Pendidikan Islam yang Membangkitkan di Mata Soekarno

Syamsul Kurniawan

“…Mendidik supaya bangkit kembali -, itu, itulah yang harus dikerjakan oleh kaum muda, itulah yang harus mereka ”sistem-kan”, dan bukan separatisme dan ”perang saudara” (Soekarno, Endeh, 17 Oktober 1936).
INDONESIA adalah sebuah negara besar yang memiliki penduduk ratusan juta jiwa. Indonesia juga adalah negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, meskipun jauh dari tempat kelahiran Islam di Arabia. Hampir 99 persen penduduk Indonesia beragama Islam.

Menurut sebuah perhitungan, manusia muslim Indonesia adalah jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Jika dibanding dengan negara-negara muslim-muslim lainnya, maka penduduk muslim Indonesia dari segi jumlah tidak ada yang menandingi. Jumlah yang besar tersebut sesungguhnya merupakan sumber daya manusia dan kekuatan yang sangat besar bila mampu dioptimalkan peran dan kualitasnya. Jumlah yang sangat besar tersebut juga mampu menjadi kekuatan sumber ekonomi yang luar biasa. Jumlah yang besar diatas juga akan menjadi kekuatan politik yang cukup signifikan dalam percaturan nasional dan di satu segi menimbulkan harapan yang lebih besar bagi penciptaan negara dan masyarakat madani, seperti yang dicontohkan secara aktual oleh Nabi SAW.

Namun realitas membuktikan lain. Jumlah manusia muslim Indonesia yang besar tersebut ternyata tidak memiliki kekuatan sebagaimana seharusnya dimiliki. Jumlah yang sangat besar diatas belum didukung oleh kualitas dan kekompakan serta loyalitas manusia muslim terhadap sesama, agama dan fakir miskin yang sebagian besar (untuk tidak mengatakan semuanya) adalah kaum individual apalagi secara massal. Kualitas manusia muslim Indonesia masih berada di tingkat menengah ke bawah. Memang ada satu atau dua orang yang menonjol, hanya saja kemenonjolan tersebut tidak sampai menjadi lokomotif bagi rangkaian gerbong manusia muslim lainnya.

Paradoksal fenomena di atas, yakni jumlah manusia muslim yang sangat besar, akan tetapi tidak memiliki kekuatan ideologi, kekuatan politik, kekuatan ekonomi, kekuatan budaya dan kekuatan gerakan adalah secara tidak langsung merupakan dari hasil pola pendidikan Islam selama ini. Pola dan model pendidikan Islam yang dikembangkan selama ini masih berkutat pada pemberian materi yang tidak aplikatif dan praksis. Bahkan sebagian besar model dan proses pendidikannya terkesan asal-asalan atau tidak professional.

Dewasa ini, pendidikan Islam Indonesia memang terasa mengalami tantangan yang sangat kompleks, seiring dengan kompleksitas persoalan abad 21 yang muncul di tengah-tengah masyarakat kita. Realitas ini tentu tidak bisa dilepaskan dari keterkaitan umat manusia dengan perubahan-perubahan atas dasar pengalaman-pengalaman baru yang dilaluinya, sehingga kemudian menjadi eksplorasi intelektual manusia Indonesia itu sendiri. Hal tersebut dengan sendirinya melibatkan pendidikan Islam Indonesia dalam arus tantangan yang semakin berat, dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, pendidikan Islam dituntut mampu menjawab berbagai tantangan yang tidak ringan itu.

Sejumlah tantangan yang perlu direspon secara kreatif itu adalah bagaimana pendidikan Islam dapat berperan sebagai sarana pembangkitan dan pemberdayaan umat Islam di negeri ini. Serta dituntut untuk lebih kreatif dan dinamis dalam merespons perkembangan yang terjadi.

Dalam konsep Soekarno tentang pendidikan Islam yang membangkitkan, pembelajaran merupakan pembongkaran terhadap semua bentuk kesadaran budaya dalam rangka menumbuhkan kesadaran budaya yang baru. Kerja pendidikan yang dimaksud Soekarno tidak lain adalah bentuk upaya memfasilitasi setiap subyek agar tumbuh dan berkembang sebagai human agency atau persona creativita, yang sadar akan habitus-nya masing-masing dan bagaimana mereka memiliki kemampuan untuk mengubahnya sehingga subyek-subyek ini tidak mati dan menyerah terhadap jebakan struktural yang diwarisinya sejak lahir.

Konsep Soekarno tentang pendidikan Islam yang membangkitkan, boleh dibilang merupakan perenungannya untuk membangun intelektual publik (as public intellectual), di mana ilmu pengetahuan yang diperolehnya haruslah sungguh-sungguh berarti (of making knowledge meaningful) agar memberikan spirit hidup baru yang berwatak transformatif dan membangkitkan. Sudah barang tentu berbeda dengan paradigma pendidikan yang menekankan pentingnya pengembangan “sumber daya manusia (SDM)” sebagai tujuan paling pokok karena orientasinya lebih peduli pada upaya meningkatkan produktivitas ekonomi dan stabilitas sosial (dan menganggap masyarakat sebagai mesin dan orang-orang dipandang sebagai “human resource” yang nilainya tergantung seberapa jauh kontribusinya dalam the social machinery dalam rangka efisiensi).

Maka dalam persfektif demikian bukanlah merasa penting menekankan bagaimana melakukan penggolongan (classified), penyortiran (sorted), dan penajaman bakat (shaped), serta kompetensi manusia sebagai the raw human resource untuk dikirim ke pasar kerja. Namun yang terpenting adalah bagaimana pendidikan dapat memfasilitasi umat muslim supaya menjadi individu-individu yang otonom, atau menjadi ownership of self bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, konsep Soekarno tentang pendidikan Islam yang membangkitkan sesungguhnya secara metodologis tidak lagi berbasis secara ekslusif pada “epistemological questions”, tetapi pada “an economic and socio-cultural mode of analysis” yang bisa menerangkan dan membongkar proses alienasi dan marginalisasi sosial.

Dalam konsep pendidikan Islam yang membangkitkan yang diutamakan bukan saja program praktik melek huruf (the practice of a literacy training program), tetapi bagaimana seorang muslim dapat melakukan refleksi kritis, baik berpikir maupun dalam mengambil praksis untuk pemerdekaan.

Konsep Soekarno tentang pendidikan Islam yang membangkitkan mengandaikan proses pendidikan yang dialogis, hadap-masalah, dan menekankan praksis kemanusiaan, diletakkan tetap dalam suatu utopian yang bersifat pemerdekaan dan kesetaraan sesuai dengan panggilan ontologisnya sebagai khalifatu fi al-ardh. Perkara membangun dunia pendidikan Islam yang maju dan berkualitas di masa depan serta mewujudkan cita-cita kebangkitan di atas senyatanya bukanlah perkara gampang dan semula jadi. Untuk kepentingan ini dibutuhkan komitmen dan ikhtiar serius semua pihak. Karena dengan komitmen dan ikhtiar serius semua pihak tersebut, diharapkan membuat arah gerak pendidikan Islam khususnya dan pendidikan bangsa ini pada umumnya lebih teratur dan terpola dengan benar dan membuat negara kita ini jauh lebih baik di kemudian hari.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s