PENTINGNYA MENUMBUHKAN BUDAYA LITERASI (Suatu Teladan dari Mendiang GIE)

Oleh: Syamsul Kurniawan

BUDAYA literasi perlu dikembangkan sejak dini. Kebiasaan membaca dan menulis sejak dini akan memberikan pengaruh yang besar terhadap seseorang, baik pada saat itu juga ataupun pada saat dewasa nantinya. Pengalaman Soe Hok Gie setidaknya bisa ikut membenarkan. Soe Hok Gie. Gie yang dilahirkan pada 17 Desember 1942 adalah generasi muda tahun 60-an yang dikenal sebagai aktivis yang radikal dalam berbagai gerakannya. Sebagai sosok aktivis ketika mahasiswa, Gie sejak kecil amat suka membaca ataupun mengarang. Kebiasaan mengarang dari kecilpun sangat kelihatan ketika buku-buku hariannya di kemudian hari diterbitkan (Catatan Seorang Demonstran).

Gie adalah adik dari Arief Budiman (lahir dengan nama Soe Hok Djin), doktor alumnus Universitas Harvard AS, dan dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal sebagai seorang akademisi, sosiolog, pengamat politik dan ketatanegaraan yang kini bermukim di Australia. Kebiasaan membaca ataupun menulis berlangsung hingga SMP bahkan sampai kuliah. Kebiasaannya yang kutu buku tersebut tampaknya memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap sikapnya dalam kehidupan sosial. Oleh karenanya, semakin besar ia semakin berani menghadapi ketidakadilan, termasuk melawan tindakan semena-mena dari seorang guru.

Suatu ketika Gie pernah berdebat dengan guru SMP-nya. Sang gurupun kemudian marah sehingga di dalam catatan hariannya yang kemudian menjadi buku tersebut, Gie menulis, “Guru model begituan, yang tidak tahan dikritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau.” Sikap kritis Gie adalah buah dari bacaannya yang ternyata jauh lebih banyak daripada gurunya ketika itu.

Belajar dari Gie, membaca buku dapat menjadikan seseorang merasa percaya diri. Ini terjadi karena kepalanya terasa seperti telah terisi oleh berbagai pengetahuan. Apalagi jika kita mampu menuangkan hasil bacaan dan pemahaman kita ke dalam sebuah tulisan.

Bahwa budaya lokal kita adalah budaya lisan, bukan budaya tulis, tak bisa kita bantah. Hal itu membuat penyimpanan informasi, gagasan, dan pengetahuan hanya terjadi di dalam “ingatan”. Isi ingatan itulah yang ditransmisikan ke pihak lain yang belum mendapatkannya. Terkadang, kisah-kisah hikmah atau sumber informasi hanya dipegang oleh seorang yang mempunyai posisi khusus dalam masyarakat kita, yang berfungsi sebagai sumber kebenaran.

Ignas Kleden menyebut budaya itu sebagai kelisanan primer (primary orality), di mana masyarakat kala itu belum mengenal baca-tulis. Namun, karena ingatan bersifat terbatas, tidak semua informasi yang dibutuhkan bisa ditransmisikan lisan secara sempurna. Budaya cetak baru memasuki Indonesia sekitar abad ke-20, saat tradisi lisan masyarakat kita masih berakar kuat. Jika dihitung usianya, kebiasaan baca-tulis yang, antara lain, ditandai oleh masuknya budaya cetak masih sangat muda. Budaya cetak telah mendorong kemampuan masyarakat untuk bersinggungan lebih luas dengan apa yang ada di luar kediriannya dan kedirian kolektifnya. Tentu saja itu akan sangat membantu untuk mendapatkan informasi dari luar yang bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki tatanan kehidupan. Itu sekaligus membuktikan betapa baca-tulis merupakan kendaraan menuju perbaikan peradaban. Sayangnya, meski sudah disadari sedemikian pentingnya budaya baca-tulis, toh tingkat kesadaran baca-tulis masyarakat kita masih rendah. Masyarakat kita lebih suka mendapatkan informasi dari media elektronik, terutama televisi.

Kesimpulannya, masyarakat lebih suka mendapat informasi yang “dibacakan”, sehingga penonton hanya berlaku sebagai “pembaca pasif” yang dengan tenang mengunyah dengan renyah segala persepsi yang dikemukakan di televisi. Fenomena itu disebut Ignas Kleden sebagai kelisanan sekunder (secondary orality). Budaya kelisanan sekunder tersebut menggambarkan bahwa kemampuan baca-tulis tidak terlalu dibutuhkan karena sumber informasi lebih bersifat audio-visual.

 

“BELUM” MEMBUDAYA

Budaya baca-tulis belum membudaya, belum pernah benar-benar mendarah daging di Indonesia: bahkan di provinsi saya di Kalimantan Barat. Budaya lisan primer yang belum terkikis oleh hadirnya budaya baca-tulis kini telah tergantikan oleh gempuran budaya lisan baru lewat media elektronik, khususnya televisi. Budaya lisan baru itu mempunyai daya pikat lebih dan “mudah.” Masyarakat kita tampaknya lebih menyukai sajian-sajian sinetron ketimbang baca koran, majalah, atau buku. Apalagi tertarik untuk membiasakan diri untuk menulis.

Padahal buku boleh kita sebut sebagai jendela ilmu pengetahuan. Dari buku kita mampu meyelam keribuan kilometer kedalaman laut. Mengarungi tujuh samudera dunia. Mengangkasa di semesta yang tak pernah terjangkau oleh nalar. Buku-buku layaknya sebuah surga yang menghadirkan begitu banyak celah-celah dunia yang bisa kita intip. Buku adalah sebuah jalan keabadian. Buku mengekalkan penulis hingga beribu tahun. Pada bukulah kita mampu melihat masa lalu. Melihat sejarah peradaban dan menjadi lebih bijak di masa depan.

Ini untuk menegaskan bahwa budaya literasi menjadi satu-satunya jalan untuk mampu menjelajahi ruang dan waktu semesta. Satu-satunya jalan untuk bisa melihat sejarah masa lalu. namun, ketika budaya tak lagi dilestarikan sanggupkah manusia bisa mengintip lagi melalu celah-celah itu.

Jangan sampai tradisi membaca dan menulis menjadi suatu hal yang sangat ekslusif, seperti yang sudah dipaparkan di atas, tergeser oleh media-media elektronik. Jangan sampai konsumsi membaca masyarakat kita tergantikan begitu saja oleh berbagai hiburan televisi. Karena kecenderungan memang sudah mengarah ke hal yang demikian. Durasi televisi on-air 24 jam menyita waktu masyarakat kita, sementara menurut penelitian, waktu membaca tiap rata-rata masyarakat kita sekarang hanya sekitar empat jam/minggu.

Penumbuhan budaya literasi ini tak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun juga, tanggung jawab bersama masyarakat. upaya sosialisasi secara serius dan kontinyu harus terus digalakkan dengan upaya dari berbagai pihak. Upaya pengenalan buku di usia kanak-kanak menjadi salah satu solusi. Selain itu lingkungan yang literate pun harus mampu memberi sugesti bagi anggotanya untuk membudayakan gerakan membaca. Menutup tulisan ini: Mari kita jadikan membaca seperti udara. Tak mampu bernapas tanpanya.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s