KELAS TANPA KEKERASAN

Oleh: Syamsul Kurniawan, Pendidik di STAIN Pontianak dan Unmuh Pontianak, Staff Program Pascasarjana STAIN Pontianak.

 

Ada yang beranggapan bahwa mutu pendidikan di Indonesia rendah disebabkan oleh negara kita yang masih ditimpa krisis ekonomi berkepanjangan. Sebagian yang lain berpendapat mutu pendidikan di Indonesia rendah disebabkan pemerintah sering gonta-ganti kurikulum. Dan yang lain mengatakan, Indonesia begitu luas, sehingga pendidikan tidak merata. Semua pendapat ini benar. Hanya saja secara sederhana, mutu pendidikan menurut saya juga dapat ditentukan di dalam kelas.

Kelas menjadi lingkungan yang amat menentukan baik-buruknya mutu pendidikan di sekolah secara keseluruhan. Pertama dan utama pendidikan itu dilihat dari kelas. Kalaulah dalam kelas itu kegiatan belajar mengajar (KBM) baik, sehingga anak merasa betah dan nyaman, asyik dan dapat menghasilkan anak yang cerdas dan berbakat, maka barulah guru itu dapat dikatakan sukses dalam mendidik. Dari kelas yang baik, maka akan melahirkan mutu pendidikan yang baik pula.

 

IRONI

Sayangnya sekolah yang kelas-kelasnya nyaman, tenang, dan asyik itu tak banyak. Bahkan banyak sekolah-sekolah saat ini justru memberikan beban berat yang menghimpit  siswa, karena jam pelajaran di kelas yang membosankan. Akibatnya, ketika siswa berada di dalam kelas, mereka tidak betah, segera ingin mendengar bel istirahat dan keluar kelas secepatnya. Dan jika ada pengumuman pulang lebih awal atau libur, mereka bersorak-sorai, gembiranya bukan kepalang, seperti baru saja lepas dari beban psikologis yang berat.

Demikianlah kekerasan sedang terjadi di kelas-kelas kita, bukan dalam artian kekerasan fisik, tapi kekerasan non fisik. Ketidakpahaman orangtua dan guru tentang jenis kekerasan non fisik membuat mereka sering melakukannya terutama pada proses pola asuh. Walaupun tidak ada data pasti mengenai hal ini, namun dapat dilihat, berapa banyak kita melihat orang dewasa di sekitar kita melakukan tindakan dengan nada mengancam, membentak, berteriak, memaki dan lain-lain.

Contoh lainnya adalah pemberian tugas yang berlebihan pada siswa, memaksa para siswa berkompetisi secara berlebihan, memberikan target prestasi yang terlalu tinggi dan tak jarang memaksa siswa-siswa untuk menguasai mata pelajaran tertentu di luar minatnya, hingga mematikan kreativitas mereka. Otak siswa dijejali dengan berbagai pengetahuan sekehendak hati sang guru atau kurikulum, dengan alasan supaya siswa memperoleh nilai tinggi dan lulus ujian nasional. Sementara itu siswa-siswa tak diberi kesempatan berpikir, mencerna, bereksplorasi apalagi berkreasi.

 

BAKAT SISWA YANG BERBEDA-BEDA

Dapat dimafhumi, siswa-siswa semuanya pada dasarnya mempunyai bakat, potensi atau kemampuan, dan minat yang berbeda-beda antara satu dan lainnya. Oleh karenanya mereka tidak dapat dipaksa menjadi “jelmaan” seperti yang diinginkan oleh gurunya bahkan oleh orangtuanya.

Dengan pertimbangan masa depan, seorang guru bahkan orang tua boleh-boleh saja punya obsesi pribadi yang dibebankan di pundak siswa-siswa atau anak-anak mereka. Namun harusnya pilihan tetap ada pada pundak siswa-siswa. Seberapapun paham dan tahunya guru-guru terhadap mereka, tentu saja mereka jauh lebih tahu tentang keadaan mereka, potensi dan kemampuan mereka sendiri.

Pendidikan tentu saja bukanlah seperti mengisi ember yang kosong. Kepala siswa-siswa bukanlah seperti ember kosong yang boleh seenaknya kita isi apa saja. Dengan kata lain, ketika kita mendidik seorang siswa, kita harus menyadari bahwa seorang siswa sudah membawa “bekal” mereka masing-masing di dalam pikiran mereka. Mereka sudah memiliki pandangan dan latar belakang pengetahuan dari pengalaman hidup mereka sebelumnya, dan ini harus dihargai guru. Tidak boleh sembarangan mengisi kepala para siswa.

Terkait dengan kelas tanpa kekerasan, guru-guru perlu merenungkan apa yang disampaikan Dorothy Law Nolte, seorang pendidik dan ahli konseling keluarga sebagai berikut:

 

Jika anak dibesarkan dengan celaan,

maka ia belajar memaki. 

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,

maka ia belajar berkelahi. 

Jika anak dibesarkan dengan hinaan,

maka ia belajar menyesali diri. 

Jika anak dibesarkan dengan dorongan,

maka ia belajar percaya diri. 

Jika anak dibesarkan dengan toleransi,

maka ia belajar menaruh kepercayaan. 

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan,

maka ia belajar berlaku adil. 

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,

maka ia menemukan cinta dalam kehidupan.

Begitulah anak selalu belajar dalam kehidupannya.

 

Maka pendidikan yang benar adalah yang bisa memanfaatkan “bekal” siswa-siswa dengan baik sehingga semakin berkembang maksimal, seperti api yang dinyalakan kembali. Di suatu “kelas tanpa kekerasan”, seorang siswa akan diarahkan menjadi dirinya sendiri dan dimotivasi untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s