SEKOLAH MENODAI NURANI

Syamsul Kurniawan

BENCANA besar sedang mengintai bangsa ini, bukan tsunami, bukan kemelut politik akibat ketidakpuasan masyarakat, juga bukan pula karena keterpurukan ekonomi akibat pemerintah salah kelola, tapi punahnya sikap kejujuran. Lebih menyeramkan lagi karena pengikisan nilai-nilai kejujuran itu disemai di dunia pendidikan.

Pertanda itu kian jelas. Kecurangan yang terjadi dalam ujian nasional direstui. Kita tentu belum lupa dengan kasus contek massal beberapa bulan lalu di Sekolah Dasar Negeri Gadel II Surabaya, Jawa Timur. Seorang pelajar yang melaporkan adanya sontekan legal yang dimotori gurunya sendiri malah diperlakukan tidak adil. Keluarganya diusir sehingga terpaksa mengungsi.

Mulanya seorang siswa sekolah itu melaporkan kepada orang tuanya, Widodo dan Siami, bahwa dia diperintahkan gurunya untuk menyebarkan sontekan massal soal ujian kepada rekannya saat ujian nasional. Kedua orang tuanya kemudian melaporkan hal itu kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Kepala sekolah itu dicopot dan dua guru mendapat sanksi penurunan pangkat. Akan tetapi, persoalan tidak lantas beres. Warga desa bereaksi. Mereka mengintimidasi dan mengusir keluarga Widodo. Widodo dan keluarganya terpaksa mengungsi sementara waktu ke rumah orang tua mereka di Gresik.

 Orang berpendidikan yang punya nurani tentu tak ada yang tak setuju alias semua setuju bahwa tak seharusnya orang yang memperjuangkan kejujuran harus diusir dari tempat tinggalnya dan memilih mengungsi: seperti yang dialami Widodo dan Siami. Tak seharusnya kemarahan, cercaan, hujatan ditimpakan pada sekeluarga pejuang kejujuran ini. Reaksi masyarakat yang berlebihan memusuhi kejujuran, hemat saya, menandai bahwa nurani tidak lagi didengar. Nurani tercabik-cabik.

Apa yang sedang terjadi di negeri ini? Haruskah negeri ini hacur ke dalam kubangan dan lumpur ketidakjujuran yang didukung hingga akhirnya loyo dan tak berdaya? Mengapa ketidakjujuran justru dibela?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu saja menyimpan keheranan. Keheranan adalah perasaan yang muncul saat orang menghadapi yang tidak lazim. Dapat dibayangkan apa yang terjadi pada bangsa ini, yang mana ketidakjujuran menjadi sesuatu yang lazim. Tidak ada keheranan yang muncul atasnya. Dan lagi berbagai bentuk ketidakjujuran tidak pernah dipersoalkan. Kejujuran dibuang, dan ketidakjujuran jadi budaya bangsa ini.

Kejadian seperti ini tentu menghawatirkan dan mencemaskan. Apa yang dapat kita bayangkan kalau mulai dari lembaga pendidikan dasar anak-anak kita sudah dilegimitasi untuk melakukan pekerjaan kebohongan (menyontek) untuk sebuah kelulusan yang seharusnya dia capai dengan jujur dan sportif.

Anak-anak kita sekarang adalah calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Apa yang akan terjadi bila calon pemimpin-pemimpin bangsa ini sedari kecil sudah diperkenankan berbuat bohong walau sekalipun dalam bentuk menyontek. Menyontek tersebut pada dasarnya sama dengan mencuri. Sekali lagi “sama dengan mencuri”. Jika diajarkan mencontek, esensinya mereka sudah diajar mengambil yang bukan haknya atau miliknya.

Jadi jangan heran kalau di antara orang-orang yang hari ini
berkesempatan menjadi penyelenggara negara atau aparat negara tersandung masalah korupsi, karena selagi kecil mereka sudah ditolerir untuk mencuri yang dalam bahasa sekolah itu disebut menyontek. Akhirnya menyontek (baca: MENCURI) bagi mereka menjadi halal.

 

Latihan Mengasah Nurani

Profesi guru adalah profesi akal budi dan nurani. Maka dapat dikatakan, lembaga pendidikan adalah tempat untuk melatih peserta didik berpikir, mendengarkan, dan mengasah nurani. Kenyataannya, latihan mendengarkan atau mengasah nurani tidak pernah terjadi. Demi mengejar angka kelulusan, pesan nurani dilanggar saja. Nurani tidak pernah didengarkan.

Tragis. Betapa mahalnya harga kejujuran. Lebih tragis lagi, kejujuran yang semestinya menjadi roh pendidikan justru dimusuhi dan dilawan. Fungsi utama pendidikan seperti yang kita tahu yaitu mengajarkan dan mentransmisi budaya serta nilai-nilai, sikap dan pola-pola perilaku. Dan pendidikan yang baik harusnya mampu mendorong manusia berlaku jujur, menghargai pentingnya kerja keras, bukan jalan pintas dan menghalalkan segala cara.

Jika kebiasaan seperti itu diteruskan, segala usaha untuk memajukan pendidikan pasti akan sia-sia; dan yang terjadi justru kemerosotan. Kemajuan pendidikan akan terjadi jika ada habitus melatih peserta didik untuk mengasah nurani: di antaranya melestarikan nilai-nilai kejujuran itu. Seharusnya sekolah sebagai lembaga pendidikan menanamkan nilai-nilai kejujuran itu kepada anak didik bukan sebaliknya, bila ingin negeri ini di masa yang akan datang ingin diwariskan kepada generasi yang jujur dan bertanggung jawab.

Besar harapan kita semua kasus contek massal seperti yang pernah terjadi di Sekolah Dasar Negeri Gadel II Surabaya, Jawa Timur, tidak terulang lagi di masa-masa mendatang.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s