AJARAN JIHAD PERLU DIDIDIKKAN SECARA BENAR

Oleh: Syamsul Kurniawan

 JIHAD merupakan bagian yang integral dalam diskursus keislaman, sejak masa kedatangan Islam hingga era kontemporer sekarang ini. Jihad sebagai suatu konsep seringkali diperdebatkan dalam media massa dan kajian akademik, baik di Timur maupun Barat (Nashr, 1994: 19).

Perbincangan tentang konsep jihad rupanya juga mengalami pergeseran dan perubahan sesuai dengan konteks dan lingkungan dari masing-masing pemikir (Azra, 1996: 127). Dalam pandangan Barat, jihad menjadi stereotif, sebab jihad fi sabilillah seringkali diartikan sebagai perang suci (holy war) untuk menyebarkan agama Islam.

Istilah the holy war berasal dari sejarah Eropa sebagai perang dengan alasan-alasan keagamaan (Rahardjo, 1996: 511, Schimmel, 1992: 69-70). Ia mengandung konotasi negatif, karena seakan-akan perbuatan itu dilakukan oleh orang-orang fanatik yang ingin memaksakan pandangan dunianya kepada orang lain (Sardar dan Merryl Wyn Davies, 1998: 20). Pandangan Barat tersebut memberi label kepada Islam sebagai agama yang meyakini cara-cara kekerasan dan bergerak dalam kehidupan dengan landasan kekejaman (Fadhullah, 1995: 158). Polling di CNN, 13 Juni 2002 agaknya bisa membenarkan pendapat demikian, suara terbanyak menginginkan perubahan paradigm dari war against terrorism menjadi war against Islamism. Bagi Barat, Islam adalah agama teroris, identik dengan kekerasan.

Di kalangan umat Islam Indonesia sendiri, sebagian orang mengartikan jihad dengan satu makna: “perjuangan senjata dengan alternatif hidup mulia atau mati syahid.” Sementara yang lain berpendapat bahwa yang disebut jihad akbar adalah perjuangan melawan hawa nafsu.

Dapat kita mafhumi bahwa jihad adalah produk pendidikan. Maksudnya, makna jihad pada dasarnya dibentuk melalui sebuah proses pendidikan. Pemaknaan-pemaknaan tentang jihad di antaranya tak bisa dilepaskan bagaimana makna jihad tersebut disosialisasikan oleh guru-guru agama Islam di lembaga-lembaga pendidikan dengan persepsinya masing-masing kepada peserta didik mereka: apakah makna jihad identik dengan perang ataukah bisa mempunyai makna lain. Di sekolah-sekolah apakah itu SD/MI, SMP/MTs, atau SMA/MA, materi tentang jihad bisa disosialisasikan melalui bidang studi Al Qur‘an dan Hadits, Aqidah dan Akhlak, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam.

Jika jihad di jalan Allah itu diajarkan oleh guru agama Islam, yaitu mengibarkan bendera Tawhid dan menerapkan hukum Allah, membela tanah air, melindungi nilai-nilai, dan membangun kemaslahatan di muka bumi ini, maka yang diajarkan guru agama Islam itu sudah benar. Jika jihad di jalan Allah itu adalah untuk mempertahankan iman dan perjuangan untuk kehidupan yang bermartabat dan perjuangan untuk meletakkan dasar-dasar keadilan, perdamaian, keamanan dan iman, maka yang diajarkan guru agama Islam tentang jihad itu juga benar. Jika jihad itu adalah menyebarkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan pengetahuan yang bermanfaat, mengokohkan fondasi ilmiah dan penelitian di perguruan tinggi, mengamalkan Al-Quran, mencetakan dan menerbitan karya-karya ilmiah, mengajarkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, membela yang tertindas, menyelamatkan orang-orang yang menderita, melindungi yang lemah, menebar kasih sayang, mendidik yang bodoh, serta mengulurkan tangan untuk kaum miskin, maka tak ada yang salah dengan  materi jihad yang diajarkan. Jika jihad itu bermakna membela agama, menjaga keutuhan bangsa dan negara, meniadakan perbedaan antar aliran pemikiran, sekte, perjuangan melawan kebodohan dan fanatisme dan rasisme, melawan politeisme, bid’ah, takhayul, dan sihir, maka ini juga benar.

Namun, jika jihad yang diajarkan dengan memberi makna dan pemahaman sebagai penghancuran tanah air, penghancuran hasil pembangunan, merusak fasilitas umum, merusak properti, menteror orang yang tidak bersalah, dan membunuh kelompok non muslim yang dilindungi karena tak berdosa, mengkhianati rakyat, mudah membunuh mereka yang seharusnya dilindungi, menjarah harta kekayaan, dan menciptakan ketidaknyamanan dan ketidaktenteraman, mengganggu suasana kebangsaan, maka ini yang saya sebutkan ajaran jihad telah diajarkan secara keliru.

Jika jihad diberi makna dan pemahaman sebagai memanggul senjata untuk melawan rakyat, tidak melindungi orang-orang yang tak berdosa dan tak berdaya, menyebarkan kekacauan dan kebencian, anti sosial dan menjauh dari cita-cita kaum saleh, memisahkan anak-anak dari kasih sayang dan ketidaktaatan kepada orang tua, memutus hubungan kekerabatan, menciptakan kerusuhan, membahayakan kaum muslimin dan menyakiti mereka yang memiliki perjanjian damai dengan kita, maka ada yang salah di “otak” guru agama Islam, sehingga mengajarkan jihad dengan pemaknaan yang keliru.

Jika jihad diajarkan untuk ditafsirkan dengan tujuan merusak citra Islam, berbuat sesuatu yang membuat orang enggan masuk dan mengenal Islam, menjelekkan jasa-jasa ulama terdahulu sehingga memberi kesempatan lawan untuk menyerang Islam, menghidupkan faham kekanak-kanakan yang merusak untuk memerangi Islam, menghalalkan yang diharamkan Allah, mempermainkan kesucian agama, dan menghina generasinya, maka sekali lagi yang sampaikan bahwa ini adalah keliru dalam pandangan Islam.

Jihad di jalan Allah itu sebenarnya adalah ibadah yang paling suci dan paling indah. Sebab, jihad adalah melindungi keyakinan dan iman, melindungi bangsa, memelihara risalah, menjaga kebajikan, dan melindungi profesi. Semua bangsa di muka bumi ini berjihad melalui caranya sendiri, baik berjuang melalui pendekatan Rabbani atau pendekatan tradisi. Semua negara di dunia berjuang untuk melindungi integritas dan memeliharaan stabilitas ekonominya. Jihad di jalan Allah itu tidak bermakna mencari kematian, bahkan justru mencari kehidupan yang layak. Karena hidup di jalan Allah lebih indah dibanding kematian di jalan Allah. Sebab, hidup di jalan Allah adalah iman dan ilmu, berkarya dan bekerja, belajar dan manfaat, serta kreatif dan produktif. Dalam keadaan hidup, seseorang bisa menghamba kepada Allah dengan cara belajar dari ulama, menyediakan makanan dan obat-obatan, berusaha mencegah madalarat, menghapus bencana, memberi manfaat kaum miskin, dan berdiri menolong mereka yang malang. Maka, para bangsawan, para menteri, para dokter, para insinyur, para guru, para prajurit, para petani adalah pejuang di jalan Allah jika semua pekerjaan itu dilakukan dengan jujur di hadapan Allah. Sesungguhnya seseorang yang bekerja untuk kehidupan keluarganya, mencukupi janda-janda, menyantuni fakir miskin dan yatim piatu, membangun masjid, menggali sumur, memberi makan yang lapar, dan menyembuhkan pasien adalah jihad mulia di jalan Allah.

Islam datang untuk memberikan rasa aman dan bukan mengundang ketakutan, demikian mengutip Syaikh Dr. Aidh Al-Qarni (Intelektual dan Kolumnis Arab Saudi, pengarang buku best seller La Tahzan). Rasulullah bersabda: ”Berilah mereka kabar gembira dan jangan membuat mereka lari, permudah mereka dan janganlah mereka dibuat sulit.”

Karena itu untuk guru-guru agama Islam, apakah itu di SD/MI, SMP/ MTs. dan atau di SMA/MA  sekali lagi hati-hatilah dari mengajarkan pemahaman jihad yang sesat pada murid-murid yang menganggap jihad itu adalah menyakiti orang lain dan semangat memanggul senjata untuk membunuh tanpa didasari ilmu, pemahaman yang benar, analisa, dan perenungan. Sesungguhnya jihad yang terbaik dalam pemahaman para ulama adalah mereka yang pergi untuk mencari ilmu dan penghidupan, termasuk penjual kayu bakar, peternak, pengemudi truk, penjahit, dan pedagang. Sungguh, bekerja untuk keluarga melalui beragam profesi ini adalah lebih mulia seribu kali daripada mengalirkan darah yang diharamkan Allah, melakukan teror, dan mengintimidasi orang-orang yang seharusnya kita lindungi kehidupannya.***

 

Bahan Bacaan

 

Azra, Azyumardi, 1996. Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modern, Hingga Post-Modernisme. Jakarta: Paramadina.

Fadhullah, Muhammad Husain, 1976. Islam dan Logika Kekuatan. Terj. Afif Muhammad dan H. Abdul Adhim. Bandung: Mizan.

 

http://musallamudassir.wordpress.com/2009/12/16/makna-jihad-yang-benar/

Nashr, Seyyed Hossein, 1994. Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern, terj. Lukman Hakim. Bandung: Pustaka.

Rahardjo, M. Dawam, 1996. Ensiklopedi Al Qur‘an.  Jakarta: Paramadina.

Sardar, Ziauddin dan Merryl Wyn Davies (Ed.), 1992. Wajah-wajah Islam. Terj.  A.E Priyono dan Ade Armando. Bandung: Mizan.

Schimmel, Annemarie, 1992. Islam: An Introduction. Albany: State University of Newyork Press.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s