9 May 2013

“Membaca” Kartini dan Sarinah

Posted in Uncategorized at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

ImageKARTINI dan Sarinah adalah dua perempuan yang namanya diangkat oleh Soekarno dalam sejarah Indonesia. Yang disebut pertama adalah anak seorang bangsawan, sementara yang kedua disebut adalah seorang pembantu rumah tangga.

Raden Ajeng Kartini (demikian nama lengkap dari Kartini) seperti yang diceritakan dalam buku-buku sejarah mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi perempuan sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut.

Kartini terbukti telah berhasil mewujudkan impiannya untuk menyuarakan emansipasi bagi seluruh perempuan yang ada di Indonesia dan dampaknya dapat dirasakan sampai saat ini. Kartini memang tidak terjun langsung menghadapi penjajah di medan perang namun pada zaman itu, beliau merupakan perempuan yang berani mendobrak tradisi yang telah membelenggu perempuan dari kebodohan dan tidak mempunyai kebebasan dalam mendapatkan haknya yaitu pendidikan. Apa yang telah diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini ternyata memiliki pengaruh besar yang positif dalam menginspirasi seluruh wanita di Indonesia.

Kecuali Kartini, seorang pembantu Sarinah ternyata juga amat dekat dengan sejarah Indonesia. Sama seperti Kartini yang tidak terjun langsung menghadapi penjajah di medan perang, Sarinah juga demikian. Namun seorang Sarinah amat mempengaruhi pemikiran-pemikiran kebangsaan Presiden RI pertama Indonesia, yaitu Soekarno. Tidak hanya itu, bahkan Sarinah yang menjadi pengasuh Seokarno semasa kecil, wanita desa ini, mengajari Soekarno tentang cinta sesama, cinta kepada rakyat, dan bagaimana Soekarno mesti bersikap agar rakyatpun bisa mencintainya.

Bahkan untuk mengenang Sarinah, pembantunya, secara khusus Soekarno menulis suatu buku berjudul Sarinah, yang dikerjakan dan diterbitkan oleh Panitia Penerbitkan Buku-Buku Karangan Presiden Soekarno.

Salah satu hal yang diajarkan Sarinah pada Bung Karno pada masa kecil adalah “Karno hal pertama kamu harus mencintai ibumu, lalu cintailah rakyat jelata serta  cintai manusia pada umumnya”. Inilah yang kemudian amat mempengaruhi pemikiran kebangsaan Soekarno kelak di kemudian hari, terutama dalam mengantarkan Indonesia merdeka.

 

Memetik Hikmah

Dari cerita singkat tentang Kartini dan Sarinah di atas, perempuan Indonesia mestinya dapat memetik hikmah. Kartini dan Sarinah tentunya dapat menjadi teladan bagi perempuan-perempuan Indonesia hari ini, yang mana perempuan-perempuan Indonesia seyogyanya dapat berbuat banyak bagi bangsa ini, dan bukan sebaliknya menjadi “perempuan mandul”, dalam artian tidak dapat mengandung dan melahirkan “pembaruan” atau tidak mampu berkontribusi banyak bagi bangsa ini.

Inilah yang penulis maksudkan bahwa perempuan-perempuan Indonesia semestinya dapat berkarya nyata untuk bangsa ini. Hari ini tidak sedikit perempuan yang telah dapat menjadi anggota dewan, menjadi bupati atau walikota pada sejumlah tempat di tanah air, dan sebagainya, yang semestinya dapat mengabdikan diri dan pemikirannya untuk rakyat atau bangsa. Bukan sebaliknya justru menjadi pemangsa rakyat-rakyat yang telah mempercayainya, sehingga terpilih menjadi anggota dewan, menjadi bupati atau walikota.

Deretan perempuan yang menghiasi belantara media karena tersangkut aneka skandal korupsi dapat dijadikan pelajaran, seperti Wa Ode Nurhayati, Nunun Nurbaeti, Miranda Swaray Goeltom, Mindo Rosalina Manulang, dan figur yang paling menjadi pusat perhatian adalah Angelina Sondakh. Sosok terakhir ini makin populer karena telah ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka dalam kasus korupsi Wisma Atlet SEA Games. Kasus ini membuka mata kita, bahwa perempuan hari ini ternyata mampu juga korup. Tentu ini bukan hal yang positif dari keadaan sebagian kaum perempuan di negeri ini.

Perempuan yang selama ini diidentikkan dengan figur yang penuh kelembutan dan pasti tidak senang bertindak korup pada kenyataannya doyan juga mengambil harta yang bukan menjadi haknya. Gaya hidup beberapa nama perempuan yang terlibat dalam sejumlah tindakan korupsi pun diekspos secara kolosal. Mereka digambarkan suka mengoleksi tas berharga miliaran rupiah, berdandan menor dan glamor, menyimpan benda-benda bercita rasa artistik, serta seterusnya. Jauh sekali dari kehidupan sederhana yang dialami oleh Kartini (yang bangsawan) bahkan Sarinah (yang memang pembantu).

Karena itu momentum peringatan hari Kartini, 21 April 2013 mesti menjadi “cambuk” bagi sebagian perempuan. Jangan momentum ini justru membuat perempuan Indonesia bernostal-GILA (bukan bernostagia), dan sibuk dengan urusan seremonial peringatan hari Kartini, tapi bagaimana kaum perempuan memang dapat berperan penting bagi kemajuan dan pembangunan.

Jika bangsa ini ingin maju pesat, perempuan-perempuan Indonesia bersama laki-laki Indonesia harus produktif. Mendiang Presiden RI  Soekarno pernah berujar, “Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.”

Semoga keadaan bangsa kita lebih baik lagi ke depannya. Semoga.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: