BENANG KUSUT PENDIDIKAN JIHAD

ImageOleh: Syamsul Kurniawan

Alumni S2 Pemikiran Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini Mengajar Filsafat Pendidikan Islam di STAIN Pontianak.

JIHAD merupakan bagian yang integral dalam wacana atau diskursus keislaman, sejak masa kedatangan Islam hingga era kontemporer sekarang ini. Pada aras ini, jihad menjadi sebagai suatu konsep yang seringkali diperdebatkan dalam media massa dan kajian akademik, baik di Timur dan di Barat.

Bahkan ketika Densus 88 menyergap kelompok tersangka teroris di suatu rumah kontrakan, Cigondewah Hilir di Bandung, tanggal 8 Mei kemarin, lagi-lagi niatan “berjihad” menjadi isu yang diduga melatarbelakangi munculnya kelompok tersangka teroris tersebut. Ironi memang, apalagi ketika perbincangan tentang konsep jihad rupanya telah mengalami pergeseran dan perubahan sesuai dengan konteks dan lingkungan masing-masing di mana dan oleh siapa konsep jihad itu dibangun. Di Barat sendiri, jihad menjadi stereotif, yang mana jihad fi sabilillah seringkali diartikan sebagai perang suci (holy war) untuk menyebarkan agama Islam.

Jika kita telusuri istilah “the holy war”, alih-alih menyebut berasal dari sejarah Eropa sebagai perang dengan alasan-alasan keagamaan (Rahardjo, 1996; Schimmel, 1992). Ia mengandung konotasi negatif, karena seakan-akan perbuatan itu dilakukan oleh orang-orang fanatik yang ingin memaksakan pandangan dunianya kepada orang lain (Sardar dan Merryl Wyn Davies, 1998). Pandangan Barat tersebut memberi label kepada Islam sebagai agama yang meyakini cara-cara kekerasan dan bergerak dalam kehidupan dengan landasan kekejaman (Fadhullah, 1995). Polling di CNN yang pernah dipublikasikan pada 13 Juni 2002 agaknya bisa membenarkan pendapat demikian, suara terbanyak di Barat menginginkan perubahan paradigm dari war against terrorism menjadi war against Islamism. Bagi Barat, Islam adalah agama teroris, identik dengan kekerasan. Sungguh ini tidaklah benar!.

Sayangnya sebagian umat Islam ikut membenarkan dugaan miring tersebut, dan memilih “terjebak” mengartikan jihad ini dengan satu makna: “perjuangan senjata dengan alternatif hidup mulia atau mati syahid.” Sementara yang lain tidak begitu setuju, sehingga berpendapat bahwa yang disebut jihad akbar adalah “perjuangan melawan hawa nafsu.”

 

 “Makna Jihad” adalah Produk Pendidikan

Jika kita setuju bahwa manusia dan pemikirannya adalah produk dari suatu proses pendidikan yang ia dapat, maka pemaknaan jihad yang menyempit sebatas “perjuangan senjata dengan alternatif hidup mulia atau mati syahid” juga diduga kuat bersumber dari proses Pemaknaan-pemaknaan tentang jihad di antaranya tak bisa dilepaskan bagaimana makna jihad tersebut disosialisasikan oleh guru-guru agama Islam di lembaga-lembaga pendidikan dengan persepsinya masing-masing kepada peserta didik mereka: apakah makna jihad identik dengan perang ataukah bisa mempunyai makna lain.

Muhammad Chirzin (2004) menilai bahwa penerjemahan jihad menjadi perang suci yang dikombinasikan dengan pandangan Barat tentang Islam sebagai “agama pedang” telah mereduksi makna batini dan spiritual dari jihad, serta mengubah konotasinya. Jihad lebih luas cakupannya daripada perang saja. Ia juga mencakup pengertian berjuang menghadapi nafsu dan menghadapi syaitan.

Karena itulah seorang guru agama Islam punya tanggung jawab dalam meluruskan kesalahpahaman tentang jihad, supaya pemaknaan jihad tidak lagi terus-menerus menjadi “benang kusut” yang terlihat amat mengganggu. Jangan sampai murid-murid kita justru mengambil kesimpulan yang salah tentang jihad.

Seperti kita ketahui, kata jihad akhir-akhir ini seolah-olah menjadi momok, karena sering diartikan tindak kekerasan, pembantaian, perang, bom bunuh diri atau semua yang “berbau darah”. Padahal tidak seharusnya demikian.

Benang Kusut Jihad Perlu Diurai

Peperangan/ konflik SARA (antar agama khususnya), pembakaran rumah ibadah, bom bunuh diri  yang diklaim sebagai gerakan jihad tentu saja perlu untuk dipahami secara baik dan lebih hati-hati.

Jika menyimak al-Quran, kata jihad seringkali dirangkaikan dengan lafal fi sabilillah (di jalan Allah), misalnya dalam QS Al Maidah (05): 54; QS Al Anfal (08): 72; QS At Taubah (09): 41,81. Hal itu mengisyaratkan, bahwa tiada jihad yang diridhai Allah kecuali jihad pada jalan-Nya.

Abdullah Yusuf Ali (1993) menulis dalam tafsirnya, bahwa jihad berarti perjuangan di jalan Allah; suatu bentuk pengurbanan diri. Intinya terdapat dalam dua hal: Pertama, Iman yang sungguh-sungguh dan ikhlas yang tujuannya hanya karena Allah, sehingga segala kepentingan pribadi atau motif-motif duniawi dianggap remeh dan tidak berbekas; Kedua, Kegiatan yang tidak kenal lelah, termasuk pengurbanan (kalau diperlukan) nyawa, pribadi atau harta benda, dalam mengabdi kepada Allah SWT.

Dengan demikian perjuangan yang hanya “asal hantam”, jelas berlawanan dengan jiwa jihad yang sebenarnya. Sementara pena seorang sarjana atau lisan seorang mubaligh yang sungguh-sungguh ataupun harta kekayaan seorang penyumbang mungkin merupakan bentuk jihad yang sangat berharga, tidak dianggap sama sekali. Muhammad Rasyid Ridha dalam tafsirnya menyatakan, bahwa sabilillah adalah jalan yang mengantarkan kepada keridhaan Allah yang dengannya agama dipelihara dan keadaan umat membaik (Lihat Muhammad Rasyid Ridha dalam Muhammad Chirzin, 2004).

Akhirnya, di sinilah peran guru agama Islam diperlukan terutama dalam mengajarkan jihad tidak sebatas pada “berperang saja”. Jihad yang perlu disosialisasikan adalah jihad sebagai usaha yang sungguh-sungguh untuk berjuang membela agama, memperbaiki keadaan umat dengan segenap kemampuan yang kita miliki, dengan jiwa dan raga, harta, pikiran, kekuasaan, pengaruh, nasehat (kata-kata), sampai yang terlemah dengan hati. Bukan jihad dalam pengertian yang “bar-bar” sebagai perjuangan “asal hantam” saja!.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s