12 October 2011

Dari Gus Dur Untuk Indonesia

Posted in tokoh at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Syamsul Kurniawan

SIAPA yang tak kenal mendiang Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ya… ia adalah mantan Presiden RI yang ke empat, seorang tokoh cendekiawan muslim dari kalangan NU yang terkenal, mantan ketua PB-NU, penulis yang jempolan, sekaligus kalau boleh kita katakan sebagai seorang kyai humoris yang pilih tanding. Di era kepemimpinannya sebagai seorang presiden, Gus Dur terkenal dengan pernyataan-pernyataannya yang kontroversial, yang bikin bingung semua orang.

Terlepas dari segala kekurangannya, karena walau bagaimanapun ia adalah manusia juga, bagi saya Gus Dur adalah salah satu inspirator sejati bagi Negeri ini. Nama besar yang bahkan telah diakui seluruh dunia. Rasanya tidak aneh kalau kita pun meng-amin-inya. Lepas dari kontroversi yang menyelimuti perjalanan hidup Gus Dur, dia tetaplah orang besar. Besar cita-citanya, besar ide dan gagasannya, besar pula kecintaannya terhadap Tanah Air.

Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika. Gus Dur adalah sosok yang meyakini Bhineka Tunggal Ika hingga ke sumsum tulangnya. Gus Dur yang dikenal sebagai bapak pluralisme sekaligus bapak bangsa telah menunjukkan secara jelas dan tepat bahwa nilai agung Bhineka Tunggal Ika takkan ada artinya sama sekali dalam kehidupan masyarakat jika masyarakat tidak bisa mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Perayaan Imlek dan Peran Gus Dur

Sudah tidak dapat dipungkiri, bahwa meriahnya perayaan Imlek di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran Gus Dur yang amat menyadari keberagaman yang ada. Gus Dur adalah orang yang pertama mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. Inpres yang dikeluarkan oleh Soeharto ketika awal berkuasa pada tahun 1967 itu melarang kaum Tionghoa merayakan pesta agama dan adat istiadat di depan umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga.

Karena Inpres tersebut, selama masa Orde Baru, aktivitas kaum Tionghoa seolah-olah dibatasi, tidak hanya dalam merayakan pesta agama tetapi juga partisipasi politik kelompok ini ditekan selama pemerintahan Soeharto. Tak heran kalau jarang sekali kaum Tionghoa yang bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) apalagi menjadi anggota parlemen, atau menduduki jabatan tinggi di pemerintahan seperti menjadi bupati, gubernur dan menteri di kabinet.

Gus Dur mencabut larangan inpres itu karena dianggap diskriminatif padahal perlembagaan negara UUD 1945 menjamin perlindungan semua warga. Kalau yang lain bisa ke masjid, gereja, atau ke makam untuk ziarah, kenapa orang Tionghoa tidak boleh ke kelenteng? demikian alasan Gus Dur. Setelah Gus Dur mencabut inpres tersebut, Megawati presiden selanjutnya mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Inisiatif Gus Dur mencabut inpres tersebut telah membuka jalan persamaan hak bagi warga Tionghoa untuk tidak ragu merayakan hari besarnya dan juga secara bebas terjun ke politik. Pasca reformasi, tercatat beberapa tokoh Tionghoa berkibar di ranah politik Indonesia. Sebut saja diantaranya Kwik Kian Gie yang menjadi Menteri pada Kabinet Gus Dur, begitu juga Alvin Lie yang menjadi anggota parlemen dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan Mari Elka Pangestu yang sekarang menjadi Menteri pada pemerintahan Yudhoyono.

Begitu juga di tingkat lokal, banyak etnis Tionghoa yang bisa menjadi pejabat di daerah. Sebut saja Basuki Tjahaja Purnama yang menjadi bupati Bangka dan Bapak Christiandy Sanjaya menjabat sebagai wakil gubernur Kalimantan Barat.

Inilah tentunya berkah dari terbukanya kran demokratisasi di Indonesia dan jasa Gus Dur sebagai bapak pluralisme. Tentu saja usaha Gus Dur membela kaum minoritas di Indonesia seperti kaum Tionghoa perlu diapresiasi.

Jujur dalam ber-Indonesia

Mendiang KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sering meminta agar Indonesia jujur dalam ber-Indonesia. Ungkapan tersebut dinilai sebagai sindiran terhadap bangsa Indonesia yang belum sepenuhnya mengakui keberagaman yang ada. “Indonesia sangat plural, multibangsa, multietnik dan multiagama”.

Kebijakan-kebijakan mendiang Gus Dur memang mengindikasikan bahwa Gus Dur menginginkan semua etnis yang hidup di negeri ini bisa saling menghormati satu sama lain. Saling berkolaborasi dalam hal apa pun serta memberikan kontribusi positif bagi bangsa tanpa memandang etnis dan agama. Gus Dur membuka paradigma baru dengan menerobos tembok-tembok pemikiran lama. Ia membuka ruang dialog di antara (umat) agama. Ia ingin setiap orang diperlakukan setara dalam hukum, tanpa membeda-bedakan warna kulit, etnik, agama/ ideologinya. Gus Dur menghargai mereka sebagai sesama manusia dan sesama warga negara.

Gus Dur ingin membangun Indonesia baru yang damai tanpa prasangka dan bebas dari kebencian. Untuk itu, masa lalu yang kejam, kelam, serta tidak toleran harus diputus. Partisipasi masyarakat mesti dibangun, yang lemah tidak ditinggalkan. Dengan kesetiakawanan yang luas dan menyeluruh itu kita baru bisa membangun Indonesia yang kuat.
Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran sejarah bahwa kita tercipta dan hidup di alam multikultur. Subkultur dan subetnis di Indonesia merupakan penjelmaan dari tali-temali kebangsaan yang saling merajut membentuk permadani. Dia tidak boleh dilihat sebagai pernak-pernik yang terpisah satu sama lain. Itulah esensi multikulturalisme yang telah ditancapkan oleh Gus Dur.

Kegiatan tahun baru Imlek bagi kaum Tionghoa, sangat tepat sebagai bahan kontemplasi bagi bangsa kita untuk melihat kembali catatan yang mewarnai perjalanan hidup dimasa lalu. Melalui upaya pembenahan terhadap apa yang telah kita perbuat agar lebih baik di masa mendatang. Sangat tepat bila kita menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup dengan bercermin pada nilai-nilai dan semangat “anti rasisme” dalam kehidupan beragama dan bernegara. Sehingga tercipta spirit “anti rasisme” dalam membangun peradaban bangsa. Mari bersama membangun Indonesia!***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: