BERCERMIN DARI KEPEMIMPINAN CAK NUR

Oleh: Syamsul Kurniawan

TIDAK ada seorangpun yang sempurna. “No body’s perfect.” Begitulah kira-kira ungkapan yang sering digunakan orang untuk mengatakan bahwa tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini, bahkan termasuk seorang pemimpin.

Seorang pemimpin yang dapat dikatakan idealpun mungkin masih mempunyai kekurangan. Walaupun tidak ada pemimpin yang sempurna, sekurang-kurangnya ada tipe-tipe ideal bagaimana sebenarnya menjadi pemimpin, seorang pemimpin yang sejati. Tipe ideal seorang cendekiawan muslim Nurcholish Madjid – yang akrab dipanggil Cak Nur – setidaknya dapat menjadi “cermin”. Ibarat cermin, tempat kita berkaca untuk mengukur apa kekurangan yang perlu kita perbaiki dalam diri kita, dan diharapkan dapat memperbaiki jalan kepemimpinan kita di kemudian hari.

Ketika kita menjadikan seorang tokoh sebagai cermin, kita dapat bercermin dari kekurangan dan kelebihannya sebagai seorang tokoh sekaligus, dengan mengambil aspek positif dari cermin kepemimpinannya dan sebaliknya tidak mengikuti hal-hal yang kurang dari cermin kepemimpinannya. Dalam tulisan ini saya ingin mengajak untuk bercermin pada beberapa aspek saja dari sosok Cak Nur sebagai cendekiawan dan pemimpin (setidaknya sebagai pembesar HMI) yang populis dan berwawasan luas ke depan – setidaknya itulah tema yang diberikan panitia kepada saya beberapa waktu lalu untuk saya diskusikan sekarang.

Ya… pendapat saya Cak Nur dalam hal ini bolehlah merepresentasikan beberapa ciri atau tipe kepemimpian yang layak ditiru “sebagai seorang intelektual”, “seorang yang idealis”, “organisatoris”, dan sebagai “penulis” yang pada akhirnya juga banyak ditulis. Itu yang penting kita ingat.

Sebagai seorang cendekiawan muslim bangsa ini, tentu saja Cak Nur dapat kita sebut juga sebagai seorang intelektual. Menurut Coser (1965), intelektual adalah orang-orang berilmu yang tidak pernah merasa puas menerima kenyataan sebagaimana adanya. Mereka selalu berpikir soal alternatif terbaik dari segala hal yang oleh masyarakat sudah dianggap baik. Ini dipertegas oleh Shils (1972) yang memandang kaum intelektual selalu mencari kebenaran yang batasannya tidak berujung. Karena itu, sikap intelektual biasanya ditunjukkan oleh pemikir-pemikir yang mempunyai kemampuan menganalisa masalah tertentu atau yang potensial di bidangnya. Intelektual juga sebagai change maker, yaitu orang yang membuat perubahan. Maka ciri-ciri intelektual: Pertama, Memiliki ilmu pengetahuan dan ilmu agama yang mampu diteorisasikan dan direalisasikan di tengah masyarakat; Kedua, Dapat berbicara dengan bahasa kaumnya dan mampu menyesuaikan dengan lingkungan; dan Ketiga, memiliki tanggung jawab sosial untuk mengubah masyarakat yang statis menjadi dinamis. Sebagai seorang cendekiawan muslim, tentu saja Cak Nur mempunyai ciri-ciri intelektual seperti ini.

Sebagai seorang pluralis yang konsisten dengan ide-ide tentang pentingnya toleransi antar umat beragama, Cak Nur tak peduli dengan prasangka negatif bahkan cemoohan sebagain kecil orang-orang – yang tak sependapat dengan ide pluralisme agama – ia amat idealis dengan ide-ide itu bahkan hingga akhir hayatnya. Idealismenya ini karena ia sadar betapa besarnya potensi konflik yang mungkin muncul tanpa adanya kesadaran bangsa ini tentang kehidupan plural (baca: multikultural) di Indonesia. Dalam pandangan Cak Nur bahwa kerja-kerja kemanusiaan seharusnya tidak terhambat oleh sekat-sekat perbedaan etnis, agama, dan lain-lain bahkan apalagi karena sentimen etnis atau agama. Hanya karena berbeda agama, kita enggan membantu, kita enggan bekerjasama, kita enggan berbuat baik, dan lain-lain tentu bukan suatu hal yang positif menurut Cak Nur. Ini yang diinginkan oleh mendiang Cak Nur, dan mungkin perlu diteladani oleh kita-kita.

Sebagai seorang organisatoris, kiprah dan peran Cak Nur dalam ikut membesarkan Himpunan Mahasiswa Islam, tentu tak terbantahkan. Bahkan dapat dikatakan nama besarnya sebagai seorang cendekiawan juga amat terkait erat dengan peran besarnya dalam membesarkan organisasi HMI semasa hidupnya. Sebagai seorang yang organisatoris, Cak Nur tidak hanya sebagai man of idea tapi juga  man of action. Man of idea dibedakan dengan man of action. Yang pertama disandangkan kepada seseorang yang menonjol dalam ide, gagasan dan pemikiran. Sedangkan yang kedua biasanya disandangkan kepada seseorang yang menonjol pada aksi-aksi yang lebih konkret. Namun demikian pembedaan ini bukan dalam maksud untuk memilahkan bahwa yang satu baik dan yang lainnya buruk. Keduanya pada dasarnya mempunyai kedudukan yang sama pentingnya. Tanpa tipe man of action gagasan hanya berupa gagasan karena tidak pernah teralisasi. Sebaliknya tanpa man of idea tindakan tidak akan bermakna, kosong dan tidak berisi. Begitulah keduanya adalah sama pentingnya. Dengan begitu seorang pemimpin idealnya tidak cukup menjadi buruh-buruh organisasi saja, tetapi juga mempunyai cita-cita dan keinginan sebagai tokoh yang juga berperan sebagai man of idea. Namun demikian, tentu tidak mudah menjadi seperti Cak Nur yang punya kualitas sebagai man of idea  sekaligus sebagai man of action, karena diperlukan kualitas personal yang baik, kecerdasan, sikap kritis yang mendasar dan pengetahuan yang luas.

Selanjutnya pemimpin juga hendaknya pandai menulis, karena dengan menulis kita akan mampu merekam peristiwa-peristiwa kecil yang mungkin dapat terlewatkan oleh sejarah. Cak Nur sadar akan hal itu, karena itu tidak sedikit kita menemukan peninggalan-peninggalan Cak Nur berupa tulisan-tulisannya baik dalam buku, jurnal, dan artikel-artikel yang ia tulis di koran-koran. Ini juga dapat dipahami bahwa dengan tradisi menulis yang baik tersebut, masyarakat yang dipimpinnya atau generasi setelahnya akan terbantu untuk memperoleh informasi yang sesungguhnya. Apalagi jika kita berpendapat bahwa sejarah yang ditulis oleh pelaku utama tentu punya “rasa” yang berbeda jika dibandingkan dengan sejarah yang ditulis oleh orang luar yang tidak pernah merasakannya. Tidak hanya Cak Nur, Soekarno, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, dan lain-lain yang namanya besar karena keterampilannya dalam hal menulis.

Sebagai penutup, memang masih banyak yang perlu kita lihat ketika kita bercermin dari “cermin kepemimpinan” Cak Nur, namun setidaknya seorang pemimpin yang populis dan berwawasan luas ke depan, keempat aspek ini penting untuk diperhatikan.

Tidakkah kita juga ingin menjadi “teks” seperti halnya “Cak Nur” yang selalu menjadi “teks” dan akan terus dibaca, bahkan dikenang oleh sejarah yang ditulis dengan “tinta emas” karena ide-ide pentingnya bagi bangsa ini?.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s