12 October 2011

Mempertanyakan Kepemimpinan (Pemimpin) Kita

Posted in sosial budaya at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Syamsul Kurniawan

KRISIS keteladanan yang diperlihatkan para pemimpin saat ini, hemat saya menjadi faktor utama semakin menggilanya tindak korupsi di Indonesia. Krisis ini senyatanya jauh lebih dahsyat dari krisis energi, krisis lingkungan, krisis pangan, kesehatan dan lain-lain karena dengan absennya pemimpin yang visioner, berkualitas, kompeten dan tentunya memiliki integritas yang tinggi maka masalah energi, lingkungan, pangan, kesehatan, dan lain-lain akan semakin parah.

Akibatnya yang semakin kita dengar: semakin hari biaya kesehatan semakin melambung dan mustahil dijangkau oleh rakyat kecil, pendidikan semakin mahal, sungai dan air semakin tercemar karena jadi tempat sampah yang terakhir serta sampah menumpuk di segala penjuru, kesadaran terhadap lingkungan semakin pergi jauh entah kemana bahkan di kalangan intelektual-intelektual muda pendidikan. Dalam masalah moral, Indonesia juga menempati posisi yang begitu memprihatinkan. Itu semua siapa yang salah? Mungkin semua orang tidak mau disalahkan bahkan pemerintah sekalipun sebagai pengatur rakyatnya.

Belum lagi masalah korupsi yang semakin merajalela melebihi masa Orde Baru. Jika dulu hanya terjadi di pusat tapi sekarang telah menyebar kesemua kalangan birokrasi, bahkan seorang Nazaruddin, Nunun Nurbaeti, dan sederet nama lain tersangka korupsi di negeri ini bisa seenaknya menjalankan aksinya dengan memainkan hukum yang semakin bobrok.

Sederet masalah sedang menghantam negeri ini. Lalu di manakah peran pemimpin (leader) kita? Apakah sudah bertindak? Lalu kemana program-program dan janji-janjinya dulu sebelum berkuasa: mengentaskan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, memerangi korupsi, dan lain-lainnya? Tak banyak perubahan yang bisa kita simak, yang muncul justru kekhawatiran akan masa depan bangsa ini. Krisis keteladanan membuat kita makin pesimis dengan masa depan bangsa kita ini: tidak tahu akan menjadi apa Indonesia dalam 5, 10, atau 15 tahun yang akan datang?.

Keteladanan jadi sesuatu yang sangat mahal

Bila kita mau berterus-terang, dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat sekarang, yang namanya keteladanan”  agaknya jadi sesuatu yang sangat mahal. Keteladanan lebih mengedepan menjadi “simbol”. Orang-orang lebih senang mengucapkannya, ketimbang melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya wajar, jika dihadapkan pada kondisi yang demikian, banyak kalangan yang merindukan hadirnya keteladanan dalam kehidupan nyata di masyarakat.

Indonesia memang sedang merindukan suri tauladan leadership yang meyakini bahwa jabatan adalah tanggung jawab dunia dan akhirat dan bukan kemegahan serta peluang (opportunity) untuk memperbanyak kekayaan. Pemimpin yang tidak bisa tidur ketika mendengar rakyatnya kelaparan, pemimpin yang tidak bisa cuti atau berlibur studi banding karena masih banyak puskesmas atau rumah sakit yang begitu memprihatinkan, pemimpin yang tidak meminta mobil dan gedung baru karena rakyatnya hanya tidur di kolong jembatan dan emperan toko yang matapun tidak sanggup untuk melihatnya, pemimpin yang tidak terlalu nikmat duduk dalam ruangan ber-AC sementara rakyat korban banjir dan lumpur berada di tenda-tenda pengungsian yang dengan peralatan seadanya, pemimpin yang tidak tega minta naik gaji dan fasilitas mewah karena rakyatnya yang hanya untuk makan saja dan seorang kepala rumah tangga mencari nafkah dengan hari ini dapat makanan tapi besok di belum tahu makan apa bahkan mungkin tidak makan. Pemimpin yang mau mendengar kabar rakyat yang dipimpinnya hari ini.

Pemimpin yang Dirindukan Bangsa

Rakyat ingin melihat bagaimana para pemimpin bangsa mampu memberi suri tauladan dalam menjalankan kepemimpinannya. Rakyat membutuhkan bukti bahwa menjadi seorang pemimpin itu tentu akan selalu berperilaku satu antara tutur kata yang diucapkan dengan perbuatan yang dilakukannya. Dan sudah pasti rakyat pun mendambakan hadir nya para pemimpin bangsa yang memiliki sikap, tindakan dan wawasan, dan cukup pantas untuk diteladani.

Dari badai krisis yang sedang menghantam negeri ini, kita layak bermimpi hadirnya para pemimpin pro rakyat yang punya karakter seperti Bung Karno, berhati bersih seperti Hatta, cerdas dan cekatan seperti Syahrir, dan bersahaja seperti Natsir.

Tegasnya, yang dibutuhkan bangsa ini adalah pemimpin yang bukan cuma sanggup berkata-kata, namun juga siap mendengar dan memberi teladan hidup pada rakyat.  Pemimpin yang tidak terjebak pada budaya cuman bicara atau omong doang. Pemimpin yang punya kebiasaan bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Kemajuan bangsa kita tidak hanya tergantung kepada wacana, “public discourse”, tetapi juga agenda aksi yang nyata. Jangan hanya bersikap “NATO”, “Never Action, Talking Only.”

Pemimpin yang sedang kita rindukan adalah pemimpin yang tidak hanya mampu memahami persoalan bangsa, tetapi harus menyediakan diri berkorban bagi masyarakat dan bangsa. Tidak perlu diperdebatkan apakah itu pemimpin tua, muda, sipil, atau militer dan lain sebagainya. Tapi, dia harus berkharisma dan dapat menjadi contoh untuk diteladani. Pemimpin harus berwatak “ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Selain itu, pemimpin yang dapat membawa bangsa kepada tujuan bangsa adalah pemimpin yang berjiwa, berpikir, dan bertindak merdeka. Teramat bodoh jika para pemimpin kita saat ini, meminjam istilah Presiden Pertama RI Soekarno, hanya sanggup berperan sebagai perkakas kepentingan asing, menjadi budak modal global, bermental kuli, dan tega membiarkan rakyatnya menjadi kuli di antara bangsa-bangsa.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: