14 January 2014

PENGUATAN KEARIFAN EKOLOGIS PESERTA DIDIK MELALUI PELAJARAN PAI DI SEKOLAH

Posted in Uncategorized at 8:53 by Catatan Harian Syamsul Kurniawan

Image

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

ABSTRAK

TULISAN ini berangkat dari asumsi bahwa manusia dan pemikirannya adalah produk dari suatu proses pendidikan yang ia dapat, maka dikatakan bahwa sifat dan perilaku suka merusak lingkungan disebabkan karena lembaga pendidikan tidak memaksimalkan usaha penguatan kearifan ekologis di kalangan peserta didik. Pelajaran Pendidikan agama Islam (PAI) yang seharusnya mengajarkan di kalangan peserta didik tentang pentingnya memelihara dan melestarikan lingkungan hidup beserta fungsi-fungsi alam, dalam kenyataannya juga berhenti pada tataran teoritis saja, sehingga tidak sampai membentuk karakter peserta didik yang peduli lingkungan atau mempunyai kearifan ekologis.

Karena itulah, melalui tulisan ini, penulis tertarik mendiskusikan tentang bagaimana penguatan kearifan ekologis peserta didik dapat dilakukan melalui pelajaran PAI di sekolah.

Kata Kunci: Kearifan Ekologis, Pelajaran PAI di Sekolah

PENDAHULUAN

Krisis ekologi (lingkungan) sedang terjadi dan menjadi bagian dari kehidupan umat manusia saat ini. Kerusakan fungsi-fungsi ekologi akhir-akhir ini semakin parah. Sebenarnya, di negara kita ini memiliki kekayaan sumberdaya alam (SDA) dan daya dukung ekologi yang luar biasa. Namun perilaku masyarakat yang salah dalam pemanfaatan SDA dan daya dukung ekologi, termasuk perlakuan destruktif (merusak) pada flora dan fauna membuat masyarakat sengsara dan tidak sejahtera.

Begitu sering musibah alam terjadi di Indonesia makin menambah masalah, terutama musibah yang masuk kategori hasil perbuatan tangan manusia (man made disaster). Perilaku masyarakat yang salah telah menyebabkan luas hutan makin menyusut. Bahkan boleh dibilang, negara kita Indonesia ini mendapat gelar “juara pembalak” atau “juara penebang” hutan tercepat di dunia. Hutan kita ditebang setahun 2,8 juta hektar, (setiap menit hutan seluas 6x lapangan bola hilang). Padahal hutan kita diharapkan dapat menjadi paru-paru dunia dan bisa memberi kebaikan untuk manusia sedunia, dan kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.

Akibat yang lain, kawasan tangkapan air makin berkurang, cadangan air tanah makin langka, sementara itu di musim hujan air sungai meluap menimbulkan banjir, tanah longsor dan banyak kerugian lainnya yang diderita masyarakat. Menurut data WALHI seperti diberitakan Tribun (2011) terjadi 141 kasus pencemaran lingkungan yang terjadi pada 2011, dan hanya 75 kasus pencemaran pada tahun sebelumnya yakni 2010. Pada tahun 2012 dan 2013 diperkirakan kasus pencemaran lingkungan ini kian meningkat.

Ini ironi, karena di sisi lain, mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim yang harusnya peduli terhadap upaya-upaya pelestarian fungsi-fungsi alam atau lingkungan. Seperti yang kita mafhumi, Islam sangatlah menganjurkan kaumnya untuk melestarikan alam atau lingkungan. Merusak lingkungan atau alam berarti telah melanggar perintah Allah SWT, sedangkan pelanggaran pasti berakibat buruk kepada pelakunya, baik langsung maupun tidak langsung.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS al-A’raf: 56)

Jika kita setuju bahwa manusia dan pemikirannya adalah produk dari suatu proses pendidikan yang ia dapat, maka dapat dikatakan bahwa sifat dan perilaku suka merusak lingkungan disebabkan karena lembaga pendidikan tidak memaksimalkan usaha penguatan kearifan ekologis di kalangan peserta didik. Pelajaran Pendidikan agama Islam (PAI) yang seharusnya mengajarkan di kalangan peserta didik tentang pentingnya memelihara dan melestarikan lingkungan hidup beserta fungsi-fungsi ekologis, dalam kenyataannya juga berhenti pada tataran teoritis saja, sehingga tidak sampai membentuk karakter peserta didik yang peduli lingkungan atau mempunyai kearifan ekologis.

Tulisan ini hendak mendiskusikan tentang bagaimana penguatan kearifan ekologis peserta didik dapat dilakukan melalui pelajaran PAI di sekolah.

PERPEKTIF ISLAM TENTANG KEARIFAN EKOLOGI

Dalam pandangan Islam, manusia adalah bagian dari alam, pengelola, dan khalifah (wakil Tuhan) di muka bumi. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia tentu saja berhak memanfaatkan fungsi-fungsi alam.

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS al-Jatsiyah: 13)

Tapi sebaliknya, manusia juga memiliki kewajiban dan mengemban tanggung jawab dari Tuhannya untuk memelihara dan melestarikan fungsi-fungsi alam, bukan justru mengambil langkah-langkah destruktif dalam memanfaatkan fungsi-fungsi alam tersebut. Ringkasnya, agama Islam mengharamkan sikap-sikap destruktif dalam memanfaatkan fungsi-fungsi tersebut dan mengakui pentingnya menjaga dan melestarikan fungsi-fungsi alam. (Kurniawan, 2007)

Seruan ini dapat kita baca dari kasus kejatuhan Adam as. (Nabi sekaligus simbol manusia pertama) beserta istrinya Hawa ke muka bumi. Apa yang dialami Adam dan Hawa sampai diusir Allah SWT dari surga-Nya, karena tidak mengindahkan seruan Allah SWT mengenai  kearifan ekologis. Adam dan Hawa mengikuti bujuk rayu syaitan; mereka mendekati pohon khuldi.

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS al-Baqarah: 35-39)

Bahkan dalam pandangan al-Quran, krisis ekologi yang menimpa bumi kita ini erat kaitannya dengan krisis spiritual yang dialami manusia.

 

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS ar-Ruum: 41)

Sayangnya, ajaran paling purba yang diajarkan agama Islam tentang kearifan ekologis ini tidak merembes menjadi living tradition –meminjam istilah Sayyid Hossein Nasr- dalam masyarakat Islam sesudah wafatnya Nabi (Kurniawan, 2006). Apa yang bisa disimak sekarang, menunjukkan manusia sudah mulai jauh dari nilai-nilai ajaran agama Islam, yang mana ekologi atau lingkungan tidak dilihat sebagai suatu bagian dari kemanusiaan, tetapi sesuatu di luar yang dapat dieksploitasi secara terus-menerus (Kurniawan, 2007).

Yusuf Qardhawi seperti dikutip Nurul Hidayati (2011) menjelaskan bahwa menjaga lingkungan tercakup dalam 5 ketentuan yang menjadi pondasi tegaknya kehidupan manusia dan menjadi tujuan syariat, yaitu: pertama, Menjaga lingkungan sama saja dengan menjaga agama, menjalankan perintah Allah untuk berlaku adil, dan berbuat kebajikan (lihat QS al-A’raf: 56; QS An Nahl: 90); kedua, Menjaga lingkungan sama dengan menjaga jiwa, perlindungan terhadap kehidupan dan keselamatan mereka (QS al-Maidah: 32) ;[1] ketiga, Menjaga lingkungan termasuk upaya menjaga kualitas keberlangsungan hidup keturunan kita di masa yang akan datang;[2] keempat, Menjaga lingkungan sama dengan menjaga akal;[3] dan kelima, Menjaga lingkungan berarti menjaga harta. Allah SWT menjadikan alam semesta sebagai harta bekal kehidupan manusia di atas muka bumi.[4]

Alam bukan milik manusia tetapi ciptaan dan milik Tuhan. Alam memiliki keseimbangan dan keteraturan (sunatullah) dan manusia diserahi tanggung jawab dalam pemanfaatan dan pengelolaan yang dilandasi moralitas dan iman (Aufa, 2011). Maksudnya, manusia sebagai khalifah fi al-ard dalam melaksanakan tugasnya harus mengikuti petunjuk-petunjuk al-Qur‘an agar sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah. Maka pengembangan ilmu dan teknologi untuk pemanfaatan fungsi-fungsi alam dan pelestarian lingkungan hidup juga harus dikendalikan menurut petunjuk-petunjuk Allah SWT. Kalau tidak, pengembangan ilmu dan teknologi yang secara tidak terkendali, tidak akan mendatangkan ketenteraman, kenikmatan, dan kemudahan dalam hidup melainkan berakibat terjadinya bencana di mana-mana yang mendatangkan penderitaan bagi umat manusia dan lingkungannya (lihat QS al-Rum: 41) (Baiquni, 1985: 2-3).

PENGUATAN KEARIFAN EKOLOGIS PESERTA DIDIK DI SEKOLAH MELALUI PELAJARAN PAI

Agama Islam tidak akan dihayati dan diamalkan orang kalau hanya diajarkan saja, tetapi harus dididik melalui proses pendidikan yang Islami. Dari segi lainnya pendidikan agama Islam (PAI) seharusnya tidak bersifat teoritis saja, tetapi juga praksis, karena ajaran agama Islam tidak memisahkan antara iman dan amal saleh (Fathoni, 2001: xiv). Oleh karena itu pelajaran PAI adalah sekaligus pendidikan iman dan pendidikan amal, dan juga karena ajaran agama Islam berisi tentang ajaran sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, maka pendidikan agama Islam adalah pendidikan individu dan pendidikan masyarakat (Daradjat, 1992: 25-28).

Pelajaran PAI adalah sebagai proses penyampaian informasi dalam rangka pembentukan insan yang beriman dan bertaqwa agar manusia menyadari kedudukannya, tugas, dan fungsinya di dunia dengan selalu memelihara hubungan baik dengan Allah SWT, dirinya sendiri, masyarakat, dan alam sekitarnya. Dengan demikian, pelajaran PAI mempunyai pengertian, “usaha sadar atau kegiatan yang disengaja dilakukan untuk membimbing sekaligus sekaligus mengarahkan peserta didik menuju terbentuknya pribadi yang utama (insan kamil) berdasarkan nilai-nilai etika Islami dengan tetap memelihara hubungan baik dengan Allah SWT, hubungan baik dengan sesama manusia, dan hubungan baik dengan alam sekitarnya.

Pelajaran PAI akan berdampak positif bagi tumbuhnya kearifan ekologis di kalangan peserta didik di sekolah, jika pelajaran PAI memiliki rencana pembelajaran yang didesain dengan baik untuk tujuan tersebut. Setidaknya ada empat komponen yang mesti diperhatikan dalam hal ini: pertama, tujuan pengajaran; kedua, materi atau bahan ajar; ketiga, metode mengajar; dan keempat, evaluasi.

  1. 1.      Tujuan pengajaran PAI

Tujuan pengajaran merupakan masalah inti dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, suatu rumusan tujuan pengajaran akan tepat bila sesuai dengan fungsinya. Pendidikan sebagai usaha pasti mengalami permulaan dan kesudahan. Adapula usaha terhenti karena suatu kendala sebelum mencapai tujuan, tetapi usaha itu belum dapat disebut berakhir. Pada umumnya, suatu usaha baru dapat disebut berakhir jika tujuan akhir telah tercapai.

Sehubungan dengan ini Marimba yang dikutip Ramayulis dan Samsul Nizar (2009: 133) menyatakan bahwa fungsi tujuan adalah: pertama, sebagai standar mengakhiri usaha; kedua, mengarahkan usaha; dan ketiga, merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, di samping itu juga dapat membatasi ruang gerak usaha agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang dicita-citakan, dalam segi lainnya fungsi tujuan juga mempengaruhi dinamika dari usaha itu; dan keempat, memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha itu.

Tujuan pendidikan menurut al-Ghazali seperti dikutip Ramayulis dan Samsul Nizar (2009: 273) hendaknya mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqarrub kepada Allah. Sebab menurut al-Ghazali, jika tujuan pendidikan diarahkan selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan menyebabkan kesesatan dan kemudharatan. Rumusan tujuan pendidikan ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS adz-Dzariyat: 56: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku.”

Dalam kaitannya dengan konteks penguatan kearifan ekologis di kalangan peserta didik, maka tujuan pengajaran PAI harus mengarahkan peserta didik pada bentuk pemahaman bahwa pemeliharaan dan pelestarian fungsi-fungsi ekologis merupakan bentuk usaha untuk taqarrub kepada Allah. Hal ini karena kewajiban dan mengemban tanggung jawab untuk memelihara dan melestarikan fungsi-fungsi alam juga merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT.

  1. 2.      Materi atau Bahan Ajar PAI

Menurut Sofan dan Lif Khoiru Ahmadi (2010: 159), materi atau bahan ajar adalah segala bentuk materi atau bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Materi atau bahan ajar yang dimaksud dapat berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.

Sementara menurut H. Ali Mudhofir (2011: 128-129), materi atau bahan ajar berarti seperangkat materi yang disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak, sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan peserta didik untuk belajar. Materi atau bahan ajar berisi materi pembelajaran (instructional materials) yang secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari peserta didik dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis-jenis bahan atau materi ajar terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, sikap dan nilai. Ditinjau dari pihak pendidik (guru), materi atau bahan ajar perlu diajarkan atau disampaikan dalam kegiatan pembelajaran. Sementara ditinjau dari pihak peserta didik (siswa), materi atau bahan ajar itu harus dipelajari dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian belajar.

Dalam konteks penguatan kearifan ekologis peserta didik di sekolah, di antara materi atau bahan ajar PAI yang dapat diberikan pada peserta didik misalnya tentang: pertama, pandangan Islam tentang pencemaran udara; kedua, pandangan Islam tentang limbah; ketiga, pandangan Islam tentang ruang hijau; dan keempat, pandangan Islam tentang pemeliharaan flora dan fauna.

a. Pandangan Islam tentang Pencemaran Udara

Kita semua telah mengetahui, apabila udara tidak melingkupi seluruh permukaan bumi, begitu satu bagian dari permukaan bumi kehilangan sinar matahati, maka bagian ini akan segera mengalami penurunan suhu udara hingga 160 derajat dibawah nol, di mana hawa dingin tak tertahankan ini akan segera memusnahkan seluruh eksistensi hidup, karena pada prinsipnya, udara berfungsi untuk menghalangi bumi dalam mempertahankan hawa panas yang diperolehnya dari matahari.

Selain itu manusia membutuhkan oksigen untuk kelangsungan hidupnya, dan kebutuhan yang diperlukannya melalui pernafasan ini akan terpenuhi dengan adanya hawa yang bersih dan sehat, oleh karena itu memanfaatkan udara yang bersih dan sehat merupakan salah satu dari kebutuhan primer manusia.

Namun dari sisi yang lain, perkembangan teknologi dan modernitas kehidupan masyarakat, demikian juga urgensi penciptaan fasilitas-fasilitas baru perkotaan untuk menjawab kebutuhan masyarakat kota yang semakin hari semakin berkembang, telah membuat tingkat pencemaran udara semakin tinggi dan secara bertahap kita menyaksikan juga semakin berkurangnya ruang hijau perkotaan serta terjadinya pencemaran lingkungan hidup.

Dikarenakan kelangsungan generasi dan masyarakat manusia bergantung pada kesehatan dan keselamatan masyarakat, maka dengan melarang hal-hal yang buruk dan tercela serta menghalalkan kesucian dan kebersihan (lihat QS. Al-A’raf: 157). Islam telah mempersiapkan jalan untuk mencapai tujuan dan sasaran ini, dan hal inilah yang harus dipahami oleh peserta didik.

b. Pandangan Islam Tentang Limbah

Persoalan penting menjaga kebersihan lingkungan hidup merupakan salah satu topik yang sangat serius dan asasi bagi masyarakat saat ini. Jika menjaga lingkungan hidup tidak dianggap sebagai kewajiban umum, tidak dianggap secara serius oleh warga, siapapun bisa mencemari lungkungan hidup, atau limbah serta sampah-sampah tidak dikumpulkan dengan metode yang benar dan sehat, maka limbah dan sampah akan menjadi faktor pencemar lingkungan hidup dan pembawa bencana bagi keselamatan masyarakat.

Sampah dan limbah-limbah menyimpan berbagai mikroba dan menjadi tempat perkembangbiakan serangga serta berbagai sumber penyakit. Oleh karena itu Rasulullah saw dalam salah satu hadisnya bersabda, “Jangan menyimpan sampah di dalam rumah pada malam hari, melainkan keluarkan sampah-sampah tersebut pada siang hari, karena sampah merupakan tempat berkumpulnya syaitan.” Demikian juga beliau bersabda, “Jangan mengumpulkan tanah di belakang pintu (halaman), karena akan menjadi sarang setan.” Adakah yang dimaksud dengan syaitan di sini adalah tempat berkumpulnya bakteri-bakteri yang membahayakan, tempat perpindahan dan perkembangbiakan berbagai macam penyakit?.

Dalam sirah dan metode kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya banyak kita saksikan penekanan beliau terhadap kebersihan dan menyarankan hal ini kepada para pengikutnya. Kewajiban menghindari kotoran manusia dan kenajisannya ketika bersentuhan dengannya serta kewajiban bersuci dan mencuci segala sesuatu yang terkotori olehnya, merupakan salah satu layanan ilmiah yang diberikan oleh agama Islam kepada manusia yang menciptakan kebersihan lingkungan hidup dari pencemaran dan hal-hal yang najis. Saat ini kotoran manusia dianggap sebagai pemicu utama dari mayoritas penyakit-penyakit mikroba dan cacing seperti kolera dan penyakit-penyakit yang dikenal dengan parasit usus pencernaan yang disebabkan oleh mikroba dan cacing.

Dari sinilah sehingga dalam salah satu hadisnya, Ali bin Abi Thalib as berkata, “Rasulullah Saw melarang membuang kotoran besar di tepian air yang mengalir, di dekat mata air yang jernih dan di bawah pepohonan yang berbuah.” Demikian juga dalam riwayat yang lain dikatakan, “Rasulullah Saw melarang manusia membuang air kecil di bawah pepohonan yang berbuah, di halaman atau di atas air yang tergenang.”

Peserta didik dalam hal ini juga perlu diajarkan tentang bagaimana perkembangan inovasi, urbanisasi dan meningkatnya konsumerisasi pada masyarakat perkotaan, pada setiap harinya akan dihasilkan ribuan ton sampah dimana pengumpulan dan penimbunan serta pembuangannya yang dilakukan dengan benar dan sehat merupakan hal terpenting dari masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian lebih banyak.

Dalam perspektif agama Islam dan seluruh agama-agama Ilahi lainnya, jiwa manusia dianggap memiliki nilai tinggi dan menjaganya merupakan tidakan yang wajib. Dengan alasan inilah sehingga al-Quran menekankan kepada seluruh muslim untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang akan menyebabkan kehancuran diri mereka sendiri (lihat QS. Al-Baqarah: 195). Oleh karena itu, peserta didik harus dipahamkan bahwa agama Islam tidak memberikan kebolehan kepada siapapun untuk mencemari lingkungan hidupnya dan selainnya, baik dengan tindakan maupun perbuatannya, tidak boleh acuh tak acuh terhadap persoalan-persoalan yang berkaitan dengan unsur terpenting kesehatan, dan tidak berhak menghilangkan peluang masyarakat dalam memperoleh kehidupan yang sehat dengan ketidak pedulian terhadap lingkungan sosial.

 

c. Pandangan Islam Tentang Ruang Hijau

Iklim perkotaan saat ini telah mengalami perubahan yang yang mencolok dibawah pengaruh kepadatan dan keterpusatan kegiatan-kegiatan kota di mana pengkajian wilayah-wilayah kota akan ditinjau secara tertentu dan terpisah dari iklim wilayah, seperti pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan melalui kurangnya ruang hijau perkotaan terhadap ekologi kota terutama dalam kaitannya dengan iklim udara, tanah, air bawah tanah dan lain-lain, sedemikian berpengaruh sehingga unsur-unsur pembentuk dan konstruktifnya benar-benar mengalami perubahan di lingkungan perkotaan.

Meskipun masalah ruang hijau perkotaan ini tidak dijabarkan dalam bentuk yang khas dan kekinian dalam teks-teks dan literatur-literatur utama agama kita, akan tetapi topik ini berada dibawah subyek yang lebih universal, seperti penanaman pohon, mendorong masyarakat untuk melakukan penghijauan dan melarang penebangan pepohonan, dimana hal ini menghikayatkan kepedulian dan perhatian agama Islam terhadap masalah ini.

Dalam kaitannya dengan masalah ini Rasulullah SAW dalam salah satu hadisnya bersabda, “Jika kiamat telah tiba dan terdapat sebuah tunas di tangan salah satu kalian, maka tanamlah tunas tersebut jika mampu.” Dalam melarang dan menegur mereka yang menebangi pepohonan dan menghancurkan sumber-sumber daya alam serta lingkungan hidup, Rasulullah SAW bersaba, “Siapapun yang memotong pohon Sadr, maka ia akan terpuruk ke dalam api jahannam.”

Oleh karena itu peserta didik harus dipahamkan bahwa merusak dan menghancurkan segala sesuatu yang termasuk dalam sumber daya nasional bisa dikatakan tidak sesuai syar‘i. Selain di dunia tempat kita hidup terdapat ribuan faktor-faktor penting lainnya yang saling bekerjasama supaya manusia bisa memperoleh manfaat. Ketiadaan salah satu dari mereka ini akan memperhadapkan manusia pada berbagai dilema kehidupan yang sangat serius. Allah SWT telah menciptakan kenikmatan-kenikmatan di dunia dalam bentuk makanan, minuman dan segala yang memberikan kesejahteraan dan kenyamanan hidup bagi manusia dan berdasarkan ajaran-ajaran al-Quran manusia tidak dilarang untuk memanfaatkan dan merasakan kenikmatan-kenikmatan hidup tersebut, akan tetapi mereka dilarang dari menyia-nyiakan, merusak dan memanfaatkannya secara tidak tepat (lihat QS. Al-A’raf: 31).

 d. Pandangan Islam Tentang Pemeliharaan Flora Dan Fauna

Saat ini ada kecenderungan manusia melakukan perbuatan destruktif pada alam, termasuk melakukan pengrusakan pada flora dan fauna, akibatnya sejumlah hewan mulai mengalami kepunahan, ekosistem orang utan, enggang gading, burung cenderawasih, dan lain-lain sudah sangatlah kritis. Akibatnya terasa, betapa ekosistem yang seimbang menjadi tidak seimbang lagi. Beberapa waktu lalu di Jawa Timur misalnya, wabah ulat bulu menyerang warga, wabah tom cat, dan lain adalah bukti dari kecenderungan ini. Dalam QS Ar-Rum: 41 yang berulang-ulang disebutkan di atas, Allah SWT sudah mengingatkan kita umat manusia, supaya sadar dan lebih memperhatikan lingkungan hidupnya lagi.

Manusia diciptakan oleh Allah tujuannya adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi, yang tentunya juga harus dapat melestarikan bumi ini. Memang suatu saat nanti kiamat pun akan terjadi. Namun jika manusia terus bersikap merusak lingkungan seperti ini, tentunya kiamat itu sendiri akan menjadi lebih cepat karena ulah manusia itu sendiri. Setidaknya kita sebagai seorang muslim, dapat melestarikan lingkungan karena tentunya kita telah mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.

Dalam konteks inilah peserta didik harus memahami posisinya sebagai umat Islam yang harus selalu sadar untuk memelihara kelestarian lingkungan hidup, menjaga dan memanfaatkan alam terutama flora dan fauna, yang sengaja diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia, dengan catatan kita juga harus sayang kepada flora dan fauna sebagai sesama makhluk hidup, seperti yang diisyaratkan QS Al- Baqarah: 22 atau pada QSAl Baqarah: 27.

Flora dan fauna sangatlah penting keberadaannya bagi manusia, dan ini harus dipahamkan betul pada peserta didik melalui pelajaran PAI, sehingga peserta didik akan selalu melestarikan dan menjaga kelangsungannya.

  1. 3.      Metode Mengajar

Proses belajar mengajar atau proses pembelajaran merupakan proses interaksi antara pendidik (guru) dan peserta didik (siswa) dalam suatu pengajaran untuk mewujudkan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan atau ditetapkan. Dalam konteks penguatan kearifan ekologis melalui pelajaran PAI, seorang pendidik atau guru dapat menggunakan berbagai metode dan berbagai variasinya. Di antara metode yang dapat digunakan oleh pendidik atau guru dalam hal ini:

  1. Metode ceramah, adalah metode penyampaian materi ilmu pengetahuan kepada peserta didik (siswa) yang melalui proses penyampaian secara lisan.
  2. Metode tanya jawab, adalah metode di mana seorang pendidik (guru) mengajukan pertanyaan kepada peserta didik (siswa), atau sebaliknya. Metode ini dimaksudkan dapat merangsang peserta didik berpikir dan membimbingnya dalam mencapai kebenaran.
  3. Metode diskusi, adalah metode di mana pendidik (guru) mengajak peserta didik (siswa)nya untuk dapat bersama-sama memecahkan masalah melalui adu argumentasi atau pendapat.
  4. Metode pemecahan masalah (problem solving), adalah merupakan cara memberikan pengertian dengan menstimulasi peserta didik (siswa) untuk memperhatikan, menelaah, dan berpikir tentang sesuatu masalah, dan selanjutnya menganalisa masalah tersebut sebagai usaha untuk memecahkannya.
  5. Metode kisah, yaitu merupakan metode pembelajaran yang digunakan dengan cara memberi cerita atau dongeng para tokoh-tokoh yang dapat disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan, sehingga dapat menggugah hati nurani dan berusaha melakukan hal-hal yang baik.
  6. Metode suri tauladan, adalah metode yang terbaik dari metode yang telah dipaparkan di atas, karena dengan suri tauladan, seorang peserta didik (siswa) akan mudah meniru sehingga akhirnya akan dengan mudah pula mempraktikkannya.
  1. 4.      Evaluasi Pembelajaran

Selain hal-hal yang telah dijelaskan di atas, dalam konteks penguatan kearifan ekologis di kalangan peserta didik, hal yang terakhir dan tak kalah pentingnya dilakukan dalam pembelajaran PAI adalah melakukan evaluasi. Menurut Junaidi (2011), tujuan evaluasi pembelajaran PAI antara lain:

  1. Mengetahui kemampuan belajar peserta didik (siswa) dalam pembelajaran PAI, baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok/kelas, setelah ia mengikuti pendidikan dan pembelajaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan;
  2. Mengetahui tingkat efektivitas dan efisiensi berbagai komponen pembelajaran yang dipergunakan pendidik (guru) dalam jangka waktu tertentu (misalnya: perumusan materi atau bahan ajar PAI, pemilihan metode pembelajaran, media ajar, sumber belajar, dan lain-lain); dan
  3. Menentukan tindak lanjut pembelajaran PAI bagi peserta didik (siswa).

 Sementara itu fungsi penilaian pembelajaran PAI menurut Junaidi (2011):

  1. Alat untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan pembelajaran PAI. Dengan fungsi ini, maka penilaian harus mengacu pada rumusan-rumusan tujuan pembelajaran sebagai penjabaran dari kompetensi mata pelajaran;
  2. Sebagai umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar. Perbaikan mungkin dilakukan dalam hal tujuan pembelajaran PAI, kegiatan atau pengalaman belajar pendidik (siswa), strategi pembelajaran PAI yang digunakan pendidik (guru), media pembelajaran PAI, dan lain-lain;
  3. Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar peserta didik (siswa) kepada para orang tuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan kemampuan dan kecakapan belajar peserta didik (siswa) dalam bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya.

Mengingat penguatan kearifan ekologis di kalangan peserta didik di lingkungan sekolah melalui pelajaran PAI adalah proses yang berkelanjutan, maka evaluasi pembelajaran menjadi suatu keharusan.

 

PENUTUP

Dalam pandangan Islam, manusia adalah bagian dari alam, pengelola, dan khalifah (wakil Tuhan) di muka bumi. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia tentu saja berhak memanfaatkan fungsi-fungsi alam. Tapi sebaliknya, manusia juga memiliki kewajiban dan mengemban tanggung jawab dari Tuhannya untuk memelihara dan melestarikan fungsi-fungsi alam, bukan justru mengambil langkah-langkah destruktif dalam memanfaatkan fungsi-fungsi alam tersebut. Ringkasnya, agama Islam mengharamkan sikap-sikap destruktif dalam memanfaatkan fungsi-fungsi tersebut dan mengakui pentingnya menjaga dan melestarikan fungsi-fungsi alam.

Jika kita setuju bahwa manusia dan pemikirannya adalah produk dari suatu proses pendidikan yang ia dapat, maka dapat dikatakan bahwa sifat dan perilaku suka merusak lingkungan disebabkan karena lembaga pendidikan tidak memaksimalkan usaha penguatan kearifan ekologis di kalangan peserta didik. Karena itulah pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) seharusnya dapat secara optimal mengajarkan di kalangan peserta didik di lingkungan sekolah tentang pentingnya memelihara dan melestarikan lingkungan hidup beserta fungsi-fungsi ekologis. Pelajaran PAI ini akan berdampak positif mewujudkan hal tersebut, jika pelajaran PAI memiliki rencana pembelajaran yang didesain dengan baik untuk tujuan tersebut. Setidaknya ada empat komponen yang mesti diperhatikan dalam desain pembelajaran tersebut: pertama, tujuan pengajaran; kedua, materi atau bahan ajar; ketiga, metode mengajar; dan keempat, evaluasi.***

 DAFTAR PUSTAKA

 Aufa, Agus Abu, “Fikih Keluarga”, dalam Majalah Nikah Sakinah, Vol. 9 No. 10, Januari 2011.

 Baiquni, Ahmad, 1985. “Tugas Ganda Manusia”  dalam Iqra’. Yogyakarta: Salahuddin Press.

 Daradjat, Zakiah, 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

 Depag RI, 1989. Al Qur‘an dan Terjemahannya. Semarang: Thoha Putra.

 Hidayati, Nurul, 2011. “Islam Mengajarkan Kita Bersikap Ramah Lingkungan”, dalam http://www.salimah.or.id/islam-mengajarkan-kita-bersikap-ramah-lingkungan/ (diunduh 20 November 2013)

 Junaidi, 2011. Modul Pengembangan Evaluasi Pembelajaran PAI. Jakarta: Direktorat Pendidikan Agama Islam Kemenag RI.

 Kurniawan, Syamsul, 2006. Tanah Airku Murka: Pentingnya Membangun Kesadaran Eco-Teologi, Pontianak Post, 29 November.

 Kurniawan, Syamsul, 2007. Al-Quran dan Kesalehan Lingkungan, Borneo Tribune, 12 Oktober.

 Sofan dan Lif Khoiru Ahmadi, 2010. Konstruksi Pengembangan Pembelajaran. Jakarta: Pustaka.

 Tribun, 2011. “Kerusakan Lingkungan Meningkat”, dalam http://www.tribunnews.com/2011/12/30/walhi-2012-kerusakan-lingkungan-meningkat (diunduh 13 Mei 2012).


[1] Dalam agama Islam kasus pembunuhan terhadap jiwa sebagai sebuah dosa besar, pun terlarang untuk membunuh diri sendiri. Bukankah rusaknya lingkungan hidup dapat berdampak buruk bagi penjagaan kesehatan manusia, korban banjir, longsor, penyakit akibat polusi udara, air, makanan, dan lain-lain.

[2] Hal ini sejalan dengan maksud sebuah hadits “Sesungguhnya jika kamu meninggalkan anak-anakmu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta pada orang lain” (HR Bukhari dan Muslim). Contoh: hemat air dan menjaga sumber air agar tidak tercemar merupakan upaya menjaga ketersediaan air bersih bagi generasi yang akan datang. Diprediksikan sekitar 40 tahun yang akan datang bisa jadi negara-negara berperang memperebutkan sumber air bersih karena kelangkaannya. Hari ini di sebagian belahan bumi saja sudah banyak manusia sulit mendapatkan air bersih.

[3] Lingkungan hidup yang baik, udara yang bersih, akan membantu perkembangan otak dengan baik, dan sebaliknya lingkungan tercemar menurut hasil penelitian akan menurunkan kualitas IQ seorang anak

[4] Bumi, pohon, binatang, air, sumber energi, dan lain-lain adalah harta. Pengrusakan lingkungan berarti merusak modal kehidupan manusia yang telah diberikan Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: