PEMIMPIN “IDEAL” VERSI KITA???

JADIKAN deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa,” demikian Soekarno.

Sebagai pembaca, saya tak mampu membayangkan suasana hati presiden pertama kita yang getir dan putus asa dalam kesendiriannya di Wisma Yaso sebelum ajal membebaskannya di pagi yang cerah, pukul 07.07, Minggu, 21 Juni 1970. Ia terpaku oleh kesunyian yang menyakitkan dalam belenggu “tahanan rumah”—selama empat tahun—yang dijatuhkan Orde Baru kepadanya. Kalimat di atas merupakan fragmen dari secarik surat yang ia tulis di usianya yang uzur untuk putri sulungnya, Megawati: “Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian…”.

Dalam kesehatan yang rapuh, dalam derita itu—tubuhnya bengkak dan pucat, bicaranya gemetar, daya ingatnya kabur, ginjalnya kumat dan sementara itu, tak ditangani dokter ahli—ia tak hanya sekedar ingin menularkan penderitaan. Pesannya lebih mirip sebuah pengakuan atas ketidakkekalan kekuasaan seorang penguasa. “Karena kekuasaan yang langgeng,” lanjut beliau, “Hanyalah kekuasaan rakyat dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan YME…”.

Pesan itu tentu tak mudah dilupakan terutama bagi yang mendapatkan pesan: sebuah pesan yang keluar tulus dari orang yang ditanggalkan kekuasaannya, sudah tak bertaut dengan kekuasaan; dari sosok pemimpin yang hendak berpulang. Adakah Soekarno tengah bicara soal keangkuhannya saat berkuasa atau kepongahan pemimpin baru yang menggantikannya? Entahlah. Satu pertanyaan yang masih abu-abu dalam deretan sengkarut labirin sejarah bangsa kita. Tapi setidaknya, bagi penulis, seorang rakyat yang lahir tiga belas tahun usai kepergiannya, Soekarno hendak bicara tentang orang yang duduk di puncak kekuasaan, yang memandang sekitarnya dengan cemas.

Kekuasaan seorang pemimpin ada batasnya—minimal karena dua hal. Yang pertama karena waktu. Kekuasaan yang dipunyai seorang pemimpin tentu bukan kekuasaan tunggal nan absolut yang datang dari Tuhan seperti dalam dongeng Arabian Nights. Ia datang dari prosedur yang disepakati bersama serta dijabat dalam rentang waktu yang dapat dihitung. Oleh karena itu, sebuah “kursi” mengisyaratkan pemilihan umum. Dalam pemilihan umum calon “pemimpin” umumnya jual diri, memamerkan rancangan program—dan dalam kadar tertentu, ia mengobral janji. Si calon berbuat demikian karena tahu bahwa “kursi” adalah sebuah rebutan dan suatu saat, mau tak mau, ia akan dicopot.

Yang kedua, ia naik karena dipilih rakyat. Kekuatannya tak datang dari atas, ia naik lantaran menjumputi satu persatu suara-suara rakyat bawah: kekuatan yang berlandaskan kesadaran untuk selalu merunduk ke bawah. Kemenangan Jokowi-Ahok atas Foke-Nara dalam putaran pertama Pemilukada DKI Jakarta tentu jadi sinyalemen bahwa tidak selamanya seorang yang berkuasa sebelumnya akan memenangkan pemilihan berikutnya. Itu hanya soal kemungkinan. Karena bahkan hasil survey yang kerap diagung-agungkan pada titik inilah sebuah kekuasaan tak lebih dari konotasi angkuh dari istilah yang lebih tepat disebut “amanah”—yang menuntut laporan pertanggungjawaban. Dan terbukti pada akhirnya rakyat yang juga menentukan.

SEPERTI APA PEMIMPIN IDEAL VERSI KITA?

Dalam bahasa Indonesia “pemimpin” sering kita sebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Sedangkan istilah “memimpin” digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara. Istilah pemimpin, kemimpinan, dan memimpin ini, pada mulanya berasal dari kata dasar yang sama “pimpin”. Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda.

Maka pemimpin adalah suatu lakon/ peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Istilah Kepemimpinan dalam konteks ini pada dasarnya berhubungan dengan keterampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang.

Pada era pasar yang kian asosial, kita layak bermimpi hadirnya pemimpin yang tidak hanya sekedar punya keterampilan dan kecakapan memimpin tapi juga pro rakyat. Yang punya karakter seperti Soekarno, berhati bersih seperti Hatta, cerdas dan cekatan seperti Syahrir, dan bersahaja seperti Natsir. Tegasnya, kita butuh pemimpin yang bukan cuma sanggup berkata-kata, namun juga siap mendengar dan memberi teladan hidup pada rakyat. Bukan sekadar soal pencitraan diri, atau cuma obral janji.

Maka teramat bodoh jika para pemimpin kita yang kita pilih, hanya sanggup berperan seperti pemain drama, yang tampak baik dan loyal pada rakyat hanya ketika ia berkampanye. Pemimpin ideal yang diingini rakyat pemilih (umumnya kaum marjinal) tentulah pemimpin yang tak sekedar obral janji. Pemimpin, yang betul-betul peduli pada rakyat, bersedia berbuat lebih untuk rakyat yang ia pimpin. Dengan pemimpin seperti ini masyarakat tentu lebih siap bersama-sama berperan serta dalam setiap tindakan nyata.

Menjelang Pemilukada Kalimantan Barat yang tak lama lagi, tentu kita (masyarakat) Kalbar juga layak atau boleh bermimpi akan hadirnya sepasang tokoh yang betul-betul bisa memajukan Kalimantan Barat, dan bukan hanya sekedar obral janji. Pemimpin yang bisa mengapresiasi suara rakyat Kalimantan Barat. Apakah ini tipe pemimpin seperti yang saya uraikan di atas adalah sama dengan tipe ideal versi masyarakat Kalbar secara umum? Semuanya kembali pada pilihan kita masing-masing, sebagai masyarakat yang mengaku sebagai masyarakat (Kalbar) yang punya hak suara.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s