendidikan kita tidak mengajarkan bagaimana jurang stratifikasi sosial itu dihentikan dan setiap murid bisa mendapatkan perlakuan yang sama dan wajar. Pendidikan kita jelas-jelas mengajarkan bagaimana diskriminasi dilakukan.

Ruang publik kita hanya diisi oleh kaum petualang yang menggunakan gelar hebat tapi tidak ada isinya. Polemik terus-menerus dihadirkan untuk menghiasi publik setiap hari di media. Tetapi realitasnya polemik itu tidak mampu menjadi pelecut daya cipta untuk mengubah ketidakberdayaan menjadi keberdayaan. Ini terjadi karena kita sebagai bangsa, miskin cita-cita dan cinta.

Akar persoalannya bisa dilacak, yaitu pendidikan dalam bangsa ini hanya menjadi instrumen kekuasaan politik. Pendidikan di subordinasikan dalam kekuasaan politik, dan menghasilkan manusia yang hanya pamdai ikut-ikutan. Mereka bagaikan robot yang dikendalikan oleh remote control, yaitu pemegang kekuasaan dan pemilik modal, melalui ideologi penyeragaman. Ini membuat mereka hanya mampu menunggu petunjuk dan pedoman dari “atas”. Kreativitasnya minim.

Akibatnya birokrasi menjadi lambat dalam merespon perubahan. Ketidakmampuan ini disebabkan oleh ketidakberdayaan mereka untuk keluar dari kultur lama. Di mana kemandirian individu direduksi menjadi ketaatan buta yang dikendalikan oleh sistem penyeragaman. Ini membuat gerbang reformasi sampai sekarang terseok-seok, yang disebabkan oleh ketidakberdayaan untuk merespon perubahan yang begitu cepat.

Dibutuhkan revolusi pendidikan

Selama revolusi pendidikan tidak dilakukan, jangan berharap lahir manusia Indonesia yang bermutu. Revolusi pendidikan perlu segera dilakukan dengan mengubah orientasi pendidikan dari watak elitis, yaitu hanya mengejar-ngejar pangkat, gelar, kedudukan, tanpa memperhatikan pembentukan karakter manusianya. Dengan mengabaikan hal ini, berarti pendidikan hanya sekadar transfer ilmu belaka, akibatnya lepas dari tuntutan mentransformasikan nilai-nilai moralitas.

Mengutip Freire, pendidikan yang memerdekakan dan memanusiakan manusia hendaknya tertuju untuk menggugah kesadaran pelaksanaan metode pendidikan yang bukan saja membebaskan tetapi yang terpenting kembali memanusiakan manusia, menghilangkan jejak dehumanisasi yang merasuki dunia pendidikan kita. Bila pemerdekaan sudah tercapai, pendidikan menurut Freire adalah suatu kampanye dialogis sebagai suatu usaha pemanusiaan secara terus-menerus. Pendidikan bukan hanya menuntut ilmu, tetapi bertukar pikiran dan saling mendapatkan ilmu (kemanusiaan) yang merupakan hak bagi semua.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s