All posts by catatan syamsul kurniawan

blog pribadi Syamsul Kurniawan

Tokoh Muda Memimpin Indonesia?

Syamsul Kurniawan

AKHIR-akhir ini sejumlah lembaga riset politik mengeluarkan hasil survei. Mulai dari riset mengenai sejumlah tokoh yang diprediksi sebagai calon presiden hingga loyalitas pemilih terhadap partai politik. Hasilnya pun beragam. Tapi nama-nama yang muncul mudah ditebak. Nama-nama untuk jajaran capres populer tidak jauh dari sosok Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, hingga Aburizal Bakrie. Demikian tulis editorial koran Pontianak Post (Senin, 31/10/2011). Lain lembaga survei lain susunan yang teratas.

Ketika hasil survey itu diumumkan besar harapan saya bisa mendengar nama-nama baru dan itu dari kalangan pemuda. Tapi sayangnya, nama-nama yang muncul adalah tokoh-tokoh lama di bidang politik, tidak ada nama-nama baru, tidak ada tokoh muda.

Padahal sejarah mengajari (kepada kita) bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang besar karena kekayaan alamnya maupun lokasi geografisnya yang strategis, melainkan karena adanya peranan signifikan dari pemuda bangsa. Mungkin tanpa adanya campur tangan pemuda dalam sejarah perjuangan bangsa, saat ini kita tidak dapat merasakan nikmatnya kemerdekaan dan hidup tanpa adanya penjajahan.

Kaum muda merupakan sosok yang penting dalam setiap perubahan, karena kaum muda bergerak atas nilai-nilai idealisme dan moralitas dalam melihat persoalan yang ada. Mereka adalah sosok yang merindukan perubahan dan sesuatu yang baru dalam hidup ini. Saya rasa ini adalah modal bagus dalam membangun bangsa ini.

Sudah lama bangsa kita ini mengalami krisis multidimensional. Mulai dari krisis ekonomi, moneter, hukum, moral, dan sebagainya. Kita benar-benar membutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengubah Indonesia kearah yang lebih baik serta mampu mengemban amanat rakyatnya. Masalah yang sering kali dihadapi pemimpin bangsa kita adalah masalah kepercayaan. Sering kali pemimpin yang terpilih tidak dapat menunjukkan kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin. Karena itulah, besar harapan banyak orang ada wajah-wajah baru yang bisa menjadi alternatif untuk dipilih Rakyat dalam perebutan menjadi orang nomor 1 di Indonesia kelak. Dan saya kira, kaum muda bisa ikut ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Tentu saja tokoh muda yang saya maksud adalah tokoh muda yang punya kualitas bagus untuk memimpin bangsa ini, bukan asal “pemuda”.

Tokoh muda yang dimaksud haruslah berilmu, berakhlak, berintegritas, professional dan pandai, bisa membuat keputusan dan bertangguing jawab atas keputusannya, dapat mempengaruhi dan bukan dipengaruhi, harus bersedia mendengar dan berlapang dada, dapat memberi semangat dan motivasi, bisa menjadi contoh, dan menjadi pemegang obor pemikiran dan tindakan di negeri ini.

Beberapa negara sudah membuktikan bahwa kaum muda mampu memimpin. Sebagai contoh India, melalui tangan Manmohan Singh, menteri keuangan India, yang menyekolahkan anak-anak muda India ke luar negeri dan menyerap ilmu terbaik langsung dari sumbemya telah mengubah wajah India saat ini. Sehingga Bangalore dan Hyderabad telah menjadi semacam technopark seperti halnya Lembah Silikon di Amerika Serikat. Begitu pula yang kita saksikan dengan kebijakan Deng Xiao Peng untuk mengkapitalisasi perekonomian Cina kemudian membuka kesempatan besar bagi pemuda-pemuda Cina untuk belajar ke luar negeri, hasilnya telah mengubah wajah Cina menjadi raksasa ekonomi di awal abad 21 yang ditakuti oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Contoh lain yang bisa kita sebut adalah sosok Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden Iran, Hugo Cavez sebagai presiden Venezuela, Evo Morales sebagai Presiden Bolivia, dan Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat saat ini. Ini menunjukkan semacam representasi kepemimpinan kaum muda ternyata juga bisa diapresiasi oleh rakyat mereka, apalagi ketika para pemimpin tersebut mampu membawa institusi negara atau kekuasan yang dimiliki sebagai sarana mewujudkan kedaulatan bangsa dan membangun tatanan perikehidupan yang berkeadilan dan demokratis, menuju kemandirian secara ekonomi, politik dan budaya ke arah yang lebih baik.

Perhatian dan optimisme bangsa bersama kaum muda untuk melakukan sebuah perubahan tentu benar adanya demikian, sebab sosok kaum muda adalah sosok yang memiliki karakter yang unik. Di antara keunikannya itu adalah, bahwa kaum muda memiliki semangat baru dan senantiasa bergejolak, keberanian untuk mengambil resiko besar, serta memiliki pandangan yang jauh menembus masanya. Buktinya, melalui tangan kaum mudalah kemerdekaan Republik ini bisa direbut dari jajahan kolonial, bergantinya era orde baru ke era reformasi saya kira juga karena buah dari perjuangan pemuda. Karena itu menurut saya, di tengah krisis kebangsaan yang kita hadapi saat ini, tampilnya kepemimpinan kaum muda barangkali bisa menjadi alternatif wajah baru calon presiden kita ke depan. Dengan demikian, wajah calon presiden yang hendak kita pilih ke depan tidak itu-itu saja.***

Advertisements

Apakah Profesi Guru Itu Mudah?

Syamsul Kurniawan

BANYAK orang (barangkali) beranggapan, bekerja sebagai seorang guru itu mudah? Tinggal kuliah saja di fakultas keguruan atau punya akta mengajar, merupakan modal cukup untuk menjadi seorang guru. Apakah semudah itu berkiprah di dunia keguruan? Saya rasa tidak demikian.

Mengingat betapa pentingnya “faktor guru”, sudah seharusnya seorang guru tidak seharusnya memandang mudah pekerjaannya. Guru adalah seorang seniman di sekolah, itu yang saya tahu. Karyanya adalah anak-anak didik mereka. Dengan demikian, tidak seharusnya seorang guru menganggap tugasnya hanya sekadar “mengajar”.

Saat ini yang sering kita lihat, guru hanya sibuk mengajar, tidak berkeinginan mendidik. Sebagaimana kita mafhumi, seorang guru yang hanya mengajar, ia hanya memandang tugasnya hanya menyampaikan materi dan memindahkan materi tersebut ke dalam ingatan peserta didik. Mereka tidak peduli dengan urusan moral anak-anak didik mereka. Maka tidak heran, banyak anak generasi sekarang yang “kaya” pengetahuan tapi “miskin” etika dan moral.

Bukan itu saja, banyak guru yang mengidap penyakit “asma” (asal masuk). Yang penting masuk kelas, menyampaikan isi buku, soal anak didik paham atau tidak dengan materi yang ia sampaikan, itu bukan urusan mereka. Motivasi mengajar mereka asal-asalan. Semestinya persiapan dan perencanaan mengajar harus matang.

Yang lainnya adalah banyak guru yang mengajar di bidang yang bukan merupakan keahliannya. “Salah jurusan”, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menyebut guru-guru ini. Akibatnya, ketika seorang anak didik mengalami kebingungan dengan materi yang diajarkannya, ia tak mampu menyelesaikannya. Guru semacam ini biasanya juga tidak bisa menarik simpatik anak didik mereka, dikarenakan guru tersebut kurang wawasan. Tentu saja, ketidaksesuaian latar belakang pendidikan ini bisa berpengaruh dengan kualitas anak didik mereka.

Akhirnya, sebagai seorang guru harus betul bisa-bisa menjadi seorang yang digugu dan ditiru anak-anak didik mereka. Bukan sekadar mengajar tapi juga mendidik. Seorang guru harus betul-betul ahli dalam urusan manajemen kelas, bisa menerapkan strategi dan metode belajar mengajar yang pas dan dinamis ketika di kelas.

Jika para guru punya keinginan berbenah diri, tidak menyepelekan betap pentingnya mereka terus menerus mengembangkan potensi mereka sebagai guru, tentulah kualitas pendidikan kita akan jauh lebih baik lagi. Bukankah demikian?.***

Pelajar dan Pendidikan Seks

Syamsul Kurniawan

Masa remaja bagi sebagian besar orang merupakan masa-masa transisi, dari anak-anak menjadi dewasa. Pada masa ini, seringkali remaja mengalami masa “pencarian identitas”. Berbagai usaha dilakukan oleh para remaja untuk menunjukkan eksistensi diri mereka. Mulai dari gaya berbusana, maupun mengikuti kontes ajang bakat. Pergaulan menjadi kunci sejauh mana mereka dapat menunjukkan eksistensi dirinya. Pergaulan yang bebas terkadang membuat para remaja tidak dapat mengontrol dirinya, sehingga mereka terjerumus terlalu jauh.

Pergaulan bebas di kalangan remaja, misalnya, telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama seks bebas. Demikian fenomena yang meresahkan kalau kita mengikuti berita di media massa. Mereka begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus orang dewasa, apalagi malam minggu. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat di kalangan SMP. Banyak kasus remaja putri yang hamil karena kecelakan padahal mereka tidak mengerti dan tidak tahu apa resiko yang akan dihadapinya.

Ada banyak hal yang menyebabkan para remaja ini terjerumus dalam seks bebas, di antaranya: pertama, Kurangnya perhatian dari orang tua. Perceraian atau ketidakharmonisan orang tua seringkali menjadi pemicu utama para remaja kemudian mencari pelarian atas permasalahannya, biasanya mereka mengkonsumsi narkoba maupun minuman keras, untuk melupakan sesaat permasalahan mereka. Selain itu, kesibukan orang tua juga menyebabkan orang tua tidak lagi memiliki waktu untuk sekedar mengobrol dengan anak-anak mereka, sehingga anak-anak mereka mencari cara untuk menarik perhatian mereka.

Kedua, Penerimaan dalam kelompok, Para remaja biasanya memiliki geng-geng atau kelompok-kelompok sepermainan. Masing-masing kelompok memiliki ciri khas sendiri, atau kegiatan khas tersendiri. Untuk dapat diterima sebagai anggota kelompok, biasanya remaja yang termasuk dalam kelompok ini harus mengikuti aturan dalam kelompok. Misalnya, cara berbusana, maupun minuman-minuman keras. Ketiga, Kurangnya aqidah, Pemahaman remaja tentang aqidah (Islam), yaitu tentang perintah dan larangan Allah, saat ini terasa sangat minim. Hal ini disebabkan karena kurangnya pendidikan agama di rumah, bahkan di sekolah pun pelajaran agama hanya diberikan selama dua jam pelajaran dalam satu minggu.

Pendidikan Seks untuk Pelajar
Pada dasarnya pendidikan seks yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua sendiri. Diwujudkan melalui cara hidup orang tua dalam keluarga sebagai suami-istri yang bersatu dalam perkawinan. Pendidikan seks ini sebaiknya diberikan dalam suasana akrab dan terbuka dari hati ke hati antara orang tua dan anak. Kesulitan yang timbul kemudian adalah apabila pengetahuan orang tua kurang memadai (secara teoritis dan objektif) menyebabkan sikap kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan pemahaman tentang masalah-masalah seks anak. Akibatnya anak mendapatkan informasi seks yang tidak sehat. Informasi seks yang tidak sehat pada usia remaja mengakibatkan remaja terlibat dalam kasus-kasus berupa konflik-konflik dan gangguan mental, ide-ide yang salah dan ketakutan-ketakutan yang berhubungan dengan seks.

Melihat kenyataan tersebut, jelas keluarga membutuhkan pihak lain dalam melengkapi upaya pembelajaran alami terhadap hakikat seksualitas manusia. Pihak lain yang cukup berkompeten untuk menambah dan melengkapi pengetahuan orang tua, menjadi perantara antara orang tua dan anak dalam memberikan pendidikan seks adalah sekolah. Sekolah merupakan lingkungan kedua setelah keluarga, di mana anak mendapatkan kasih sayang, pendidikan dan perlindungan. Oleh karena itu, pendidikan seks di sekolah merupakan komplemen dari pendidikan seks di rumah. Peran sekolah dalam memberikan pendidikan seks harus dipahami sebagai pelengkap pengetahuan dari rumah dan institusi lain yang berupaya keras untuk mendidik anak-anak tentang seksualitas dan bukan berarti bahwa sekolah mengambil porsi orang tua.

Ada beberapa bentuk kegiatan yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah untuk memberikan pendidikan seks di sekolah, seperti dimasukkan kedalam mata pelajaran tertentu dan memiliki wadah tersendiri dalam ekstrakrikuler. Tujuan pendidikan seks di sekolah: (1) Memahami seksualitas sebagai bagian dari kehidupan yang esensi dan normal. (2) Mengerti perkembangan fisik dan perkembangan emosional manusia. (3) Memahami dan menerima individualitas pola perkembangan pribadi. (4) Memahami kenyataan seksualitas manusia dan reproduksi manusia. (5) Mengkomunikasikan secara efektif tentang pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan seksualitas dan perilaku sosial. (6) Mengetahui konsekuensi secara pribadi dan sosial dari sikap seksual yang tidak bertanggung jawab. (7) Mengembangkan sikap tanggung jawab dalam hubungan interpersonal dan perilaku sosial. (8) Mengenal dan mampu mengambil langkah efektif terhadap penyimpangan perilaku seksual. (9) Merencanakan kemandirian di masa depan, sebuah tempat dalam masyarakat, pernikahan dan kehidupan keluarga.

Seks education atau pendidikan seks bagi para pelajar memang sudah dicanangkan oleh pemerintah dalam mencegah terjadinya seks bebas dikalangan remaja, hal ini ditunjukan dengan adanya seminar-seminar pendidikan yang diadakan oleh beberapa LSM tentang pemahaman dan bahaya dari seks bebas dan akibat dari seks bebas yaitu tentang HIV AIDS. Di dalam hal ini bimbigan dari orang tua dan pihak sekolah sebagaimana disebut sangatlah penting, sehingga diharapkan para pelajar mampu menyadari dan memahami keburukan tentang masalah seksual, agar tingkat perkembangan seks bebas dikalangan remaja tidak terus bertambah. Semoga!.***

Faktor Guru

Oleh: Syamsul Kurniawan

SEBAGIAN kita barangkali sering beranggapan bahwa mutu pendidikan di Indonesia rendah disebabkan oleh tidak becusnya pemerintah mengurusi pendidikan, sering gonta-ganti kurikulum, kebijakan pendidikan yang tidak tepat sasaran, ataupun kurang meratanya pembangunan pendidikan disebabkan dana pendidikan banyak yang disunat . Ini (mungkin saja) benar. Tapi yang sering luput dari perhatian kita atau bahkan kita abaikan adalah bahwa mutu pendidikan (amat) ditentukan dalam prosesnya di dalam kelas.

Maksudnya, mutu pendidikan secara keseluruhan amat ditentukan dalam prosesnya di dalam kelas, yaitu di mana berlangsungnya aktivitas belajar mengajar yang baik, sehingga anak didik merasa nyaman, tenang, betah, dan anak didik tercukupi kegiatan untuk mengembangkan bakatnya. Dari kelas yang baik maka akan melahirkan sekolah-sekolah yang baik, dan pada akhirnya mutu pendidikan secara keseluruhan juga baik.

Kelas yang baik tentu amat dipengaruhi oleh manajemen kelas dari seorang guru. Faktor guru amat menentukan dalam konteks ini, terutama dalam mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan, serta dapat memotivasi anak didik untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuannya. Karena itu proses pembelajaran di dalam kelas harus benar-benar dirancang sebaik mungkin oleh seorang guru untuk mengembangkan potensi-potensi anak didik secara optimal.

Guru yang mampu menginspirasi dan mencerahkan itulah yang saat ini sedang kita bicarakan, karena guru semacam ini akan mengantarkan kesuksesan siswa di kemudian hari dan kelak membawa kemajuan bagi bangsa ini.

Sayangnya, guru yang inspiratif dan mencerahkan seperti itu tidak banyak. Sebagian besar guru tidak jarang hanya “guru kurikulum”, tidak meninggalkan kesan mendalam di benak anak didik karena tidak banyak hal penting yang diwariskan. Apa yang diberikan tak lebih sekedar pengetahuan dan wawasan yang menjadi tugasnya –”sosok guru yang hanya patuh pada kurikulum” sebagaimana isi buku yang ditugaskan sesuai dengan acuan kurikulum.

Guru yang sekedar mengajar tetapi tidak dapat berperan sekaligus sebagai pendidik. Padahal, untuk mencapai kemajuan dan kesuksesan siswa, jelas dibutuhkan guru yang tidak sekedar mengajar sesuai kurikulum melainkan dapat menginspirasi dan mempengaruhi sekaligus mengubah jalan hidup anak didik jadi lebih baik. Lebih ironis, tidak jarang ada sosok guru justru tampil dengan wajah sangar, menakutkan, dan tak menjadikan murid tumbuh semangat untuk menuntut ilmu.

Bagaimana menjadi guru yang inspiratif? Semua kita tahu menjadi guru inspiratif bukan perkara gampang. Hal itu dikarenakan, guru inspiratif tidak bersifat permanen. Spirit inspiratif, yang dimiliki oleh guru inspiratif, kadang bisa memudar. Tetapi, kalau jiwa guru itu sudah diberkati anugerah inspiratif, yang diperlukan adalah bagaimana ia selalu menemukan pemantik/penyulut spirit inspirasi. Untuk menyulut kembali spirit inspirasi itu, tentu setiap guru punya cara sendiri. Tapi bagi saya setidaknya kita bisa memulainya dengan menumbuhkan tiga hal: (1) komitmen (berkomitmen selalu menginspirasi siswa), (2) cinta (memiliki kecintaan dalam mendidik) dan (3) visi.

Dengan peran guru inspiratif yang memiliki komitmen, cinta dan visi itu, anak didik akan mampu terbangkit potensinya dan minatnya untuk menguasai pelajaran. Di sisi lain, memiliki sikap serta “semangat tinggi untuk maju”, kreatif, tercerahkan dan bahkan termotivasi untuk bisa sukses. Karena guru inspiratif semacam itu memiliki semangat terus belajar, kompeten, ikhlas dalam mengajar, mendasarkan niat mengajar pada “landasan spiritualitas”, total, kreatif, dan selalu berusaha mendorong siswa untuk maju.

Potensi kreatif itulah yang menjadikan guru inspiratif tidak pernah kehilangan cara dan media dalam mendidik. Ia bisa membangun iklim pembelajaran dengan seribu cara. Tak salah, jika anak didik akan selalu merindukan guru semacam itu hadir di kelas hingga kadang tak terasa pelajaran yang sudah berlangsung dua jam seperti tidak terasa. Usai pelajaran, anak didik mendapat pencerahan, termotivasi dan pelajaran yang diajarkan terasa membekas pada diri anak didik.

Seperti yang dikatakan William Arthur Ward, “Guru yang biasa hanya memberi tahu, guru yang baik menjelaskan, guru yang lebih baik mendemonstrasikan, guru yang hebat menginspirasi.”***

Kemana “Ruh” Sumpah Pemuda Pada Hari Ini?

Syamsul Kurniawan

MENURUT sejarah pada tanggal 28  Oktober 1928 di Gedung Oost-Java Bioscoop, Jakarta diselenggarakan Kongres Pemuda II. Pada penutupan Kongres II ini, selain diperdengarkan Lagu Indonesia Raya oleh WR  Supratman melalui gesekan biolanya, juga dibacakan rumusan hasil kongres tersebut yang selanjutnya disebut sumpah  pemuda yang merupakan sumpah setia para pemuda masa sulit itu.

Sumpah Pemuda dikumandangkan oleh pemudi-pemuda karena keterkaitan yang erat secara batin memiliki Tanah air satu, ber Bahasa satu dan ber Bangsa satu yaitu Indonesia. Mengapa hal ini dapat terwujud? Tiada lain karena pemuda kita saat itu memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi kepada Bangsa dan Negara Republik Indonesia tanpa pretensi lain.

Namun, melihat rupa-rupa krisis yang dialami bangsa kita saat ini, muncul pertanyaan: apakah rasa tanggung jawab kebangsaan pemuda saat ini telah hilang?. Kemana “ruh” sumpah pemuda pada hari ini? Perhatikanlah bagaimana perayaan Hari Sumpah Pemuda diperingati, kebanyakan hanya seremonial belaka. Tidak memberi inspirasi bagi kemajuan seluruh rakyat. Para murid berkumpul di halaman sekolah, lalu seorang siswa membacakan butir-butir sumpah pemuda, diikuti seluruh yang hadir, kata sambutan dari pimpinan upacara, selesai. Itupun kalau ada. Padahal, kondisi pemahaman masyarakat termasuk pemuda kita dalam memaknai sumpah pemuda sudah demikian tergerus, sama halnya dengan nilai-nilai nasionalisme di kalangan pejabat/ pimpinan yang semakin memudar.

Memudar di era reformasi?

Era reformasi semestinya menjadi momentum penting bagi persatuan bangsa, mengapa demikian? Kita tentu ingat bagaimana para pemuda dan mahasiswa yang datang dari kampus berbeda, dengan latar belakang berbeda, mereka kompak menyuarakan reformasi menumbangkan penguasa rezim Orde Baru tahun 1998. Tapi setelah itu rasa nasionalisme para pemuda dan ruh “sumpah pemuda” seolah-seolah semakin memudar. Nasionalisme, rasa persatuan dan persatuan di kalangan pemuda itu barangkali masih ada, tapi tidak dibina dan diberdayakan sehingga yang menonjol malahan sikap yang negatif, seperti narkoba, budaya tawuran yang kita lihat makin marak belakangan.

Kondisi demikian tentu juga merupakan kesalahan pemerintah dan para pendidik di negeri kita. Pengelola negara dan pendidikan tidak mampu membuat kebijakan yang dapat dijadikan pembelajaran. Nilai-nilai kepemimpinan dan keteladanan semakin tidak terlihat dari kalangan elite politik dan kekuasaan. Yang muncul adalah sikap egoistis dari para pejabat dan pengusaha yang semakin rakus/tamak menumpuk kekayaan, tidak memperlihatkan kepemimpinan dan keteladanan sehingga kalangan anak mudanya mengambil jalannya sendiri-sendiri.

Dalam kondisi bangsa yang kian terpuruk/miskin saat ini, utang negara makin banyak, pengangguran meningkat, kepastian hukum makin semu, dan mahalnya biaya pendidikan, maka semakin sulit untuk bisa menyadarkan masyarakat, khususnya di kapangan pemuda untuk menjiwai makna sumpah pemuda. Tak berlebihan jika dikatakan bangsa Indonesia saat ini “rapuh”, kehilangan jati diri, bahkan nyaris  mencapai titik kelumpuhan sosialnya.

Saatnya kita merenungkan kembali perjalanan bangsa ini, bagaimana para pemuda di masa lalu bisa bersatu dalam kondisinya yang terbatas, belum ada lagi tanda-tanda kemerdekaan tapi mereka menyadari pentingnya persatuan guna memperkuat  pegangan menghadapi masa depan yang  lebih baik. Lahirnya Sumpah Pemuda pada tahun 1928 tidak terlepas dari perjuangan sebelumnya yaitu tahun 1908, di mana konsep dasar dari “Roh” sumpah pemuda itu sendiri adalah persatuan dan kesatuan demi terwujudnya kemerdekaan Bangsa Indonesia. Munculnya konsep dasar tersebut didasari oleh adanya patriotisme dan nasionalisme dari rakyat dan pemimpin bangsa Indonesia. Tumbuhnya jiwa kepahlawanan antara para pemimpin saat itu didasari dengan keikhlasan dan ketulusan dalam memperjuangkan kepentingan rakyat, hal ini tidak dalam bentuk kata-kata, tetapi dalam bentuk karya nyata yang dibeli dengan darah dan air mata, serta rasa tanggung jawab serta rasa memiliki terhadap rakyat dan negara Republik Indonesia. Mereka wujudkan semua itu dalam bentuk perjuangan “tanpa pamrih” sehingga menghasilkan generasi militan dalam perjuangannnya, baik itu perjuangan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain sebagainya. Dalam bidang politik kita kenal yang namanya Soekarno-Hatta, Muhammad Yamin, Sutan Syahrir, dan lain-lain. dalam bidang Sosial dan Budaya kita kenal tokoh militan seperti HAMKA.

Kita juga bisa melihat bagaimana para pemuda negeri ini di masa lalu dalam memaknai sumpah pemuda. Sekalipun mereka datang/ berasal dari berbagai daerah tapi bisa menyatukan visi dan misi pentingnya kemajemukan, bukan untuk menampilkan ego masing-masing tapi bersatu meraih cita-cita. Meskipun suku bangsa kalangan pemuda kita berbeda, dari Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Selebes, Jong Java dan lain-lain namun mereka dapat bersatu untuk masa depan negerinya. Itu sebabnya mengapa makna sumpah pemuda menjadi bukti pengakuan kemajemukan perlu kita kembalikan, kita perkuat, kita kokohkan  kita isi kembali agar tetap melekat erat dan tidak kian memudar, khususnya di era reformasi sekarang ini.

Perlu dibicarakan dan dihidupkan lagi

“Roh” Sumpah Pemuda pada hari ini (era reformasi) perlu kembali dibicarakan, bukan dalam artian melepaskan diri dari cengkraman penjajah, tapi berusaha melepaskan diri dari “rasa ketidak-adilan” yang dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia, baik dalam bidang ekonomi, politik dan sebagainya. Ambon, Papua, Kalimantan tidak akan terbelah bilamana komitmen kebangsaan terus dipelihara bersama dan pesta bom tidak akan terjadi kalau memang “keadilan itu merata di bumi nusantara ini”.

“Roh” Sumpah Pemuda ini perlu dihidupkan lagi, dalam artian menghidupkan nilai-nilai persatuan, kesatuan bangsa Indonesia dalam bentuk “komitmen” terhadap “roh-nya” sumpah pemuda tersebut. Bagi pemuda saat ini nilai rohnya Sumpah Pemuda memiliki makna yang berarti untuk dihayati, dipelajari dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dengan tidak berusaha membuat “kotak-kotak” dalam lingkup pemikiran kebangsaan, melainkan harus memiliki visi dan misi yang jelas bagi terciptanya “moralitas bangsa Indonesia sejati”.

Oleh karena itu, maka kita pertama-tama haruslah mengabdi pada roh dan semangat itu. Roh muda dan semangat muda yang harus meresapi dan mewahyui segenap kita punya perbuatan. Jikalau roh ini sudah bangkit maka tiadalah kekuatan duniawi yang dapat menghalang-halangi bangkit dan geraknya, tiadalah kekuatan duniawi yang dapat memadamkan nyalanya,” demikian perkataan Bung Karno dalam Suluh Indonesia Muda, 1928.***

Sekedar Retrospeksi Hari Jadi Kota Pontianak

Syamsul Kurniawan

DALAM kamus ilmiah populer, retrospeksi adalah keinginan meninjau atau menghayati kembali ke belakang. Atau retrospeksi bisa juga dikatakan sebagai cara pandang terhadap apa-apa yang sudah dilakukan, yang mana termasuk di dalamnya mengevaluasi keberhasilan sekaligus kegagalan di masa lampau, serta berharap dapat membangun rencana langkah-langkah prospektif, terobosan-terobosan di masa depan.

Mengapa membincangkan retrospeksi Hari Jadi kota Pontianak, dalam aras ini, menjadi sangat penting? Tentu saja usaha retrospeksi bermanfaat bagi kita dalam mengambil pelajaran dari peristiwa yang sudah-sudah. Mengutip Elisabeth Kubler Ross, “Tidak ada kesalahan, tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Seluruh peristiwa adalah anugerah yang diberikan kepada kita untuk kita pelajari.”

Usia Kota Pontianak bisa dibilang tua, bahkan lebih tua dari usia kemerdekaan negara ini. Tepat pada tanggal 23 Oktober 2011, genap warga Kota Pontianak memperingati Hari Jadi Kota Pontianak yang ke-240. Namun demikian, perkembangan Kota Pontianak hemat saya masih begini-begini saja.

Saya yang lahir dan dibesarkan di Kota ini bisa merasakan bahwa Pontianak dulu dan sekarang, tidak banyak mengalami perubahan. Tentu saja pengertian “perubahan” yang dimaksud bukan sebatas prestasi-prestasi pembangunan, karena “perubahan” tentunya pengertiannya harus lebih luas daripada itu.

Sebutan Pontianak Kota BERSINAR (Bersih, Sehat, Indah, Nyaman, Aman, dan Ramah), sampai hari ini pun pendapat saya masih sekadar slogan. Pontianak masih belum BERSINAR. Masyarakat kota ini masih belum merasa memiliki slogan tersebut. Sampah di mana-mana dan parit-parit banyak yang tersumbat karena sampah. Pendek kata, kepedulian masyarakat kota ini terhadap kebersihan masih amat kurang. Menjadi kota indah dan nyaman hemat saya masih jauh dari harapan.

Dari aspek ketertiban, masyarakat kota ini pun jauh dari kata “tertib”. Lalu lintas merupakan tempat yang tidak aman bagi pengendara, karena warga kota ini banyak yang “buta warna”. Lampu merah dipandang hijau, tak peduli disindir dengan bunyi-bunyi klakson dari motor-motor lain, tetap tancap gas, tabrak lampu merah!.

Dalam aspek pendidikan, kita harus terus berbenah. Masih banyak sekolah di kota ini yang minim perhatian, terutama kelengkapan sarana dan prasarana belajar mengajar. Sebutan pontianak sebagai kota layak anak juga harusnya dijadikan motivasi kota ini untuk terus menerus berbenah diri.

Masa depan kota Pontianak? 

Hari ini adalah saat di mana kita menanam benih, dan masa depan adalah waktu untuk memanen.Di Hari Jadi Kota Pontianak, memikirkan masa depan kota ini berangkat dari pengalaman yang sudah-sudah tentu saja merupakan suatu kebutuhan bagi kota ini, untuk kemajuan kota ini di masa mendatang.

Banyak hal yang harus kita kerjakan untuk mencapai mimpi-mimpi sebagai kota yang maju, sejahtera dan bersatu. Dalam konteks ini, perlu dimanfaatkan peluang-peluang yang kita punya, dipadukan dengan keunggulan komparatif yang kita miliki, terutama di sektor seperti pariwisata.

Di kota ini, tugu khatulistiwa, yang bisa menjadi daya pikat bagi wisatawan asing untuk berkunjung di samping adanya sungai kapuas (sebagai sungai terpanjang di negeri ini), harusnya bisa diperhatikan kembali, baik pembangunannya maupun usaha promosinya. Kota ini juga punya kelebihan sebagai kota yang dikenal tanaman lidah buayanya.

Optimisme mengenai masa depan kota kita ini dan semangat kemandirian juga perlu ditumbuhkan, untuk menjadi pendorong membangun kota Pontianak yang maju dan sejahtera di semua aspeknya. Modal utama yang harus dipunyai adalah kota yang mantap dalam membangun, terintegrasi dengan dinamika internal yang semakin menyatukan masyarakat, dan bila terjadi friksi sosial, penyelesaiannya menempuh jalan yang damai dan santun. Jangan mengembangkan benih-benih konflik yang tak ada gunanya bagi sebuah kota yang ingin membangun dan berbenah diri. Ini penting bagi masa depan kota kita ini.

Suksesnya kota Pontianak dalam menata dan membangun tentu saja buah dari usaha retrospeksi, keinginan belajar dari kegagalan-kegagalan di masa lampau, memperbaikinya dengan kerja keras yang cerdas dan terarah pada saat sekarang. Di samping itu, semua pihak harus punya komitmen dalam membangun kota ini, karena membangun (dalam artian yang sesungguhnya) bukan semudah kita membincangkannya, tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Sekali lagi, masa depan kota ini ada di tangan kita semua. Semoga ke depan kota kita jauh lebih baik lagi dalam banyak aspeknya: pembangunannya, kebersihannya, keindahan dan kenyamanannya, ketertibannya, serta kualitas pendidikan anak-anak kota ini yang terjamin. Akhirnya melalui opini ini, saya hendak mengucapkan: “Selamat ulang tahun Kota Pontianak, Jayalah Kota BERSINAR!”.***

SEKOLAH MENODAI NURANI

Syamsul Kurniawan

BENCANA besar sedang mengintai bangsa ini, bukan tsunami, bukan kemelut politik akibat ketidakpuasan masyarakat, juga bukan pula karena keterpurukan ekonomi akibat pemerintah salah kelola, tapi punahnya sikap kejujuran. Lebih menyeramkan lagi karena pengikisan nilai-nilai kejujuran itu disemai di dunia pendidikan.

Pertanda itu kian jelas. Kecurangan yang terjadi dalam ujian nasional direstui. Kita tentu belum lupa dengan kasus contek massal beberapa bulan lalu di Sekolah Dasar Negeri Gadel II Surabaya, Jawa Timur. Seorang pelajar yang melaporkan adanya sontekan legal yang dimotori gurunya sendiri malah diperlakukan tidak adil. Keluarganya diusir sehingga terpaksa mengungsi.

Mulanya seorang siswa sekolah itu melaporkan kepada orang tuanya, Widodo dan Siami, bahwa dia diperintahkan gurunya untuk menyebarkan sontekan massal soal ujian kepada rekannya saat ujian nasional. Kedua orang tuanya kemudian melaporkan hal itu kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Kepala sekolah itu dicopot dan dua guru mendapat sanksi penurunan pangkat. Akan tetapi, persoalan tidak lantas beres. Warga desa bereaksi. Mereka mengintimidasi dan mengusir keluarga Widodo. Widodo dan keluarganya terpaksa mengungsi sementara waktu ke rumah orang tua mereka di Gresik.

 Orang berpendidikan yang punya nurani tentu tak ada yang tak setuju alias semua setuju bahwa tak seharusnya orang yang memperjuangkan kejujuran harus diusir dari tempat tinggalnya dan memilih mengungsi: seperti yang dialami Widodo dan Siami. Tak seharusnya kemarahan, cercaan, hujatan ditimpakan pada sekeluarga pejuang kejujuran ini. Reaksi masyarakat yang berlebihan memusuhi kejujuran, hemat saya, menandai bahwa nurani tidak lagi didengar. Nurani tercabik-cabik.

Apa yang sedang terjadi di negeri ini? Haruskah negeri ini hacur ke dalam kubangan dan lumpur ketidakjujuran yang didukung hingga akhirnya loyo dan tak berdaya? Mengapa ketidakjujuran justru dibela?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu saja menyimpan keheranan. Keheranan adalah perasaan yang muncul saat orang menghadapi yang tidak lazim. Dapat dibayangkan apa yang terjadi pada bangsa ini, yang mana ketidakjujuran menjadi sesuatu yang lazim. Tidak ada keheranan yang muncul atasnya. Dan lagi berbagai bentuk ketidakjujuran tidak pernah dipersoalkan. Kejujuran dibuang, dan ketidakjujuran jadi budaya bangsa ini.

Kejadian seperti ini tentu menghawatirkan dan mencemaskan. Apa yang dapat kita bayangkan kalau mulai dari lembaga pendidikan dasar anak-anak kita sudah dilegimitasi untuk melakukan pekerjaan kebohongan (menyontek) untuk sebuah kelulusan yang seharusnya dia capai dengan jujur dan sportif.

Anak-anak kita sekarang adalah calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Apa yang akan terjadi bila calon pemimpin-pemimpin bangsa ini sedari kecil sudah diperkenankan berbuat bohong walau sekalipun dalam bentuk menyontek. Menyontek tersebut pada dasarnya sama dengan mencuri. Sekali lagi “sama dengan mencuri”. Jika diajarkan mencontek, esensinya mereka sudah diajar mengambil yang bukan haknya atau miliknya.

Jadi jangan heran kalau di antara orang-orang yang hari ini
berkesempatan menjadi penyelenggara negara atau aparat negara tersandung masalah korupsi, karena selagi kecil mereka sudah ditolerir untuk mencuri yang dalam bahasa sekolah itu disebut menyontek. Akhirnya menyontek (baca: MENCURI) bagi mereka menjadi halal.

 

Latihan Mengasah Nurani

Profesi guru adalah profesi akal budi dan nurani. Maka dapat dikatakan, lembaga pendidikan adalah tempat untuk melatih peserta didik berpikir, mendengarkan, dan mengasah nurani. Kenyataannya, latihan mendengarkan atau mengasah nurani tidak pernah terjadi. Demi mengejar angka kelulusan, pesan nurani dilanggar saja. Nurani tidak pernah didengarkan.

Tragis. Betapa mahalnya harga kejujuran. Lebih tragis lagi, kejujuran yang semestinya menjadi roh pendidikan justru dimusuhi dan dilawan. Fungsi utama pendidikan seperti yang kita tahu yaitu mengajarkan dan mentransmisi budaya serta nilai-nilai, sikap dan pola-pola perilaku. Dan pendidikan yang baik harusnya mampu mendorong manusia berlaku jujur, menghargai pentingnya kerja keras, bukan jalan pintas dan menghalalkan segala cara.

Jika kebiasaan seperti itu diteruskan, segala usaha untuk memajukan pendidikan pasti akan sia-sia; dan yang terjadi justru kemerosotan. Kemajuan pendidikan akan terjadi jika ada habitus melatih peserta didik untuk mengasah nurani: di antaranya melestarikan nilai-nilai kejujuran itu. Seharusnya sekolah sebagai lembaga pendidikan menanamkan nilai-nilai kejujuran itu kepada anak didik bukan sebaliknya, bila ingin negeri ini di masa yang akan datang ingin diwariskan kepada generasi yang jujur dan bertanggung jawab.

Besar harapan kita semua kasus contek massal seperti yang pernah terjadi di Sekolah Dasar Negeri Gadel II Surabaya, Jawa Timur, tidak terulang lagi di masa-masa mendatang.***