26 June 2012

MUHAMMAD ABDUH DAN IKHTIAR MEMAJUKAN PENDIDIKAN ISLAM

Posted in pendidikan at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Oleh: Syamsul Kurniawan*)

PENDIDIKAN Islam merupakan salah satu bidang studi yang banyak mendapat banyak perhatian dari ilmuan. Hal ini karena di samping perannya yang amat strategis dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia, juga karena dalam pendidikan Islam terdapat berbagai masalah yang kompleks. Karena itu, bagi mereka yang terjun ke dunia pendidikan Islam, mereka harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan sesuai dengan tuntutan zaman. Hal ini juga yang menjadi perhatian Muhammad Abduh (seorang pemikir, teolog, mufti, dan pembaru Islam di Mesir pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20).

Abduh melihat bahwa salah satu penyebab keterbelakangan umat Islam yang amat memprihatinkan adalah hilangnya tradisi intelektual, yang pada intinya ialah kebebasan berpikir. Pendidikan pada umumnya tidak diberikan kepada kaum wanita, sehingga wanita tetap tinggal dalam kebodohan dan penderitaan. Abduh berpandangan bahwa penyakit tersebut antara lain berpangkal dari ketidaktahuan umat Islam pada ajaran agama yang sebenarnya, karena mereka mempelajari dengan cara yang tidak tepat. Menurut Abduh, penyakit tersebut dapat diobati dengan cara mendidik mereka dengan sistim pengajaran yang tepat.

Sistim pendidikan yang ada pada masanya yang selanjutnya melatarbelakangi pemikiran pendidikan Muhammad Abduh. Sebelumnya, pembaruan pendidikan Mesir diawali oleh Muhammad Ali. Dia hanya menekankan pada perkembangan aspek intelektual dan mewariskan dua tipe pendidikan pada masa berikutnya. Model pertama ialah sekolah-sekolah moderen, sedang model kedua adalah sekolah agama. Masing-masing sekolah berdiri sendiri, tanpa mempunyai hubungan satu sama lain. Pada sekolah agama tidak diberikan pelajaran ilmu-ilmu moderen yang berasal dari Barat, sehingga perkembangan intelektual berkurang. Sedangkan sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah, hanya diberikan ilmu pengetahuan Barat, tanpa memberikan ilmu agama.

Dualisme pendidikan yang memunculkan dua kelas sosial yang berbeda. Yang pertama menghasilkan ulama serta tokoh masyarakat yang enggan menerima perubahan dan mempertahankan tradisi, sedang sekolah yang kedua menghasilkan kelas elit. Generasi muda yang dimulai pada abad 19, dengan ilmu-ilmu Barat yang mereka peroleh, membuat mereka dapat menerima ide-ide Barat. Abduh melihat segi negatif dari dua model pendidikan tersebut, sehingga mendorongnya untuk mengadakan perbaikan pada dua instansi tersebut. Perbaikan yang dilakukan Abduh dalam bidang pendidikan:

 

1. Tujuan Pendidikan

Menurut Abduh tujuan pendidikan adalah mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya pada batas-batas kemungkinan seorang mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan yang dirumuskan Abduh tersebut mencakup aspek akal dan aspek spiritual. Dengan tujuan tersebut ia menginginkan terbentuknya pribadi yang mempunyai struktur jiwa yang seimbang, yang tidak hanya menekankan pengembangan akal, tetapi juga pengembangan spiritual. Abduh berkeyakinan apabila aspek akal dan spiritual dididik dengan cara dicerdaskan dan jiwa dengan agama, maka umat Islam akan dapat bersaing dengan ilmu pengetahuan baru, dan dapat mengimbangi mereka dalam kebudayaan.

2. Kurikulum Sekolah

Kurikulum yang dirumuskan Muhammad Abduh adalah sebagai berikut: (a) Untuk tingkat sekolah dasar: membaca, menulis, berhitung, dan pelajaran agama dengan materi akidah, fikih, akhlak, serta sejarah Islam. (b) Untuk tingkat menengah: manthiq dan dasar, dasar penalaran, akidah yang dibuktikan dengan akal dan dalil-dalil yang pasti, fikih dan akhlak, dan sejarah Islam. (c) Untuk tingkat atas: tafsir, hadits, bahasa Arab dengan segala cabangnya, akhlak dengan pembahasan yang rinci, sejarah Islam, retorika dan dasar-dasar berdiskusi, dan ilmu kalam.

Dari penerapan kurikulum di atas, tampak bahwa Abduh ingin menghilangkan dualisme pendidikan yang ada pada saat itu. Dia menginginkan sekolah-sekolah umum memberikan pelajaran agama dan al-Azhar diharapkan menerapkan ilmu-ilmu yang dating dari Barat.

3. Metode pengajaran

Abduh menekankan pemberian pengertian (pemahaman) dalam setiap pelajaran yang diberikan. Ia mengingatkan kepada para pendidik untuk tidak mengajar murid dengan metode hapalan, karena metode hapalan menurutnya hanya akan merusak daya nalar. Abduh menekankan metode diskusi untuk memberikan pengertian yang mendalam kepada murid.

4. Pendidikan bagi Perempuan

Menurut Abduh, pendidikan harus diikuti oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Menurutnya perempuan haruslah mendapat hak yang sama dalam bidang pendidikan. Hal ini didasarkan kepada QS al-Baqarah (02): 228 dan QS al-Ahzab (33): 35.

Dari pembahasan di atas, maka tampak nilai-nilai yang ingin ditegakkan Muhammad Abduh melalui perjuangan dan pemikirannya: (1) Nilai persatuan dan nilai solidaritas, yaitu usaha yang dilakukan Abduh guna memulihkan kembali kekuatan Islam dengan membentuk urwatul wutsqa di bawah panji bersama dengan semangat ukhuwah Islamiyah; (2) Nilai pembaruan. Abduh berusaha mencanangkan gerakan pembaruan, berusaha membuka pemikiran di kalangan umat Islam yang beranggapan pintu ijtihad telah tertutup dan taklid; (3) Nilai perjuangan, yaitu gerakan yang dicanangkan Abduh baik dalam politik secara diplomatis, maupun dalam bidang pendidikan dan sosial mengandung unsure perjuangan untuk membela Islam; (4) Nilai-nilai kemerdekaan. Abduh berusaha membuka pemikiran (bebas mengemukakan pemikiran) umat Islam yang selama ini terlalu bergantung dengan pemerintah dan terbelenggu dengan pemikiran sempit yang statis.

Pendapat Muhammad Abduh tersebut di Mesir sendiri mendapat sambutan dari sejumlah tokoh pembaru. Murid-muridnya seperti Muhammad Rasyid Ridha meneruskan gagasan tersebut melalui majalah al-Manar dan Tafsir al-Manar. Kemudian Kasim Amin, Syaikh Thanthawi Jauhari. Demikian pula selanjutnya seperti Farid Wajdi, Husein Haykal, Abbas Mahmud al-Akkad, Ibrahim A. Kadir al-Mazin, Mustafa Abd. Al-Raziq, dan Sa’ad Zaqlul, bapak kemerdekaan Mesir.  Bahkan menurut Harun Nasution, selanjutnya, karangan Muhammad Abduh sendiri banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu, bahasa Turki, dan bahasa Indonesia.

Pemikiran Muhammad Abduh  tentang pendidikan dinilai sebagai awal dari kebangkitan umat Islam di awal abad ke 20. Pemikiran Muhammad Abduh yang disebarluaskan melalui tulisannya di majalah al-Manar dan al-Urwatul Wutsqa kelak menjadi rujukan para tokoh pembaru dalam dunia Islam, hingga di berbagai negara Islam muncul gagasan mendirikan sekolah-sekolah dengan menggunakan kurikulum seperti yang dirintis Abduh.***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: