Apa Kabar Budaya Baca Tulis Kita?

Syamsul Kurniawan

TANGGAL 8 September kemarin ditetapkan sebagai Hari Literasi Sedunia oleh UNESCO pada 17 November 1965 dan kali pertama dirayakan pada tahun 1966. Peringatan tersebut untuk mengingatkan publik akan pentingnya membaca bagi individu, kelompok, dan masyarakat.

Kita semua mafhum bahwa buku merupakan jendela ilmu pengetahuan. Dari buku kita mampu menyelam keribuan kilometer kedalaman laut. Mengarungi tujuh samudera dunia. Mengangkasa di semesta. Buku-buku layaknya pintu kemana saja milik Doraemon,tinggal membuka helai demi helai buku, begitu banyak celah-celah dunia yang bias kita intip dan kita jelajahi. Buku adalah sebuah jalan keabadian. Buku mengekalkan penulis-penulis hingga beribu tahun. Pada bukulah kita mampu melihat masa lalu. Melihat sejarah peradaban dan lebih bijak di masa depan.

Buku ibarat belantara pengetahuan tak berujung, lautan ilmu tak bertepi dan mayapada informasi tak berkesudahan. Siapa saja yang bisa masuk menjelajah ke dalamnya, akan menemukan mutiara terpendam yang tak ternilai. Dan, ketika mutiara itu sudah ditemukan, siapa saja akan merasa ingin selalu mencari mutiara-mutiara lainnya yang masih terpendam di balik lembaran-lembaran berjuta-juta buku lainnya. Melalui buku, kepribadian seseorang terbentuk. Melalui buku pula, peradaban suatu bangsa akan tercipta.

Bisa dipastikan, masyarakat suatu bangsa yang mencintai buku, menjadikannya sebagai menu wajib yang selalu menyertai dalam aktifitas kesehariannya, membudayakan aktifitas membaca di setiap saat, akan tampil sebagai bangsa dengan tingkat peradaban yang tinggi. Sebaliknya, masyarakat sebuah bangsa yang tidak menaruh perhatian pada buku, menganggap buku sebagai hal yang remeh-temeh, tidak membudayakan aktivitas membaca, maka bisa dipastikan, bangsa tersebut akan menjadi bangsa terbelakang, ketinggalan informasi, gagap pengetahuan dan miskin peradaban.

Urgensi Baca Tulis

Berbicara tentang buku, maka ada dua aktivitas yang tidak bisa dipisahkan dan selalu menyertainya, yakni membaca dan menulis. Untuk menggali isi serta kandungan sebuah buku, maka tidak bisa tidak, kita harus melakukan aktivitas membaca. Untuk menggali isi serta kandungan sebuah buku, maka tidak bisa tidak, kita harus melakukan aktifitas membaca. Dengan membaca, maka tersingkaplah segala ‘misteri’ yang ada dalam sebuah buku. Dengan membaca pula, kita mampu menyelami alur pemikiran si penulis. Membaca, membuka cakrawala pengetahuan kita. Maka tepat jika ada ungkapan menyebutkan, membaca, membuka jendela dunia.

Dalam tradisi Islam, membaca merupakan aktivitas pertama yang diperintahkan Allah SWT (lihat Q.S. Al- Alaq: 1-5).Landasan teologis ini hemat saya menegaskan akan pentingnya membaca. Membaca dalam makna yang luas, seperti dijelaskan oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya, Membumikan Al-Quran. Menurutnya, kata iqra dalam ayat tersebut, yang berarti bacalah! (perintah membaca), terambil dari kata qara’a yang mengandung arti: menghimpun, menelaah, membaca, meneliti dan mendalami.

Dengan demikian, membaca adalah langkah kita untuk menelaah, meneliti serta mendalami ilmu pengetahuan yang tersebar di muka bumi ini. Budaya membaca akan menuntun kita pada kedewasaan berpikir, bersikap dan bertindak. Dengan membaca, jiwa kita dipenuhi oleh cahaya ilmu, pancaran pengetahuan dan pendaran sinar informasi.

Aktivitas lain yang menyertai hadirnya sebuah buku adalah menulis. Mustahil akan hadir sebuah buku ke tengah-tengah kita tanpa ada seseorang yang menulisnya. Ironisnya, budaya yang hadir di hadapan kita adalah budaya lisan atau tradisi lisan (oral tradition), bukan budaya tulis. Kita lebih suka berbicara daripada menulis. Padahal, ucapan, betapapun bagus dan bernilainya, akan begitu mudah hilang ketika sudah terucap. Sedangkan tulisan, sampai kapanpun akan tetap abadi, dan lebih mudah untuk direkam ulang dalam memori kita ketika kita membacanya kembali.

Kita tidak bisa membayangkan seandainya para ilmuwan yang telah meninggal berabad-abad lamanya tidak mentransformasikan ilmunya dalam bahasa tulis. Kita tentu tidak akan pernah mengenal siapa itu Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibn Sina, Albert Enstein, Thomas Alfa Edison, dan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia lainnya, jika mereka tidak menuliskan ilmunya ke dalam buku. Maka, tepat sekali ketika Sayyidina Ali mengatakan, “ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan ikatan yang kuat, yakni menuliskannya.” Ini menunjukkan pentingnya budaya baca tulis dalam membangun peradaban.

Pelajaran dari Bung Karno

Dengan membaca, seseorang akan memperoleh wawasan baru, cakrawala baru, dan mendapat pengetahuan baru yang selama ini tidak diketahuinya. Bung Karno sendiri bahkan ketika ia masih berada di pengasingan, di Endeh, mengaku banyak belajar melalui membaca. Buku-buku yang dikirim oleh A. Hassan, seorang tokoh Persatuan Islam (PERSIS) membuatnya semakin tahu segala sesuatu yang sebelumnya tidak ia ketahui.

Karena demikian giatnya Bung Karno membaca buku, sampai buku-buku yang ia miliki telah habis semua dibacanya sehingga ia merasa kehabisan buku baru. Bung Karno mengatakan:

Tetapi sayang kekurangan perpustakaan, semua buku-buku yang ada pada saya sudah habis “termakan”. Maklum, pekerjaan saya sehari-hari, sesudah cabut-cabut rumput di kebun, dan di sampingnya “mengobrol” dengan anak bini buat menggembirakan mereka, ialah membaca saja.

Dari membaca buku itulah Bung Karno berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Thomas Jefferson, George Washington, Abraham Lincoln, Mazzini, Garibaldi, Karl Marx, Lenin, Aristide Briand, Voltaire, dan tokoh dunia lainnya. Bung Karno sangat memahami bahwa pengetahuan darimanapun datangnya, tetaplah bermanfaat, sejauh orang yang memilikinya dapat menggunakan secara fungsional.

Buku sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan, memang tidak serta merta harus membuat seseorang mengikuti jejak atau pemikiran yang tertulis di dalam buku-buku tersebut. Kitapun hendaknya mampu membaca dengan cara kritis. Sikap kritis yang dimaksud adalah mengandaikan seseorang untuk membaca dengan mencurahkan rasio dan logika yang mereka miliki.

Semakin mereka banyak membaca buku, semakin membuatnya ingin membaca buku lain. Semakin mereka mendapatkan ilmu baru, mereka semakin merasa kekurangan ilmu, atau merasa ilmunya masih sedikit dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain yang belum diketahuinya. Yang muncul kemudian adalah perasaan tidak puas terhadap ilmu yang telah dimilikinya. Dalam hal ini, Bung Karno sering merasakan tidak puas dengan ilmu yang ia peroleh dari buku-buku yang telah dibacanya. Ia juga mengatakan bahwa dari berbagai buku yang dibacanya itu, justru ada hal-hal tertentu yang mengusik pikiran dan tidak memuaskannya. “Masih ada yang mengandung beberapa pasal yang belum memuaskan hati saya, kadang-kadang malah tertolak oleh hati dan ingatan saya.”

Dari apa yang diuraikan Bung Karno, terlihat dengan jelas jika sikap kritis yang yang dikembangkan Bung Karno dalam membaca buku-buku itu diikuti pula dengan apa yang dinamakan “penyadaran”, atau “menyadari”, yakni menyadari terhadap sesuatu yang dibacanya. Inilah yang dinamakan ilmu.

Pepatah mengatakan, “Buku ibarat jendela dunia”. Demikian saya sudah paparkan di muka. Memang benar, perpindahan pengetahuan dari seorang ahli kepada orang awam adalah melalui buku. Siapa yang banyak membaca berarti ilmu pengetahuan yang dimiliki juga akan semakin luas. Siapa yang malas membaca pengetahuan yang dimiliki juga akan sempit. Generasi muda yang gemar membaca membuat mereka memiliki cakrawala berpikir yang luas.

Tanpa buku, seseorang tidak akan dapat mengerti lebih jauh tentang ilmu pengetahuan. Sebagai sebuah karya tulis, buku mampu menjaga pemikiran ataupun pesan-pesan tertentu hingga akhir hayat. Karena karya tulis itu pulalah, agama Islam berkembang dengan sangat pesat bahkan menjadi salah satu kekuatan di dunia hingga saat ini. Sebagaimana diketahui, tanpa adanya bantuan dari para sahabat Nabi SAW, firman Allah SWT dan sabda-sabda Nabi SAW mungkin tidak akan ditemukan umat Islam saat ini. Bahkan tanpa itu, agama Islam dapat saja punah termakan oleh zaman. Bahkan ada kata-kata bijak dari kawan kuliah saya di IAIN Sunan kalijaga Yogyakarta, “Jika kau ingin dikenang orang, menulislah, atau berbuatlah sesuatu yang orang lain menganggap patut ditulis.

Pelajaran dari Gie dan Beberapa Aktivis

Aktivis, selalu identik dengan buku ataupun karya-karya ilmiah, baik sebagai orang menciptakannya ataupun sebagai pihak yang “rakus” melahapnya. Demikian memang seharusnya. Contoh salah satunya adalah Soe Hok Gie. Gie yang dilahirkan pada 17 Desember 1942 adalah generasi muda tahun 60-an yang dikenal sebagai aktivis yang radikal dalam berbagai gerakannya. Sebagai sosok aktivis ketika mahasiswa, Gie sejak kecil amat suka membaca ataupun mengarang. Kebiasaan mengarang dari kecilpun sangat kelihatan ketika buku-buku hariannya di kemudian hari diterbitkan (Catatan Seorang Demonstran).

Gie adalah adik dari Arief Budiman (lahir dengan nama Soe Hok Djin), doktor alumnus Universitas Harvard AS, dan dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal sebagai seorang akademisi, sosiolog, pengamat politik dan ketatanegaraan yang kini bermukim di Australia. Kebiasaan membaca ataupun menulis berlangsung hingga SMP bahkan sampai kuliah. Kebiasaannya yang kutu buku tersebut tampaknya memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap sikapnya dalam kehidupan sosial. Oleh karenanya, semakin besar ia semakin berani menghadapi ketidakadilan, termasuk melawan tindakan semena-mena dari seorang guru. Suatu ketika Gie pernah berdebat dengan guru SMP-nya. Sang gurupun kemudian marah sehingga di dalam catatan hariannya yang kemudian menjadi buku tersebut, Gie menulis, “Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.”

Kebiasaan membaca sejak dini sedikit banyak memang memberikan pengaruh yang besar terhadap seseorang, baik pada saat itu juga ataupun pada saat dewasa nantinya. Memang benar, bahwa seorang yang masih usia SD ataupun SMP belum memahami bacaan-bacaan yang berat, tetapi akan mengingatnya pada saat dewasa nanti. Pengalaman Miftachul Huda, penulis buku Meraih Sukses dengan Menjadi Aktivis Kampus setidaknya dapat membenarkan persoalan ini. Pada waktu usia SD, Huda mengaku sudah akrab dengan buku-buku, khususnya karangan para tokoh seperti Bung karno. Kebetulan karena memang ayahnya adalah seorang guru swasta dan tokoh masyarakat yang gemar membaca. Di Bawah Bendera Revolusi, buku karangan Bung Karno merupakan salah satu buku yang ia baca. Memang Huda akui tidak paham pada waktu itu, hingga ketika ia kuliah baru menyadari bahwa buku tersebut adalah karya yang sangat fenomenal. Begitu juga ketika SMA, Huda mengaku sudah membaca catatan harian Ahmad Wahib (Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib). Buku ini menurut pengakuan Huda, menjadikannya cukup bersemangat untuk aktif berorganisasi di kemudian hari.

Salah satu aktivis lain yang dikenal kutu buku adalah Bayquni. Sebagai mahasiswa Universitas Moestopo Jakarta, ia dikenal kutu buku. Bayquni: “Dari awal saya sudah mengenal gerakan mahasiswa. Terlebih lagi ketika saya membaca beberapa buku tentang pergerakan mahasiswa seperti Soe Hok Gie, terus Angkatan 66 karangannya Yozar Anwar. Di situ banyak fenomena tentang perjuangan gerakan mahasiswa yang sangat dekat sekali dengan kepentingan rakyat. Memang kan kita sadari bahwa yang namanya mahasiswa itu adalah lapis penghubung kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat yang boleh kita bilang elit,” katanya seperti dikutip Harian Kompas (15 Mei 2008).

Membaca buku dapat menjadikan seseorang merasa percaya diri. Ini terjadi karena kepalanya terasa seperti telah terisi oleh berbagai pengetahuan.

Sebuah Ironi

Sayangnya dalam konteks Negara kita, perhatian masyarakat secara umum terhadap buku masih sangat minim. Minat baca-tulis masih demikian amat rendah. Hal ini tentu saja menjadi catatan yang kurang menggembirakan. Akan tetapi, kenyataan ini dapat saya maklumi dengan beberapa alasan: (1) Tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih memprihatinkan. Kondisi ekonomi yang tidak menentu menjadi faktor utama terabaikannya perhatian terhadap buku. Masyarakat lebih memilih membeli beras untuk kemudian dikonsumsi, daripada membeli buku. (2) Tidak ada contoh konkret dari para pemimpin, para pejabat pemerintahan yang tengah berkuasa saat ini, untuk dijadikan teladan dalam hal mencitai buku. Mereka lebih mementingkan bagaimana caranya survive di tengah kondisi yang tidak menentu seperti ini. Mengisi pundi-pundi kekayaan di saat menjabat jauh lebih menjanjikan, daripada mengisi rak dengan sederetan buku.

Inilah realita yang terjadi di negeri kita. Budaya mencintai buku masih menjadi barang langka. Padahal yang saya tahu, minat baca-tulis harus kita tumbuhkan, palagi kita bisa mendapatkan informasi apa saja, bisa membacanya melalui akses internet kemudian menuliskannya kembali dengan sudut pandang kita. Kita gali segala macam pengetahuan untuk kemudian kita sampaikan kepada khalayak dengan menuliskannya, entah melalui artikel, kolom, esai atau bahkan sebuah buku. Sebuah aktifitas yang sangat mulia, ketika kita mau berbagi pengetahuan yang kita miliki kepada orang lain dengan menuliskannya. Inilah investasi tak ternilai yang pasti akan menuai kebaikan baik bagi kita pribadi, maupun bagi orang lain.

Buku tidak akan bisa berbicara kepada kita, kalau kita tidak membacanya. Dan, hasil bacaan kita tidak akan bermakna kalau kita tidak menuliskannya. Mari kita kembali tumbuhkan minat baca tulis kita, menjadikannya sebagai teman dalam setiap kesempatan, baik untuk kita sendiri, baik pula untuk bangsa ini, demi membangun peradaban kita di masa yang akan datang.***

Iklan

2 pemikiran pada “Apa Kabar Budaya Baca Tulis Kita?

  1. Tidak ada contoh konkret dari para pemimpin, para pejabat pemerintahan yang tengah berkuasa saat ini, untuk dijadikan teladan dalam hal mencitai buku.

    Presiden kita malah mengajarkan nyanyi 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s