MEMAJUKAN PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN

studium generalSECARA historis, sebagai lembaga pendidikan Islam pondok pesantren telah melalui perjalanan yang panjang di negeri ini. Pondok pesantren dapat dikatakan telah berkiprah secara signifikan pada zaman-zaman yang dilaluinya, baik sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan ajaran Islam, sebagai lembaga dakwah, maupun sebagai lembaga pemberdayaan dan pengabdian masyarakat. Hal ini sesuai dengan makna pondok pesantren sebagai tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam.

Secara umum pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama, kyai sebagai figur sentralnya, dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya. Sebagai lembaga pendidikan Islam, pondok pesantren semestinya dapat menjadi pusat pencerdasan karakter santri-santrinya, baik spiritual (SQ), intelektual (IQ), dan emosional (EQ). Untuk itu lingkungan pesantren secara keseluruhan adalah lingkungan yang dirancang untuk kepentingan pendidikan. Sehingga segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan dan dialami para santri, atau seluruh penghuni pesantren terkondisikan untuk kepentingan pencapaian tujuan pendidikan.

 

Yang perlu dilakukan

Penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren saat ini hendaknya dapat menggunakan paradigma belajar pendidikan modern seperti paradigma belajar dalam empat visi pendidikan menuju abad 21 versi UNESCO yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

Pertama, proses belajar yang bersifat teoritis dan berorientasi pada pengetahuan rasional dan logis (learning to know) sebagai sesuatu yang inheren dalam pendidikan pondok pesantren. Di pondok pesantren para santri tidak hanya belajar untuk mengetahui tetapi juga belajar menyatakan pendapat secara kritis melalui berbagai fasilitas yang disediakan untuk itu. Kedua, belajar untuk melakukan atau berbuat sesuatu (learning to do). Visi ini lebih terkait dengan sisi praktis dan teknis yang pencapaiannya dilakukan melalui pembekalan santri dengan keterampilan-keterampilan yang dapat membantunya menyelesaikan persoalan-persoalan keseharian yang dihadapinya. Ini tercermin, misalnya, dalam pendidikan kemandirian yang sangat kentara dalam kehidupan keseharian santri. Ketiga, learning to be. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses belajar menjadi diri sendiri (learning to be) di lingkungan pondok pesantren. Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, serta belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya adalah proses pencapaian aktualisasi diri. Pengembangan diri secara maksimal (learning to be) di pondok pesantren erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak dan kondisi lingkungan seorang santri. Kemampuan diri yang terbentuk di sekolah secara maksimal memungkinkan seorang santri untuk mengembangkan diri pada tingkat yang lebih tinggi. Keempat, learning to live together. Pendidikan di pondok pesantren hendaknya menanamkan kesadaran bahwa kita sedang hidup dalam sebuah masyarakat global dengan aneka ragam latar belakang sosial, budaya, bahasa, suku, bangsa dan agama. Dalam kehidupan masyarakat yang demikian ini, nilai-nilai toleransi, tolong-menolong, persaudaraan, saling menghormati dan perdamaian hendaknya dijunjung tinggi oleh setiap santri. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pondok pesantren harus menjadi pionir bagi terciptanya suatu tatanan kehidupan masyarakat plural yang harmonis, karena keadaan santri-santri pondok pesantren yang memang berbeda latar belakang sosial budayanya.

Keempat visi belajar di atas selanjutnya mengarah pada “learning how to learn” (belajar bagaimana belajar). Di pondok pesantren, santri hendaknya dapat dididik untuk menjadi pembelajar sejati, dia dapat belajar dari apa saja, dari siapa dan apa saja, kapan saja dan di mana saja, bahkan pada alam. Proses belajar harusnya telah menjadi suatu sikap atau kepribadian yang melekat pada diri seorang santri.

Di pondok pesantren, learning how to learn dapat ditanamkan  melalui berbagai cara, baik melalui pengajaran formal, pengajian, pengarahan, bimbingan, penugasan, pelatihan, dan seterusnya. Jadi segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami para santri dimaksudkan supaya santri mengerti tentang “learning how to learn” (belajar bagaimana belajar).

Untuk menjawab tantangan dan kebutuhan sosial pondok pesantren, semestinya pondok pesantren dapat mengambil langkah-langkah pembaruan. Di antara yang dapat dilakukan pondok pesantren adalah dengan melakukan pembaruan kurikulum dan kelembagaan yang berorientasi pada konteks kekinian sebagai respons dari modernitas. Tetapi tidak semua unsur modernitas dapat diserap oleh pondok pesantren, sebab bukan tidak mungkin orientasi semacam itu akan menimbulkan implikasi negatif terhadap eksistensi dan fungsi pondok pesantren. Sebaliknya pondok pesantren harus menumbuhkan apresiasi yang sepatutnya terhadap semua perkembangan yang terjadi di masa kini dan mendatang, sehingga dapat memproduksi ulama yang berwawasan luas.

Tantangan di era globalisasi tidak mungkin dihindari. Oleh karenanya pondok pesantren juga mesti membuat terobosan-terobosan agar tidak “ketinggalan kereta” dan tidak kalah dalam persaingan. Sekurang-kurangnya ada empat hal yang perlu digarap oleh pondok pesantren  dengan tidak meninggalkan jati diri pesantren.

Pertama, pondok pesantren sebagai lembaga “pengkaderan ulama”. Fungsi ini hendaknya tetap dapat dipertahankan di pondok pesantren. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang bertugas melahirkan ulama. Namun demikian, tantangan globalisasi dan modernisasi mengharuskan ulama mempunyai kemampuan lebih, kapasitas intelektual yang memadai, wawasan, akses pengetahuan dan informasi yang cukup serta responsif terhadap perkembangan dan perubahan.

Kedua, Pondok pesantren sebagai lembaga pengembangan ilmu pengetahuan agama, khususnya agama Islam. Pada tataran ini, sebagian pondok pesantren boleh dibilang masih lemah dalam penguasaan ilmu dan metodologi. Kecenderungan demikian harus dipikirkan langkah-langkah antisipasinya. Semisal dengan menyusun pola kurikulum yang terencanakan dan sistematis dan dengan target pencapaian yang jelas. Dapat dimafhumi sebagian pondok pesantren dalam sistem pengajarannya masih menggunakan standar acuan kitab-kitab kuning klasik tanpa diubah dan dimodifikasi sistem penyampaian/pengajarannya meskipun telah menerapkan sistem pendidikan madrasah. Langkah lainnya adalah dengan kembali menggairahkan kegiatan-kegiatan diskusi atau musyawarah, bahtsul masail, dan pola-pola pembelajaran yang dipandang bisa menumbuhkan daya inisiatif, kreatif dan kritis di kalangan para santri.

Ketiga, Pondok pesantren hendaknya mampu menempatkan dirinya sebagai sarana transformasi, motivasi sekaligus inovasi. Kehadiran sebagian pesantren dewasa ini diakui memang telah memainkan perannya dalam fungsi itu, meskipun boleh dikatakan masih dalam tahapan yang perlu dikembangkan lebih lanjut. Karena itu pondok pesantren mesti mengembangkan wawasan pengetahuan agama santri-santrinya dengan mengintegrasikan materi seperti ilmu-ilmu al-Quran, hadits, ushul fiqh, dan lain-lain dengan materi-materi umum seperti sejarah, sosiologi, antropologi, dan seterusnya. Pondok pesantren jangan dibuat terkesan fiqh-oriented, tapi menjadi pusat pengkajian segala macam disiplin ilmu.

Keempat, Sebagai salah satu komponen penting dalam pembangunan sumber daya masyarakat, pondok pesantren juga mesti memiliki kekuatan dan daya tawar untuk melakukan perubahan yang berarti di masyarakat. Seorang santri hendaknya dapat dididik untuk dapat menjadi pionir dalam usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitarnya, bukan malah menjadi beban masyarakat.

Terobosan-terobosan untuk memajukan pondok pesantren memang menjadi suatu konsekuensi dari modernisasi. Namun pondok pesantren juga mempunyai batasan-batasan yang kongkret bahwa pembaruan atau modernisasi yang dilakukan tidak boleh mengubah atau mereduksi orientasi dan idealisme suatu pondok pesantren. Sehingga dengan demikian pondok pesantren tidak sampai terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi, namun justru sebaliknya dapat menempatkan diri dalam posisi yang strategis dan bahkan sebagai kontrol dari dampak negatif globalisasi tersebut.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s