UMAT ISLAM INDONESIA DAN IKHTIAR PEMBERANTASAN KORUPSI

Oleh: Syamsul Kurniawan

KORUPSI sepertinya sudah mendarah daging di negeri kita ini: Indonesia. Seolah-olah di negeri ini tak ada lagi yang namanya kejujuran. Padahal yang kita mengerti negeri kita ini adalah negara beragama. Bahkan terakhir kita dengar ada dugaan terjadinya korupsi pengadaan Al-Qur‘an yang menjadi kenyataan pahit yang harus diterima kita sebagai bangsa beragama.

Pada dasarnya semua agama melarang adanya korupsi, demikian pula agama Islam. Pandangan dan sikap Islam terhadap korupsi tentu sangat tegas, yaitu haram dan melarang. Banyak argumen mengapa korupsi dilarang keras dalam Islam. Selain karena secara prinsip bertentangan dengan misi sosial Islam yang ingin menegakkan keadilan sosial dan kemaslahatan, korupsi juga dinilai sebagai tindakan pengkhianatan dari amanat yang diterima dan pengrusakan yang serius terhadap bangunan sistem yang akuntabel. Oleh karena itu, baik al- Qur’an, al-Hadits maupun kesepakatan ulama menunjukkan pelarangannya secara tegas.

Dalam al-Qur’an, misalnya, dinyatakan: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (cara berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.”

Dalam ayat yang lain disebutkan: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara batil, kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…”.

Islam adalah agama yang mengajarkan kejujuran dan kebenaran, dan kita mengerti soal itu. Betapa tingginya nilai kejujuran ini, sampai-sampai Nabi Muhammad Saw, sejak sebelum diangkat sebagai rasul, ia dikenal sebagai seorang yang jujur dan amanah. Kejujurannya dikenal oleh seluruh masyarakatnya , sehingga ia digelari dengan al-Amien, artinya orang yang jujur dan sama sekali tidak pernah bohong. Kejujuran menjadi sendi atau pilar dan bahkan pintu masuk menjadi Islam. Pernah pula Nabi Muhammad Saw suatu ketika didatangi oleh seseorang, menanyakan amalan apakah yang seharusnya dilakukan sehingga ia disebut sebagai seorang Islam yang selamat di dunia dan akherat. Maka dijawab oleh Nabi Muhammad Saw, “jangan bohong.” Jawaban itu diulang-ulang beberapa kali, untuk memberikan ketegasannya.

Dalam suatu Hadits juga dinyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: “Allah melaknati penyuap dan penerima suap dalam proses hukum.” Dalam redaksi lain, dinyatakan: “Nabi Muhammad Saw melaknati penyuap, penerima suap, dan perantara dari keduanya.” Kemudian dalam kesempatan yang berbeda, Nabi Muhammad Saw bersabda: “penyuap dan penerima suap itu masuk ke neraka.”

Dalam sejarah, baik para sahabat Nabi, generasi sesudahnya (tabi’in), maupun para ulama periode sesudahnya, semuanya juga bersepakat tanpa khilaf atas keharaman korupsi, baik bagi penyuap, penerima suap maupun perantaranya. Meski ada perbedaan sedikit mengenai kriteria kecenderungan mendekati korupsi sebab implikasi yang ditimbulkannya, tetapi prinsip dasar hukum korupsi adalah haram dan dilarang.

Ini artinya, secara mendasar, Islam memang sangat anti korupsi. Yang dilarang dalam Islam bukan saja perilaku korupnya, melainkan juga pada setiap pihak yang ikut terlibat dalam kerangka terjadinya tindakan korupsi itu. Bahkan kasus manipulasi dan pemerasan juga dilarang secara tegas, dan masuk dalam tindakan korupsi.

Ajaran Islam seperti yang diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW dan juga sahabat-sahabatnya tersebut jika diimplementasikan dalam kehidupan nyata saat ini tentu akan sangat berperan dalam mengikis penyakit korupsi bangsa ini. Kerja ini memang tidak mudah, dan karena itu pula saya merasa perlu adanya “komitmen bersama” umat Islam khususnya untuk melestarikan ajaran agama yang anti korupsi seperti yang dipercontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan juga sahabat-sahabatnya.

Dalam proses pendidikan di sekolah misalnya jika ada seorang siswa yang memeluk agama Islam menanyakan tentang ajaran Islam yang pokok dan harus dilakukan kepada gurunya, maka guru semestinya menjawab bahwa Islam adalah kejujuran, maka jangan berbohong, jangan menyontek, karena tindakan itu adalah tindakan kebohongan. Ini akan menanamkan kepada mereka untuk selalu mengedepankan kejujuran dalam aktivitas mereka, juga sebagai identitas mereka sebagai pemeluk agama.

Demikian pula jika seorang pegawai yang beragama Islam menanyakan hal yang sama kepada ustadznya, maka seharusnya ia menjawab bahwa Islam mengajarkan, kejujuran maka jangan korup. Sama juga jika seorang pedagang menanyakan tentang Islam, maka ustadz atau siapa saja, seyogyanya menjawab bahwa mencari rizki harus memilih yang halal, sebagai seorang Islam jangan bohong dalam melakukan jual beli. Begitu pula, orang-orang yang kebetulan mendapat amanah di mana saja, apakah sebagai guru, dosen, kepala sekolah, rektor, lurah, camat, bupati/wali kota, gubernur, menteri, hakim, jaksa, kepala bank, sampai presiden dan bahkan siapa saja, jika ingin menyandang identitas sebagai seorang penganut Islam, maka seharusnya mereka tidak bohong artinya tidak korup.

Akhirnya, bersikap “tidak korup” seharusnya dijadikan identitas seorang muslim, karena Rasulullah SAW mengajarkannya, dan kita sebagai umat Islam harus melestarikannya. Selain itu umat Islam yang mayoritas di negeri ini juga diharapkan punya andil untuk mengusung gerakan pemberantasan korupsi sampai ke akar-akarnya. Ini penting juga bagi bangsa kita yang sedang dalam proses membangun, Hanya ada satu kata untuk korupsi yaitu: “LAWAN”.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s