KRISIS PEMUDA DAN RESEP PENDIDIKAN KARAKTER

foto penulisOleh: Syamsul Kurniawan, Pengajar Filsafat Pendidikan Islam di Jurusan Tarbiyah STAIN Pontianak.Email: syamsul_kurniawan@yahoo.com

JIKA kita ibaratkan suatu gedung pencakar langit yang berdiri kokoh. Tentulah gedung itu didukung pilar-pilar yang kuat, tidak rubuh maupun goyah sedikitpun jika dihempas angin atau badai. Demikian pula halnya bangsa ini, yang membutuhkan pemuda-pemuda sebagai pilar-pilar yang menguatkan atau menyokong tegaknya bangsa ini.

Perjalanan suatu bangsa sejatinya tidak lepas dari keberadaaan pemuda”, demikian pernah penulis sampaikan dalam opini penulis berjudul Peran Pemuda: Dulu dan Sekarang yang dimuat di surat kabar harian Pontianak Post, 27 Oktober 2009. Karena dari berbagai referensi yang penulis dapatkan, sejarah selalu mencatat – bahkan dalam sejarah perkembangan peradaban dunia telah membuktikan peran pemuda sebagai aktor penting dari suatu peradaban. Mungkin benar kata Hasan Al-Banna, ”Dalam setiap kebangkitan sebuah peradaban di belahan dunia manapun maka kita akan menjumpai bahwa pemuda adalah salah satu irama rahasianya”.

Dalam sejarah yang dimiliki bangsa ini, pemuda juga selalu ambil bagian. Pemuda selalu tampil di garda depan. Kita masih ingat ketika pada tanggal 28 Oktober 1928 terlaksana kongres pemuda yang menjadi pemicu lahirnya “Sumpah Pemuda”. Jauh sebelum tahun itu, pergerakan pemuda seperti Budi Utomo, Sarikat Islam, dan organisasi pemuda daerah lainnya telah menggebu-gebu yang menandakan adanya pergolakan dan pergerakan pemuda pada saat itu.

Kemerdekaan bangsa Indonesia pun diproklamasikan dengan campur tangan pemuda di dalamnya. Kita dapat mengetahui pemuda seperti Chairil Saleh, Yusuf, dan Wikana yang menjadi aktor ketika itu terutama dalam mendukung terlaksananya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 17 Agustus 1945. Peristiwa tentang penumbangan Orde Lama pada tahun 1966 melibatkan entitas sosial yang bernama pemuda. Dan yang masih ingat dalam memori kita semua adalah peristiwa reformasi yang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru pada tahun 1998. Dan pada saat itu, unsur terbanyak yang bergerak dalam melawan ketidakadilan adalah mahasiswa, yang dalam hal ini mewakili kalangan pemuda.

Pemuda memang sangat erat kaitannya dengan perubahan. Karena memang seperti itulah kodratnya. Dengan mobilitasnya yang sangat tinggi dan daya juang yang kuat, pemuda akan senantiasa bergerak menciptakan momentum untuk melakukan suatu perubahan. Tingkat produktivitas pemuda juga menjadi faktor pemicu untuk melakukan sesuatu hal yang bermanfaat. Maka bukan suatu kebetulan jika Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno demikian percaya dengan kekuatan pemuda sebagai kekuatan perubahan. Mendiang Ir. Soekarno pernah mengatakan,“Berikan aku sepuluh orang tua, maka aku akan mencabut gunung Semeru dari akarnya. Berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia”.

Dimanapun kita berada, maka kita akan melihat bahwa perubahan akan diciptakan oleh pemuda. Pemuda yang dimaksud adalah pemuda yang memiliki kualitas intelektual dan kualitas karakter yang baik sebagai modal kepemimpinan dan kesuksesan pemuda dalam menciptakan suatu perubahan.

 

KRISIS KARAKTER DI KALANGAN PEMUDA

Pemuda dengan berbagai karakteristiknya memiliki peranan dan fungsi yang sangat strategis dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Paling tidak ada tiga peran dan fungsi pemuda: pertama, agent of change; kedua, social of control, dan ketiga, moral force.

Sebagai agent of change mahasiswa dituntut bukan hanya menjadi bagian dari perubahan saja, melainkan pencetus perubahan itu sendiri. Sebagai agent of change, mahasiswa mempunyai tanggung jawab besar dalam membuat perubahan-perubahan mendasar dalam masyarakat, apalagi saat ini dinamika masyarakat begitu cepat berubah seiring perubahan global. Dalam konteks seperti ini, pemuda dapat memfungsikan diri melalui sikap kritis, semangat berubah dan ide-ide cerdasnya mengatasi kemandekan berpikir dalam masyarakat. Cara pandang sempit diarahkan kepada paradigma yang holistik dan komprehensif. Peran pemuda sebagai social of control terjadi ketika ada yang tidak beres atau ganjil dalam masyarakat dan pemerintah. Saat ini di Indonesia, masyarakat merasakan bahwa pemerintah hanya memikirkan dirinya sendiri dalam bertindak. Usut punya usut, pemerintah tidak menepati janji yang telah diumbar-umbar dalam kampanye mereka. Kasus hukum, korupsi, dan pendidikan merajalela dalam kehidupan berbangsa bernegara. Inilah potret mengapa pemuda yang notabene sebagai anak rakyat harus bertindak dengan ilmu dan kelebihan yang dimilikinya. Namun, perbuatan pemuda dalam social of control tidak berarti turun ke jalan saja, tapi juga dengan hal yang substansial, contohnya melalui diskusi. Dengan didukungnya pokok-pokok pikiran yang didapatkan melalui diskusi, pemuda hemat penulis akan mejadi lebih bijak dalam mengubah hal yang tidak beres dalam masyarakat maupun pemerintah. Yang terakhir sebagai moral force. Dalam sejarahnya memang banyak sekali kiprah mahasiswa yang telah menorehkan tinta emas bagi perjuangan bangsa seperti telah penulis uraikan sekilas di muka. Secara moralitas pemuda harus mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang lainnya karena mereka mempunyai latar belakang sebagai kaum intelektual, di mana mereka mengatakan yang benar itu adalah benar dengan penuh kejujuran, keberanian, dan rendah hati. Pemuda juga dituntut untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya dan terbuka kepada siapa saja.

Sayangnya pemuda-pemuda yang dapat menjadi agent of change, social of control dan moral force, sulit kita jumpai pada hari ini. Mungkinkah karena globalisasi? Adanya globalisasi seringkali dituding membawa dampak buruk dalam karakter para pemuda-pemuda kita. Ibarat cerita Raja Midas yang menginginkan setiap yang disentuhnya menjadi emas, ternyata ketika keinginannya dikabulkan dia tidak semakin senang, tetapi semakin resah bahkan gila. Sebab, tidak saja rumah dan seisi rumah yan menjadi emas, tetapi istri dan anak yang disentuh pun menjadi emas sehingga sang raja pun akhirnya meratapi nasib yang kesepian tanpa ada makhluk hidup yang mendampinginya. Tak banyak pemuda-pemuda hari ini yang mempunyai idealisme, patriotisme dan nasionalisme yang bagus meskipun globalisasi menawarkan banyak kesenangan dan kemudahan.

Hal ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa pemuda-pemuda hari ini banyak yang mengalami krisis karakter. Tawuran antar pelajar atau antar mahasiswa, meningkatnya kenakalan remaja termasuk penyalahgunaan narkoba, maraknya pergaulan bebas, dan lain-lain. Hal ini merupakan beberapa contoh betapa pemuda-pemuda pada hari ini banyak yang “bermasalah”. Belum lagi banyak sekali pemuda saat ini yang terjebak dalam lingkaran apatisme, hedonisme dan semacamnya yang semuanya mengarah pada satu hal yang disebut “anti sosial”, dan mungkin saja ini karena ketidaksiapan karakter pemuda dalam menghadapi era globalisasi.

Para pemuda adalah calon generasi penerus, dan calon pemimpin negara dan bangsa masa depan. Tanpa karakter yang kuat yang dimiliki para pemuda, maka akan memiliki resiko yang besar di masa yang akan datang bagi bangsa ini. Kita dapat melihat bahwa pergaulan dunia yang semakin tanpa batas, seperti ekonomi global dimana konsumen dan produsen (coorporations) tanpa mengenal batas-batas negara, setiap konsumen hanya mau membeli barang dan jasa dengan kualitas terbaik dan harga termurah dari manapun asalnya atau siapa pembuatnya. Lihatlah Negara Cina yang telah merambah dan mengusai pasar global. Oleh karena itu perlu dibangun karakter atau watak yang kuat di kalangan pemuda sebagai jaminan masa depan negara kita: Indonesia.

 

RESEP PENDIDIKAN KARAKTER BAGI PEMUDA

Pendidikan karakter memang diperlukan untuk memperbaiki krisis karakter yang sedang dialami oleh para pemuda pada saat ini. Menurut Mochtar Buhori, pendidikan karakter seharusnya membawa seseorang ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata.

Banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa karakter seseorang dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Di antaranya berdasarkan penelitian di Harvard University, Amerika Serikat, yang ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan  orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter sangat urgen untuk ditingkatkan.

Dengan pendidikan karakter seorang pemuda semestinya akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan pemuda menyongsong masa depannya, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan termasuk tantangan untuk berhasil secara akademik maupun non akademik.

Hal ini dikuatkan dengan pandangan Daniel Goleman, bahwa keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi (EQ) dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Seseorang yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya akan mengalami kesulitan belajar, bergaul, dan tidak dapat mengontrol emosinya. Sebaliknya para pemuda yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh pemuda lainnya seperti kenakalan, tawuran,  narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Begitu pentingnya pendidikan karakter, sampai-sampai beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Cina sudah menerapkan model pendidikan karakter. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis, berdampak positif pada pencapaian akademis.

Di Indonesia pendidikan karakter sebenarnya sudah lama digagas dan diimplementasikan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah, khususnya dalam pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan sebagainya. Namun implementasi pendidikan karakter itu masih terseok-seok dan belum optimal. Itu karena pendidikan karakter bukanlah sebuah proses menghapal materi soal ujian, dan teknik-teknik menjawabnya. Pendidikan karakter memerlukan pembiasaan. Pembiasaan untuk berbuat baik, pembiasaan untuk berlaku jujur, ksatria, malu berbuat curang, malu bersikap malas, malu membiarkan lingkungannya kotor. Karakter tidak terbentuk secara instan, tapi harus dilatih secara serius dan proporsional agar mencapai bentuk dan kekuatan yang ideal.

Dalam Bab II, Dasar, Fungsi dan Tujuan, Pasal 3, UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, juga mengisyaratkan tentang pentingnya pendidikan karakter:

 

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Jika bangsa ini konsisten dan mempunyai tekad yang kuat untuk “mengarusutamakan” pendidikan karakter di kalangan pemuda, tentu bisa direalisasikan. Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter di kalangan pemuda juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sistematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter para pemuda-pemuda Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebhinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme yang mestinya dapat tumbuh di kalangan pemuda sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini kelak.

Pendidikan karakter dilakukan melalui pendidikan nilai-nilai atau kebajikan yang menjadi nilai dasar karakter bangsa. Kebajikan yang menjadi atribut suatu karakter pada dasarnya adalah nilai. Oleh karena itu, pendidikan karakter pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional.

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter di Indonesia diidentifikasi berasal dari empat sumber. Pertama, Agama. Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Karenanya, nilai-nilai pendidikan karakter harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

Kedua, Pancasila. Negara Kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 yang dijabarkan lebih lanjut ke dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

Ketiga, Budaya. Sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat tersebut. Nilai budaya ini dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat tersebut. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Keempat, Tujuan Pendidikan Nasional. UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Tujuan pendidikan nasional sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Berdasarkan keempat sumber nilai tersebut, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan karakter seperti tabel 2.1 sebagai berikut:

 

Tabel 1

 

Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Karakter

Yang Dapat Dikembangkan Di Kalangan Pemuda

No Nilai Deskripsi
1 Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2 Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3 Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4 Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5 Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6 Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7 Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8 Demokratis Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9 Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat atau didengar.
10 Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11 Cinta Tanah Air Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas diri dan kelompoknya.
12 Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan oran lain.
13 Bersahabat/ Komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain.
14 Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15 Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16 Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17 Peduli sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18 Tanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan Tuhan YME.

 

Delapan belas nilai untuk pendidikan karakter di atas dapat ditambah atau dikurangi dengan menyesuaikan kebutuhan di kalangan pemuda.

 

PENDIDIKAN KARAKTER DI KALANGAN PEMUDA DAN PERAN PERGURUAN TINGGI

Jika kita setuju bahwa mahasiswa merepresentasikan kelompok pemuda, maka perguruan tinggi mempunyai peran penting dalam hal menumbuhkan nilai-nilai karakter di atas di kalangan pemuda-pemuda yang sedang mengenyam status mahasiswa.

Pengembangan pendidikan karakter di lingkungan perguruan tinggi dengan demikian harusnya menjadi mata rantai tak terpisahkan dari sasaran pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Keberhasilan pendidikan karakter di lingkungan perguruan tinggi diharapkan dapat melahirkan mahasiswa yang berkualitas dan berkarakter, memiliki keunggulan daya saing, serta dapat menjadi tenaga kerja produktif pada berbagai bidang kehidupan. Karena itu mahasiswa harus disiapkan dan diberdayakan agar mampu mempunyai kualitas karakter dan keunggulan daya saing guna menghadapi tuntutan, kebutuhan, serta tantangan dan persaingan dalam kehidupannya.

Untuk tujuan tersebut tentulah diperlukan langkah-langkah strategis guna memperbaiki moralitas dan karakter mahasiswa, dengan menjadikan pendidikan karakter sebagai “ruh” perguruan tinggi. Memang benar bahwa saat ini sudah ada sebagian perguruan tinggi telah melaksanakan pembelajaran karakter dengan baik. Umumnya, perguruan tinggi tersebut memiliki mutu dan kualitas manajemen yang baik pula. Namun, masih banyak perguruan tinggi yang sebagian dosennya tidak peduli dengan dengan perilaku mahasiswanya. Mereka terkesan abai, cuek, dan beranggapan jika tugasnya hanya mengajar saja, perkara moralitas mahasiswa amburadul dan bobrok itu urusan lain!.

Sudah saatnyalah sekarang, tidak hanya di jenjang pendidikan dasar dan menengah, pendidikan karakter dapat berlangsung efektif, tetapi juga di perguruan tinggi. Di perguruan tinggi, pendidikan karakter hendaklah dapat membingkai dan menjiwai kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pembelajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Atau dengan kata lain, Tridharma Perguruan Tinggi hendaknya dilaksanakan dengan berkarakter. Pengembangan pendidikan karakter pada mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi selain untuk membendung degradasi karakter mahasiswa, juga berfungsi membentuk karakter mahasiswa yang kokoh dan kuat guna menghadapi aneka tantangan zaman di masa yang akan datang.

Di tengah masyarakat yang cenderung primordialistis ini, program pendidikan karakter di perguruan tinggi hendaklah memuat usaha untuk membantu para mahasiswa melihat kenyataan secara kritis. Pengembangan Karakter di Perguruan Tinggi ini tercakup dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni: pertama, Pendidikan dan pengajaran; kedua, Penelitian dan pengembangan; dan ketiga, Pengabdian pada masyarakat. Ketiga fungsi perguruan tinggi tersebut hendaknya dapat dikembangkan secara simultan dan bersama-sama.

Kegiatan penelitian dan pengembangan hendaknya menjunjung tinggi kegiatan pendidikan dan pengajaran serta kegiatan pengabdian pada masyarakat. Kegiatan penelitian diperlukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi. Untuk dapat melakukan penelitian diperlukan adanya tenaga-tenaga ahli yang dihasilkan melalui proses pendidikan. Selanjutnya, ilmu pengetahuan yang dikembangkan sebagai hasil pendidikan dan penelitian itu hendaknya dapat diterapkan melalui kegiatan pengabdian pada masyarakat sehingga masyarakat dapat memanfaatkan dan menikmati kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Dari sini semakin jelaslah hubungan antara masing-masing tri dharma perguruan tinggi.

Untuk lebih jelasnya lagi penulis uraikan masing-masing ketiga dharma perguruan tinggi itu secara spesifik. Pertama, Pendidikan dan pengajaran. Pengertian pendidikan dan pengajaran disini adalah dalam rangka menerusakan pengetahuan atau dengan kata lain dalam rangka transfer of knowledge ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan melalui penelitian oleh mahasiswa di perguruan tinggi. Dalam pendidikan tinggi di negara kita dikenal dengan istilah strata, mulai dari strata satu (S1) yaitu merupakan pendidikan program sarjana, strata dua (S2) merupakan program magister dan strata tiga (S3) yaitu pendidikan doktor dalam suatu disiplin ilmu, serta pendidikan jalur vokasional/non gelar (diploma). Kedua, Penelitian dan pengembangan. Kegiatan penelitian dan pengembangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa penelitian, maka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi terhambat. Penelitian ini tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi harus dilihat keterkaitannya dalam pembangunan dalam arti luas.artinya penelitian tidak semata-mata hanya untuk hal yang diperlukan atau langsung dapat digunakan oleh masyarakat pada saat itu saja, akan tetapi harus dilihat dengan proyeksi kemasa depan. Dengan kata lain penelitian di perguruan tinggi tidak hanya diarahkan untuk penelitian terapan saja, tetapi juga sekaligus melaksanakn penelitian ilmu-ilmu dasar yang manfaatnya baru terasa penting artinya jauh di masa yang akan datang. Ketiga, Pengabdian pada masyarakat. Pengabdian pada masyarakat merupakan serangkaian aktivitas dalam rangka kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat yang bersifat kongkrit dan langsung dirasakan manfaatnya dalam waktu yang relatif pendek. Aktivitas ini dapat dilakukan atas inisiatif individu atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi terhadap masyarakat maupun terhadap inisiatif perguruan tinggi yang bersangkutan yang bersifat nonprofit (tidak mencari keuntungan). Dengan aktivitas ini diharapkan adanya umpan balik dari masyarakat ke perguruan tinggi, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih lanjut.

Dalam menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi tersebut, kegiatan mahasiswa dipisahkan ke dalam dua jenis yaitu: kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam kerangka mewujudkan program pendidikan yang telah tersusun pada kurikulum program studi, sedangkan kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan di luar jam pelajaran biasa (termasuk dalam waktu libur) yang dilakukan di kampus ataupun di luar kampus dengan tujuan menumbuhkan dan meningkatkan kompetensi/ karakter mahasiswa mengenai hubungan antara berbagai mata kuliah, menyalurkan bakat dan minat, meningkatkan kesejahteraan dan menumbuhkan kepekaan sosial serta melengkapi upaya mewujudkan manusia seutuhnya. Sementara kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan kemahasiswaan yang meliputi: penalaran dan keilmuan, minat dan kegemaran, upaya perbaikan kesejahteraan mahasiswa, dan sosial kemasyarakatan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperluas wawasan, menyalurkan bakat minat, serta pembentukan karakter seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan tinggi. Kegiatan penalaran merupakan  bagian dari kegiatan ekstrakurikuler yang menampung dan membentuk mahasiswa dalam meningkatkan dirinya sebagai mahasiswa pemikir, kreatif dan inovatif dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Contoh: diskusi ilmiah, seminar ilmiah, kegiatan bakti sosial, dan sebagainya. Baik kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler yang merupakan implementasi dari Tri Darma Perguruan Tinggi, diharapkan mahasiswa dapat mengedepankan dan menggunakan rasionalitas dalam berpola pikir, berpola wicara, dan berpola perilaku.

Beberapa hal di atas tentu sejalan dengan tujuan pengembangan pendidikan karakter pada mahasiswa di perguruan tinggi yang menghendaki mahasiswa dapat disiapkan dan diberdayakan agar mampu mempunyai kualitas karakter dan keunggulan daya saing guna menghadapi tuntutan, kebutuhan, serta tantangan dan persaingan dalam kehidupannya.

Hal lain yang dapat dikerjakan perguruan tinggi adalah dengan pembenahan kurikulum. Menilik peran dan fungsi mahasiswa yang begitu strategis, mahasiswa perlu memiliki karakter yang kuat. Memang karakter seorang mahasiswa tidak dapat dibentuk secara otomatis. Seorang mahasiswa yang mengenyam dan menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi misalnya, tidak serta merta memiliki karakter mulia tertentu secara otomatis setelah melalui semua proses pembelajarannya di perguruan tinggi.

Meskipun demikian, bukan berarti karakter mahasiswa tidak dapat berkembang selama mengikuti pendidikan di perguruan tinggi, karena karakter seseorang dapat ditumbuhkan secara perlahan dan berkelanjutan melalui proses pendidikan. Schwartz menyatakan bahwa perguruan tinggi, baik yang berlatarbelakang religius maupun yang sekuler, dapat menggunakan kekuatan kurikulumnya, khususnya efek baiknya, untuk membentuk pemikiran tetapi juga karakternya. Kurikulum ini tidak saja membentuk intelectual habits namun juga moral habits mahasiswa.

Pada saat ini yang diperlukan perguruan tinggi adalah kurikulum pendidikan yang berkarakter; dalam arti kurikulum perguruan tinggi itu sendiri memiliki karakter, dan sekaligus diorientasikan bagi pembentukan karakter mahasiswa. Perbaikan kurikulum perguruan tinggi tentu merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum itu sendiri (inherent), bahwa suatu kurikulum yang berlaku harus secara terus-menerus dilakukan peningkatan dengan mengadopsi kebutuhan yang berkembang. Yang terpenting dalam kurikulum adalah kemampuan suatu kurikulum dalam mengadaptasi perkembangan yang terjadi dalam masyarakat dan menerapkannya dalam proses pendidikan. Konsepsi kompetensi mahasiswa yang diharapkan dari suatu kurikulum di perguruan tinggi yang terutama adalah melakukan sesuatu sesuai konteks dan secara kreatif. Isi (content) kurikulum di perguruan tinggi haruslah merupakan usaha-usaha yang terarah dan terpadu untuk membangun sikap mental mahasiswa yang memiliki karakter dan mampu membangun peradaban bangsanya sendiri. Selebihnya adalah pengkondisian nilai-nilai karakter melalui budaya kampus.

***

Situasi dan kondisi karakter bangsa yang sedang memprihatinkan, termasuk krisis yang dialami sebagian besar pemuda telah mendorong pemerintah untuk mengambil inisiatif untuk memprioritaskan pembangunan karakter bangsa. Ringkas kata, pembangunan karakter bangsa dijadikan arus utama pembangunan nasional. Hal ini mengandung arti bahwa setiap upaya pembangunan harus selalu diarahkan untuk member dampak positif terhadap pengembangan karakter. Jadi tidak heran jika belakangan isu-isu pendidikan karakter makin ramai dibicarakan.

Mengenai hal ini secara konstitusional pendidikan karakter sesungguhnya sudah tercermin dari misi pembangunan nasional yang memposisikan pendidikan karakter sebagai misi pertama dari delapan misi guna mewujudkan visi pembangunan nasional, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila…”.

Pada Bab IV tentang Arah, Tahapan, dan Prioritas Pembangunan Jangka Panjang Tahun 2005–2025, masih dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, menguraikan bahwa “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila…” tersebut ditandai oleh:

 

Terwujudnya karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi iptek.

 

Pembentukan karakter juga merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Telah diuraikan sebelumnya, Pasal I Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 menyebutkan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk mempunyai kecerdasan, kepribadian, dan akhlak yang mulia. Amanah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 ini bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika memberikan kata sambutan pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2010 di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 11 Mei 2010 yang bertemakan “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa”, mengemukakan ada lima isu penting dalam dunia pendidikan. Pertama, Hubungan pendidikan dengan pembentukan watak atau dikenal dengan character building. Kedua, Kaitan  pendidikan dengan kesiapan dalam menjalani kehidupan setelah seseorang selesai mengikuti pendidikan. Ketiga, Kaitan pendidikan dengan lapangan pekerjaan. Ini juga menjadi prioritas dalam pembangunan lima tahun mendatang. Keempat adalah bagaimana membangun masyarakat berpengetahuan atau knowledge society yang dimulai dari meningkatkan basis pengetahuan masyarakat. Kelima, Bagaimana membangun budaya inovasi.

Menteri Pendidikan Nasional dalam sambutannya pada peringatan Hari Pendidikan Nasional Tanggal 2 Mei 2010 juga menekankan bahwa pembangunan karakter dan pendidikan karakter merupakan suatu keharusan, karena pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik menjadi cerdas juga mempunyai budi pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota masyarakat menjadi bermakna baik bagi dirinya maupun masyarakat pada umumnya. Bangsa yang berkarakter unggul, di samping tercermin dari moral, etika dan budi pekerti yang baik, juga ditandai dengan semangat, tekad dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis, serta dengan rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi. Totalitas dari karakter bangsa yang kuat dan unggul, yang pada kelanjutannya bisa meningkatkan kemandirian dan daya saing bangsa, menuju Indonesia yang maju, bermartabat dan sejahtera di Abad 21.

Para pemuda adalah calon generasi penerus, dan calon pemimpin negara dan bangsa masa depan. Tanpa karakter yang kuat yang dimiliki para pemuda, maka akan memiliki resiko yang besar di masa yang akan datang bagi bangsa ini. Dengan demikian pendidikan karakter di kalangan pemuda adalah PR yang mesti dikerjakan bersama-sama. “Kita memang selalu tidak bisa membangun masa depan untuk generasi muda kita, tetapi kita bisa membangun generasi muda kita untuk masa depan.” Karena itu yang terpenting di sini adalah komitmen bersama mengusahakan dan mengarusutamakan pendidikan karakter di kalangan pemuda. Untuk Indonesia yang lebih baik. Semoga!!!.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s