PR BERSAMA DALAM MENCERDASKAN BANGSA

Oleh: Syamsul Kurniawan*)

MANUSIA adalah makhluk Tuhan yang unik. Hakikat manusia yang unik adalah dia “belum menjadi”. Manusia belum selesai dan berada di dalam proses yang menjadi. Inilah proses pendidikan.

Menurut Jurgen Habermas, proses atau praktik pendidikan adalah proses komunikatif. Artinya, proses atau praktik pendidikan mempunyai arah tertentu. Arah tersebut merupakan tindakan interaktif antara peserta didik dan dunianya, yaitu sesama manusia (dengan orang tua, dengan masyarakat, dan dengan dunianya untuk diberi makna). Proses ini meminjam istilah HAR Tilaar disebut proses humanisasi. Proses humanisasi tersebut sangat penting dalam proses atau praktik pendidikan, karenanya pendidikan hendaknya diserta tujuan (dalam hal ini tujuan pendidikan).

Susanne K. Langer seorang filsuf terkemuka memperingatkan kepada para pendidik supaya merumuskan dengan jelas apa tujuan pendidikan, karena menurut pendapatnya proses atau praktik pendidikan tanpa tujuan akan merupakan tindakan sia-sia.

Salah satu di antara tujuan utama pendidikan adalah untuk mencerdaskan. Demikian juga saya kira tujuan pendidikan yang dimiliki bangsa ini. Sayangnya, tujuan mencerdaskan ini selalu menjadi pekerjaan rumah yang tertunda, meskipun di tiap tahunnya kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, di tiap tanggal 2 Mei. Peringatan ini seolah-olah menjadi seremonial saja di tiap tahunnya, karena jika tidak kita sudah bisa melihat hasil dari proses atau praktik pendidikan yang berlangsung di negara kita ini. Apa hasilnya? Korupsi masih merajalela, pemusnahan sumber-sumber daya alam di tiap tahunnya masih sering kita dengar, kasus kekerasan, Narkoba, termasuk kasus a susila yang menimpa anak di bawah umur masih menjadi keprihatinan kita sampai saat ini. Bukan saja itu, seringkali bangsa kita ini “lembek” pada bangsa lain, akibatnya sumber-sumber kekayaan alam, seringkali dijarah manfaatnya oleh bangsa asing, dan kita hanya menikmati sisanya. Ini juga ciri tidak cerdasnya bangsa kita.

Tentu saja bangsa yang cerdas adalah bangsa yang terdidik. Para anggotanya bukanlah “mem-beo” yang tinggal menurut perintah. Bangsa yang cerdas mempunyai anggota masyarakat yang cerdas, mampu berdiri sendiri, dan mempunyai pendirian sendiri. Para anggotanya tidak bergantung pada orang lain tetapi percaya diri sebagai suatu bangsa, meminjam istilah Soekarno, mampu Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Bukan bangsa yang lembek. Bangsa yang lembek adalah bangsa yang tidak mau bekerja keras, yang rentan terhadap penyakit KKN, dan bangsa yang tidak percaya diri karena tingkat pendidikannya yang rendah.

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mempunyai pilihan, dengan catatan bahwa pilihan tersebut tersedia di dalam masyarakat atau disediakan oleh pemerintah. Mengadakan pilihan terhadap alternatif-alternatif yang ada merupakan karakteristik penting dari suatu masyarakat yang demokratis. Bangsa yang dapat memilih juga berarti bangsa yang dapat bertanggungjawab atas pilihannya. Pilihan ini tentunya didasarkan pada pertimbangan moral. Pertanyaannya, dasar pemilihan manusia Indonesia yang cerdas didasarkan pada etika yang mana. Hemat saya, dasar moral dalam masyarakat Indonesia adalah Pancasila. Selanjutnya nilai-nilai Pancasila disesuaikan menurut keyakinan agama masing-masing. Sampai saat ini saya berpendapat bahwa tidak ada pertentangan antara moral Pancasila dan moral yang didasarkan kepada agama masing-masing.

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang dapat berpatisipasi, baik di dalam memajukan masyarakat bangsanya, juga dalam rangka memajukan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia. Inilah amanat yang dimuat dalam Pembukaan UUD 1945. Sementara bangsa yang lembek adalah bangsa yang inward looking, yang hanya melihat pada kepentingan kelompoknya sendiri, dan tidak pernah melihat keluar, outward looking. Dewasa ini tidak ada suatu bangsa yang bisa eksis tanpa berkomunikasi dengan bangsa-bangsa lain.

Selain itu bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mempunyai keterampilan, sehingga ia dapat meningkatkan derajat hidupnya dan sekaligus dia dapat bersaing dengan bangsa-bangsa yang lain di era globalisasi dewasa ini. Belajar dari pengalaman bangsa ini, keterampilan yang hemat saya perlu dimiliki bangsa kita ini, mula-mula adalah keterampilan yang dapat mengolah kekayaan alam yang tersedia melimpah di negara kita, dan pada gilirannya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa kita.

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mempunyai kesadaran untuk memelihara kerukunan bersama sebagai warga negara. Terlebih bangsa kita ini multikultural, sehingga rawan terjadinya konflik. Sebaliknya kondisi bangsa kita yang multikultural harus disadari merupakan suatu modal yang sangat besar. Keunikan dari masing-masing suku bangsa misalnya, bisa bangsa kita manfaatkan untuk meraih keuntungan dari sektor pariwisata.

Sebagai penutup, bangsa yang cerdas bukanlah tercipta dengan sendirinya, diperlukan usaha dan kerja keras, serta komitmen bersama untuk memperbaiki yang kurang-kurang dari pendidikan kita. Bangsa yang cerdas masih tetap menjadi “pekerjaan rumah” (PR) bangsa kita, bahkan hingga sekarang ini. Dan jika kita tak serius dalam mengurusinya, akan terus menjadi PR yang tak berkesudahan di negeri ini di tiap tahunnya, tanpa bisa menikmati hasilnya.***

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s