MUHAMMAD ABDUH DAN IKHTIAR MEMAJUKAN PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Syamsul Kurniawan*)

PENDIDIKAN Islam merupakan salah satu bidang studi yang banyak mendapat banyak perhatian dari ilmuan. Hal ini karena di samping perannya yang amat strategis dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia, juga karena dalam pendidikan Islam terdapat berbagai masalah yang kompleks. Karena itu, bagi mereka yang terjun ke dunia pendidikan Islam, mereka harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan sesuai dengan tuntutan zaman. Hal ini juga yang menjadi perhatian Muhammad Abduh (seorang pemikir, teolog, mufti, dan pembaru Islam di Mesir pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20).

Abduh melihat bahwa salah satu penyebab keterbelakangan umat Islam yang amat memprihatinkan adalah hilangnya tradisi intelektual, yang pada intinya ialah kebebasan berpikir. Pendidikan pada umumnya tidak diberikan kepada kaum wanita, sehingga wanita tetap tinggal dalam kebodohan dan penderitaan. Abduh berpandangan bahwa penyakit tersebut antara lain berpangkal dari ketidaktahuan umat Islam pada ajaran agama yang sebenarnya, karena mereka mempelajari dengan cara yang tidak tepat. Menurut Abduh, penyakit tersebut dapat diobati dengan cara mendidik mereka dengan sistim pengajaran yang tepat.

Sistim pendidikan yang ada pada masanya yang selanjutnya melatarbelakangi pemikiran pendidikan Muhammad Abduh. Sebelumnya, pembaruan pendidikan Mesir diawali oleh Muhammad Ali. Dia hanya menekankan pada perkembangan aspek intelektual dan mewariskan dua tipe pendidikan pada masa berikutnya. Model pertama ialah sekolah-sekolah moderen, sedang model kedua adalah sekolah agama. Masing-masing sekolah berdiri sendiri, tanpa mempunyai hubungan satu sama lain. Pada sekolah agama tidak diberikan pelajaran ilmu-ilmu moderen yang berasal dari Barat, sehingga perkembangan intelektual berkurang. Sedangkan sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah, hanya diberikan ilmu pengetahuan Barat, tanpa memberikan ilmu agama.

Dualisme pendidikan yang memunculkan dua kelas sosial yang berbeda. Yang pertama menghasilkan ulama serta tokoh masyarakat yang enggan menerima perubahan dan mempertahankan tradisi, sedang sekolah yang kedua menghasilkan kelas elit. Generasi muda yang dimulai pada abad 19, dengan ilmu-ilmu Barat yang mereka peroleh, membuat mereka dapat menerima ide-ide Barat. Abduh melihat segi negatif dari dua model pendidikan tersebut, sehingga mendorongnya untuk mengadakan perbaikan pada dua instansi tersebut. Perbaikan yang dilakukan Abduh dalam bidang pendidikan:

 

1. Tujuan Pendidikan

Menurut Abduh tujuan pendidikan adalah mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya pada batas-batas kemungkinan seorang mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan yang dirumuskan Abduh tersebut mencakup aspek akal dan aspek spiritual. Dengan tujuan tersebut ia menginginkan terbentuknya pribadi yang mempunyai struktur jiwa yang seimbang, yang tidak hanya menekankan pengembangan akal, tetapi juga pengembangan spiritual. Abduh berkeyakinan apabila aspek akal dan spiritual dididik dengan cara dicerdaskan dan jiwa dengan agama, maka umat Islam akan dapat bersaing dengan ilmu pengetahuan baru, dan dapat mengimbangi mereka dalam kebudayaan.

2. Kurikulum Sekolah

Kurikulum yang dirumuskan Muhammad Abduh adalah sebagai berikut: (a) Untuk tingkat sekolah dasar: membaca, menulis, berhitung, dan pelajaran agama dengan materi akidah, fikih, akhlak, serta sejarah Islam. (b) Untuk tingkat menengah: manthiq dan dasar, dasar penalaran, akidah yang dibuktikan dengan akal dan dalil-dalil yang pasti, fikih dan akhlak, dan sejarah Islam. (c) Untuk tingkat atas: tafsir, hadits, bahasa Arab dengan segala cabangnya, akhlak dengan pembahasan yang rinci, sejarah Islam, retorika dan dasar-dasar berdiskusi, dan ilmu kalam.

Dari penerapan kurikulum di atas, tampak bahwa Abduh ingin menghilangkan dualisme pendidikan yang ada pada saat itu. Dia menginginkan sekolah-sekolah umum memberikan pelajaran agama dan al-Azhar diharapkan menerapkan ilmu-ilmu yang dating dari Barat.

3. Metode pengajaran

Abduh menekankan pemberian pengertian (pemahaman) dalam setiap pelajaran yang diberikan. Ia mengingatkan kepada para pendidik untuk tidak mengajar murid dengan metode hapalan, karena metode hapalan menurutnya hanya akan merusak daya nalar. Abduh menekankan metode diskusi untuk memberikan pengertian yang mendalam kepada murid.

4. Pendidikan bagi Perempuan

Menurut Abduh, pendidikan harus diikuti oleh semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Menurutnya perempuan haruslah mendapat hak yang sama dalam bidang pendidikan. Hal ini didasarkan kepada QS al-Baqarah (02): 228 dan QS al-Ahzab (33): 35.

Dari pembahasan di atas, maka tampak nilai-nilai yang ingin ditegakkan Muhammad Abduh melalui perjuangan dan pemikirannya: (1) Nilai persatuan dan nilai solidaritas, yaitu usaha yang dilakukan Abduh guna memulihkan kembali kekuatan Islam dengan membentuk urwatul wutsqa di bawah panji bersama dengan semangat ukhuwah Islamiyah; (2) Nilai pembaruan. Abduh berusaha mencanangkan gerakan pembaruan, berusaha membuka pemikiran di kalangan umat Islam yang beranggapan pintu ijtihad telah tertutup dan taklid; (3) Nilai perjuangan, yaitu gerakan yang dicanangkan Abduh baik dalam politik secara diplomatis, maupun dalam bidang pendidikan dan sosial mengandung unsure perjuangan untuk membela Islam; (4) Nilai-nilai kemerdekaan. Abduh berusaha membuka pemikiran (bebas mengemukakan pemikiran) umat Islam yang selama ini terlalu bergantung dengan pemerintah dan terbelenggu dengan pemikiran sempit yang statis.

Pendapat Muhammad Abduh tersebut di Mesir sendiri mendapat sambutan dari sejumlah tokoh pembaru. Murid-muridnya seperti Muhammad Rasyid Ridha meneruskan gagasan tersebut melalui majalah al-Manar dan Tafsir al-Manar. Kemudian Kasim Amin, Syaikh Thanthawi Jauhari. Demikian pula selanjutnya seperti Farid Wajdi, Husein Haykal, Abbas Mahmud al-Akkad, Ibrahim A. Kadir al-Mazin, Mustafa Abd. Al-Raziq, dan Sa’ad Zaqlul, bapak kemerdekaan Mesir.  Bahkan menurut Harun Nasution, selanjutnya, karangan Muhammad Abduh sendiri banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu, bahasa Turki, dan bahasa Indonesia.

Pemikiran Muhammad Abduh  tentang pendidikan dinilai sebagai awal dari kebangkitan umat Islam di awal abad ke 20. Pemikiran Muhammad Abduh yang disebarluaskan melalui tulisannya di majalah al-Manar dan al-Urwatul Wutsqa kelak menjadi rujukan para tokoh pembaru dalam dunia Islam, hingga di berbagai negara Islam muncul gagasan mendirikan sekolah-sekolah dengan menggunakan kurikulum seperti yang dirintis Abduh.***

 

REFORMASI PENDIDIKAN JANGAN SETENGAH HATI

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

BANYAK ahli mengungkapkan urgennya pengembangan SDM, khususnya melalui peranan pendidikan terutama dalam pertumbuhan ekonomi.  Menurut teori human capital, pendidikan memberi pengaruh pada pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan keterampilan dan produktivitas kerja.  Theodore W. Schultz pada tahun 1961 mengungkapkan bahwa Pendidikan merupakan salah satu bentuk investasi dalam sumber daya manusia, selain kesehatan dan migrasi.

Demikian juga Robert M. Solow pemenang Nobel bidang ekonomi pada tahun 1987 menekankan peranan ilmu pengetahuan dan investasi sumber daya manusia dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Dari teori Solow yang kemudian dikembangkan menjadi teori baru pertumbuhan ekonomi (The New Growth Theory) tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan dasar pertumbuhan ekonomi.

Seperti yang diungkap Schutz dan Solow serta ahli-ahli ekonomi lainnya bahwa pendidikan merupakan faktor penting dalam pertum-buhan ekonomi melalui peningkatan kualitas SDM.  Hal ini dapat dilihat pada negara Jepang misalnya, di mana kemajuan ekonomi yang didapatnya sekarang tak lepas dari peranan pendidikan.

Sistem pendidikan Jepang yang baik terbukti bisa menghasilkan manusia-manusia berkualitas, sehingga walaupun hancur setelah mengalami kekalahan pada Perang Dunia II, mereka dapat cepat bangkit maju dan bahkan bersaing dengan negara yang mengalah-kannya dalam pe-rang. Negara Asia lainnya seperti Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura juga memperlihatkan fenomena yang tidak jauh berbeda dari Jepang, di mana kemajuan ekonomi yang mereka dapat adalah karena tingginya kualitas SDM-nya. Agaknya keadaan di Indonesia berbeda jauh sekali dengan negara-negara tersebut. Dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang relatif lebih banyak, tapi negara kita ternyata jauh tertinggal.

Oleh karena itu reformasi pendidikan – perlu dilakukan sekarang juga walaupun hal itu terasa amat terlambat – dan harus diseriusi. Reformasi berarti memperbaiki, membetulkan, menyempurnakan dengan membuat sesuatu yang salah menjadi benar. Reformasi berimplikasi pada merubah sesuatu, menghilangkan yang tidak sempurna menjadi lebih sempurna seperti melalui perubahan kebijakan institusional. Beberapa karakteristik reformasi dalam suatu bidang tertentu yaitu adanya keadaan yang tidak memuaskan pada masa yang lalu, keinginan untuk memperbaikinya pada masa yang akan datang, adanya perubahan besar-besaran, adanya orang yang melakukan, adanya pemikiran atau ide-ide baru, adanya sistem dalam suatu institusi tertentu baik dalam skala kecil seperti sekolah maupun skala besar seperti negara sekalipun. Sedangkan yang dimaksudkan dengan reformasi pendidikan dalam tulisan ini adalah upaya perbaikan pada bidang pendidikan.

Kenapa ini penting kita bincangkan? Seperti yang diuraikan di atas, bahwa keadaan pendidikan di negeri kita pada masa sekarang sangat mengkhawatirkan. Pendidikan kita hingga saat ini belum mampu membawa Indonesia keluar dari lingkaran krisis yang berkepanjangan.

Bukan saja itu, krisis moral juga menjadi bagian yang menambah deret persoalan yang dihadapi bangsa kita. Seperti yang bisa kita simak di berita-berita di setiap harinya, kasus tawuran antar pelajar; mahalnya biaya masuk sekolah; sarana dan prasarana pendidikan yang tak tercukupi di banyak sekolah, terutama di daerah perbatasan, sampai tentang tragedi contek massal yang pernah mewarnai momen ujian nasional, dan lain-lain. Sebagian persoalan yang saya sebut tersebut, merupakan salah satu alasan tentang pentingnya melakukan reformasi pendidikan.

Pada aras ini, reformasi pendidikan harusnya memiliki dua karakteristik dasar yaitu “terprogram” dan “sistemik”. Reformasi pendidikan yang terprogram menunjuk pada kurikulum atau program suatu institusi pendidikan. Yang termasuk ke dalam reformasi terprogram ini adalah inovasi. Inovasi adalah memperkenalkan ide baru, metode baru atau sarana baru untuk meningkatkan beberapa aspek dalam proses pendidikan agar terjadi perubahan secara kontras dari sebelumnya dengan maksud-maksud tertentu yang ditetapkan. Seorang reformer terprogram memperkenalkan lebih dari satu inovasi dan mengembangkan perencanaan yang terorganisir dengan maksud adanya perubahan dan perbaikan untuk mencapai tujuan baru. Biasanya inovasi pendidikan terjadi terlebih dahulu sebelum terjadinya reformasi pendidikan.

Sementara itu reformasi sistemik berkaitan dengan adanya hubungan kewenangan dan distribusi serta alokasi sumber daya yang mengontrol sistem pendidikan secara keseluruhan. Hal ini sering kali terjadi di luar sekolah dan berada pada kekuatan sosial dan politik. Karakteristik reformasi sistemik ini sulit sekali diwujudkan karena menyankut struktur kekuasaan yang ada.

Sebagai penutup, reformasi pendidikan saya ibaratkan sebagai pohon yang terdiri dari empat bagian yaitu akar, batang, cabang dan daunnya. Akar reformasi yang merupakan landasan filosofis yang tak lain bersumber dari cara hidup (way of life) masyarakatnya. Sebagai akarnya reformasi pendidikan adalah masalah sentralisasi-desentralisasi, masalah pemerataan-mutu dan siklus politik pemerintahan setempat. Sebagai batangnya adalah berupa mandat dari pemerintah dan standar-standarnya tentang struktur dan tujuannya. Dalam hal ini isu-isu yang muncul adalah masalah akuntabilitas dan prestasi sebagai prioritas utama. Cabang-cabang reformasi pendidikan adalah manajemen lokal, pemberdayaan guru, perhatian pada daerah setempat. Sedangkan daun-daun reformasi pendidikan adalah keterlibatan orang tua peserta didik dan keterlibatan masyarakat untuk menentukan misi sekolah yang dapat diterima dan bernilai bagi masyarakat setempat. Terdapat tiga kondisi untuk terjadinya reformasi pendidikan yaitu adanya perubahan struktur organisasi, adanya mekanisme monitoring dari hasil yang diharapkan secara mudah yang biasa disebut akuntabilitas dan terciptanya kekuatan untuk terjadinya reformasi.

Strategi reformasi pendidikan di atas barangkali sudah sering dibicarakan, didiskusikan bahkan diagendakan oleh pemerintah, namun agaknya berjalan masih “setengah hati”. Karena itu yang terpenting dari agenda reformasi di bidang pendidikan menurut saya adalah komitmen, bukan sekadar diwacanakan, tapi betul-betul dikerjakan.***

AJARAN JIHAD PERLU DIDIDIKKAN SECARA BENAR

Oleh: Syamsul Kurniawan

 JIHAD merupakan bagian yang integral dalam diskursus keislaman, sejak masa kedatangan Islam hingga era kontemporer sekarang ini. Jihad sebagai suatu konsep seringkali diperdebatkan dalam media massa dan kajian akademik, baik di Timur maupun Barat (Nashr, 1994: 19).

Perbincangan tentang konsep jihad rupanya juga mengalami pergeseran dan perubahan sesuai dengan konteks dan lingkungan dari masing-masing pemikir (Azra, 1996: 127). Dalam pandangan Barat, jihad menjadi stereotif, sebab jihad fi sabilillah seringkali diartikan sebagai perang suci (holy war) untuk menyebarkan agama Islam.

Istilah the holy war berasal dari sejarah Eropa sebagai perang dengan alasan-alasan keagamaan (Rahardjo, 1996: 511, Schimmel, 1992: 69-70). Ia mengandung konotasi negatif, karena seakan-akan perbuatan itu dilakukan oleh orang-orang fanatik yang ingin memaksakan pandangan dunianya kepada orang lain (Sardar dan Merryl Wyn Davies, 1998: 20). Pandangan Barat tersebut memberi label kepada Islam sebagai agama yang meyakini cara-cara kekerasan dan bergerak dalam kehidupan dengan landasan kekejaman (Fadhullah, 1995: 158). Polling di CNN, 13 Juni 2002 agaknya bisa membenarkan pendapat demikian, suara terbanyak menginginkan perubahan paradigm dari war against terrorism menjadi war against Islamism. Bagi Barat, Islam adalah agama teroris, identik dengan kekerasan.

Di kalangan umat Islam Indonesia sendiri, sebagian orang mengartikan jihad dengan satu makna: “perjuangan senjata dengan alternatif hidup mulia atau mati syahid.” Sementara yang lain berpendapat bahwa yang disebut jihad akbar adalah perjuangan melawan hawa nafsu.

Dapat kita mafhumi bahwa jihad adalah produk pendidikan. Maksudnya, makna jihad pada dasarnya dibentuk melalui sebuah proses pendidikan. Pemaknaan-pemaknaan tentang jihad di antaranya tak bisa dilepaskan bagaimana makna jihad tersebut disosialisasikan oleh guru-guru agama Islam di lembaga-lembaga pendidikan dengan persepsinya masing-masing kepada peserta didik mereka: apakah makna jihad identik dengan perang ataukah bisa mempunyai makna lain. Di sekolah-sekolah apakah itu SD/MI, SMP/MTs, atau SMA/MA, materi tentang jihad bisa disosialisasikan melalui bidang studi Al Qur‘an dan Hadits, Aqidah dan Akhlak, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam.

Jika jihad di jalan Allah itu diajarkan oleh guru agama Islam, yaitu mengibarkan bendera Tawhid dan menerapkan hukum Allah, membela tanah air, melindungi nilai-nilai, dan membangun kemaslahatan di muka bumi ini, maka yang diajarkan guru agama Islam itu sudah benar. Jika jihad di jalan Allah itu adalah untuk mempertahankan iman dan perjuangan untuk kehidupan yang bermartabat dan perjuangan untuk meletakkan dasar-dasar keadilan, perdamaian, keamanan dan iman, maka yang diajarkan guru agama Islam tentang jihad itu juga benar. Jika jihad itu adalah menyebarkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan pengetahuan yang bermanfaat, mengokohkan fondasi ilmiah dan penelitian di perguruan tinggi, mengamalkan Al-Quran, mencetakan dan menerbitan karya-karya ilmiah, mengajarkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, membela yang tertindas, menyelamatkan orang-orang yang menderita, melindungi yang lemah, menebar kasih sayang, mendidik yang bodoh, serta mengulurkan tangan untuk kaum miskin, maka tak ada yang salah dengan  materi jihad yang diajarkan. Jika jihad itu bermakna membela agama, menjaga keutuhan bangsa dan negara, meniadakan perbedaan antar aliran pemikiran, sekte, perjuangan melawan kebodohan dan fanatisme dan rasisme, melawan politeisme, bid’ah, takhayul, dan sihir, maka ini juga benar.

Namun, jika jihad yang diajarkan dengan memberi makna dan pemahaman sebagai penghancuran tanah air, penghancuran hasil pembangunan, merusak fasilitas umum, merusak properti, menteror orang yang tidak bersalah, dan membunuh kelompok non muslim yang dilindungi karena tak berdosa, mengkhianati rakyat, mudah membunuh mereka yang seharusnya dilindungi, menjarah harta kekayaan, dan menciptakan ketidaknyamanan dan ketidaktenteraman, mengganggu suasana kebangsaan, maka ini yang saya sebutkan ajaran jihad telah diajarkan secara keliru.

Jika jihad diberi makna dan pemahaman sebagai memanggul senjata untuk melawan rakyat, tidak melindungi orang-orang yang tak berdosa dan tak berdaya, menyebarkan kekacauan dan kebencian, anti sosial dan menjauh dari cita-cita kaum saleh, memisahkan anak-anak dari kasih sayang dan ketidaktaatan kepada orang tua, memutus hubungan kekerabatan, menciptakan kerusuhan, membahayakan kaum muslimin dan menyakiti mereka yang memiliki perjanjian damai dengan kita, maka ada yang salah di “otak” guru agama Islam, sehingga mengajarkan jihad dengan pemaknaan yang keliru.

Jika jihad diajarkan untuk ditafsirkan dengan tujuan merusak citra Islam, berbuat sesuatu yang membuat orang enggan masuk dan mengenal Islam, menjelekkan jasa-jasa ulama terdahulu sehingga memberi kesempatan lawan untuk menyerang Islam, menghidupkan faham kekanak-kanakan yang merusak untuk memerangi Islam, menghalalkan yang diharamkan Allah, mempermainkan kesucian agama, dan menghina generasinya, maka sekali lagi yang sampaikan bahwa ini adalah keliru dalam pandangan Islam.

Jihad di jalan Allah itu sebenarnya adalah ibadah yang paling suci dan paling indah. Sebab, jihad adalah melindungi keyakinan dan iman, melindungi bangsa, memelihara risalah, menjaga kebajikan, dan melindungi profesi. Semua bangsa di muka bumi ini berjihad melalui caranya sendiri, baik berjuang melalui pendekatan Rabbani atau pendekatan tradisi. Semua negara di dunia berjuang untuk melindungi integritas dan memeliharaan stabilitas ekonominya. Jihad di jalan Allah itu tidak bermakna mencari kematian, bahkan justru mencari kehidupan yang layak. Karena hidup di jalan Allah lebih indah dibanding kematian di jalan Allah. Sebab, hidup di jalan Allah adalah iman dan ilmu, berkarya dan bekerja, belajar dan manfaat, serta kreatif dan produktif. Dalam keadaan hidup, seseorang bisa menghamba kepada Allah dengan cara belajar dari ulama, menyediakan makanan dan obat-obatan, berusaha mencegah madalarat, menghapus bencana, memberi manfaat kaum miskin, dan berdiri menolong mereka yang malang. Maka, para bangsawan, para menteri, para dokter, para insinyur, para guru, para prajurit, para petani adalah pejuang di jalan Allah jika semua pekerjaan itu dilakukan dengan jujur di hadapan Allah. Sesungguhnya seseorang yang bekerja untuk kehidupan keluarganya, mencukupi janda-janda, menyantuni fakir miskin dan yatim piatu, membangun masjid, menggali sumur, memberi makan yang lapar, dan menyembuhkan pasien adalah jihad mulia di jalan Allah.

Islam datang untuk memberikan rasa aman dan bukan mengundang ketakutan, demikian mengutip Syaikh Dr. Aidh Al-Qarni (Intelektual dan Kolumnis Arab Saudi, pengarang buku best seller La Tahzan). Rasulullah bersabda: ”Berilah mereka kabar gembira dan jangan membuat mereka lari, permudah mereka dan janganlah mereka dibuat sulit.”

Karena itu untuk guru-guru agama Islam, apakah itu di SD/MI, SMP/ MTs. dan atau di SMA/MA  sekali lagi hati-hatilah dari mengajarkan pemahaman jihad yang sesat pada murid-murid yang menganggap jihad itu adalah menyakiti orang lain dan semangat memanggul senjata untuk membunuh tanpa didasari ilmu, pemahaman yang benar, analisa, dan perenungan. Sesungguhnya jihad yang terbaik dalam pemahaman para ulama adalah mereka yang pergi untuk mencari ilmu dan penghidupan, termasuk penjual kayu bakar, peternak, pengemudi truk, penjahit, dan pedagang. Sungguh, bekerja untuk keluarga melalui beragam profesi ini adalah lebih mulia seribu kali daripada mengalirkan darah yang diharamkan Allah, melakukan teror, dan mengintimidasi orang-orang yang seharusnya kita lindungi kehidupannya.***

 

Bahan Bacaan

 

Azra, Azyumardi, 1996. Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modern, Hingga Post-Modernisme. Jakarta: Paramadina.

Fadhullah, Muhammad Husain, 1976. Islam dan Logika Kekuatan. Terj. Afif Muhammad dan H. Abdul Adhim. Bandung: Mizan.

 

http://musallamudassir.wordpress.com/2009/12/16/makna-jihad-yang-benar/

Nashr, Seyyed Hossein, 1994. Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern, terj. Lukman Hakim. Bandung: Pustaka.

Rahardjo, M. Dawam, 1996. Ensiklopedi Al Qur‘an.  Jakarta: Paramadina.

Sardar, Ziauddin dan Merryl Wyn Davies (Ed.), 1992. Wajah-wajah Islam. Terj.  A.E Priyono dan Ade Armando. Bandung: Mizan.

Schimmel, Annemarie, 1992. Islam: An Introduction. Albany: State University of Newyork Press.

PR BERSAMA DALAM MENCERDASKAN BANGSA

Oleh: Syamsul Kurniawan*)

MANUSIA adalah makhluk Tuhan yang unik. Hakikat manusia yang unik adalah dia “belum menjadi”. Manusia belum selesai dan berada di dalam proses yang menjadi. Inilah proses pendidikan.

Menurut Jurgen Habermas, proses atau praktik pendidikan adalah proses komunikatif. Artinya, proses atau praktik pendidikan mempunyai arah tertentu. Arah tersebut merupakan tindakan interaktif antara peserta didik dan dunianya, yaitu sesama manusia (dengan orang tua, dengan masyarakat, dan dengan dunianya untuk diberi makna). Proses ini meminjam istilah HAR Tilaar disebut proses humanisasi. Proses humanisasi tersebut sangat penting dalam proses atau praktik pendidikan, karenanya pendidikan hendaknya diserta tujuan (dalam hal ini tujuan pendidikan).

Susanne K. Langer seorang filsuf terkemuka memperingatkan kepada para pendidik supaya merumuskan dengan jelas apa tujuan pendidikan, karena menurut pendapatnya proses atau praktik pendidikan tanpa tujuan akan merupakan tindakan sia-sia.

Salah satu di antara tujuan utama pendidikan adalah untuk mencerdaskan. Demikian juga saya kira tujuan pendidikan yang dimiliki bangsa ini. Sayangnya, tujuan mencerdaskan ini selalu menjadi pekerjaan rumah yang tertunda, meskipun di tiap tahunnya kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, di tiap tanggal 2 Mei. Peringatan ini seolah-olah menjadi seremonial saja di tiap tahunnya, karena jika tidak kita sudah bisa melihat hasil dari proses atau praktik pendidikan yang berlangsung di negara kita ini. Apa hasilnya? Korupsi masih merajalela, pemusnahan sumber-sumber daya alam di tiap tahunnya masih sering kita dengar, kasus kekerasan, Narkoba, termasuk kasus a susila yang menimpa anak di bawah umur masih menjadi keprihatinan kita sampai saat ini. Bukan saja itu, seringkali bangsa kita ini “lembek” pada bangsa lain, akibatnya sumber-sumber kekayaan alam, seringkali dijarah manfaatnya oleh bangsa asing, dan kita hanya menikmati sisanya. Ini juga ciri tidak cerdasnya bangsa kita.

Tentu saja bangsa yang cerdas adalah bangsa yang terdidik. Para anggotanya bukanlah “mem-beo” yang tinggal menurut perintah. Bangsa yang cerdas mempunyai anggota masyarakat yang cerdas, mampu berdiri sendiri, dan mempunyai pendirian sendiri. Para anggotanya tidak bergantung pada orang lain tetapi percaya diri sebagai suatu bangsa, meminjam istilah Soekarno, mampu Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Bukan bangsa yang lembek. Bangsa yang lembek adalah bangsa yang tidak mau bekerja keras, yang rentan terhadap penyakit KKN, dan bangsa yang tidak percaya diri karena tingkat pendidikannya yang rendah.

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mempunyai pilihan, dengan catatan bahwa pilihan tersebut tersedia di dalam masyarakat atau disediakan oleh pemerintah. Mengadakan pilihan terhadap alternatif-alternatif yang ada merupakan karakteristik penting dari suatu masyarakat yang demokratis. Bangsa yang dapat memilih juga berarti bangsa yang dapat bertanggungjawab atas pilihannya. Pilihan ini tentunya didasarkan pada pertimbangan moral. Pertanyaannya, dasar pemilihan manusia Indonesia yang cerdas didasarkan pada etika yang mana. Hemat saya, dasar moral dalam masyarakat Indonesia adalah Pancasila. Selanjutnya nilai-nilai Pancasila disesuaikan menurut keyakinan agama masing-masing. Sampai saat ini saya berpendapat bahwa tidak ada pertentangan antara moral Pancasila dan moral yang didasarkan kepada agama masing-masing.

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang dapat berpatisipasi, baik di dalam memajukan masyarakat bangsanya, juga dalam rangka memajukan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia. Inilah amanat yang dimuat dalam Pembukaan UUD 1945. Sementara bangsa yang lembek adalah bangsa yang inward looking, yang hanya melihat pada kepentingan kelompoknya sendiri, dan tidak pernah melihat keluar, outward looking. Dewasa ini tidak ada suatu bangsa yang bisa eksis tanpa berkomunikasi dengan bangsa-bangsa lain.

Selain itu bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mempunyai keterampilan, sehingga ia dapat meningkatkan derajat hidupnya dan sekaligus dia dapat bersaing dengan bangsa-bangsa yang lain di era globalisasi dewasa ini. Belajar dari pengalaman bangsa ini, keterampilan yang hemat saya perlu dimiliki bangsa kita ini, mula-mula adalah keterampilan yang dapat mengolah kekayaan alam yang tersedia melimpah di negara kita, dan pada gilirannya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa kita.

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mempunyai kesadaran untuk memelihara kerukunan bersama sebagai warga negara. Terlebih bangsa kita ini multikultural, sehingga rawan terjadinya konflik. Sebaliknya kondisi bangsa kita yang multikultural harus disadari merupakan suatu modal yang sangat besar. Keunikan dari masing-masing suku bangsa misalnya, bisa bangsa kita manfaatkan untuk meraih keuntungan dari sektor pariwisata.

Sebagai penutup, bangsa yang cerdas bukanlah tercipta dengan sendirinya, diperlukan usaha dan kerja keras, serta komitmen bersama untuk memperbaiki yang kurang-kurang dari pendidikan kita. Bangsa yang cerdas masih tetap menjadi “pekerjaan rumah” (PR) bangsa kita, bahkan hingga sekarang ini. Dan jika kita tak serius dalam mengurusinya, akan terus menjadi PR yang tak berkesudahan di negeri ini di tiap tahunnya, tanpa bisa menikmati hasilnya.***

 

MEMILIH BERJUANG ATAU MAKIN TERPURUK

(Sekedar Catatan dari Film Surat Kecil Untuk Tuhan)

Oleh: SYAMSUL KURNIAWAN

FILM surat kecil untuk Tuhan mulanya adalah cerita pendek yang dirilis oleh Agus Davonar tentang kisah nyata seorang gadis bernama Gitta Sassa Wanda Cantika, mantan artis cilik era 1998 yang melawan kanker ganas dengan perkiraan hidup hanya lima hari lagi. Gitta yang akrab dipanggil Keke di film ini berjuang hidup melawan kanker ganas rhabdomyosarcoma (kanker jaringan lunak).

Keke mendapatkan kesempatan untuk sembuh setelah bertahan selama enam bulan melalui kemotrapi untuk membunuh sel-sel kanker yang menggerogoti tubuhnya. Setiap menjalani kemotrapi (penyinaran) rambut-rambut Keke rontok dan tubuh kecilnya harus menjalaninya hingga 25 kali untuk bisa sembuh. Alex Komang sebagai ayah Keke adalah teladan dalam film ini, ia dengan sabar mendampingi Keke dalam menghadapi penyakit kanker yang dideritanya. Penyakit yang diderita Keke tidak membuat Keke menyerah, dan sebaliknya ia terus berjuang untuk hidup. Saya kira ini satu pesan penting yang sepertinya ingin disampaikan melalui film Surat Kecil Untuk Tuhan, yaitu bagaimana kita memaknai hidup sebagai perjuangan, dan bukan sebaliknya memilih putus asa dalam menjalani hidup.

Misalnya di film ini divisualisasikan bagaimana Keke yang sakit sering mimisan, sulit bernapas dan matanya memerah lalu berair dan lama kelamaan ada benjolan yang semakin hari semakin besar di bawah kelopak mata bagian kiri. Keke tampak buruk sekali, kecantikannya hilang. Walau begitu, ia tetap ingin ikut ujian sekolah. Kegigihannya dalam menjalani kehidupan ini yang membuat gurunya memberikan penghargaan sebagai “Juara Kelas”. Keke yang gigih, juga memang anak yang cerdas, dan ia layak mendapat predikat itu.

Hidup ini memang merupakan sebuah pilihan, setiap saat kita selalu dihadapkan pada sebuah pilihan. Keke juga memiliki pilihan: memilih untuk “putus asa” menghadapi penyakit yang ia derita atau sebaliknya memilih “berjuang” untuk sembuh dan terus hidup. Dan Keke memilih “berjuang”.

Bagaimana dengan kita? Ketika kita dihantam musibah kita justru lebih banyak mengeluh. Ketika kita dibebani dengan tugas-tugas dari dosen yang menumpuk, kita seringkali mengeluh “tak sanggup”, “susah cari bahan”, “susah membagi waktu”, dan banyak lagi yang kita keluhkan. Ketika kita (seorang mahasiswa) telat dikirimi uang jajan dari orang tua kita di kampung, seringkali kita mengeluh, seolah-olah “telat dikirim” adalah alamat “tidak makan hari ini” atau bahasa yang sedikit dibuat kasar: “bakal mati kelaparan”. Apalagi ketika kita diberi Tuhan sakit, kita jadi terpuruk, dan akibatnya kita jadi menyalahkan Tuhan. Apapun situasi kita saat ini, berjuang atau memilih terpuruk, itu merupakan konsekuensi dari sebuah proses berpikir/ mindset yang telah kita hasilkan.

Kita pasti tahu makhluk yang bernama komputer, bukan? Nah, pikiran manusia itu jauh lebih hebat dari komputer, tetapi pikiran mempunyai sifat-sifat seperti sebuah komputer, yaitu kita bisa membuat suatu program apapun di pikiran kita yang secara fisiknya tersimpan di dalam otak kita. Kita bisa memprogram “komputer” pikiran kita untuk berurusan secara efektif dengan orang-orang lain, menjadi bahagia, atau yang lain.

Ketahuilah, bahwa dalam jangka waktu tertentu, masing-masing dari kita akan menjadi tepat seperti “apa yang kita programkan dalam pikiran kita”. Seorang yang bahagia dan sejahtera, pasti telah memprogramkan “bahagia dan sejahtera” ke dalam pikiran otaknya. Demikian juga dengan orang yang menyedihkan, dia pasti memberikan perintah pemrograman kepada pikirannya untuk “menjadikannya tidak bahagia, tidak sejahtera, terpuruk, dan banyak lagi program negatif” yang ditanamkan ke dalam otaknya. Seperti halnya sebuah komputer, pikiran kita akan selalu siap melakukan apa saja yang kita perintahkan kepadanya, karena di dalamnya sudah ada program-program yang telah kita “install”. Kita tinggal “click” saja ke program tadi, maka itu akan jalan dengan sendirinya. Pikiran kita akan mempengaruhi kita. Oleh karena itu, seperti Keke, programlah pikiran kita dengan “software” kebahagiaan dan kemakmuran, maka kita akan menikmati hidup dan bukan sebaliknya. Demikian pula ketika kita diuji Tuhan dengan musibah, kita memilih berjuang dan sabar, dan bukan terpuruk.

Ingatlah hal ini, bahwa banyak orang yang kurang beruntung, bukan karena ia tidak beruntung, tetapi kebanyakan karena tidak memiliki mindset yang benar, sehingga ia merasa menjadi “orang paling tidak beruntung”. Ia jadi tidak pernah mensyukuri apapun yang pernah atau sedang ia miliki. Karena itu hargai apa yang kita miliki saat ini, karena sungguh, kebahagiaan tak akan mau datang pada mereka yang tidak menghargai apa yang mereka miliki. Jika, kemarin, misalnya, tak berakhir seperti yang kita ingini. Ingatlah hal ini: Jika Tuhan ingin kemarin kita sempurna, Tuhan tidak perlu menciptakan hari ini. Demikian pula jika keadaan hari ini tidak seperti yang kita ingini, Ingatlah hal ini: Jika Tuhan ingin hari ini sempurna, Tuhan tidak perlu menciptakan hari esok untuk kita.

Jadi melalui film ini belajarlah dari Keke, tentang pentingnya “berjuang” dan bukan “putus asa”. Kita juga bisa mengambil pelajaran dari Keke yang tidak pernah berhenti belajar: terutama tentang “hidup”.

Film ini menarik bukan saja karena ceritanya yang inspiratif tapi juga karena para pemain dalam film ini, yang kebanyakan bukanlah bintang-bintang “beken”. Pemeran Keke yaitu Dinda Hauw sendiri tampil amat memukau untuk ukuran pendatang baru di dunia entertainment. Tak ketinggalan aktor dan aktris lain yang hanya menjadi pemeran pendukung tampil maksimal. Bahkan aktor yang menjadi supir keluarga Keke di film itu, yang sering tampil tanpa bahasa verbal cukup membuat emosi para penonton teraduk dalam keharuan kisah ini. Sutradara film ini juga berhasil ‘menjahit’ potongan-potongan cerita menjadi adegan-adegan utuh untuk menggambarkan ketegaran hati sosok Keke dalam durasi 100 menit di layar lebar. Kuatnya skenario kehidupan Gita Sesa Wanda Cantika, atau yang biasa dipanggil Keke, sungguh kental ditangkap, itu menurut saya, mungkin juga oleh para penonton lainnya.***

 

Kita dan Bencana

Oleh: Syamsul Kurniawan

BENCANA alam dapat dimafhumi sebagai peristiwa alam yang mengakibatkan dampak besar bagi populasi manusia, di antaranya berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, badai, taufan, kebakaran liar, dan wabah penyakit. Sedangkan bencana alam yang terjadi secara tidak alami adalah kelaparan dan kemiskinan, yaitu kekurangan bahan pangan dalam jumlah besar yang disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan alam.

Sejarah bencana agaknya dekat dengan sejarah kehidupan kita sebagai manusia. Sejak dulu, manusia telah menghadapi bencana alam berulang kali dan melenyapkan populasi mereka. Pada zaman dahulu manusia yang juga rentan akan dampak bencana alam meyakini bahwa bencana alam adalah hukuman dan pertanda kemarahan dewa-dewa mereka. Bahkan beberapa peradaban kuno menghubungkan lingkungan tempat tinggal mereka dengan dewa atau Tuhan yang dianggap manusia dapat memberi kemakmuran, sebaliknya bisa member kehancuran.

Kata bencana dalam bahasa Inggris “disaster” berasal dari Bahasa Latin “dis” yang bermakna buruk/ kemalangan dan “aster” yang bermakna bintang-bintang. Kedua kata ini jika dikombinasikan memberikan pengertian “kemalangan yang terjadi di bawah bintang”. Orang-orang dulu pernah meyakini bahwa bintang dapat memprediksi suatu kejadian termasuk peristiwa yang buruk.

Istilah Bencana, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ialah  “sesutu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan; malapetaka; kecelakaan; marabahaya.” Dalam sisi lain yang khusus, terutama dalam konteks perilaku manusia, bencana ialah “gangguan, godaan, tipuan”. Dengan demikian, bencana ialah segala sesuatu yang terjadi yang menimbulkan kesusahan hidup, baik berupa bencana alam maupun bencana sosial. jika banjir, gempa, tsunami, kekeringan, tanah longsor, luapan Lumpur panas, dan sejenisnya termasuk bencana alam; maka kelaparan dan kemiskinan dapat dikatakan sebagai bentuk dari bencana.

Bencana dalam Islam antara lain disebut dengan istilah musibah dan merupakan salah satu bentuk ujian terhadap keimanan manusia kepada Allah. Selain musibah, bentuk ujian Allah kepada manusia juga diistilahkan dengan bala’, fitnah dan ‘iqab.

Tentu tidak ada dari kita yang suka pada bencana, karena betapa bencana itu amat menyusahkan dan  tak ada pula seorang pun yang sanggup menolaknya. Tak ada manusia super serupa “superman” yang memiliki kekuatan untuk melawan ataupun mencegah bencana alam ini, termasuk memprediksinya. Kalaupun ada para ahli atau alat canggih yang ditengarai mampu memprediksi terjadinya bencana, tapi apakah mereka juga mampu memprediksi waktu persisnya akan terjadi bencana dimaksud? Tentu saja tidak. Bahkan siapa pun tidak dapat memprediksi pasti nasibnya sendiri jika bencana itu datang menimpanya. Selain itu, telah banyak sinyal diberikan akan terjadi bencana alam pada suatu hari ternyata tidak terbukti, tetapi justru bencana itu datang pada saat orang-orang tidak menghiraukannya. Contohlah apa yang terjadi di Aceh (11/4) pukul 15.38 yang berpusat di Simeulue tentu saja “kembali” membuka trauma pada masyarakat Aceh (yang mungkin saja sudah mulai sedikit melupakan) pada gempa dan tsunami yang pernah menggoyang dan menggulung mereka pada tahun 2004 silam.

Menurut al-Qur‘an, sebab-sebab bencana lazimnya dapat dibagi menjadi dua: Pertama, Bencana yang muncul semata karena bagian dari ketetapan Tuhan; dan yang kedua, bencana yang muncul sebagai teguran pada manusia yang selalu muncul sifat destruktifnya pada alam.

Sebab bencana yang pertama, yaitu yang merupakan bagian dari ketetapan Tuhan bisa disimak dari firman Allah QS 09: 51: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakal.” Ayat ini mengajarkan kita bahwa semua jenis musibah merupakan bagian dari ketentuan Tuhan, sehingga berada di luar kuasa manusia. Tidak ada sikap lain, selain kita menghadapi semua itu dengan sabar sembari terus berdoa agar bencana itu segera berlalu. Bencana yang diberikan Tuhan kepada kita bisa jadi merupakan “ujian” agar kita semakin bertakwa kepada-Nya.

Dan sungguh Kami pasti akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Innalillahi wa innaa ilaihi raaji‘un. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS 02: 155-157).

Sikap sabar yang dimaksud pada ayat di atas paling tidak melahirkan cara pandang positif terutama dalam menjelaskan sebab-sebab bencana, bukan sebaliknya terjebak pada sikap saling salah-menyalahkan, bahkan mengait-ngaitkannya dengan aspek-aspek mitologi. Memang tidak dapat dipungkiri, meski masyarakat Indonesia telah berada di masa moderen, dalam konteks tertentu, dimensi mitologis masih subur dijumpai dalam praktiknya di masyarakat. Dalam mengurai sebab-sebab bencana misalnya, ada yang mengaitkannya dengan keberadaan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengingat betapa banyaknya bencana yang terjadi sejak periode kepemimpinan beliau. Analisis yang berkembang di sebagian masyarakat kita misalnya, mengatakan bahwa pemerintahan memang didukung oleh rakyat namun tidak didukung oleh alam. Selanjutnya muncul impian akan datangnya sosok mesianik, jurus selamat, alias ratu adil. Anggapan-anggapan ini menurut saya tidak masuk akal dan menyesatkan.

Kecuali itu, seperti yang sudah saya uraikan di atas, bahwa bencana bisa juga terjadi sebagai teguran Tuhan pada manusia yang suka muncul sikap destruktifnya pada alam. Ringkasnya, bencana alam yang menimpa negeri ini sebutlah sejak tahun 2004 juga bisa merupakan panen bencana yang diderita oleh anak negeri setelah menanam benih pengrusakan ekosistem alam selama puluhan tahun. Banjir dan tanah longsor misalnya yang kerapkali mengancam sebagian daerah di Indonesia, bahkan di Kalimantan Barat. Dampaknya, ribuan hektar sawah, ladang, kebun, sarana dan prasarana fisik mengalami kerusakan.

Wajar saja, setiap tahunnya sejumlah besar hutan kita kita masih saja dimusnahkan. Sumber-sumber kekayaan alam dimanfaatkan secara tidak adil, berputar hanya pada segelintir orang. Sebagian manusia serakah menikmati manfaat kekayaan alam, sementara sebagian lain menderita dalam kemiskinan dan kelaparan. Kemiskinan dan kelaparan seperti yang sudah saya uraikan di muka, juga merupakan “bencana”. Dan hemat saya, ini adalah suatu kenyataan pahit dan memprihatinkan dari suatu bangsa, juga menelan korban jiwa. Berita yang ditulis Kompas, 12 April 2012 bisa ikut membenarkan pendapat ini. Dalam kurun empat bulan terakhir setidaknya ada 11 kasus bayi dibuang dalam kondisi tak bernyawa serta pembunuhan dan penganiayaan anak kandung di Jabodetabek. Pelaku didominasi orang dekat termasuk orang tua, karena himpitan ekonomi.

Karena itu menurut saya, yang paling penting adalah menyadari bahwa meskipun bencana yang menimpa kita kita yakini bagian dari ketetapan Tuhan, karena itu sulit diprediksi secara pasti (seperti kasus Aceh). Namun bisa juga dikatakan bahwa sebagian bencana lain adalah teguran Tuhan pada kita yang sering tidak arif dan muncul sifat destruktifnya pada alam, dan berlaku tidak adil dalam pemanfaatannya. Perhatikan dua firman Tuhan berikut:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka, sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS 30: 41). Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri (QS 42: 30).

Kaitannya dengan bentuk bencana yang terakhir saya sebut,– yaitu  teguran Tuhan pada kita yang sering tidak arif dan muncul sifat destruktifnya pada alam, dan berlaku tidak adil dalam pemanfaatannya,– maka   tentu saja kita bisa berikhtiar dalam mengantisipasinya. Contoh yang paling dekat dengan kita (warga Kalbar) adalah dengan tidak mengeksploitasi hutan secara liar yang ujung-ujungnya menyebabkan terjadi banjir, erosi, tanah longsor yang dapat merugikan kita sendiri.

Wallahu a’lam bishshowab.***

 

 

FILSAFAT DAN PERANNYA DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Syamsul Kurniawan

KATA filsafat bukan barang asing lagi, karena lazim dipakai dalam percakapan sehari-hari. Meskipun demikian perlu diketahui rangkaian, pembahasan, dan pemikiran apa yang terdapat di dalamnya. Karena filsafat berkonotasi dengan akar kata yang abstrak yang mengandung nilai-nilai dasar tertentu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui apa itu filsafat.

Menurut bahasa, istilah filsafat merupakan padanan kata falsafah (Bahasa Arab) dan philosophy (Bahasa Inggris), berasal dari bahasa Yunani philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata philos dan sophia. Kata philos berarti kekasih, bisa juga berarti sahabat. Adapun sophia berarti kebijaksanaan atau kearifan, bisa juga berarti pengetahuan. Jadi secara harfiah philosophia berarti yang mencintai kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan.

Menurut istilah filsafat sering dimaknai sebagai pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.  Maka ciri-ciri berfikir secara filsafat: (1) Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi; (2) Berfikir secara sistematis; (3)Menyusun suatu skema konsepsi, dan (4) Menyeluruh.

Dalam sejarah perkembangan ilmu, dapat disimpulkan bahwa kemunculan ilmu adalah karena ketidakpuasan ilmuan/ filsuf terhadap penemuan kebenaran oleh para ilmuan/filsuf sebelumnya. Ringkasnya dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan bentuk-bentuk perkembangan filsafat. Hasil kerja filosofis menjadi pembuka bagi lahirnya suatu ilmu, oleh karenanya, filsafat disebut juga sebagai induk ilmu (mother of science), demikian pula dalam konteks pengembangan pendidikan.

Pada konteks ini, filsafat mempertanyakan, menilai metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan (Lewis White Beck seperti dikutip dalam The Liang Gie, 2010: 57). Menurut Noeng Muhadjir (2006: 65), fungsi filsafat adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Dalam kaitannya dengan ilmu, filsafat tidak lebih dari cara pandang atau perspektif filosofis terhadap ilmu.

Bidang filsafat mencakup epistimologi, aksiologi, dan ontologi (Amsal Bachtiar, 2007). Dalam ranah pendidikan Islam, ketiga bidang filsafat ini perlu dijadikan landasan filosofis, terutama untuk kepentingan pengokohan dan pengembangan pendidikan Islam itu sendiri. Filsafat ilmu bagi pendidikan Islam berarti penerapan metode filsafat ilmu meliputi ontologi, epistemologi dan aksiologi terhadap keilmuan pendidikan Islam.

Relevansinya dengan pengembangan pendidikan Islam

Ahmad Tafsir (2000: 14) memberi penjelasan tentang perbedaan antara filsafat dan ilmu (sains), dan filsafat pendidikan Islam. Menurutnya filsafat  ialah jenis pengetahuan manusia yang logis saja, tentang obyek-obyek yang abstrak. Ilmu ialah jenis pengetahuan manusia  yang diperoleh dengan riset  terhadap obyek-obyek empiris; benar tidaknya suatu teori ilmu ditentukan oleh logis-tidaknya dan ada-tidaknya bukti empiris. Adapun filsafat pendidikan Islam adalah kumpulan teori pendidikan Islam yang hanya dapat dipertanggung jawabkan secara logis dan belum tentu bisa dibuktikan secara empiris.

Mengaitkan Islam dengan kategori keilmuan, seperti dalam konsep pendidikan, menurut Mastuhu umumnya berhadapan dengan pengertian Islam sebagai sesuatu yang final. Dalam kategori ini, Islam dapat dilihat sebagai kekuatan iman dan taqwa, sesuatu yang sudah final. Sedangkan katagori ilmu memiliki ciri khas berupa perubahan, perkembangan dan tidak mengenal kebenaran absolut. Semua kebenarannya bersifat relatif (Mastuhu, 1999: 18).

Sebagai penutup, baik filsafat ilmu, filsafat pendidikan dan khususnya lagi filsafat pendidikan Islam sangat penting untuk dikaji, karena menurut Al-Shaybani setidaknya filsafat bagi pendidikan memiliki beberapa kegunaan. Di antaranya: (1) Membantu para perangcang kebijakan pendidikan dan orang-orang  yang melaksanakannya dalam suatu negara untuk membentuk pemikiran sehat terhadap proses pendidikan, (2) Untuk membentuk asas yang dapat ditentukan pandangan pengkajian yang umum dan yang khusus, (3) Sebagai asas terbaik untuk penilaian pendidikan dalam arti yang menyeluruh, (4) Sandaran intelektual yang digunakan untuk membela tindakan pendidikan, (5) Memberi corak dan pribadi khas dan istemewa sesuai dengan prinsip dan nilai agama Islam (‘Umar Muhammad Al-Taumi Al-Shaybani, 1979: 30).***

 

BAHAN BACAAN

Lewis White Beck seperti dikutip dalam The Liang Gie, 2010. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.

Noeng Muhadjir, 2006. Filsafat Ilmu: Kualitatif dan Kuantitatif untuk Pengembangan Ilmu dan Penelitian. Yogyakarta: Rake Sarasin.

Amsal Bachtiar, 2007. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali Press.

Ahmad Tafsir, 2000. Ilmu Pendidikan Islam dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Mastuhu, 1999. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

‘Umar Muhammad Al-Taumi Al-Shaybani, 1979. Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung. Jakarta: Bulan Bintang.