Faktor Guru

Oleh: Syamsul Kurniawan

SEBAGIAN kita barangkali sering beranggapan bahwa mutu pendidikan di Indonesia rendah disebabkan oleh tidak becusnya pemerintah mengurusi pendidikan, sering gonta-ganti kurikulum, kebijakan pendidikan yang tidak tepat sasaran, ataupun kurang meratanya pembangunan pendidikan disebabkan dana pendidikan banyak yang disunat . Ini (mungkin saja) benar. Tapi yang sering luput dari perhatian kita atau bahkan kita abaikan adalah bahwa mutu pendidikan (amat) ditentukan dalam prosesnya di dalam kelas.

Maksudnya, mutu pendidikan secara keseluruhan amat ditentukan dalam prosesnya di dalam kelas, yaitu di mana berlangsungnya aktivitas belajar mengajar yang baik, sehingga anak didik merasa nyaman, tenang, betah, dan anak didik tercukupi kegiatan untuk mengembangkan bakatnya. Dari kelas yang baik maka akan melahirkan sekolah-sekolah yang baik, dan pada akhirnya mutu pendidikan secara keseluruhan juga baik.

Kelas yang baik tentu amat dipengaruhi oleh manajemen kelas dari seorang guru. Faktor guru amat menentukan dalam konteks ini, terutama dalam mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan, serta dapat memotivasi anak didik untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuannya. Karena itu proses pembelajaran di dalam kelas harus benar-benar dirancang sebaik mungkin oleh seorang guru untuk mengembangkan potensi-potensi anak didik secara optimal.

Guru yang mampu menginspirasi dan mencerahkan itulah yang saat ini sedang kita bicarakan, karena guru semacam ini akan mengantarkan kesuksesan siswa di kemudian hari dan kelak membawa kemajuan bagi bangsa ini.

Sayangnya, guru yang inspiratif dan mencerahkan seperti itu tidak banyak. Sebagian besar guru tidak jarang hanya “guru kurikulum”, tidak meninggalkan kesan mendalam di benak anak didik karena tidak banyak hal penting yang diwariskan. Apa yang diberikan tak lebih sekedar pengetahuan dan wawasan yang menjadi tugasnya –”sosok guru yang hanya patuh pada kurikulum” sebagaimana isi buku yang ditugaskan sesuai dengan acuan kurikulum.

Guru yang sekedar mengajar tetapi tidak dapat berperan sekaligus sebagai pendidik. Padahal, untuk mencapai kemajuan dan kesuksesan siswa, jelas dibutuhkan guru yang tidak sekedar mengajar sesuai kurikulum melainkan dapat menginspirasi dan mempengaruhi sekaligus mengubah jalan hidup anak didik jadi lebih baik. Lebih ironis, tidak jarang ada sosok guru justru tampil dengan wajah sangar, menakutkan, dan tak menjadikan murid tumbuh semangat untuk menuntut ilmu.

Bagaimana menjadi guru yang inspiratif? Semua kita tahu menjadi guru inspiratif bukan perkara gampang. Hal itu dikarenakan, guru inspiratif tidak bersifat permanen. Spirit inspiratif, yang dimiliki oleh guru inspiratif, kadang bisa memudar. Tetapi, kalau jiwa guru itu sudah diberkati anugerah inspiratif, yang diperlukan adalah bagaimana ia selalu menemukan pemantik/penyulut spirit inspirasi. Untuk menyulut kembali spirit inspirasi itu, tentu setiap guru punya cara sendiri. Tapi bagi saya setidaknya kita bisa memulainya dengan menumbuhkan tiga hal: (1) komitmen (berkomitmen selalu menginspirasi siswa), (2) cinta (memiliki kecintaan dalam mendidik) dan (3) visi.

Dengan peran guru inspiratif yang memiliki komitmen, cinta dan visi itu, anak didik akan mampu terbangkit potensinya dan minatnya untuk menguasai pelajaran. Di sisi lain, memiliki sikap serta “semangat tinggi untuk maju”, kreatif, tercerahkan dan bahkan termotivasi untuk bisa sukses. Karena guru inspiratif semacam itu memiliki semangat terus belajar, kompeten, ikhlas dalam mengajar, mendasarkan niat mengajar pada “landasan spiritualitas”, total, kreatif, dan selalu berusaha mendorong siswa untuk maju.

Potensi kreatif itulah yang menjadikan guru inspiratif tidak pernah kehilangan cara dan media dalam mendidik. Ia bisa membangun iklim pembelajaran dengan seribu cara. Tak salah, jika anak didik akan selalu merindukan guru semacam itu hadir di kelas hingga kadang tak terasa pelajaran yang sudah berlangsung dua jam seperti tidak terasa. Usai pelajaran, anak didik mendapat pencerahan, termotivasi dan pelajaran yang diajarkan terasa membekas pada diri anak didik.

Seperti yang dikatakan William Arthur Ward, “Guru yang biasa hanya memberi tahu, guru yang baik menjelaskan, guru yang lebih baik mendemonstrasikan, guru yang hebat menginspirasi.”***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s