Kita dan Bencana

Oleh: Syamsul Kurniawan

BENCANA alam dapat dimafhumi sebagai peristiwa alam yang mengakibatkan dampak besar bagi populasi manusia, di antaranya berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, badai, taufan, kebakaran liar, dan wabah penyakit. Sedangkan bencana alam yang terjadi secara tidak alami adalah kelaparan dan kemiskinan, yaitu kekurangan bahan pangan dalam jumlah besar yang disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan alam.

Sejarah bencana agaknya dekat dengan sejarah kehidupan kita sebagai manusia. Sejak dulu, manusia telah menghadapi bencana alam berulang kali dan melenyapkan populasi mereka. Pada zaman dahulu manusia yang juga rentan akan dampak bencana alam meyakini bahwa bencana alam adalah hukuman dan pertanda kemarahan dewa-dewa mereka. Bahkan beberapa peradaban kuno menghubungkan lingkungan tempat tinggal mereka dengan dewa atau Tuhan yang dianggap manusia dapat memberi kemakmuran, sebaliknya bisa member kehancuran.

Kata bencana dalam bahasa Inggris “disaster” berasal dari Bahasa Latin “dis” yang bermakna buruk/ kemalangan dan “aster” yang bermakna bintang-bintang. Kedua kata ini jika dikombinasikan memberikan pengertian “kemalangan yang terjadi di bawah bintang”. Orang-orang dulu pernah meyakini bahwa bintang dapat memprediksi suatu kejadian termasuk peristiwa yang buruk.

Istilah Bencana, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ialah  “sesutu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan; malapetaka; kecelakaan; marabahaya.” Dalam sisi lain yang khusus, terutama dalam konteks perilaku manusia, bencana ialah “gangguan, godaan, tipuan”. Dengan demikian, bencana ialah segala sesuatu yang terjadi yang menimbulkan kesusahan hidup, baik berupa bencana alam maupun bencana sosial. jika banjir, gempa, tsunami, kekeringan, tanah longsor, luapan Lumpur panas, dan sejenisnya termasuk bencana alam; maka kelaparan dan kemiskinan dapat dikatakan sebagai bentuk dari bencana.

Bencana dalam Islam antara lain disebut dengan istilah musibah dan merupakan salah satu bentuk ujian terhadap keimanan manusia kepada Allah. Selain musibah, bentuk ujian Allah kepada manusia juga diistilahkan dengan bala’, fitnah dan ‘iqab.

Tentu tidak ada dari kita yang suka pada bencana, karena betapa bencana itu amat menyusahkan dan  tak ada pula seorang pun yang sanggup menolaknya. Tak ada manusia super serupa “superman” yang memiliki kekuatan untuk melawan ataupun mencegah bencana alam ini, termasuk memprediksinya. Kalaupun ada para ahli atau alat canggih yang ditengarai mampu memprediksi terjadinya bencana, tapi apakah mereka juga mampu memprediksi waktu persisnya akan terjadi bencana dimaksud? Tentu saja tidak. Bahkan siapa pun tidak dapat memprediksi pasti nasibnya sendiri jika bencana itu datang menimpanya. Selain itu, telah banyak sinyal diberikan akan terjadi bencana alam pada suatu hari ternyata tidak terbukti, tetapi justru bencana itu datang pada saat orang-orang tidak menghiraukannya. Contohlah apa yang terjadi di Aceh (11/4) pukul 15.38 yang berpusat di Simeulue tentu saja “kembali” membuka trauma pada masyarakat Aceh (yang mungkin saja sudah mulai sedikit melupakan) pada gempa dan tsunami yang pernah menggoyang dan menggulung mereka pada tahun 2004 silam.

Menurut al-Qur‘an, sebab-sebab bencana lazimnya dapat dibagi menjadi dua: Pertama, Bencana yang muncul semata karena bagian dari ketetapan Tuhan; dan yang kedua, bencana yang muncul sebagai teguran pada manusia yang selalu muncul sifat destruktifnya pada alam.

Sebab bencana yang pertama, yaitu yang merupakan bagian dari ketetapan Tuhan bisa disimak dari firman Allah QS 09: 51: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakal.” Ayat ini mengajarkan kita bahwa semua jenis musibah merupakan bagian dari ketentuan Tuhan, sehingga berada di luar kuasa manusia. Tidak ada sikap lain, selain kita menghadapi semua itu dengan sabar sembari terus berdoa agar bencana itu segera berlalu. Bencana yang diberikan Tuhan kepada kita bisa jadi merupakan “ujian” agar kita semakin bertakwa kepada-Nya.

Dan sungguh Kami pasti akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Innalillahi wa innaa ilaihi raaji‘un. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS 02: 155-157).

Sikap sabar yang dimaksud pada ayat di atas paling tidak melahirkan cara pandang positif terutama dalam menjelaskan sebab-sebab bencana, bukan sebaliknya terjebak pada sikap saling salah-menyalahkan, bahkan mengait-ngaitkannya dengan aspek-aspek mitologi. Memang tidak dapat dipungkiri, meski masyarakat Indonesia telah berada di masa moderen, dalam konteks tertentu, dimensi mitologis masih subur dijumpai dalam praktiknya di masyarakat. Dalam mengurai sebab-sebab bencana misalnya, ada yang mengaitkannya dengan keberadaan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengingat betapa banyaknya bencana yang terjadi sejak periode kepemimpinan beliau. Analisis yang berkembang di sebagian masyarakat kita misalnya, mengatakan bahwa pemerintahan memang didukung oleh rakyat namun tidak didukung oleh alam. Selanjutnya muncul impian akan datangnya sosok mesianik, jurus selamat, alias ratu adil. Anggapan-anggapan ini menurut saya tidak masuk akal dan menyesatkan.

Kecuali itu, seperti yang sudah saya uraikan di atas, bahwa bencana bisa juga terjadi sebagai teguran Tuhan pada manusia yang suka muncul sikap destruktifnya pada alam. Ringkasnya, bencana alam yang menimpa negeri ini sebutlah sejak tahun 2004 juga bisa merupakan panen bencana yang diderita oleh anak negeri setelah menanam benih pengrusakan ekosistem alam selama puluhan tahun. Banjir dan tanah longsor misalnya yang kerapkali mengancam sebagian daerah di Indonesia, bahkan di Kalimantan Barat. Dampaknya, ribuan hektar sawah, ladang, kebun, sarana dan prasarana fisik mengalami kerusakan.

Wajar saja, setiap tahunnya sejumlah besar hutan kita kita masih saja dimusnahkan. Sumber-sumber kekayaan alam dimanfaatkan secara tidak adil, berputar hanya pada segelintir orang. Sebagian manusia serakah menikmati manfaat kekayaan alam, sementara sebagian lain menderita dalam kemiskinan dan kelaparan. Kemiskinan dan kelaparan seperti yang sudah saya uraikan di muka, juga merupakan “bencana”. Dan hemat saya, ini adalah suatu kenyataan pahit dan memprihatinkan dari suatu bangsa, juga menelan korban jiwa. Berita yang ditulis Kompas, 12 April 2012 bisa ikut membenarkan pendapat ini. Dalam kurun empat bulan terakhir setidaknya ada 11 kasus bayi dibuang dalam kondisi tak bernyawa serta pembunuhan dan penganiayaan anak kandung di Jabodetabek. Pelaku didominasi orang dekat termasuk orang tua, karena himpitan ekonomi.

Karena itu menurut saya, yang paling penting adalah menyadari bahwa meskipun bencana yang menimpa kita kita yakini bagian dari ketetapan Tuhan, karena itu sulit diprediksi secara pasti (seperti kasus Aceh). Namun bisa juga dikatakan bahwa sebagian bencana lain adalah teguran Tuhan pada kita yang sering tidak arif dan muncul sifat destruktifnya pada alam, dan berlaku tidak adil dalam pemanfaatannya. Perhatikan dua firman Tuhan berikut:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka, sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS 30: 41). Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri (QS 42: 30).

Kaitannya dengan bentuk bencana yang terakhir saya sebut,– yaitu  teguran Tuhan pada kita yang sering tidak arif dan muncul sifat destruktifnya pada alam, dan berlaku tidak adil dalam pemanfaatannya,– maka   tentu saja kita bisa berikhtiar dalam mengantisipasinya. Contoh yang paling dekat dengan kita (warga Kalbar) adalah dengan tidak mengeksploitasi hutan secara liar yang ujung-ujungnya menyebabkan terjadi banjir, erosi, tanah longsor yang dapat merugikan kita sendiri.

Wallahu a’lam bishshowab.***

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s