Edisi Khusus Pemberantasan Korupsi

(Refleksi Hari Anti Korupsi Sedunia, 9 Desember 2011)

Oleh: Syamsul Kurniawan

TENTU ada banyak sebab mengapa Indonesia menjadi tempat paling bergairah dalam memaknai Hari Anti Korupsi yang jatuh pada setiap 9 Desember itu. Salah satu sebabnya, negeri ini  merupakan tempat favorit bercokolnya para koruptor. Sebab lainnya, negeri ini berada di puncak semangat untuk mengenyahkan para koruptor itu.

Upaya mengenyahkan para koruptor dari bumi Indonesia sebenarnya adalah sesuatu yang diperjuangkan dan dicita-citakan rakyat sejak lama. Tapi upaya-upaya baik itu seperti terus berkompetisi dengan perilaku buruk para pelaku korupsi. Maka, upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan dari waktu ke waktu selalu mentah dan kandas di tengah jalan.

Betapa proses anomali sosial bernama korupsi itu sudah demikian deras mengalir di berbagai lini dan lapis kehidupan, mulai pusat hingga daerah. Sekat-sekat kehidupan di negeri ini (nyaris) tidak lagi menyisakan ruang yang nyaman untuk tidak berbuat korup. Kita pun jadi makin prihatin dan cemas, adakah pengusutan dapat dilakukan dengan tuntas dan adil? Cukup tersediakah aparat penegak hukum yang bersih untuk mengusutnya dengan adil, tepat, dan benar? Dan sampai kapan akan selesai?.

Contohnya saja kasus Bank Century. Kegaduhan atas kasus Bank Century seperti tidak pernah habis-habisnya, ibarat bola panas dan liar yang setiap kali dapat dipermainkan. Sampai sekarang tidak tampak kesungguhan menyelesaikan secara tuntas kasus aliran dana talangan Rp. 6,7 triliun yang menghebohkan itu. Seakan sudah menjadi pola yang terus berulang, kasus itu seperti dibiarkan surut sejenak. Tidak terlihat upaya penyingkapan kasus secara gamblang, khususnya kemana saja aliran dana talangan itu bergerak. Lebih absurd lagi, arah penyelesaian tidak pernah jelas. Persoalan bertambah rumit karena perdebatan kembali berputar-berputar antara upaya penyelesaian politik dan penyelesaian hukum. Contoh kasus yang tak kalah dramatisnya adalah kasus wisma atlet yang melibatkan mantan bendahara umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. Kasus Bank Century, kasus wisma atlet, dan beberapa kasus yang sudah terungkap hanya fenomena “gunung es” dari kasus-kasus korupsi yang terungkap.

Negeri kita telah lama dikenal sebagai negeri yang kaya. Namun, pemerintahnya banyak utang dan rakyatnya pun terlilit dalam kemiskinan permanen. Sejak zaman pemerintahan kerajaan, kemudian zaman penjajahan, dan hingga zaman modern dalam pemerintahan NKRI dewasa ini, kehidupan rakyatnya tetap saja miskin. Kemiskinan yang berkepanjangan telah mendera bangsa ini bertubi-tubi sehingga menumpulkan kecerdasan dan masuk terjerembab dalam kurungan keyakinan mistik, fatalistik, dan yang terparah adalah selalu ingin mencari jalan pintas.

Kepercayaan tentang pentingnya kepandaian, kerja keras dan jujur semakin memudar karena kenyataan dalam kehidupan masyarakat menunjukkan yang sebaliknya. Banyak mereka yang pandai, kerja keras dan jujur, tetapi ternyata bernasib buruk hanya karena mereka datang dari kelompok yang tak beruntung. Sementara itu, banyak yang dengan mudahnya mendapatkan kekayaan hanya karena mereka datang dari kelompok elite atau berhubungan dekat dengan para pejabat, penguasa, dan para tokoh masyarakat. Mereka memuja dan selalu mencari jalan pintas untuk mendapatkan segala sesuatu dengan mudah dan cepat, baik kekuasaan maupun kekayaan. Korupsi menjadi budaya jalan pintas dan masyarakat menganggap lazim memperoleh kekayaan dengan mudah dan cepat.

Sungguh demikian parahkah perilaku korup di sebuah negeri yang pernah diagung-agungkan sebagai bangsa yang santun, beradab, dan berbudaya? Haruskah negeri ini hancur dan tenggelam ke dalam kubangan dan lumpur korupsi hingga akhirnya loyo dan tak berdaya?

Terpilihnya Abraham Samad sebagai ketua KPK yang baru menimbulkan harapan baru dalam usaha pemberantasan korupsi tanpa tebang pilih. Tetapi mengingat budaya korupsi yang sudah demikian deras mengalir di berbagai lini dan lapis kehidupan di negeri ini, usaha pemberantasan korupsi melalui jalan penegakan hukum yang tegas dan tanpa tebang pilih tidaklah cukup. Diperlukan lebih dari itu. Di antaranya dengan mendidikkan nilai-nilai anti korupsi di masyarakat.

Signifikansi pendidikan anti korupsi ini didasarkan pertimbangan bahwa pemberantasan korupsi mesti dilakukan secara integratif dan simultan yang mesti berjalan beriringan dengan tindakan represif terhadap koruptor. Karena itulah, pendidikan anti korupsi mesti didukung. Jangan sampai timbul keawaman terhadap korupsi dan perilaku koruptif. Pendidikan anti korupsi berisi tentang sosialisasi bentuk-bentuk korupsi, cara pencegahan dan pelaporan serta pengawasan terhadap tindak pidana korupsi. Pendidikan seperti ini harus ditanamkan secara terpadu mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.

Pendidikan anti korupsi ini akan berpengaruh pada perkembangan psikologis peserta didik. Setidaknya, ada dua tujuan yang ingin dicapai dari pendidikan anti korupsi ini. Pertama, Untuk menanamkan semangat anti korupsi pada setiap anak bangsa. Melalui pendidikan ini, diharapkan semangat anti korupsi akan mengalir di dalam darah setiap generasi dan tercermin dalam perbuatan sehari-hari. Sehingga pekerjaan membangun bangsa yang terseok-seok karena adanya korupsi di masa depan tidak ada terjadi lagi. Jika korupsi sudah diminimalisir, maka setiap pekerjaan membangun bangsa akan maksimal.

Kedua, Menyadari bahwa pemberantasan korupsi bukan hanya tanggung jawab lembaga penegak hukum seperti KPK, Kepolisian dan Kejaksaan agung, melainkan tanggung jawab setiap anak bangsa. Pola pendidikan yang sistematik akan mampu membuat peserta didik mengenal lebih dini hal-hal yang berkenaan dengan korupsi termasuk sanksi yang akan diterima kalau melakukan korupsi. Orang-orang yang terlibat kasus korupsi juga bisa dikonsumsi dalam pembelajaran di sekolah sebagai “penjahat negara”, yang namanya bisa ditemukan di buku-buku pelajaran di sekolah. Dengan begitu, akan tercipta generasi yang sadar dan memahami bahaya korupsi, bentuk-bentuk korupsi dan tahu akan sanksi yang akan diterima jika melakukan korupsi.

Tidak hanya itu, pendidikan anti korupsi yang dilaksanakan secara sistemik di semua tingkat institusi pendidikan, diharapkan akan memperbaiki pola pikir bangsa ini tentang korupsi. Bukankah selama ini sangat banyak kebiasaan-kebiasaan yang telah lama diakui sebagai sebuah hal yang lumrah dan bukan korupsi, dan termasuk hal-hal kecil?. Sering terlambat dalam mengikuti sebuah kegiatan, terlambat masuk sekolah, kantor dan sebagainya. Contoh lain, kebiasaan tidak mau repot. Ketika ditilang oleh polisi lalu lintas, tanpa pikir panjang dan tidak mau repot untuk sidang di pengadilan kemudian mengajukan tawar-menawar. Perbuatan ini banyak sekali ditemukan di jalan raya, dan menjadi lazim. Sehingga memang diperlukan edukasi bahwa perbuatan suap tersebut, termasuk korupsi yang merugikan negara. Di sinilah pentingnya pendidikan anti korupsi yang diselenggarakan secara terpadu di semua tingkatan institusi pendidikan.

Akhirnya, selamat Hari Anti Korupsi Sedunia, 9 Desember 2011. Besar harapan kita bersama negeri ini tidak hancur dan tenggelam ke dalam kubangan dan lumpur korupsi hingga akhirnya loyo dan tak berdaya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s