AGAR KEGIATAN MENULIS TAK TERASA SULIT

Disampaikan dalam Basic Training (LK I) HMI Komisariat Syariah bertempat di Alianyang Center, Jalan A. Yani II, Kabupaten Kubu Raya Minggu, 14 Oktober 2012.

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

“BAGAIMANA sih untuk memulai menulis, Rasanya kok sulit ya?.” Demikian tanya seseorang kepada saya dalam suatu seminar. Dulu ketika masih jaman mesin ketik, separuh rim kertas habis disobek-sobek. Sekarang jaman komputer, tidak menyobek kertas tapi tidak satu file pun yang jadi atau dapat di-saving. Rasanya tulisan yang kita buat masih sangat terlalu jelek untuk dibaca orang lain.

Kasus yang dialami peserta seminar di atas pasti terjadi pula pada Anda atau siapapun yang menjadi penulis pemula. Persoalan paling mendasar disebabkan karena ketidakpercayaan kepada diri sendiri bahwa tulisan yang kita buat sudah cukup bagus. Lantaran tidak bagus maka malu kalau orang lain membaca. Daripada malu lebih baik dibatalkan, disobek, tidak disimpan dalam bentuk file. Langkah tersebut secara bawah sadar terasa menyelamatkan harga diri dan wibawa kita sendiri. Tapi proses keterampilan menulis tidak tercapai.

Ini kan aneh, mau belajar menulis tapi takut kalau tulisan kita jelek. Dan lucunya ketika tulisan jelek malu dibaca orang. Apakah kita lupa dulu ketika belajar berjalan sering terjatuh kemudian menangis?. Apakah kita malu saat itu. Tidak kan? Buktinya kita bangun lagi dan bangun lagi walaupun dengkul kita berlumuran darah dan tambal-tambalan kapas dan obat merah. Waktu kita belajar sepeda terus terjatuh, apakah kita juga malu? Ternyata tidak, malahan diulang kembali dan diulangi kembali. Sampai pada suatu ketika setimbangan mulai stabil, jalanlah sepeda roda dua tersebut. Lupa deh kepada dengkul yang luka-luka. Semuanya lunas terbayar ketika kita bisa menaiki sepeda tadi.

Demikian halnya dengan menulis. Untuk dapat menulis maka langsung saja menulis. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk memulai. Jika kemauan belum muncul, padahal tuntutan menghasilkan karya tulis terus menghantui kita, kita harus memotivasi diri sendiri.

Bagaimana cara memotivasi diri sendiri? Ya, tergantung diri sendiri, tetapi keinginan-keinginan tertentu sering manjur untuk maksud itu. Misalnya, karena ingin cepat selesai kuliah, namanya dikenal orang (terkenal), pendapatnya diketahui orang, membuat tulisan karena masalah seperti itu belum ditulis orang, menanggapi tulisan, pendapat, atau mereaksi suatu keadaan, menambah penghasilan, dll.

Lazimnya, orang mempunyai kemauan dan termotivasi karena memiliki pengetahuan dan kemampuan. Maka pengetahuan dan kemampuan adalah syarat berikutnya untuk menjadi penulis Tetapi, jika kita telah mempunyai kemauan dan motivasi, pengetahuan dan kemampuan lebih mudah untuk dikembangkan Pengetahuan dan kemampuan berkaitan dengan isi tulisan, apa yang diuraikan dalam karyatulis. Ia juga berkaitan dengan cara dan tatacara mengungkapkannya.

Yang terakhir itu berkaitan dengan kemampuan membahasakan apa yang ingin diungkapkan dan format penulisan. Jadi, pada intinya, untuk menjadi penulis atau menghasilkan karya tulis orang harus memiliki kemauan, motivasi, pengetahuan, dan kemampuan.

***

Bagi penulis pemula, topik sebaiknya dicari yang sesuai dengan bidang karena masalah itu yang paling dikuasai. Untuk tujuan itu, banyaklah membaca baik itu: jurnal, laporan penelitian, buku, makalah, akses internet yang berkaitan dengan topik yang sedang ingin kita tulis. Tentu saja, “penulis yang baik pasti sekaligus pembaca yang rajin.” Cermati bagaimana isi tulisan-tulisan itu: gagasan, pengembangan dan pengorganisasian gagasan, bahasa, dll. Dari kegiatan-kegiatan itu lazimnya akan muncul “ide” di benak kita.

Selain itu, penting juga mencermati pola pikir pengarang lain. Cermati dan ikuti bagaimana cara: (1) pengembangan gagasan. (2) pengembangan alinea. (3) perujukan acuan. (4) pengarang yang dirujuk. (5) peramuan berbagai gagasan dari berbagai sumber . (6) sikap pengarang. (7) gaya tulisan dan ejaan, dan sebagainya.

Tapi harus diperhatikan bahwa “Aktivitas menulis tidak cukup hanya berbekal teori walau pengetahuan teoretis juga penting”. Untuk dapat menulis, kita harus benar-benar langsung praktik menulis. Seperti belajar berenang: untuk dapat berenang kita harus betul-betul praktik berenang dengan resiko tenggelam

Maka sekali lagi seperti yang sudah saya uraikan, menulislah apa saja: apa yang diminati, apa yang ada di pikiran, apa yang menantang, tanpa merasa takut salah. Bentuk tulisan bisa jadi masih berwujud coretan-coretan ekspresif, tidak karuan, tidak saling terkait, Itu tidak masalah, sebab substansinya adalah menulis-kan apa saja, gagasan dan ide-ide atau pendapat kita. Kemudian cobalah kembangkan menjadi sebuah tulisan yang utuh dan enak dibaca.

Jika bentuk tulisan kita adalah karya tulis ilmiah, maka lazimnya kita perlu menyertakan banyak rujukan: dari jurnal atau teks-teks yang lain. Namun yang harus dijadikan catatan: “teks yang dirujuk harus benar-benar dibaca (tidak sekadar untuk ‘sok-sokan)”. Cara merujuk harus tepat dan konsisten sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Rujukan yang lazim biasanya mencakup: nama akhir pengarang, tahun, dan halaman. Contoh: Syamsul Kurniawan (2011: 75). Jika buku yang dikutip dan selanjutnya dimuat di daftar pustaka adalah: Kurniawan, Syamsul, 2011. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Yogyakarta: Arruzz Media.

***

Sebagai penutup, kegiatan menulis itu sebenarnya mudah (tidak terasa sulit) dilakukan jika kita “mau” melakukannya. Apalagi mahasiswa jelas mempunyai kepentingan dan tanggungjawab moral untuk menulis, misalnya untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dosen yang umumnya berbentuk makalah. Jadi, mengapa kita tidak mau dan mampu memotivasi diri kita sendiri untuk menulis dan menulis. Mulai sekarang juga diputuskan untuk segera menulis, topik apa pun bisa ditulis, tinggal kita pandai-pandai menemukan sudut pandang.

Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktekkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis namun tidak pernah melakukannya maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya”. Demikian tulis Stephen King, seorang penulis Amerika yang terkenal.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s