Apakah Profesi Guru Itu Mudah?

Syamsul Kurniawan

BANYAK orang (barangkali) beranggapan, bekerja sebagai seorang guru itu mudah? Tinggal kuliah saja di fakultas keguruan atau punya akta mengajar, merupakan modal cukup untuk menjadi seorang guru. Apakah semudah itu berkiprah di dunia keguruan? Saya rasa tidak demikian.

Mengingat betapa pentingnya “faktor guru”, sudah seharusnya seorang guru tidak seharusnya memandang mudah pekerjaannya. Guru adalah seorang seniman di sekolah, itu yang saya tahu. Karyanya adalah anak-anak didik mereka. Dengan demikian, tidak seharusnya seorang guru menganggap tugasnya hanya sekadar “mengajar”.

Saat ini yang sering kita lihat, guru hanya sibuk mengajar, tidak berkeinginan mendidik. Sebagaimana kita mafhumi, seorang guru yang hanya mengajar, ia hanya memandang tugasnya hanya menyampaikan materi dan memindahkan materi tersebut ke dalam ingatan peserta didik. Mereka tidak peduli dengan urusan moral anak-anak didik mereka. Maka tidak heran, banyak anak generasi sekarang yang “kaya” pengetahuan tapi “miskin” etika dan moral.

Bukan itu saja, banyak guru yang mengidap penyakit “asma” (asal masuk). Yang penting masuk kelas, menyampaikan isi buku, soal anak didik paham atau tidak dengan materi yang ia sampaikan, itu bukan urusan mereka. Motivasi mengajar mereka asal-asalan. Semestinya persiapan dan perencanaan mengajar harus matang.

Yang lainnya adalah banyak guru yang mengajar di bidang yang bukan merupakan keahliannya. “Salah jurusan”, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menyebut guru-guru ini. Akibatnya, ketika seorang anak didik mengalami kebingungan dengan materi yang diajarkannya, ia tak mampu menyelesaikannya. Guru semacam ini biasanya juga tidak bisa menarik simpatik anak didik mereka, dikarenakan guru tersebut kurang wawasan. Tentu saja, ketidaksesuaian latar belakang pendidikan ini bisa berpengaruh dengan kualitas anak didik mereka.

Akhirnya, sebagai seorang guru harus betul bisa-bisa menjadi seorang yang digugu dan ditiru anak-anak didik mereka. Bukan sekadar mengajar tapi juga mendidik. Seorang guru harus betul-betul ahli dalam urusan manajemen kelas, bisa menerapkan strategi dan metode belajar mengajar yang pas dan dinamis ketika di kelas.

Jika para guru punya keinginan berbenah diri, tidak menyepelekan betap pentingnya mereka terus menerus mengembangkan potensi mereka sebagai guru, tentulah kualitas pendidikan kita akan jauh lebih baik lagi. Bukankah demikian?.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s