Manusia Modern dan Pentingnya Zikir

Oleh: Syamsul Kurniawan

PADA era modern saat ini terjadi berbagai tekanan dan konflik di seluruh tatanan kehidupan manusia, semua umat manusia terlibat langsung (sebagai aktor) dengan keadaan yang demikian itu tanpa terkecuali. Tekanan hidup yang dirasakan oleh manusia di era modern ini, jika dibiarkan akan menumbuhkan hilangnya kesadaran manusia akan pentingnya kebersamaan, kerukunan, toleransi, sosial, keselarasan hidup, silaturrahmi, dan lain sebagainya.

Tentunya, dalam mengatasi berbagai tekanan hidup ini tidak hanya cukup dengan menyelenggarakan adanya diskusi atau seminar, ceramah, lokakarya, pelatihan atau yang lainnya. Akan tetapi wajib adanya pembenahan secara langsung yang diawali oleh masing-masing individu. Wacana modernitas dengan berbagai permasalahan yang timbul pada umat manusia ini perlu adanya solusi. Pada aras ini, “zikir” merupakan solusi atau sebagai salah satu obat alternatif untuk menyelesaikan permasalahan dan tekanan di era modern ini.

Zikir merupakan solusi atau sebagai salah satu obat alternatif untuk menyelesaikan permasalahan dan tekanan di era modern ini. Sungguhpun begitu, tetap ada syaratnya. Yaitu bila zikir yang dimaksudkan untuk mendorong hati menuju kesadaran tentang kebesaran dan kekuasaan Allah. Ketika seseorang menyadari bahwa Allah adalah pengatur tunggal dan pengatur segala sesuatu, menyebut nama-Nya, mengingat kekuasaan-Nya, serta sifat-sifat-Nya yang agung akan melahirkan ketenangan jiwa.

Kata zikir diartikan “mengingat”, disebut sekitar 280 kali dalam Al Qur‘an. Dalam pengertian sempit, zikir adalah menyebut Allah atau yang berkaitan dengan-Nya. Dalam pengertian luas, zikir adalah kesadaran tentang kehadiran Allah di mana dan kapan saja. “Menghadirkan Allah” di setiap ucapan dan seluruh aktivitas, tanpa dibatasi waktu. M. Quraish Shihab (2006) menyebutkan bahwa doa adalah bagian dari zikir. Pada saat manusia berdoa, dia pasti mengingat Allah. Saat orang berzikir itu artinya dia merasa sangat kecil di hadapan Allah dan membutuhkan bantuan-Nya. Tanpa mengucap doa pun, sejatinya manusia membutuhkan pertolongan berupa petunjuk-Nya. Di samping menenteramkan hati, ulama besar Imam Ghazali menyebutkan paling tidak ada 20 manfaat zikir, di antaranya adalah manfaat di dunia seperti diingat Allah, keberkahan, doa dikabulkan, Allah menjadi teman yang menenteramkan hatinya, dan kemudahan menghadapi sakratul maut. Manfaat zikir juga dirasakan nanti di akhirat, seperti berbobotnya timbangan amal, dan meraih ridha-Nya.

Dampak menyepelekan zikir antara lain: menjadi teman setan, mengeraskan hati dan terlalu cinta dunia. Larut dalam kelengahan kenikmatan dunia itu membuat mata hati tertutup. Dalam batas-batas tertentu, keengganan berzikir berarti bentuk penolakan akan ketergantungan pada Allah. Orang yang selalu berzikir tentulah memiliki semacam benteng. Benteng tersebut terbentuk dikarenakan ia selalu ingat mengenai apa yang jadi perintah Allah dan yang dilarang atau diharamkan-Nya.

Firman Allah SWT: “Dan dirikanlah shalat, karena shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar dan zikir kepada Allah itu lebih utama lagi.” (QS Al ‘Ankabut: 45). Dengan demikian, zikir lebih ampuh meredam perbuatan keji dan munkar daripada melakukan shalat.

Hal ini dikarenakan orang yang berzikir, hatinya akan terbuka terhadap Tuhannya dan lidahnya lancar menyebut-Nya, maka Allah akan mengirimkan cahaya-Nya pada hati orang yang berzikir, sehingga keimanannya bertambah, keyakinannya berlipat ganda. Hatinya akan tenteram dan puas menerima kebenaran.

Tekanan hidup yang dirasakan oleh manusia di era modern ini, harusnya mengantarkan manusia sadar keberadaannya sebagai makhluk Tuhan yang serba terbatas, dan menyadari akan utamanya zikir dalam kehidupan mereka. Apalagi pada era modern, banyak sekali di sekitar mereka bujukan setan untuk berbuat sesuatu yang zalim dan tidak diridhai Allah. Dalam menghadapi cobaan itu, mereka menghadapinya dengan sabar.

Di samping zikir punya kaitan erat dengan kesalehan individual, zikir juga berkaitan dengan kesalehan sosial yang wujud dalam keseharian mereka. Orang-orang yang berzikir pada aras ini seyogyanya memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi. Orang-orang yang berzikir semestinya menunjukkan kepedulian pada saudara-saudara mereka yang kelaparan, anak-anak yatim piatu yang memerlukan dukungan baik secara moril dan juga materiil. Orang-orang yang berzikir adalah orang-orang yang bersikap “tegas” pada para penindas, tidak mau “membiarkan hidup” segala bentuk penindasan, dan selalu memperbaiki borok-borok moral yang ia jumpai di masyarakat, dengan usaha maksimal dan dengan cara-cara yang baik. Yang diharapkan cuma ridha dari Tuhannya.

Bagi mereka (orang-orang yang berzikir pada Tuhannya), kekayaan sejati bukan terletak pada emas atau perak, tapi dalam pengetahuan dan kearifan sejati yang tidak pernah mengkhianati mereka, karena mereka peroleh dari sisi Tuhan mereka. Karena itulah mencintai dan mengagungkan Tuhan adalah pilihan dalam pengetahuan dan perbuatan mereka. Bagi mereka semua itu menjanjikan semacam “atsmosfer kedamaian” dalam hidup mereka, lebih-lebih pada masa modern yang sarat tekanan hidup. Al Qur‘an memberikan garansi pada mereka soal ini: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.” (QS Ar Ra’d: 28)

Mari kita giatkan kegiatan zikir kepada Allah dan menjadi bagian dari kebiasaan hidup kita. Insya Allah kita akan memetik banyak manfaat dari kebiasaan zikir ini.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s