Korupsi dan Pendidikan Anti Korupsi

Syamsul Kurniawan

KASUS korupsi di Indonesia memang semakin lama semakin menarik dan tak ada habisnya. Kalau dulu kasus korupsi yang tertangkap adalah orang atau oknum yang “maling” uang puluhan sampai ratusan juta rupiah dan sekarang sudah menunjukkan angka peningkatan menjadi puluhan milyar sampai trilyunan rupiah.

Tentu saja ini adalah nilai uang yang sangat fantastis ditengah-tengah penduduk Indonesia yang sampai saat ini masih belum merasakan kesejahteraan dan keadilan sesuai dengan yang diamanatkan oleh UUD 1945 dan Pancasila. Ketidakadilan, kemiskinan, korupsi, kebobrokan moral masih merata di negeri ini. Korupsi yang menjadi penyakit “menahun” pun belum bisa tuntas bahkan menunjukkan angka peningkatan.

Jika kita mau jujur, permasalahan korupsi di negara ini bagaikan lingkaran setan. Kita tidak tahu bagaimana cara memutus lingkaran tersebut. Bukan saja karena hukuman (tidak tegas) bagi pelaku korupsi, namun sebenarnya permasalahan ini juga lagi-lagi kembali kepada mentalitas bangsa kita. Mentalitas untuk memperkaya diri sendiri tanpa mempedulikan penderitaan orang lain inilah yang menjadi kunci maraknya korupsi, bahkan korupsi berjamaah di negara kita sudah dianggap jamak.

Tidak mudah memang untuk memberangus mentalitas tersebut. Sebagai ilustrasi sederhana bisa dilihat di sini. Dalam memilih pemimpinnya, rakyat kita justru terbuai dengan money politics yang dimainkan oleh para politikus. Kalau kita mau berkaca, harusnya kita peka, kalau seorang pemimpin yang membagi uang-uang untuk dipilih, tentunya ketika nanti menjabat akan mendaya gunakan kemampuannya untuk mengembalikan modal. Ini yang tidak disadari oleh rakyat. Justru bagi rakyat kita, siapa yang bisa memberikan itu yang akan dipilih. Padahal justru hal ini menjadikan boomerang.

Nah, di sinilah diperlukan komitmen bersama. Rakyat harus mulai sadar untuk memilih pemimpin sejati tanpa melihat siapa pemimpin yang memberikan kontribusi “finansial” kepada mereka. Mentalitas rakyat inilah yang justru harus banyak disadarkan bahwa perilaku memilih pemimpin berdasar money politics merupakan hal hal yang akan melanggengkan korupsi.

Di sisi lain bisa juga kita lihat, banyaknya abdi negara yang memberi teladan korupsi. Walaupun dimulai hanya korupsi waktu, namun para abdi negara ini tidak sadar hakekatnya mentalitas ini dicontoh rakyat. Sehingga akhirnya fenomena korupsi dalam wujud apapun itu menjadi hal yang jamak. Individu merupakan anggota terkecil dari sebuah sistem. Jika ingin membentuk sistem yang bebas korup, tentunya kesadaran individu ini diperlukan. Dalam soal inilah, wacana pendidikan anti korupsi menarik untuk kembali diperbincangkan.

Pendidikan Anti Korupsi

Perjuangan pemberantasan korupsi melalui jalur pendidikan harus dilakukan karena memiliki tingkat keefektifan yang tinggi dalam membentuk suatu pemahaman yang menyeluruh pada masyarakat tentang bahaya korupsi. Dari pemahaman ini pada nantinya akan menghasilkan suatu persepsi atau pola pikir masyarakat Indonesia secara keseluruhan bahwa korupsi adalah musuh utama bangsa Indonesia. Karena itu, pendidikan anti korupsi harus terus didengungkan di lingkungan sekolah sebagai unit utama instansi pendidikan.

Tujuan utama pendidikan antikorupsi adalah perubahan sikap dan perilaku terhadap tindakan koruptif. Pendidikan antikorupsi membentuk kesadaran akan bahaya korupsi, kemudian bangkit melawannya. Pendidikan perlu dielaborasi dan diinternalisasikan dengan nilai-nilai anti korupsi sejak dini.  Pendidikan anti korupsi yang diberikan di sekolah diharapkan dapat menyelamatkan generasi muda agar tidak menjadi penerus tindakan-tindakan korup generasi sebelumnya.

Memberikan pendidikan anti korupsi tentu bukanlah hal yang mudah. Sebab,  bahkan lahirnya fenomena praktik korupsi juga hemat saya berawal dari dunia pendidikan  yang cenderung tidak pernah memberikan sebuah mainstream atau paradigma  berperilaku jujur dalam berkata dan berbuat. Termasuk sekolah-sekolah di  negeri ini. Misalnya guru menerangkan hal-hal idealis dalam memberikan pelajaran, “menabung pangkal kaya”, tetapi realitanya banyak guru yang korupsi, seperti korupsi waktu, korupsi materi pelajaran yang diberikan, korupsi berupa absen mengajar tanpa izin kelas. Anak kita belajar moral dari para gurunya, bukan dari yang para guru ajarkan tetapi dari yang para gurunya lakukan. Kalau para guru sendiri tidak jujur atau menghormati koruptor (pencuri) tidak ada gunanya kalau kita bilang jangan mencuri.

Nilai-nilai anti korupsi seperti tanggung jawab, jujur, disiplin, sederhana dan kerja keras harus selalu dimunculkan oleh semua waga sekolah. Sebagai contoh guru-guru yang memberikan tugas di rumah kepada siswa harus memeriksa tugas tersebut dan memberikan tugas tambahan kepada siswa yang tidak mengerjakan agar siswa tersebut belajar bertanggung jawab. Sewaktu ulangan harian, guru harus super ketat mengawasi agar ulangan berjalan dengan jujur, namun sebelumnya telah memotivasi siswa untuk bekerja keras mempersiapkan diri untuk mengikuti ulangan.

Nilai kesederhanaan dapat dibangun dengan menerapkan cara berpakaian yang sesuai standar sekolah, menindak tegas siswa yang menggunakan assesoris yang berlebihan. Satpam sekolah jangan mau menerima suap dari siswa yang terlambat untuk diizinkan masuk agar siswa belajar untuk disiplin datang tepat waktu. Staf tata usaha di sekolah jangan minta bayaran kepada siswa yang mau melegalisir surat-surat dari sekolah. Kepala sekolah tidak memberikan peluang ketidakjujuran dalam pelaksanaan ujian nasional terjadi di sekolah. Dan banyak lagi contoh-contoh sederhana yang jika konsisten dilakukan di sekolah akan memberikan dampak perubahan sikap terhadap kosupsi dengan mengembangkan nilai-nilai anti korupsi.

Tentu saja hal ini tidak sepenuhnya akan berhasil tanpa dukungan dari keluarga sebagai unit pendidikan terkecil. Apalah gunanya jika di sekolah nilai-nilai anti korupsi telah diajarkan namun di rumah anak dimanja oleh orang tua. Anak-anak tidak diajarkan mempersiapkan diri secara mandiri untuk berangkat ke sekolah. Bangun pagi harus dibangunkan, air mandi disiapkan bahkan buku pelajaran pun orang tua yang memasukkan ke tas. Anak-anak tidak belajar sederhana di rumah karena orangtua nya boros dalam menggunakan uang. Anak-anak tidak pernah diberikan tanggung jawab walau hanya membersihkan kamar tidur dan mencuci piringnya setelah makan.

Setiap kita, apapun peran kita baik sebagai guru, karyawan atau ibu rumah tangga punya tanggung jawab yang sama untuk membebaskan negeri ini dari korupsi. Setiap kita adalah agen pendidikan anti korupsi, agen perubahan bangsa ini.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s