Kekerasan Jangan Menjadi Candu

Oleh: Syamsul Kurniawan

BUDAYA kekerasan sukar dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak diturunkannya manusia di muka bumi, sejarah kekerasan telah ditampilkan oleh anak keturunan Adam dan Hawa, yeng berujung tewasnya Habil di tangan Qabil (lihat QS 05: 30). Inilah tragedi kekerasan pertama yang disertai dengan pemaksaan kehendak terhadap seseorang dalam sejarah umat manusia.

Budaya kekerasan terus berlangsung hingga sekarang, di mana kekerasan menjadi simbol, untuk menjadi penekan atas pengakuan kedaulatan seseorang atau kelompok terhadap seseorang atau kelompok lain. Kekerasan menjadi fakta keseharian kita. Menjadi bagian dari ekspresi peradaban kita.

Mengapa kekerasan terjadi? Bukankah kekerasan, amarah dan penganiayaan yang semakin hari semakin nampak, sungguh amat menganggu ketentraman hidup kita? Dan bukankah kita sebagai bangsa akan menderita kerugian dari maraknya perilaku kekerasan ini?.

Pertanyaan di atas menyimpan keheranan. Keheranan adalah perasaan yang muncul saat orang menghadapi yang tidak lazim. Dapat dibayangkan apa yang terjadi pada bangsa ini, yang kekerasan sebagai sesuatu yang lazim. Tentu tidak ada keheranan yang muncul atasnya. Dan lagi kekerasan tidak pernah dipersoalkan. Kekerasan yang terus-menerus terjadi malah menjadi “candu”, dinikmati dan menjadi kebutuhan, sampai-sampai kita lupa.

Sebab Terjadinya Kekerasan

Kekerasan biasanya dimulai dengan kemarahan. Amarah dimulai dengan pembedaan. Pembedaan diartikan sebagai lawan saingan. Amarah membangkitkan kebencian, pengrusakan dan aniaya. Aniaya diartikan sebagai perbuatan bengis (penyiksaan, pemukulan, pemerkosaan, dan sebagainya), yang menyebabkan penderitaan dan menyakiti orang lain. Bagi sebagian orang, kekerasan – untuk sementara – identik dengan “penyelesaian”.

Praktik kekerasan terus berulang dan memakan korban yang mana kekerasan tidak hanya sebagai “konflik” tapi menjadi satu solusi untuk menyelesaikan masalah. Sampai dipenghujung tahun 2011 ini, tiap hari ada demonstrasi penolakan dengan simbol-simbol pembakaran. Penggusuran dengan pembuldoseran. Bentuk-bentuk kekerasan di sekolah dan di perguruan tinggi. Kebenaran dicapai dengan kekerasan.

Tiap hari berita yang kita konsumsi di media massa adalah berita-berita tentang kekerasan dan ketersinggungan. Ketersinggungan dibawa ke pengadilan agar cepat diketahui siapa yang kalah dan siapa yang menang. Perbedaan dibesar-besarkan lewat kasak-kusuk fitnah, gosip, dan selebaran gelap.

Konrad Lorenz mengupas sebab adanya kekerasan, dari faktor biologis di luar kendali manusia yang disebabkan kondisi sosial, politik dan ekonomi yang dimunculkan manusia sendiri. Energi yang mengumpul dan mengendap siap meledak, meski tanpa adanya stimulan. Hasrat melakukan kekerasan, sudah ada dan terpasang pada diri tiap manusia. Sehingga dengan stimulan paling kecilpun, atau tanpa adanya stimulan, hasrat melakukan kekerasan tetap akan mencari pelampiasan.

Sebuah datum antropologis yang juga penting yakni akar-akar kekerasan terletak pada kerinduan manusia untuk menemukan rasa kepastian dan identitas. Di sini Hannah Arendt, seorang filsuf perempuan yang ikut menjadi korban kekejian Nazi Jerman, dalam bukunya The Human Condition, mengatakan, daya dan kekuatan manusia untuk menemukan rasa kepastian diri dan identitas secara mendasar tampak dalam pengalaman kekerasan.

Jika kekerasan adalah tindakan penegasan diri kata Arendt, hemat saya, kita tidak boleh mengabaikan suatu data antropologis lain: “kekaburan diri manusia.” Penegasan diri mengandaikan sebuah situasi negatif kekaburan diri. Sebuah dialektika yang keji terjadi di dalam batin setiap pelaku kekerasan, yaitu ketidakmampuannya dalam mengendalikan diri, merasa gagah saat menghadapi korbannya yang terkapar tak berdaya. Untuk itu, “prosedur pahlawan” berbicara sangat jelas di sini: di atas gundukan jenazah para korbannya, sang hero meraup kembali harga diri dan kehormatannya. Dia adalah manusia. Manusia kelas satu. Makna dirinya diukur dengan jumlah mereka yang dipukuli, dianiaya dan dibunuh. Itulah “penegasan diri” dalam persfektif seorang pelaku dan pecinta kekerasan.

Dalam situasi manakah manusia mengalami kekaburan diri ini? Dalam “ruang kolektif”. Yang saya maksud di sini, bukan kekerasan individual, yaitu kekerasan yang dilakukan oleh individu, seperti membunuh karena dendam pribadi, memerkosa atau merampok, melainkan kekerasan kolektif. Dalam “ruang kolektif”, kekerasan diproduksi oleh kebersamaan. Dalam ruang kolektif pula pelaku-pelaku kekerasan terseret oleh desakan kebersamaan mereka, sehingga tak bisa lain kecuali melakukan seperti yang dilakukan pelaku-pelaku kekerasan yang lain. Kewajaran dalam melukai atau menghabisi nyawa sesamanya itu dimungkinkan karena individu-individu dalam ruang kolektif memandang tindakan kekerasannya sebagai sesuatu yang bernilai. Manusia melakukan kekerasan tanpa merasa bersalah jika perilaku kekerasan dipandang sebagai realisasi suatu nilai. Kasus kekerasan yang terjadi di penghujung tahun 2011, seperti yang sebelumnya terjadi di Papua, bentrok di kecamatan Mesuji di Lampung dan Sumatera Selatan saya kira sedikit-banyak kecenderungannya mengarah ke sana, di mana kekerasan tidak hanya sebagai “konflik” tapi menjadi satu solusi untuk menyelesaikan masalah.

Peran pendidikan

Jika dalam masyarakat moderen seperti hari ini, masih saja terjadi praktik-praktik kekerasan, tentunya ada yang salah dalam pendidikan kita. Fungsi utama pendidikan yaitu mengajarkan dan mentransmisi budaya seperti nilai-nilai, sikap, peran dan pola-pola perilaku. Dan pendidikan yang baik harusnya mampu mendorong manusia berbuat santun, menghargai perbedaan (pluralisme), mencintai sesama dan menghargai hidup; bukan sebaliknya.

Dunia pendidikan sangat memungkinkan untuk membudayakan pemecahan konflik yang akhirnya dapat mencegah perilaku kekerasan. Kecuali jika kekerasan menjelma menjadi “bahasa pendidikan”, tak ada jaminan siapa yang dapat menyelamatkan nilai-nilai santun, menghargai perbedaan, mencintai sesama dan menghargai hidup ini.***

Satu pemikiran pada “Kekerasan Jangan Menjadi Candu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s