MEMILIH BERJUANG ATAU MAKIN TERPURUK

(Sekedar Catatan dari Film Surat Kecil Untuk Tuhan)

Oleh: SYAMSUL KURNIAWAN

FILM surat kecil untuk Tuhan mulanya adalah cerita pendek yang dirilis oleh Agus Davonar tentang kisah nyata seorang gadis bernama Gitta Sassa Wanda Cantika, mantan artis cilik era 1998 yang melawan kanker ganas dengan perkiraan hidup hanya lima hari lagi. Gitta yang akrab dipanggil Keke di film ini berjuang hidup melawan kanker ganas rhabdomyosarcoma (kanker jaringan lunak).

Keke mendapatkan kesempatan untuk sembuh setelah bertahan selama enam bulan melalui kemotrapi untuk membunuh sel-sel kanker yang menggerogoti tubuhnya. Setiap menjalani kemotrapi (penyinaran) rambut-rambut Keke rontok dan tubuh kecilnya harus menjalaninya hingga 25 kali untuk bisa sembuh. Alex Komang sebagai ayah Keke adalah teladan dalam film ini, ia dengan sabar mendampingi Keke dalam menghadapi penyakit kanker yang dideritanya. Penyakit yang diderita Keke tidak membuat Keke menyerah, dan sebaliknya ia terus berjuang untuk hidup. Saya kira ini satu pesan penting yang sepertinya ingin disampaikan melalui film Surat Kecil Untuk Tuhan, yaitu bagaimana kita memaknai hidup sebagai perjuangan, dan bukan sebaliknya memilih putus asa dalam menjalani hidup.

Misalnya di film ini divisualisasikan bagaimana Keke yang sakit sering mimisan, sulit bernapas dan matanya memerah lalu berair dan lama kelamaan ada benjolan yang semakin hari semakin besar di bawah kelopak mata bagian kiri. Keke tampak buruk sekali, kecantikannya hilang. Walau begitu, ia tetap ingin ikut ujian sekolah. Kegigihannya dalam menjalani kehidupan ini yang membuat gurunya memberikan penghargaan sebagai “Juara Kelas”. Keke yang gigih, juga memang anak yang cerdas, dan ia layak mendapat predikat itu.

Hidup ini memang merupakan sebuah pilihan, setiap saat kita selalu dihadapkan pada sebuah pilihan. Keke juga memiliki pilihan: memilih untuk “putus asa” menghadapi penyakit yang ia derita atau sebaliknya memilih “berjuang” untuk sembuh dan terus hidup. Dan Keke memilih “berjuang”.

Bagaimana dengan kita? Ketika kita dihantam musibah kita justru lebih banyak mengeluh. Ketika kita dibebani dengan tugas-tugas dari dosen yang menumpuk, kita seringkali mengeluh “tak sanggup”, “susah cari bahan”, “susah membagi waktu”, dan banyak lagi yang kita keluhkan. Ketika kita (seorang mahasiswa) telat dikirimi uang jajan dari orang tua kita di kampung, seringkali kita mengeluh, seolah-olah “telat dikirim” adalah alamat “tidak makan hari ini” atau bahasa yang sedikit dibuat kasar: “bakal mati kelaparan”. Apalagi ketika kita diberi Tuhan sakit, kita jadi terpuruk, dan akibatnya kita jadi menyalahkan Tuhan. Apapun situasi kita saat ini, berjuang atau memilih terpuruk, itu merupakan konsekuensi dari sebuah proses berpikir/ mindset yang telah kita hasilkan.

Kita pasti tahu makhluk yang bernama komputer, bukan? Nah, pikiran manusia itu jauh lebih hebat dari komputer, tetapi pikiran mempunyai sifat-sifat seperti sebuah komputer, yaitu kita bisa membuat suatu program apapun di pikiran kita yang secara fisiknya tersimpan di dalam otak kita. Kita bisa memprogram “komputer” pikiran kita untuk berurusan secara efektif dengan orang-orang lain, menjadi bahagia, atau yang lain.

Ketahuilah, bahwa dalam jangka waktu tertentu, masing-masing dari kita akan menjadi tepat seperti “apa yang kita programkan dalam pikiran kita”. Seorang yang bahagia dan sejahtera, pasti telah memprogramkan “bahagia dan sejahtera” ke dalam pikiran otaknya. Demikian juga dengan orang yang menyedihkan, dia pasti memberikan perintah pemrograman kepada pikirannya untuk “menjadikannya tidak bahagia, tidak sejahtera, terpuruk, dan banyak lagi program negatif” yang ditanamkan ke dalam otaknya. Seperti halnya sebuah komputer, pikiran kita akan selalu siap melakukan apa saja yang kita perintahkan kepadanya, karena di dalamnya sudah ada program-program yang telah kita “install”. Kita tinggal “click” saja ke program tadi, maka itu akan jalan dengan sendirinya. Pikiran kita akan mempengaruhi kita. Oleh karena itu, seperti Keke, programlah pikiran kita dengan “software” kebahagiaan dan kemakmuran, maka kita akan menikmati hidup dan bukan sebaliknya. Demikian pula ketika kita diuji Tuhan dengan musibah, kita memilih berjuang dan sabar, dan bukan terpuruk.

Ingatlah hal ini, bahwa banyak orang yang kurang beruntung, bukan karena ia tidak beruntung, tetapi kebanyakan karena tidak memiliki mindset yang benar, sehingga ia merasa menjadi “orang paling tidak beruntung”. Ia jadi tidak pernah mensyukuri apapun yang pernah atau sedang ia miliki. Karena itu hargai apa yang kita miliki saat ini, karena sungguh, kebahagiaan tak akan mau datang pada mereka yang tidak menghargai apa yang mereka miliki. Jika, kemarin, misalnya, tak berakhir seperti yang kita ingini. Ingatlah hal ini: Jika Tuhan ingin kemarin kita sempurna, Tuhan tidak perlu menciptakan hari ini. Demikian pula jika keadaan hari ini tidak seperti yang kita ingini, Ingatlah hal ini: Jika Tuhan ingin hari ini sempurna, Tuhan tidak perlu menciptakan hari esok untuk kita.

Jadi melalui film ini belajarlah dari Keke, tentang pentingnya “berjuang” dan bukan “putus asa”. Kita juga bisa mengambil pelajaran dari Keke yang tidak pernah berhenti belajar: terutama tentang “hidup”.

Film ini menarik bukan saja karena ceritanya yang inspiratif tapi juga karena para pemain dalam film ini, yang kebanyakan bukanlah bintang-bintang “beken”. Pemeran Keke yaitu Dinda Hauw sendiri tampil amat memukau untuk ukuran pendatang baru di dunia entertainment. Tak ketinggalan aktor dan aktris lain yang hanya menjadi pemeran pendukung tampil maksimal. Bahkan aktor yang menjadi supir keluarga Keke di film itu, yang sering tampil tanpa bahasa verbal cukup membuat emosi para penonton teraduk dalam keharuan kisah ini. Sutradara film ini juga berhasil ‘menjahit’ potongan-potongan cerita menjadi adegan-adegan utuh untuk menggambarkan ketegaran hati sosok Keke dalam durasi 100 menit di layar lebar. Kuatnya skenario kehidupan Gita Sesa Wanda Cantika, atau yang biasa dipanggil Keke, sungguh kental ditangkap, itu menurut saya, mungkin juga oleh para penonton lainnya.***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s