Perempuan Berperan Membangun Bangsa

Syamsul Kurniawan

WALAUPUN zaman sudah sedemikian maju dan nilai-nilai kemanusiaan sudah ditempatkan sebagai acuan dari hampir semua tindakan manusia, posisi perempuan terhadap laki-laki belum banyak berubah. Di banyak negara, terutama negara berkembang, perempuan masih tetap mendapatkan pembatasan, baik dalam lahan kehidupan sosial, politik, keagamaan, bahkan psikologis.

Prasangka-prasangka terhadap perempuan, atau lebih tegasnya inferioritas perempuan terhadap laki-laki, masih terus berkembang dan mengedepan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa perempuan lebih banyak di level bawah?

Perempuan banyak menjadi sorotan masyarakat, di mana pendidikan formal perempuan lebih rendah dibanding laki-laki, sehingga lapangan kerja bagi perempuan lebih banyak di level bawah, sehingga kualitas hidup perempuan sangat rendah. Pekerjaan bagi perempuan sering dikaitkan dengan pekerjaan domestik (pembantu rumah tangga, pelayan) yang dihargai lebih rendah dibandingkan dengan pekerjaan publik (karyawan kantor).

Di Indonesia, misalnya, potret kemiskinan memperlihatkan bahwa kaum perempuan masih menempati kelompok sosial paling miskin di Indonesia, mengutip studi ADB (2005), mencapai 70%. Sementara, kaum perempuan yang tidak tertampung dalam industri dimobilisasi menjadi buruh tani dan buruh kebun (69,32% dari 47,67% tenaga kerja di perdesaan), buruh migran (71.433). Sementara itu, jumlah perempuan Indonesia yang terseret pada perdagangan (tracficking) dan bisnis pelacuran mencapai 650 ribu hingga satu juta orang pertahun.

Sampai hari ini, jumlah perempuan yang berada di Dewan Perwakilan kita masih sangat sedikit, dan sangat sedikit apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan di negara kita. Ironis memang, sementara jumlah penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan penduduk laki-laki, jumlah perempuan di Dewan Perwakilan sangat sedikit. Memang bisa dikemukakan kurangnya atensi perempuan terhadap persoalan politik sebagai alasannya, tetapi kita akan sulit menjawab pertanyaan mengapa yang semacam itu bisa terjadi. Masalahnya, pembatasan yang diterapkan masyarakat, misalnya ”alergi” terhadap presiden perempuan, bisa saja merupakan penyebab yang sebenarnya.

Oleh karena itu, bisa dimengerti gerakan feminisme atau pembelaan terhadap nasib perempuan yang selalu dikelasduakan oleh kaum lelaki masih tetap marak di banyak wilayah dunia, termasuk negara kita. Pembatasan yang mencuat ke permukaan sering terasa rasional, atau sekurang-kurangnya beralasan, karena dilandasi oleh anggapan-anggapan, bahkan semacam dogma, yang secara intensif dicekokkan kepada masyarakat. Runyamnya lagi, cekokan dogma tersebut tidak hanya datang dari kalangan masyarakat biasa, tetapi juga dari kalangan filsuf dan agama. Akibatnya, bagi masyarakat bawah, dogma tersebut terasa sebagai benar dan layak diterima secara penuh.

Filsuf, juga masyarakat Yunani Kuno percaya bahwa laki-laki memberikan prinsip kehidupan dan forma bagi anak yang belum lahir. Makna anggapan tersebut adalah: laki-laki pada hakikatnya bersifat aktif, sementara perempuan pasif. Laki-laki merupakan pihak yang memberikan, sedangkan perempuan hanya menerima. Peran laik-laki jelas, yaitu pemberi forma, tetapi perempuan sangat kabur dan tak menentu. Itulah sebabnya, banyak orang merasa yakin, termasuk filsuf sebesar Plato, bahwa lelakilah pembentuk dunia.

Kita bisa mengetahui bahwa pandangan miring terhadap perempuan telah ribuan tahun dilancarkan oleh kaum laki-laki, Klemen dari Alexandria hidup pada abad ke-2 Masehi, dan begitu intensnya ditanamkan, antara lain lewat pikiran filsafati dan agama, sehingga bisa kita mengerti apabila dampaknya juga sangat luas di samping mendalam. Sampai hari ini pun pandangan miring semacam itu masih tetap eksis dalam masyarakat kita. Sudah kita sebut di depan, pikiran semacam itu antara lain mengejawantah dalam sikap ”alergi” terhadap kepemimpinan perempuan.

Reaksi kaum Hawa terhadap perlakuan miring tersebut dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu gerakan feminisme untuk persamaan hak dan feminisme radikal. Gerakan yang pertama percaya bahwa perlakuan buruk kaum Adam akan berhenti dengan sendirinya apabila kaum perempuan dengan berani dan teguh berjuang menghapuskan dogma-dogma miring yang melecehkan harkat perempuan. Untuk itu diperlukan pengubahan hukum yang ada. Karena itulah, perjuangan mereka terutama ditujukan untuk mendapatkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki.

Gerakan yang kedua bersifat lebih tegas dan mengakar. Perlakuan tidak adil terhadap perempuan tidak akan dengan sendirinya hapus hanya dengan melawan dogma-dogma miring lewat pengubahan hukum yang selama ini berlaku. Lebih dari itu, mereka ingin menemukan, atau lebih tepat membentuk, pemahaman baru mengenai apa makna menjadi perempuan dan sebuah cara baru untuk hidup sebagai perempuan di dunia yang baru ini. Dengan kata lain, feminis radikal tidak puas dengan sekadar menghapuskan citra dan hukum lama, tetapi ingin menemukan model kehidupan baru yang bukan saja pas dengan kodratnya sebagai perempuan tetapi juga mendukung aktualisasi kodrat tersebut.

Dalam banyak masyarakat atau komuniti dunia, kaum laki-laki hampir selalu memiliki posisi dominan. Dominasi ini sedemikian kokohnya berkat banyak jalan yang mereka tempuh. Bisa kita sebut beberapa di antaranya, semacam penggunaan kekuatan fisik, penggunaan wewenang politik dan agama, pembangunan dogma secara intens, dan lain-lain.

Perlu kita sadari bahwa dominasi ini akan terus dipertahankan selama mungkin, dan hanya akan bisa terhapus apabila perempuan sendiri berjuang secara gigih dan menggunakan segala macam kesempatan yang terbuka. Apabila mereka sendiri justru tunduk dan takluk dengan cara menerima begitu saja dogma dan perlakuan kaum lelaki, jelas dominasi tersebut akan terus berjalan. Pasalnya, perempuan sendiri memberikan peluang kepada kaum laki-laki untuk menguasai hidup mereka.

Kenapa harus bangkit?

Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali”, demikian kata Presiden pertama RI, Ir. Soekarno.

Peran perempuan dalam sejarah perjuangan bangsa sangatlah besar, mereka tidak hanya berada sebagai tenaga pendukung digaris depan menjadi pemimpin perjuangan, seperti halnya Cut Nyak Dhien dan beberapa pemimpin perempuan lainya. Seiring dengan perkembangan zaman, perjuangan kaum perempuan sederajat dengan laki-laki berada di bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Hal ini telah dilakukan oleh R.A. Kartini, yang telah memperjuangkan harkat dan martabat kaum perempuan agar sejajar dengan kaum laki-laki selaku mitranya.

Soekarno dalam Suluh Indonesia Muda, 1928 mengatakan: “Oleh karenanya, hendaklah kaum perempuan mengerti bahwa kerja – perlawanan terhadap pada pengaruhnya proses itu, tidaklah harus dijalankan oleh “pihak yang kuat” saja, tidaklah harus diserahkan kepada kaum laki-laki saja, tetapi haruslah dikerjakan juga oleh “pihak yang lemah” yakni oleh pihak perempuan tadi.

Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan ini, meski memiliki beberapa perbedaan, tetapi memiliki peran yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Perkembangan zaman yang cepat menimbulkan permasalahan yang komplek bagi masyarakat, khususnya peningkatan kesejahteraan.

Perempuan dapat berperan langsung dalam peningkatan kesejahteraan keluarga, seperti melakukan aktifitas ekonomi, bekerja dengan berwiraswasta bahkan banyak kaum perempuan yang mampu menjadi pekerja profesional maupun pengusaha yang berhasil. Secara tidak langsung perempuan memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dalam upaya peningkatan kesejahteraan terutama peran dalam keluarga, ketika menjalankan perannya perempuan dapat menjadi pendidik yang berwawasan luas dan kaya akan pengalaman, menjadi motivator bagi keluarga dan lingkungan, serta menjadi ujung tombak dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dinamis dan berkualitas, serta mampu menghadapi tantangan zaman.

Semangat tinggi adalah induk dari setiap usaha, tanpa semangat tinggi takkan pernah ada hal besar yang dapat dicapai,” demikian Ralph Waldo Emerson.

Ayo bangkit.… Bangkitlah perempuan Indonesia!. Berjuanglah untuk kebebasan! Berjuanglah untuk hari esok! Dan berjuanglah untuk bangsa Indonesia! INDONESIA RAYA!.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s