BANDINGKAN: SEKOLAH STANDAR INTERNASIONAL DAN SEKOLAH RAKYAT!

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

TUNTUTAN globalisasi memaksa banyak sekolah untuk terus-menerus berbenah diri, dan muncullah berbagai rupa-rupa jenis sekolah. Di antara yang biasa kita dengar adalah kemunculan sekolah standar internasional yang muncul dengan wajah yang lebih anggun di masyarakat dibandingkan dengan sekolah rakyat. Kenapa disebut “lebih anggun”?. Jika dibandingkan dengan sekolah yang dienyam sebagian rakyat (atau kita sebutlah di sini sekolah rakyat), agaknya semua kita sepakat jikalau sekolah berstandar internasional umumnya mempunyai keunggulan dari aspek tercukupinya sarana dan prasarana yang baik, bagi peserta didik, mempunyai laboratorium komputer yang lengkap, laboratorium bahasa yang memadai, memiliki fasilitas yang serba mewah, dan mengajarkan bahasa asing sebagai salah satu muatan lokal.

Minat sebagian orangtua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah berstandar internasional membuat setiap daerah berlomba mewujudkan satu satuan pendidikan sebagai sekolah internasional, menjadikan daerah mati-matian membangun sarana dan prasarana sekolah dengan peralatan canggih, agar memenuhi standar internasional. Tapi ini menjadi ambigu ketika nampak jurang yang amat lebar antara sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah berstandar internasional yang identik dengan “mahal” dengan sekolah yang dienyam sebagian besar masyarakat kita (yang kelas menengah ke bawah).

Bagaimana dengan kualitas lulusannya? Apakah sekolah berstandar internasional mesti punya kualitas pendidikan bagus jika dibandingkan dengan sekolah rakyat (yang biasanya dipilih oleh kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah), sehingga lulusan sekolah berstandar internasional lebih siap bersaing jika dibandingkan dengan sekolah rakyat biasa?

Penulis masih percaya bahwa kualitas lulusan memang amat dipengaruhi oleh faktor ketercukupan sarana dan prasarana belajar mengajar yang baik, di samping itu faktor guru juga amat menentukan kualitas pendidikan suatu sekolah. Dua faktor ini amat penting mengingat, lingkungan fisik dan sosial amat mempengaruhi kesuksesan dalam proses belajar mengajar. Karena itulah, penulis kira sekolah berstandar internasional mempunyai peluang lebih besar mencetak anak-anak didik dengan kualitas bagus dibandingkan dengan sekolah rakyat dengan guru-guru yang punya kualitas biasa-biasa saja, dengan fasilitas yang serba terbatas.

Karena itu, dasarnya penulis kurang setuju jika munculnya sekolah berstandar internasional, tidak diimbangi oleh pemerintah dengan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah rakyat. Pendapat penulis bahwa pengembangan pendidikan di daerah di era otonomi, di masa globalisasi, harusnya mampu mendorong pemenuhan hak meraih pendidikan bagi semua anak usia sekolah dengan kualitas pendidikan yang sama. Semua sekolah-sekolah harus merupakan pusat belajar formal yang berfasilitas sama.  Semua harus memiliki fasilitas dasar, ruang kelas dengan perabot inti yang sama (kursi, meja), laboratorium (bahasa, komputer, sains), aula, ground/lapangan olahraga, kamar mandi siswa dan siswi, ruang guru, kamar mandi guru, ruang makan/cafetaria, perpustakaan, fasilitas audio visual, dan alat musik. Dengan fasilitas memadai, harusnya semua sekolah bisa mencetak lulusan-lulusan yang siap bersaing tidak hanya dalam ruang lingkup lokal tapi juga global.

Sangat janggal jika di sebuah daerah, di sebuah sekolah berstandar internasional anak-anak belajar di ruang ber-AC dengan fasilitas TV dan in-focus, akses internet secara leluasa, sementara di sekolah yang lain anak-anak duduk belajar di kelas yang atapnya bocor di sana-sini.

Pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh pemerintah daerah, apakah sudah menstandarkan fasilitas satuan pendidikan di daerahnya? Jika belum, mari bergerak menuju tataran ini, dengan mengupayakan segala potensi, sehingga ke depan tak ada lagi istilah sekolah rakyat atau sekolah berstandar internasional!. Semua sekolah (termasuk sekolah rakyat kelas menengah ke bawah) harus tercukupi sarana dan prasarananya, sehingga bisa “berstandar” internasional.

Bukankah memang demikian harusnya?. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s